Terpikat Duda Artis

Terpikat Duda Artis
Ada yang Tidak Beres


__ADS_3

Ketegangan di rumah Hana berlanjut.


^^^"Dengar kan, Riga-san? Hana pacarku sekarang." dengan nada bicara bangga.^^^


Jadi pulanglah kau sekarang juga. Dasar pengganggu! Tian masih menahan perkataannya agar tidak timbul perkelahian kecil. Takut kedua orangtua Hana mendengar keributan kecil ini. Tentu saja karena dirinya tidak ingin imagenya buruk di depan calon mertuanya.


Begitupun halnya Riga. Rasanya bisa saja Riga menghajar artis menyebalkan itu yang sengaja memancing amarah nya. Tapi Riga masih sangat waras untuk menahan diri agar tidak menggila sekarang.


Perang dingin tanpa ucapan terjadi lagi.


Hale dan Hana berusaha mencairkan suasana sebisa mereka. Sepertinya tidak berhasil. Alhasil suasana menjadi awkward dan hening.


Beruntungnya, handphone Hana berdering mampu memecahkan suasana hening itu dengan cepat.


Panggilan dari nomor tidak dikenal. Namun sepertinya bukan nomor asing bagi Hana. Hana bingung mau mengangkatnya atau mengabaikan saja.


Tian yang sudah memperhatikan dari tadi bertanya.


^^^"Dari siapa baby?" tanya Tian.^^^


^^^"Aku juga tidak tahu. Nomornya tidak ada di kontakku." jawab Hana.^^^


^^^"Berikan padaku. Mulai sekarang jangan angkat telepon dari nomor yang tidak dikenal ya, baby. Biar pa-car-mu saja yang angkat." dengan sengaja menekan kata pacarmu sambil melirik Riga.^^^


Astaga. Ternyata kekanak-kanakan sekali tingkahnya artis ini. Eh? Kak Hana kenapa malah tersipu sih! Hale bergumam heran dalam hati.


Hana memberikan handphone ke Tian. Tian melihat sekilas nomor telepon yang tertera di layar. Dahinya mengernyit. Sepertinya aku mengenali nomor ini, Tian bertanya-tanya dalam hatinya.


^^^"Halo? Siapa ini?" sapa Tian singkat tanpa berbasa-basi.^^^


Lalu, Tian langsung menjauhkan handphone Hana dari telinganya. Sepertinya si penelpon berbicara dengan nada tinggi sampai suaranya terdengar juga oleh beberapa orang selain Tian.


^^^"Siapa katamu? Ini aku managermu! Kenapa kau tidak angkat teleponmu sialan!" suara Manager Raka yang terdengar sudah sangat kesal.^^^


Ah, aku lupa sudah menghapus nomor Manager Raka di handphonenya Hana, Tian akhirnya teringat kenapa dia merasa nomor ini tidak asing. Ternyata memang nomor Manager Raka yang sengaja dia hapus beberapa hari lalu.


Raut mukanya berubah. Tian jadi kesal Manager Raka melanggar janjinya untuk tidak menelepon Hana. Meskipun tahu ini dikarenakan dirinya yang tidak menjawab telepon.


Tian tahu, karena memang Tian sengaja tidak melihat handphonenya sejak bermain catur dengan Ayah Hana. Merasa tidak sopan jika nanti ada panggilan telepon di sela bermain, jadi Tian mengaktifkan handphone nya dengan mode senyap. Tanpa dering dan getar.


Tapi tetap saja, Manager Raka kan tidak boleh seenaknya menelpon Hana tanpa ijin Tian, begitu isi kepala sang artis.


^^^"Cih. Sudah kubilang kan jangan telepon ke nomor sini. Apapun yang terjadi." Tian malah ikut kesal.^^^

__ADS_1


^^^"Kalau tidak ada yang gawat juga aku tidak akan telepon. Cek handphonemu! Cek pesan dariku dan juga histori telepon. Bahkan Ayahmu marah karena kau tidak bisa ditelepon tahu! Cepat pulang dan pergi ke mansion utama Ayahmu!"^^^


Manager Raka sudah membombardir dengan semua hal yang perlu dia sampaikan. Namun sepertinya urutannya berantakan. Manager Raka sudah tidak terlalu peduli lagi. Dia hanya ingin Tian segera pergi ke mansion utama, sebelum sang pimpinan lebih marah lagi.


^^^"Apa sih! Bicara yang jelas dong Manager sialan! Gawat apa? Kenapa ayah telepon? Hah?!" Tian makin kesal karena dia merasa tidak paham apa inti dari panggilan telepon ini.^^^


Tidak biasanya Manager Raka bicara kacau seperti ini.


^^^"Haish! Pokoknya jangan banyak tanya, langsung saja ke mansion utama Alexander. Aku juga dipanggil kesana! Ini perintah ayahmu!"^^^


Sambungan terputus begitu saja tanpa penjelasan yang diharapkan oleh Tian. Dirinya yang biasanya selalu menerima penjelasan dari sang manager menjadi kebingungan sendiri, dan mulai merasa cemas.


Ada yang tidak beres terjadi. Kak Raka tidak pernah seperti ini, Tian terdiam mulai menebak apa yang sebenarnya terjadi.


Segala macam pikiran negatif muncul. Yang pertama Tian khawatirkan adalah putrinya, Cherry.


Apa ini ada hubungannya dengan Eri? Ah tidak mungkin kan. Tadi pagi Eri baik baik saja. Argh, bisa gila aku. Ada apa sih ini.


Hana yang melihat raut cemas dari wajah Tian, akhirnya memberanikan bertanya.


^^^"Ada apa kak? Itu tadi kak Manager ya? Apa ada masalah?" tanya Hana.^^^


Tian belum menjawab. Dia mulai mengeluarkan handphone yang dari tadi ada di saku celananya.


Napas Tian tiba-tiba terasa sesak.


Tian yang biasanya bersikap tenang, apalagi sekarang sedang berada di depan wanita pujaannya, sekarang terserang panik.


Gawat! Sepertinya benar ada yang tidak beres!


Dia melihat histori panggilan. 30 panggilan tidak terjawab itu 7 kali dari Ayahnya. Sisanya dari Manager Raka 15 kali, tiga kali dari Bella, terakhir lima kali dari Ibunya Tian.


Tanpa membuang waktu Tian langsung membuka pesan terbaru. Pesan dari Manager Raka.


Sender: Kak Raka


Postingan tentang dirimu yang mempunyai calon istri sedang heboh di media sosial. Aku sudah check tidak ada yang menyebutkan nama Hana, ataupun foto yang memperlihatkan wajahnya. Cek link ini


Waver.com/Himawari.yakusoku.post/akdydy


Setelah membaca pesan itu Tian mendadak berdiri dari duduknya. Membuat tiga orang yang masih memandangnya dengan heran, ikut terkejut.


"Astaga! Kenapa tiba-tiba berdiri tuan Tian?" dengan reflek Hale bertanya.

__ADS_1


Hana hanya menarik baju Tian. Hana ikut cemas.


^^^"Kak Tian? Ada masalah apa sebenarnya?"^^^


^^^"Maaf aku belum bisa cerita. Aku juga belum tahu pasti. Tapi aku harus segera pulang. Titip salam buat Ayah dan Ibu ya."^^^


Tian segera bergegas setelah menganggukan kepala kepada semua orang yang ada, menyambar kunci mobil lalu segera keluar menuju teras.


Hana ikut mengantar sang pacar artisnya. Kaki nya yang lebih kecil dari Tian membuatnya setengah berlari mengejar sang artis.


^^^"Kak Tian!"^^^


Tian yang sudah berada di depan pintu mobil berbalik. Mata Tian tidak bisa bohong. Penuh rasa cemas.


Ada masalah apa sebenarnya? Hana berusaha menebak dalam hatinya. Tapi semakin dicoba, Hana tidak tahu jawabannya apa. Meskipun belum tahu permasalahannya apa, Hana hanya ingin membuat Tian jauh lebih tenang. Hana khawatir kalau Tian harus menyetir dengan keadaan kacau seperti ini.


^^^"Kak Tian, apapun masalahnya tolong berusahalah tetap tenang ya nanti nyetirnya. Tolong telepon aku kalau nanti keadaannya sudah membaik." ucap lembut Hana.^^^


Setelah agak ragu, tapi akhirnya Hana melakukannya juga. Hana mengecup cepat pipi Tian.


^^^"Hati hati ya kak Tian." dengan muka sedikit memerah.^^^


Berkat kecupan itu, ketegangan di wajah Tian sedikit mengendur. Cara Hana berhasil. Kecemasan itu tetap tidak hilang sih, tapi setidaknya Tian agak lebih tenang dibanding tadi.


^^^"Makasih baby. Aku pulang ya." setelah tersenyum Tian langsung naik ke mobilnya dan memundurkan ke jalan utama.^^^


Hana hanya bisa melihat kepergian mobil Tian yang menjauh dengan berdoa. Semoga bukan masalah besar.


Entah kenapa hatinya ikut merasa aneh. Sepertinya Hana memiliki firasat bahwa akan terjadi kejadian besar setelah ini.


.


.


.


Itsumo arigatou gozaimashita.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2