Terpikat Duda Artis

Terpikat Duda Artis
Cherry si Cupid


__ADS_3

Satu hari yang panjang akhirnya berlalu.


Pagi yang cerah mulai datang.


Tian yang kemarin pulang dari makan malam bersama Hana, tidak pulang ke rumahnya di kawasan Jakarta Selatan. Tian ikut menginap di mansion orang tuanya di kawasan Cinere karena Cherry juga ada disini.


Mansion milik keluarga besar Dave Alexander yang berada di Cinere ini, lebih besar daripada rumah Tian di kawasan elit Jakarta Selatan. Padahal Rumah Tian itu saja sudah besar, tapi tidak ada apa-apa nya jika dibandingkan dengan Mansion Dave Alexander. Banyak fasilitas, dan juga banyak kamar yang tersedia kalau keluarga atau tamu ayahnya itu menginap ketika ada suatu acara.


Hal ini wajar, mengingat Dave Alexander yang dari dulu berprofesi sebagai artis senior, sekaligus sekarang menjadi pimpinan sebuah perusahaan agency terkenal, Stargazer. Agency yang menjadi semakin besar sejak Tian memulai karir keartisannya di dunia entertainment.


Terkait dengan hal itu, biasanya Tian jam segini sudah siap dan di jemput oleh Manajer Raka. Namun pemandangan langka terjadi.


Sang artis masih terlelap di dalam kamar yang dahulu dia pakai semasa kecil sampai remaja.


Mulai hari ini, jadwal Tian sudah tidak sepadat biasanya. Hanya jadwal yang memang sudah dibuat sebelumnya, yang masih harus Tian lakukan karena terikat kontrak. Setelah Tian meminta jatah cuti dua hari lalu, perusahaan berusaha keras mengatur ulang, dan mulai mereview jadwal yang penting ataupun bisa ditunda. Demi keinginan cuti sang artis.


Oleh karena itu Tian bisa sepuasnya istirahat sekarang.


Sudah jam delapan pagi, tetapi Tian masih belum bangun dari tidurnya.


Seperti biasa Cherry mencoba membangunkan ayahnya. Cherry sudah berlari menuju kamar ayahnya yang tepat berada disamping kamarnya.


"Ayah...bangun. Sudah pagi.." celoteh Cherry yang semakin baik artikulasinya.


Cherry menggoyangkan badan ayahnya, tapi karena badannya yang kecil goyangan tangan Cherry bahkan tidak terasa di badan Tian. Namun, Tian tetap tahu kalau putrinya akan datang membangunkannya seperti biasa jadi dia sedikit terbangun.


^^^"Sayang, lima menit lagi ya." pinta Tian sambil menutup selimutnya lagi.^^^


Tian sebenarnya sudah ingin bangun, namun matanya masih berat untuk dibuka.


^^^"Ayaah bangun! Ayo main! Eri mau main, yaah.." celoteh panjang Cherry membuat Tian memaksakan matanya terbuka.^^^


Tian tersenyum manis menatap putri kecilnya yang sudah sangat rapih dengan kunciran di kanan kirinya. Setelah kesadaranya terkumpul semua, Tian mengerenyitkan dahinya.


Agak bingung, Tian tidak ingat berjanji main hari ini dengan Cherry.


Tadinya Tian hanya ingin menghabiskan waktu di mansion orangtuanya bersama Cherry. Seperti melakukan aktivitas berenang, atau mendongeng lagi seperti biasa. Tapi kalau Cherry ingin kegiatan lain, Tian akan mengikuti kemauan putrinya itu. Karena hari ini sampai hari Minggu besok jadwalnya kosong.


^^^"Iya Ayah bangun. Mau main apa cantik? Hm?" tanya Tian yang masih belum beranjak dari kasurnya.^^^


Malahan Tian sekarang ikut memeluk putrinya tidur di sampingnya. Tidak hanya memeluk, Tian juga mencium gemas pipi tembem Cherry. Tian juga menggesekan hidung mancungnya ke hidung mungil putrinya. Cherry tertawa geli, karena saat dicium bulu jenggot halus di wajah Tian mengenai wajah mungil Cherry.

__ADS_1


^^^"Yah, stop! Geli....Hahaha." ucap Cherry menahan wajah ayahnya untuk mencium dirinya.^^^


^^^"Ah, ayah belum cukuran ya. Tapi kasih tahu Ayah dulu kita mau main kemana hari ini, cantik?" jawab Tian masih melanjutkan keisengannya mencoba mencium Cherry.^^^


^^^"Hahaha. Main bertiga....ama Miss Ana." jawab Cherry akhirnya.^^^


Tian berhenti sejenak. Memikirkan ide yang diucapkan Cherry.


Wah, memang pintar putriku ini, gumam Tian bangga.


^^^"Ayo, Yah....Ayo main!" rengek Cherry makin keras.^^^


^^^"Ayah sih mau, Ma chérie. Tapi kita harus tanya juga Miss Hananya." jawab Tian.^^^


Mendengar hal itu, Cherry kecewa dan cemberut.


^^^"Yah kan...dah janji kemarin!" ucap dengan bibir mungil yang merucut.^^^


^^^"Hahaha." pecah tawa Tian melihat muka menggemaskan putri kecilnya.^^^


^^^"Sini, dengar ayah dulu cantik. Ayah memang janji, Miss Hana kan juga sudah janji."^^^


Tian mencoba menjelaskan dulu, sebelum akhirnya dia menjalankan rencana yang ada di otak nya.


Cherry mengangguk setuju atas rencana Ayahnya. Tian pun tanpa membuang waktu mengambil handphonenya yang berada di nakas samping kasur.


Sempat berhenti sejenak, karena Tian teringat dirinya belum memakai baju atasannya. Tian selalu tidur dengan telanjang dada. Tapi akhirnya tetap memencet nomor contact Hana.


Belajar dari pengalaman kemarin, Tian mencoba mengirimkan pesan dulu sebelum melakukan panggilan video. Niatnya agar Hana bisa melakukan persiapan hati dulu, pikir Tian sangat percaya diri.


sender: Tian dan Eri.


Miss Hana, pagi. Eri ingin berbicara denganmu. Apa boleh kami video call sekarang?


Tian sudah mengirimkan pesan, tinggal menunggu balasan dari wanita cantik yang beberapa hari tinggal di pikirannya itu.


^^^"Yah, ayo video..." ujar Cherry tidak sabar.^^^


^^^"Tunggu sayang, tunggu Miss Hana bilang oke dulu. Mungkin Miss Hana sedang tidak lihat handphone." mencoba menenangkan putrinya.^^^


Padahal dia juga tidak sabar menunggu balasan Hana. Tak lama setelah itu, suara dering pesan masuk muncul. Pesan yang ditunggu pun langsung dibaca sang pemilik handphone.

__ADS_1


sender: Guru Rapunzel


Pagi juga Eri. Boleh kok. Tunggu lima menit ya. Nanti dari Miss yang call (video).


Tian berbunga-bunga mendapatkan pesan pertamanya dari sang wanita pujaan. Tian senyum senyum sendiri sampai lupa kalau Cherry menunggunya membaca pesan itu.


^^^"Yaaaahh...video call nya?" tanya Cherry untuk memastikan kapan video call dengan sang guru.^^^


"Katanya oke sayang. Tunggu sebentar Miss Hana sedang siap siap dulu. Kita tunggu ya cantik." balas Tian.


Tian mengecup pipi tembem putrinya. Selama ini kalau bukan karena Cherry, Tian pasti akan kehilangan kesempatan bahkan topik yang bisa dibicarakan dengan Hana. Putrinya ini seperti cupid untuk sang ayah mendekati guru cantik Miss Hana.


Jadi ciuman ini seakan rasa terima kasih dan gemas Tian terhadap putri satu-satunya ini. Karena diserang ciuman gemas lagi oleh ayahnya, Cherry pun pasrah hanya menerima dan tertawa geli.


Lalu Tian teringat sesuatu. Dia membaca ulang pesan yang dikirimkan Hana.


Kenapa Hana hanya menyapa Eri saja? Dia pasti tahu kan yang mengirim pesan ayahnya, jadi harusnya aku disapa dong? protes Tian yang tidak bisa disampaikan.


Hmmm, oke kamu pasti sengaja tidak menyapaku ya. Awas kamu ku hukum nanti. Hehe.


Tian sekali lagi terpikirkan ide untuk menggoda Hana. Tidak ada habisnya akal dan rencana sang artis kalau itu untuk menggoda Hana.


.


.


.


🌻: minna-san aku ijin ga up dulu ya, karena besok tgl 21 April setahun kematian ayahku. (my heartbreak anniversary).


I tried to write 1 bab everyday for my therapy.


But just for tomorrow I wanna take a break for grieving. hontouni gomenasai.


hopefully, secepatnya aku balik nulis lagi Yaa untuk upload yang tanggal 22 April


Itsumo arigatou gozaimashita.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2