
Hari Senin menjelang malam, di suatu perumahan yang teduh nan asri.
Rumah keluarga Hana menghadap lapangan, berlantai dua namun tidak besar. Semua ruangan dimaksimalkan fungsinya juga perabotan sengaja tidak diisi terlalu banyak.
Satu keluarga itu sudah berkumpul kembali di rumah, setelah seharian beraktifitas. Ada ibu dan anak perempuan yang sedang didapur menyiapkan makan malam, serta ayah dan anak laki lakinya bermain catur sembari menunggu makanan siap dihidangkan. Permainan catur yang selalu dimenangkan oleh ayah, sang dosen, karena Hale memang tidak terlalu tertarik pada catur. Dia hanya menyukai basket. Meskipun begitu Hale tidak pernah menolak permintaan untuk bermain catur karena rasa sayang dan hormat kepada ayahnya.
Meski mereka berempat sedang melakukan aktivitas terpisah-pisah, mereka masih bisa saling mendengarkan pembicaraan masing masing.
Hana sedang fokus memasak, tiba tiba bersin padahal tidak sedang sakit sebelumnya. Hana bersin bersin berulang kali.
Ibu Hana yang sedang memotong sayuran berhenti seketika. Dua pria yang berada di ruang keluarga juga ikut berhenti.
^^^"Kamu sakit, Na?" tanya ibu khawatir.^^^
^^^"Engga kok Bu. Engga tahu ini, tiba tiba aja bersin."^^^
Hana menjawab sambil mengusap hidungnya. Hana sendiri bingung, kenapa dia tiba tiba bersin.
Apa dalam masakan ada bumbu yang terhirup sampai dia tiba tiba bersin ya, tanya Hana keheranan.
^^^"Kak Hana, kalau tiba tiba bersin artinya ada yang kangen tuh." -Hale^^^
Hale mulai lagi. Hale sangat iseng menggoda kakaknya sendiri. Dia masih gemas dengan ketidakpekaan Hana apalagi saat kejadian di lapangan basket.
Apa aku bantu saja kak Riga supaya dekat dengan kak Hana ya, tiba tiba muncul ide menggoda Hana lagi.
^^^"Apa sih, anak kecil. Engga nyambung bersin sama orang kangen, tau. Mitos doang." -Hana^^^
^^^"Yah, kakak engga percaya. Coba tanya kak Riga sekarang. Pasti dia jawab kangen."^^^
Hale terus menggoda dan nyengir.
Ih, tuh kan ga jelas. Apa nyambungnya ke Riga coba, Hana lebih memilih tidak berkomentar lagi.
Hale akhir akhir ini sering menggodanya, kadang terlihat seperti menjodohkan Hana dengan Riga. Hana bukannya tidak mengerti maksud Hale, tapi Hana takut Riga salah paham. Hana takut dirinya bisa disangka mempunyai perasaan kepada Riga dan Riga pasti tidak nyaman akan hal itu.
__ADS_1
Hana berpikir, alasan menjodoh jodohkan ini adalah karena Hale sangat menyukai pribadi Riga yang sudah seperti kakak sendiri. Bukannya Hana tidak ada kemungkinan untuk menyukai Riga. Secara fisik, Hana mengakui blasteran Jepang Indonesia itu sangat tampan, sifatnya baik. Tapi Hana menganggap Riga tak lebih dari teman yang seperti keluarga. Hana yakin Riga juga sama sepertinya.
^^^"Udah udah. Ibu pusing deh dari kemarin kamu kenapa sih Ale, godain kakaknya terus."^^^
Ibu akhirnya menengahi mereka. Meskipun sebagai orangtua, ibu sangat senang anak anaknya rukun dan bercanda ria tapi kadang kalau dibiarkan lama lama makin tidak ada habisnya pembicaraan kedua anakknya itu.
^^^"Ih ibu mah ga asik. Ayah saja dukung kan kalau nanti kak Riga dan kak Hana pacaran?"^^^
Kali ini Hale melibatkan ayahnya dalam pembicaraan, berharap ayahnya ada di kubu merestui Riga berpacaran dengan Hana.
^^^"Ayah setuju saja. Riga sudah ayah anggap seperti anak sendiri."^^^
Ayah memilih mengikuti alur pembicaraan anak terakhirnya, sedikit menggoda Hana. Tapi sejujurnya, kata kata yang tadi disampaikan ayah juga tidak sepenuhnya salah. Ayah akan merestui kalau benar, Riga dan Hana akhirnya berpacaran. Semua orang tau kalau Riga menyukai Hana. Ya semua orang, kecuali satu orang yang disukai Riga itu sendiri.
Hana, yang menjadi topik pembicaraan utama masih enggan berkomentar.
Nanti juga Hale capek sendiri, aku engga respon aja lah, Hana terlihat cuek.
Tak berselang lama, makan malam sudah siap dan disajikan di meja. Ayah dan Riga bergabung ke ruang makan dan mereka memulai acara makan keluarga yang hangat.
Disela sela makan malam, ayah mulai bertanya bagaimana persiapan mengajar murid khusus yang akan diajari Hana tahun ajaran baru nanti. Hana sudah menceritakan pertemuan kemarin antara kepala sekolah David dan walimurid seminggu yang lalu kepada ayahnya. Hana meminta saran kepada ayahnya yang juga seorang dosen, tentang referensi dan masukan untuk mengajar Cherry nanti.
Sebagai orang dewasa mungkin kita kebingungan karena Cherry dan beberapa anak yang memiliki kasus yang mirip dengan Cherry tidak bisa menyampaikan kata katanya sendiri dengan baik. Dibandingkan itu perasaan mereka sangat halus, mereka pasti sangat bingung dan sedih kalau mereka yang sudah berusaha berkomunikasi tapi orang sekitarnya tetap tidak mengerti. Dibanding fokus untuk belajar paling pertama ada membangun kepercayaan diri Cherry. Ketika anak itu sudah percaya diri dia akan menyerap terapi dan belajar lebih baik dan mudah.
Ayah juga sharing pengalamannya saat melatih kak Hera, mendiang kakak Hana dan Hale dulu.
Kak Hera memang tidak bisa mendengar sejak lahir. Sebagai background pendidikan, mereka bersyukur pernah belajar tentang pendidikan anak berkebutuhan khusus dan psikologi anak. Namun percayalah praktiknya sangat sulit, hingga mereka terus belajar bersama sang anak menjadi orangtua yang baik sesuai dengan kebutuhan anak anaknya.
^^^"Ibu masih ingat engga, waktu Hera merasa rendah diri karena dia berbeda dari teman lainnya."^^^
Pertanyaan dari ayah membuat ibunya kembali ke masa masa sulit itu. Hampir setiap hari ibu menenangkan dan membesarkan hati Hera, agar tidak perlu merasa rendah diri meskipun dirinya berbeda. Terlebih lagi, Hera sekarang sudah tidak ada disisi mereka lagi. Rindu masa lalu dan keinginan memeluk mendiang anak pertamanya muncul lagi.
Mata ibu sudah berkaca-kaca. Hana yang menyadari itu, dengan sigap mengelus-elus punggung tangan ibunya. Berharap ibunya bisa sedikit lebih tenang.
Bagaimana mungkin aku tidak ingat. Aku merindukannya setiap waktu, batin ibu.
__ADS_1
Ayah mengerti bahwa pertanyaannya membawa istrinya teringat kenangan akan Hera, cepat cepat menambah kata katanya.
^^^"Meski begitu kita berhasil membuat Hera melawan rasa rendah dirinya kan bu. Dan akhirnya Hera mampu beradaptasi bahkan memiliki teman saat itu. Maksud ayah, seperti itu nak. Coba kamu kenali dan mengerti anak itu dulu, baru tahu metode apa yang tepat untuknya."^^^
Tak lama ibu mulai bisa menguasai perasaannya kembali. Ibu menyetujui semua kata kata ayahnya. Hanya sedikit berpesan.
^^^"Kalau kedepannya ada kesulitan jangan ragu bertanya ke siapapun. Boleh bertanya ke orangtua murid itu, ke dokter atau guru senior, bahkan ke kami ya nak. Siapa tahu ayah dan ibu bisa bantu."^^^
^^^"Iya, Bu. Kata orangtua murid itu nanti dokter terapisnya Cherry akan memeberikan beberapa saran untuk penunjang metode pengajaran."^^^
Metode pengajaran sepertinya tidak banyak berubah. Kami masih belum ada gambaran. Mungkin akan dibuat setelah wawancara murid di hari orientasi sekolah, tambah penjelasan dari Hana
Ayah dan ibu mengangguk setuju. Mereka paham apa yang dimaksudkan Hana. Hanya Hale dikeluarga ini, yang tidak begitu paham dunia pendidikan.
^^^"Jadi benar, orangtua murid kak Hana nanti adalah Tian si artis idolamu itu, ya. Aku pernah dengar nama anaknya memang bernama Cherry sih."^^^
Hale malah tertarik topik lain, karena dia tahu kakaknya sangat mengidolakan artis ini sejak dulu.
Uhuk. Hale kenapa sih malah menyebut nama tuan Tian. Padahal aku sengaja tidak mengatakannya daritadi.
^^^"Kamu akan bertemu dengannya terus dong kak. Haha. Kau senang ya kak mukamu benar benar merah sekarang."^^^
Senang godaan kakaknya kali ini berhasil.
Awas yaaa kamu, Le.
.
.
.
doumo arigatou gozaimasu.
.
__ADS_1
.
Bersambung