
“Ayo kita menikah !” ucap Alrend tegas karena ia ingin bertanggung jawab pada wanita yang telah ia renggut kehormatannya itu, ia tahu dibalik tampilan wanita yang terlihat modis dan seksi itu dia adalah wanita baik-baik yang mampu menjaga kehormatannya, dan kehormatan itu ia dapatkan pada malam panas dua minggu yang lalu.
Luna menoleh ke arah lelaki disampingnya ia tentu saja merasa tak percaya dengan apa yang ia dengar dari mulut lelaki itu. Menikah ? andaikan Miko yang mengatakan itu tentu ia akan merasa bahagia, dan itu hanyalah andai-andai semata.
“Tapi kita tidak saling mengenal, Tuan ! Lagi pula aku tidak merasa menyesalinya, karena kita sama-sama menikmatinya bukan ? Melampiaskan amarah dalam hasrat kita masing-masing !” terang Luna memberikan pembenaran atas apa yang sudah mereka lakukan dua minggu yang lalu.
“Aku tahu, tapi aku tidak bisa menjamin jika benihku tidak tumbuh dirahim mu, karena kau sendiri yang memintaku untuk mengeluarkannya di dalam pada malam itu !” ucap Alrend yang membuat Luna seketika mati kutu dan tak mampu berkata apa-apa lagi.
Luna baru menyesali perbuatannya lebih menyesal lagi kala ia tak bisa mencegahnya dan membiarkan saja benih Alrend berada di rahimnya. Ia tak memikirkan dampaknya sampai ke sana, akibat ia terlanjur kecewa dan marah pada Miko.
“Apa lelaki barusan adalah kekasihmu ? Lelaki yang kau sebut namanya dalam de.sa.hanmu ?” tanya Alrend yang mampu membuat Luna menitihkan air matanya. Bolehkah ia menangis sekarang ? Rasanya ia tak sanggup jika harus mendengar nama Miko bahkan menyebutkan nama itu !
__ADS_1
“Ini kartu namaku, aku bukan lelaki brengsek yang lari akan sebuah tanggung jawab. Kabari aku jika kau berubah pikiran, aku akan menunggumu !” Alrend berkata lagi sebelum Luna turun dari mobilnya dan mengambil kartu namanya.
... ……...
“Apa kau sibuk ? Aku menelpon mu tadi untuk menanyakan kapan kita akan fitting gaun pengantin !” tulis Shinta dalam pesannya pada Miko.
Setelah pertemuan keluarga yang membahas perjodohan diantara Shinta dan Miko. Shinta merasa terhipnotis akan ketampanan, wibawa, pria yang akan menjadi suaminya itu.
Shinta mencoba ngambil hati Miko walaupun Miko seakan terkesan cuek dan dingin padanya. Shinta bahkan tak memperdulikan itu, bahkan ia bertekad untuk bisa mengambil hatinya dan membuat Miko jatuh cinta padanya.
“Huh..aku rasanya harus ekstra sabar menghadapi calon suami kulkas dua pintu itu !” ucap Shinta kemudian merebahkan dirinya di atas ranjang, namun tiba-tiba ponselnya berdenting ternyata Miko membalas pesannya untuk pertama kalinya, namun begitu singkat dan padat.
__ADS_1
“Besok jam sepuluh pagi !”
Meskipun pesan itu begitu singkat dan padat tapi Shinta besorak gembira, karena Miko mau merespon dirinya dengan membalas pesannya. Ia memikirkan rencana apa yang harus ia lakukan besok agar bisa pergi berdua dengan calon suaminya itu.
“Aku rasa aku harus memesan tiket bioskop !” ucap Mayang seorang diri kemudian ia mengutak atik ponselnya dan memesan tiket bioskop melalui online.
... ……...
Lain halnya dengan Kinanta ia tengah melakukan video call dengan Rama. Saat dirinya masih sibuk mengerjakan pekerjaannya, apalagi kalau bukan mengurus perkembangan rumah sakit yang selalu harus memberikan pembaruan dan inovasi agar rumah sakit mendiang Grand Pa Anggara terus menjadi rumah sakit yang bergengsi dan nomor satu.
“Rasanya lama sekali menunggu waktu satu bulan lagi, untuk menikahi mu.” Ucap Rama terdengar seperti rengekan di telinga Kinanta.
__ADS_1
“Dasar pria bucin, waktu satu bulan tidaklah lama.” Balas Kinanta menghentikan pergerakannya di laptopnya dan mereka sama-sama tertawa.
... …….....