Terpikat Duda Artis

Terpikat Duda Artis
Pacar Pertama


__ADS_3

Masih melanjutkan percakapan di dalam mobil SUV mewah Tian.


Hana yang berdebar karena belum mendengar jawaban Tian atas pengakuan perasaannya mulai perlahan membuka matanya.


Hana melihat Tian yang juga sedang memandangnya dengan tatapan penuh makna.


Telinga sang artis tampan ini juga terlihat agak memerah. Tian mengambil tangan Hana, lalu diciuminya punggung tangan Hana dengan kecup yang dalam. Perlakuan yang membuat hati Hana menjerit senang.


^^^"Aku juga sayang. Aku ingin kamu lebih dari fansku. Aku ingin kamu jadi Ibunya Eri, baby."^^^


^^^"Ah, kalau itu.."^^^


Hana terlihat tidak nyaman dengan kalimat terakhir.


Bukannya Hana tidak ingin jadi Ibu untuk Hana. Tapi menurutnya masih terlalu cepat. Hana bahkan bingung merasakan apa yang dia rasa sekarang. Tian melihat keraguan itu dalam mata Hana.


^^^"Why, baby? Kamu tidak mau menjadi Ibu nya Eri?" Tian terlihat agak kecewa.^^^


Apa aku salah? Sepertinya selama ini Hana juga menyukai dan menerima Eri. Seperti dirinya yang menerima statusku adalah seorang duda.


Hana menggelengkan kepala dengan cepat.


Hana mampu melihat dari mata Tian kalau artis ini sepertinya terluka dengan jawaban singkat Hana tadi. Hana menggenggam tangan Tian yang hangat, yang juga masih berada di atas jemarinya.


^^^"Jangan salah paham dulu kak. Aku belum menyelesaikan kalimatku kan."^^^


Hana menyelesaikan perkataannya setelah dia menghirup napas panjang.


^^^"Aku pun menyayangi Eri, tapi, entahlah, aku merasa belum pantas untuk jadi Ibu nya Eri sekarang..." ucap Hana jujur.^^^


^^^"No, no. Tidak ada yang lebih pantas daripada kamu, baby. Bahkan Eri juga memintaku. She really like you. Like you do?"^^^


Hana tersenyum. Mengangguk lagi.


Meski dalam hatinya masih ada pergolakan batin. Tapi Hana memilih untuk menyenangkan Tian. Berharap semua kekhawatiran ini hilang dengan sendirinya.


^^^"You're mine. Aku ini pacarmu yang pertama kan?" dengan cengiran andalannya.^^^


Hana menganggukan kepala lagi. Terlalu malu untuk menjawabnya.


^^^"Beruntungnya aku. Kamu juga merasa beruntung kan? Kamu kan dapat pacar pertama artis tampan seperti ku."^^^


Ucap Tian dengan tangannya bergerak untuk menarik rambutnya ke arah belakang. Senyumnya diperlihatkan semanis mungkin, beda dengan senyum cerah bunga mataharinya. Ini lebih ke senyum manja. Hana saja baru pertama lihat senyum Tian yang seperti ini.


Hana tertawa geli mendengarnya. Meskipun terdengar menyebalkan tapi semua perkataan Tian benar adanya.


Hana adalah mantan fans paling beruntung di dunia.


Tapi Hana lagi-lagi memilih menjawab dengan anggukan kepala. Berbanding terbalik dengan kepercayaan diri sang artis tampan yang meluap-luap tidak pernah habis, Hana masih malu untuk mengungkapkan dengan jelas semua yang ada dipikirannya. Tanpa dijelaskan jelas, Tian tetap mengartikan sesuka hatinya juga kan. Jadi sepertinya tidak terlalu masalah bagi sang artis tampan itu.


^^^"And one more. Just call me If you need something or anything. Anything, baby! Jangan minta temani yang lain lagi. Kepalaku pusing hanya memikirkan kamu dengan laki-laki lain..."^^^

__ADS_1


Hana senang sekali mendengar hal itu. Hana merasa menjadi wanita special. Hatinya membuncah, laki-laki ini memang jago sekali membuat hati dan perasaannya berdebar kencang.


^^^"Tapi kan kakak bisa saja sedang sibuk? Aku tidak mau mengganggu agenda kakak. Kak Tian si artis super sibuk di negeri ini. Hehe." Hana mengatakannya dengan nada penekanan di super sibuk.^^^


^^^"Wah, apa ini? Kamu mulai berani meledekku ya, baby?"^^^


Tian mendelik tidak percaya. Karena gemas sekarang Hana sudah mulai bisa meledeknya, Tian membalas dengan mencubit pelan pipi halus Hana lagi.


^^^"Hahaha. Pacarku kan artis super terkenal. Pasti sibuk. Bukan meledek kok." masih dengan nada meledek.^^^


^^^"Berhenti meledek atau ku cium lagi nih." Tian memegang kedua pipi Hana untuk memandangnya.^^^


^^^"Eh? Tunggu..!" Hana menelan ludahnya dengan kasar.^^^


Sebentar, sebentar. Aku belum siap.


Dasar Hana. Meskipun hatinya berkata seperti itu namun Hana juga yang memejamkan matanya saat Tian mulai mengikis jarak antara mereka. Hati dan reaksi tubuhnya bertolak belakang, tubuhnya lebih jujur daripada perasaan pemiliknya.


Nada dering handphone Tian berbunyi kencang.


Keduanya terlonjak kaget.


^^^"Cih. Siapa sih mengganggu saja." Tian menjauhkan lagi wajahnya dari Hana untuk mengambil handphone di dashboard mobil.^^^


Kesal. Ingin mengumpat orang yang dilihatnya dari layar handphonenya. Layar handphone itu masih menyala dan berdering, bertuliskan 'Manager Raka memanggil'.


Awas kau kak kalau tidak penting! Belum bicara saja Manager Raka sudah di ancam oleh duda artis ini.


^^^"Astaga! Telingaku sampai sakit mendengar sapaanmu!" Karena kaget, Manager Raka tidak kalah berteriak juga.^^^


^^^"Apa! Cepet bicara!" Tian masih jengkel.^^^


^^^"Sabar! Sabar! Heran deh, harusnya kan aku yang mengomel. Cih. Aku cuma mau bilang kurir paket untuk bingkisan calon mertuamu sudah hampir sampai rumah Miss Hana. Jadi ku arahkan langsung ke rumah atau bagaimana?" Manager Raka menjelaskan dengan singkat.^^^


^^^"Minta menyerahkannya di lokasi ku sekarang. Akan ku share location, jangan di rumah Hana."^^^


Klik.


Panggilan pun terputus dari pihak sang artis.


Hah! Sialan! Kenapa langsung mematikam teleponnya. Aku kan belum selesai bicara. Ah, tahu deh! Terserah dia saja!


Kembali ke dalam mobil.


Hana memperhatikan saat Tian menerima telepon dari sang manager. Merasa kasian karena Manager Raka jadi dimarahi padahal Hana yakin manager itu pun tidak tahu apa kesalahannya.


Aku jadi tidak enak oleh Manager Raka, jadi kena marah. Hihi. Habisnya dia menelpon saat tidak tepat sih. Kan kami tidak jadi....Ah! Aku mau bicara apa sih! Aaa. Pikiranmu sekarang sudah tercemar Hana! Hana bergumam dalam hati sambil memegang pipinya kembali. Menyadarkan dirinya.


^^^"Sampai mana kita tadi, baby?"^^^


^^^"Ti-tidak tahu..." Hana tidak berani memandang Tian.^^^

__ADS_1


^^^"Hehe. Kamu manis sekali kalau sedang merona seperti ini. Aku jadi---" lagi lagi kegiatan itu harus terhenti.^^^


Panggilan dari Manager Raka untuk kedua kalinya mengganggu aktivitas nanggung sang artis dengan wanitanya.


Hana tertawa melihat muka Tian yang menahan kesal.


Di elusnya pipi sang artis tampan itu, untuk meredakan kekesalan yang dirasakan.


^^^"Sudah angkat dulu saja, kak. Sepertinya penting." dengan suara lembut.^^^


Setelah bibir sang artis tampan itu sempat mengomel pelan. Sudah pasti omelan yang ditujukan untuk orang disebrang telepon. Setelah itu Tian terlihat mengangguk dan bicara oke mengerti. Dan langsung tanpa basa basi menutup teleponnya. Sepertinya Tian masih dendam saja dengan Manager Raka.


^^^"Baby, aku turun sebentar ya."^^^


Tian meminta ijin untuk mengambil bingkisan yang dikirimkan oleh Manager Raka. Tadi kata manager itu kurir paketnya yang ada di belakang mobil SUV nya. Tian sudah melihat sosok kurir itu dari kaca tengah mobil. Gerakan tangannya membuka pintu terhenti karena Hana menarik bajunya.


^^^"Mau kemana memangnya? Tidak langsung ke rumah saja kak?" Hana bingung.^^^


Sudah berhenti lama di lapangan dekat rumah, sekarang dengan santainya Tian juga mau turun dari mobil. Bagaimana kalau ada yang mengenalinya, Tian kan tidak memakai penutup wajah apapun, karena pikiran itulah Hana menarik baju Tian.


^^^"Aku mau mengambil paket dari kurir dibelakang mobil kita, baby. Aku turun sebentar ya?" menunjuk arah belakang.^^^


Hana pun berbalik melihat arah yang diucapkan. Setelah itu Hana menawarkan dirinya saja yang turun untuk mengambil paket menggantikan Tian. Hana menyampaikan juga kekhawatirannya kalau nanti Tian malah dikenali dan akan menimbulkan keributan dilingkungan ini. Mengingat jalanan kompleks rumahnya di Minggu pagi ini masih ramai lalu lalang orang.


Ada yang berolahraga di dekat lapangan. Ada juga yang jualan makanan, bahkan ada yang baru pulang belanja dari pasar.


Tian menurut saja. Hana pun langsung turun menggantikan Tian untuk bertemu kurir itu. Meskipun tidak rela, karena kurir itu juga laki-laki. Tapi karena Hana meyakinkan kalau dirinya hanya akan menerima paket saja tidak akan memakan waktu lama barulah Tian menyetujuinya. Tapi masih dengan satu syarat lagi.


"Janji ya baby, jangan bicara padanya. Hanya mengangguk saja. Oke ralat. 'Terimakasih' boleh. Tapi jangan bicara yang lainnya ya. Ya Baby?" instruksi Tian kelewat posesif.


Agak tidak masuk akal. Masa berbicara dengan laki-laki lain saja Hana perlu ijin Tian. Tapi Hana memilih tidak berdebat. Karena pasti akan memakan waktu lama. Hana kasian dengan kurir yang masih menunggu mereka di belakang mobil. Jadi Hana menurut pasrah, berkata kalau dirinya hanya akan bicara terimakasih lalu masuk kembali ke mobil.


Setelah menerima paket, Hana menepati janjinya untuk langsung masuk ke dalam mobil. Karena pasti sang artis itu terus mengawasinya dari dalam mobil kan.


Dasar posesif, protes Hana dalam hati.


Eh, tapi dia pun senang senang saja. Ini pengalaman pertamanya memiliki hubungan dengan lawan jenis. Awalnya Hana merasa sifat posesif ini adalah tanda kalau Hana special bagi Tian.


Hana belum menyadari kalau sifat ini jugalah yang akan membuatnya pusing sendiri menghadapi laki-laki dihadapannya itu, nanti.


.


.


.


Itsumo arigatou gozaimashita.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2