
Keenan menoleh ke arah Berliana untuk pertama kalinya Berliana mengucapkan terimakasih padanya. Ia tersenyum senang karena Berliana merespon dirinya. Sedangkan Berliana setelah mengatakan itu ia kemudian masuk ke dalam rumah dengan degup jantung yang tak beraturan.
Keesokan harinya sekitar pukul empat sore Keenan menjemput Berliana untuk bertemu dengan kedua orang tuanya. Sebelumnya Keenan ingin mengajak Berliana ke sebuah butik untuk mengganti pakaiannya, namun Belriana menolak karena menurutnya penampilan dirinya sudah lebih baik.
Saat ini Berliana mengenakan celana jeans dan kaos oblong putih yang di padukan dengan cardigan bewarna biru muda. Tampilan Berliana sangat manis untuk ukuran seusia dirinya.
Keenan akhirnya menuruti keinginan Berliana dan melajukan mobilnya ke rumah orang tuanya. Saat mereka telah sampai di depan rumah. Berliana dibuat takjub dengan pemandangan rumah tersebut bak di negeri dongeng.
"Ini rumah atau istana ?" ucap Berliana dalam hati.
"Ini rumahku dan orang tuaku, mereka pasti sudah menunggu kita." ucap Keenan mengajak Berliana masuk ke dalam rumahnya.
Berliana dan Keenan menuju ruang keluarga di sana sudah ada Zio, Jihan, Kinanta yang sedang menonton televisi bersama sambil bercanda gurau.
__ADS_1
"Mommy, Daddy.." sapa Keenan pada Mommy dan Daddy nya.
Zio, Jihan, dan Kinanta menoleh ke arah sumber suara ternyata Keenan membawa seorang wanita cantik di sampingnya dan itu adalah Berliana.
"Ah..aku akan membuatkan minuman dulu." ucap Kinanta undur diri karena ia pikir kedua orang tuanya dan Kakaknya itu pasti akan membicarakan hal yang serius.
"Berlian.." Jihan menyambut Berliana dengan pelukan hangat, ia tak menyangka jika Berliana mau diajak ke rumahnya bersama Keenan.
"Tentu saja aku mengenalnya Mas, selama ini aku yang membantunya untuk jauh dari putra kita yang nakal ini." Jihan menjewer telinga Keenan hingga memerah dan meringis kesakitan.
"Aduh sakit Mom." ringis Keenan
"Ayo duduklah sayang." ucap Jihan mengajak Berliana duduk disebelahnya.
__ADS_1
"Apa kau sudah meminta maaf pada nya ?" tanya Zio pada Keenan.
"Iya Dad, tapi dia tidak mau memaafkanku." jawab Keenan pelan.
Zio terkekeh mendengar jawaban putranya. Wajar saja jika Berliana tidak mau memaafkan kesalahan putranya itu, karena Keenan sudah keterlaluan dan menyakiti Berliana. "Baguslah Nak, jangan maafkan putra Paman yang berengsek ini !" ucap Zio pada Berliana
"Paman, Dokter Jihan. Aku minta maaf atas nama Kakakku, maafkan kesalahannya. Sebenarnya aku malu jika harus menatap wajah kalian." kata Jihan ia menatap sendu pada Zio dan Jihan secara bergantian.
"Kami sudah memaafkan kesalahan Kakakmu, tapi hukum akan terus berjalan. Selapang apapun kami menerima dan ikhlas akan takdir yang diberikan Tuhan pada keluarga kami, kami juga hanya manusia biasa. Kau mengerti apa maksud Paman, bukan ?" balas Zio kemudian ia tersenyum ke arah Berliana. Iya Zio sudah mengikhlaskan kepergian Mamanya dan menerima jika Mamanya meninggal karena ditabrak secara sengaja oleh Kakaknya Berliana, Jonathan.
Berliana menitihkan air matanya ia tak menyangka jika dirinya adalah adik seoranh pembunuh. Jihan dan Zio yang mengerti apa yang di rasakan oleh Berliana. Pasti berat sekali bagi gadis itu menerima kenyataan yang begitu pahit akan perbuatan Kakaknya.
"Paman juga meminta maaf atas perbuatan putra Paman padamu. Maukah kau memaafkan kesalahannya ? Dan menikahlah denhan putra Paman, kami sudah tahu apa yang di lakukan oleh putra kami padamu, Nak." pinta Zio pada Berliana. Zio tak tega pada gadis di hadapannya itu. Ia tak bisa membayangkan bagaimana jika Kinanta yang berada di posisi Berliana, sungguh tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
__ADS_1