
Ciuman itu terus menuntut dan semakin panas. Miko bahkan mendorong tubuh Shinta ke atas tempat tidur mereka dan menindih tubuh Shinta dengan tak melepaskan ciuman mereka.
“Shinta..apa kau mencintaiku ?” Tanya Miko setelah pangutan bibir mereka terlepas ia bahkan mengusap bibir Shinta dengan lembut lewat ibu jari tangannya.
“Tentu saja, bukankah Mas suamiku ?” jawab Shinta meyakinkan Miko dan itu membuat Miko mengembangkan senyumannya.
“Apa aku boleh melakukannya ? meminta hak ku ?” Tanya Miko lagi dengan yakin ingin memiliki Shinta seutuhnya, karena Miko pun sudah mulai mencintai Shinta dan sudah melupakan Luna sejak terakhir ia bertemu dengannya.
Tidak mudah bagi Miko tentunya untuk meyakinkan dirinya jika ia telah jatuh cinta dengan Shinta. Karena dilihat dari hubungan mereka selama satu bulan ini, Miko telah berubah 180 derajat untuk Shinta, istrinya.
__ADS_1
Shinta seakan ragu akan mengiyakan permintaan suaminya tersebut. Pasalnya sampai detik ini Miko bahkan tidak pernah mengutarakan perasaannya padanya. Setidaknya cukup dengan mengucapkan kata I love you atau aku mencintaimu, sudah jauh lebih dari cukup baginya sebagai bentuk kejelasan apakah Miko benar-benar mencintainya atau tidak.
“Apa Mas mencintaiku ?” Shinta berbalik bertanya pada Miko dan itu membuat lidah Miko mendadak menjadi kelu. Kerena ia bukanlah tipikal lelaki yang bermulut manis apalagi romantis. Jangankan pada Shinta, dulu saat ia masih bersama dengan Luna bahkan ia tak pernah sekalipun mengucapkan kata I Love You.
Melihat Miko yang hanya diam saja tak menjawab pertanyaannya Shinta dengan cepat mendorong tubuh Miko dan kini mereka sama-sama dalam keadaan saling mendudukkan diri di atas ranjang.
“Aku butuh sebuah kepastian, apakah Mas mencintaiku ? setidaknya ucapkan saja tiga kata, I love you !” ucap Shinta menatap suaminya dengan mata berkedip-kedip karena ia penasaran pada suaminya dan memang menunggu moment tersebut dimana suaminya itu dapat mengucapkan tiga kata romantis yang dapat membuatnya mungkin berbunga-bunga atau terbang ke atas awan.
Shinta mendadak menjadi kesal karena Miko sedari tadi hanya diam saja. Ia jadi berspekulasi jika Miko menginginkan dirinya karena sebuah nafsu saja bukan didasari oleh perasaan cinta yang memang serius ingin memilikinya seutuhnya sebagai seorang istri.
__ADS_1
Shinta melihat jam di dinding ternyata sudah pukul tujuh pagi, dan sudah seharusnya ia berangkat ke kampus karena ia sendiri ada jadwal kuliah pagi.
“Sepertinya aku akan berangkat duluan, aku naik taksi saja.” Ucap Shinta berdiri dari duduknya dan berjalan mengambil tas miliknya di atas meja belajarnya.
Miko mengusap kasar wajahnya kala bibirnya tiba-tiba membisu tak dapat menuruti permintaan Shinta. Ia juga merutuki dirinya dalam hati saat hanya bisa bersikap diam seperti orang bodoh.
Ia bukan lelaki yang bermulut manis dan romantis, karena ia selalu menunjukkan perasaannya lewat tindakan bukan bualan maupun rayuan gombal anak sekolah menengah pertama.
“Biar ku antar !” tawar Miko saat melihat Shinta tengah memasukkan tugas kuliahnya di dalam tas.
__ADS_1
Shinta masih bisa tersenyum meski ada rasa yang mengganjal dalam hatinya saat suaminya itu tak dapat menuruti keinginan sederhana darinya barusan. Tapi ia mencoba berekspresi baik-baik saja dan menormalkan perasaannya.
“Tidak perlu Mas, bukankah Mas ada rapat penting juga pagi ini. Tak apa aku naik taksi saja.” Tolak Shinta halus kemudian ia menyalimi Miko dan berlalu pergi meninggalkan Miko dengan suasana hati yang bercampur aduk.