Terpikat Duda Artis

Terpikat Duda Artis
Kau Penyelamatku


__ADS_3

Berita menghilangnya sang artis wanita pendatang baru akhirnya terdengar juga ke beberapa karyawan di kantor gedung siaran. Tapi beritanya masih desas desus, belum diketahui darimana sumbernya dan juga kebenarannya.


Hal ini membuat perusahaan agency Stargazer semakin merasa khawatir hal ini akan membuat situasi semakin tidak kondusif.


Bos perusahaan agency, Dave Alexander langsung menelepon Manager Raka untuk cepat mengurusi hal ini.


^^^"Raka, kau dan yang lainnya harus segera menemukan Rainy! Jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan!" perintah Dave.^^^


^^^"Baik, tuan Dave." balas Manager Raka.^^^


Walau Manager Raka sendiri bingung, harus mencarinya kemana lagi.


Ah, ada satu tempat yang tidak bisa aku check tadi! Manager Raka teringat sesuatu.


Firasatnya mengatakan Rainy mungkin masih di dalam gedung. Tapi karena satu tempat itu luput dalam pencarian, dirinya merasa perlu datang untuk mengecek sekali lagi.


Manager Raka berlari menuju toilet lantai satu dekat lobby resepsionis. Ketika sampai di depan pintu toilet yang terkunci, ada sebuah kertas dengan tulisan 'toilet rusak jarang digunakan'.


Manager Raka mencoba membuka paksa handle, juga menggedor daun pintu dengan keras.


^^^"Rainy! Rainy! Kau di dalam??!" teriak Manager Raka.^^^


Dibelakang Manager Raka, menyusul Tian juga Silvia dan beberapa karyawan dari agency tiba di depan toilet yang sama. Mereka sengaja didatangkan untuk ikut mencari Rainy.


Sebenarnya Rainy samar mendengar suara Manager Raka dari dalam bilik toilet. Tapi dengan kondisi terkunci di toilet sempit dalam waktu kurang lebih lima jam lamanya, membuat Rainy lemas dan dehidrasi. Rainy hanya bisa menjawab dengan lirih.


^^^"Kak.. manager...tolong..aku.." ucap Rainy lirih.^^^


^^^"Kak, kita dobrak saja?" tanya Tian.^^^


^^^"Tidak usah! Barusan aku minta kunci cadangan ke officer gedung. Ini kak!" jawab cepat Silvia.^^^


Manager Raka membuka dengan cepat pintu depan toilet, lalu mereka semua masuk beriringan. Dimulai dari Manager Raka, semua orang mengecek keberadaan Rainy di bilik toilet satu persatu. Semua memanggil nama Rainy.


^^^"Rainy! Kau ada di dalam??!"^^^


^^^"Rainy!"^^^


Silvia mengecek satu pintu bilik yang tidak bisa dibuka.


^^^"Kak Raka! Bilik ini terkunci! Rainy! kamu di dalam??" teriak Silvia.^^^


^^^Rainy mengerahkan tenaganya untuk menjawab, "Aku..disini.."^^^


"Minggir! Rainy jangan berdiri di depan pintu!" ucap Manager Raka.


Manager Raka mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu bilik toilet. Pintu terbuka, memperlihatkan Rainy sedang terduduk lemas di kloset yang ditutup.


^^^"Ya ampun Rainy!!" teriak Silvia panik.^^^


^^^"Rainy, kau bisa mendengar kami??" tanya Manager Raka.^^^

__ADS_1


Rainy melihat Manager Raka mendekatinya, lalu tangan Rainy mengusap wajah tampan sang manager itu.


^^^"Kau...penyelamatku.." lirih Rainy.^^^


Deg.


Tatapan sendu dan suara lirih dari Rainy membuat hati Manager Raka berdetak aneh.


^^^"Kak Raka, kenapa malah diam?! Angkatlah Rainy dia sepertinya butuh pertolongan. Kalau perlu kita bawa ke rumahsakit." seru Tian gemas.^^^


"Ah, iya." jawab Manager Raka.


Lalu manager Raka menggendong bridal style Rainy kedalam pelukannya. Tian membuka jasnya, untuk menutupi wajah dan tubuh Rainy yang sepertinya sudah basah karena keringat.


Setelah kondisi sudah di sterilkan oleh karyawan Stargazer lainnya, Manager Raka membawa Rainy masuk ke mobil dengan aman.


"Silvia, bawalah Rainy ke rumah sakit terdekat. Aku akan--"


Belum selesai Manager Raka bicara, tangan Rainy menarik baju Manager Raka lagi.


"Jangan tinggalkan aku, kak..."


Kali ini Rainy mengucapkannya dengan tangan gemetar menahan tangis.


Bagaimana ini? Dia pasti ketakutan. Tapi aku tidak mungkin ikut, dan meninggalkan Tian disini. Manager Raka bingung sendiri harus mengambil sikap seperti apa.


^^^"Ikutlah kak. Biar Tomi yang mengantarku nanti." ucap Tian.^^^


Tanpa pikir panjang lagi, Manager Raka akhirnya menjawab.


^^^"Okay, nanti aku akan menjemputmu sebelum acara makan malam. Tomi tolong jaga dan antar Tian."^^^


...🌻🌻🌻...


Hale kembali lagi ke kampus, menepati janjinya untuk mengambil kartu mahasiswa dan kartu member perpustakaan.


Hale langsung menuju counter registrasi dan peminjaman buku perpustakaan.


^^^"Ah, hai kak Hale!" sapa Sasi riang.^^^


^^^"Hai juga, Sasi Tomboy. Hehe." balas Hale.^^^


^^^"Ish, nakal banget sih. Ngatain aku terus." Sasi besungut.^^^


Hale tertawa, dia bahkan kangen Sasi bilang nakal kepada dirinya.


Hale selalu jahil ke juniornya ini sejak sekolah dulu. Sejak saat itu pula tagline 'nakal banget sih' dari Sasi menjadi kata-kata yang sering diucapkan gadis itu kepada Hale.


Sasi menyerahkan kartu mahasiswa dan juga kartu member ke Hale, juga satu lagi kertas bukti penyerahan kartu member untuk di tandatangani. Hale langsung menandatanganinya.


"Oke deh, dengan ini kak Hale sudah bisa minjam buku. Eh, gabisa pinjam joki skripsi loh! Hahaha." ucap Sasi.

__ADS_1


"Dih, garing. Siapa juga yang mau minjam joki skripsi. Aku engga perlu begituan." balas Hale.


^^^"Masa sih? Aku tau pembicaraan semua mahasiswa akhir disini, kalian pasti frustasi dan mau cari joki skripsi kan? Ngaku deh!" ledek Sasi lagi.^^^


^^^"Aku engga perlu joki, tapi yang nawarin bantuin sih banyak tuh. Aku aja yang engga mau." jawab Hale.^^^


^^^"Haha. Bantuin dengan maksud tertentu ya kak. Ciyee."^^^


Sasi senang mendapatkan topik untuk meledek Hale, kesempatan untuk balas iseng kak Hale nih, pikirnya.


"Iya kayanya. Contohnya kan kamu. Kemarin kamu nawarin aku maksudnya apa coba? Hayo ngaku?" balas Hale.


Situasi berbalik, Hale jadi balas meledek Sasi. Sasi kaget dengan ledekan balik dari Hale, hanya bisa berkilah.


^^^"Apa sih. Nakal banget. Bisa-bisanya malah balikin topiknya ke aku. Udah sana pulang!"^^^


Sasi hanya bercanda, dia sebenernya tidak ingin Hale langsung pulang. Mau mengajak Hale makan siang bersama, tapi Sasi tahu diri takut menerima penolakan. Hale yang makin tertawa melihat mulut Sasi yang jadi mengerucut karena kesal. Karena gemas Hale jadi mengusap rambut Sasi lagi.


^^^"Sa, kamu istirahat jam berapa? Ayo temenin makan siang."^^^


^^^"Eh? Kak Hale ngajak aku makan siang?" tanya Sasi tidak percaya.^^^


^^^"Mau engga? Ya sudah kalo engga mau gapapa." balas Hale.^^^


^^^"Mau! Eh, tapi yang ngajak harus traktir loh! Itu kan manner dasar." ucap Sasi asal.^^^


^^^"Dih, yang lagi kerja kan kamu, masa minta traktir ke mahasiswa akhir yang lagi banyak pengeluaran buat skripsi sih." ledek Hale.^^^


^^^"Haish, Kak Hale juga tahu aku cuma magang untuk dapat nilai. Mana..dapat..uang." jawabnya lirih.^^^


Dia mau protes kalau dia juga magang yang tidak di gaji, tapi Sasi tahu diri tidak mengatakannya dengan lantang. Takut petugas senior yang mengawasinya mendengar.


"Hahaha. Oke Alright. Ku traktir." canda Hale.


"Yess! Aku ijin makan siang dulu ke seniorku ya. Kak Hale tunggu dulu di pintu depan saja!" seru Sasi.


Hale masih tertawa. Sudah lama moodnya tidak sesenang ini. Hale pun berjalan ke arah pintu depan menunggu Sasi.


.


.


.


itsumo arigatou gozaimashita!


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2