
Rama masuk ke dalam kamarnya saat mendengar tangisan Kirana. Ia dengan cepat kemudian menggendong Kirana dan membawa bayi kecilnya ke dalam pelukannya. Dan Kirana tiba-tiba saja langsung diam saat digendong olehnya.
Rama kemudian berjalan kearah kamar mandi mencari keberadaan Kinanta, namun ia tak menemukan keberadaan istrinya tersebut begitupun di walk in closed ia tak menemukannya.
Namun netra nya kemudian menangkap keberadaan Kinanta di balkon kamar. Ia kemudian mendekati Kinanta yang ternyata sedang menundukkan diri dengan memeluk kedua kakinya sambil menangis.
“Sayang !” Rama benar-benar mengkhawatirkan kondisi Kinanta. Sebenarnya ia ingin kesal dan marah pada Kinanta yang mendiamkan saja Kirana menangis. Namun rasa amarah itu tiba-tiba menghilang kala ia ingat akan sesuatu, mungkin Kinanta sedang mengalami Baby Blues.
__ADS_1
Ketika Kirana sudah terlelap dalam dekapannya, Rama meletakkan kembali Kirana di box bayi dan kembali mendekati Kinanta. Ia membawa Kinanta dalam pelukannya dan mengelus rambut Kinanta serta mencium kening Kinanta.
“Apa aku ibu yang buruk ? semua orang mengejekku karena aku tidak bisa melahirkan secara normal bahkan aku tidak bisa memberikan ASI ku pada Kirana.” Tangis Kinanta pecah saat ia teringat komentar orang-orang di akun sosial media miliknya, banyak yang memuji dirinya bahkan mengejek dirinya karena melahirkan Kirana dengan cara operasi dan bahkan ia memberikan susu formula untuk bayinya.
“Tidak ada ibu yang sempurna di dunia ini, Kinan. Aku bangga padamu karena telah melahirkan Kirana. Mau dengan cara normal atau operasi sama saja, kau tetap menjadi seorang Ibu. Jangan pikirkan perkataan orang-orang, karena aku akan selalu ada di sisimu untuk mendengarkan keluh kesah mu.” Balas Rama pelan ia menggenggam tangan Kinanta memberikan support system untuk istrinya.
“Semua orang yang mengejek mu, itu karena mereka iri padamu. Kau sempurna Kinanta, di mataku kau seorang wanita dan istri yang begitu sempurna. Bahkan kau telah menyempurnakan aku dengan menjadi seorang Ayah dengan menghadirkan Kirana.”
__ADS_1
“Siapa yang tak iri padamu ? Kau cantik istri dari pengusaha sukses bahkan kau pewaris kedua di keluargamu. Bahkan suamimu ini begitu tampan idamannya para wanita di luar sana. Siapa yang tak menginginkan menjadi sepertimu ?” ucap Rama lagi kali ini ia menyombongkan diri demi mengembalikan mood istrinya kembali normal dan tidak banyak pikiran.
Kinanta masih terus menangis karena ia masih terbawa emosionalnya. Walau bagaimanapun ucapan menyakitkan orang-orang yang mengejeknya lewat komentar di sosial media miliknya masih saja seperti menghantui dirinya.
“Apa kau tidak kasihan pada putri kita ?” Tanya Rama kali ini ia sudah bingung harus bagaimana lagi membujuk rayu Kinanta.
“Lihatlah dia sudah berusia satu bulan, tak akan terasa nantinya kala ia sudah bisa memanggilmu dengan sebutan Mommy.” Lirih Rama matanya sampai berkaca-kaca setelah mengucapkannya. Rama menghapus air mata Kinanta dan mengecup kening Kinanta dengan lembut.
__ADS_1
Kinanta kemudian sadar dengan apa yang ia lakukan selama ini. Seharusnya ia bisa menepis perkataan orang-orang dan fokus pada tumbuh kembang putrinya. Terserah orang mau berkata apa mengenai cara dirinya merawat putrinya, karena ia adalah Ibunya orang lebih berhak atas seluruh hidup putri yang telah ia lahir kan ke dunia.