
Akhir pekan pun tiba.
Seminggu ini hari-hari yang dilalui Hana di sekolah pun agak lebih tenang. Sangat tenang sampai terasa aneh.
Memang tetap terasa tidak biasa sih. Tahun ajaran baru di tahun ini banyak sekali bodyguard di setiap sudut sekolah. Pembatasan waktu kunjungan walimurid, kecuali jam antar dan jam jemput walimurid dilarang berada di area sekolah. Tapi peraturan baru ini bisa dilaksanakan dengan baik, tanpa masalah berarti.
Kecuali satu masalah.
Hana selalu merindukan Tian, pacar tampan yang juga artis terkenal dengan sejuta kesibukannya. Pikirannya berusaha memahami, tapi masalahnya hatinya selalu saja tidak sejalan. Hana berharap bisa bertemu secepatnya.
Akhirnya, akhir pekan yang ditunggu pun tiba. Tian dan Cherry bilang akan main ke rumah Hana untuk menghabiskan waktu akhir pekan bersama bertiga. Entah akan seharian bermain di rumah Hana atau nanti akan pergi ke suatu tempat lainnya. Paling tidak mereka bertiga janjian dahulu untuk bertemu di rumah Hana.
Tapi, rencana berubah. Sekarang Hana dengan perasaan khawatir sedang dalam perjalanan menuju rumah besar Tian, yang berada di kawasan elit yang disebut sebagai Beverly Hills-nya kota Jakarta Selatan.
Flashback sejam sebelumnya.
Hana sedang mempersiapkan cemilan bersama Ibunya di dapur saat handphonenya berdering. Munculnya nama yang ditunggu-tunggu, membuat senyum Hana juga seketika muncul. Wajah cantik itu bersemu merah. Hana menjauh dari dapur setelah ijin kepada ibunya untuk mengangkat panggilan telepon dulu.
"Halo kak." ucapnya terlewat bersemangat.
Namun belum terdengar suara dari seberang telepon. Hana jadi bingung. Menjauhkan layar dari kupingnya, ingin mengecek apakah panggilan sudah terhubung atau belum. Lalu, berbicara lagi.
"Kak Tian? Halo? Kakak baik-baik saja?" dengan nada khawatir.
"Ah. Maaf. Halo, baby. Iya aku baik-baik saja." dengan nada lemas.
"Sungguh? Lalu kenapa sepertinya tidak semangat? Ada yang terjadi kak? Ada berita baru lagi kah?" makin khawatir.
"Tidak, baby. Semua aman. Hanya saja...Hanya saja Eri sakit." bicara dengan nada sedih.
"Hah? Kok bisa? Kemarin di sekolah Cherry baik-baik saja. Sakit apa?" saking kaget bercampur khawatir, Hana tanpa sadar bersuara kencang. Perasaan Hana menjadi kalut, tidak nyaman memikirkan kondisi gadis kecil itu.
Suaranya sempat terdengar Ibu yang sedang di dapur. Ibu menoleh, karena kaget dam penasaran.
"Iya, sepertinya salah makan saja. Perutnya sakit katanya. Maaf ya, sepertinya hari ini belum bisa bertemu."
"Tidak perlu, meminta maaf. Apa Cherry sudah dibawa ke dokter kak? Sudah minum obat juga?" tanya Hana.
"Sudah kok, Baby. Makasih ya. Tapi Cherry belum mau makan dan minum obat, katanya ingin main dengan Ibu Hana. Kamu bisa kesini baby?"
__ADS_1
"Bisa. Aku siap siap kesana ya. Cherry perlu dibawakan sesuatu kah? Ah. Aku bawain buah stroberi ya. Kebetulan Ibu baru beli banyak, karena kemarin aku bilang kakak dan Cherry mau main ke rumah." Hana menawarkan.
"Maaf ya, Baby. Kami belum bisa menepati janji ke sana. Aku jadi tidak enak dengan orangtuamu. Dan, tidak usah repot-repot bawa apapun. Kamu datang saja Eri pasti senang."
"Tidak apa-apa. Ayah dan Ibu pasti mengerti. Dan aku tidak merasa repot. Stroberi ini kan memang dibeli khusus untuk Cherry. Tunggu aku ya."
Sambungan terputus, setelah Hana menjawab pertanyaan Tian tentang dengan cara apa Hana pergi ke rumah Tian. Dengan sedikit paksaan dari Tian, akhirnya diputuskan Hana hanya boleh pergi diantar dengan taksi atau alternatif lainnya dijemput Manager Raka. Padahal Hana ingin naik sepeda motornya, niatnya agar bisa tiba lebih cepat. Jelas Tian menolak ide itu, karena faktor jarak dan keselamatan. Hana memilih mengalah, dia akan pergi naik taksi.
Sejam berlalu.
Hana tiba di rumah besar milik Tian di kawasan elit Jakarta Selatan. Hana disambut oleh pelayan wanita yang cukup berumur itu, bertanya kepada Hana apakah Hana bisa langsung ke kamar Cherry yang dilantai dua sendiri saja atau tidak. Pelayan wanita, yang akhirnya diketahui Hana sebagai kepala pelayan di rumah, mengatakan dirinya masih harus membuat bubur dan makanan lain di dapur sehingga tidak bisa mengantarkan sampai depan kamar.
Hana menjawab tidak masalah karena dirinya tahu letak kamar Cherry berada di lantai dua. Karena ini adalah kali keduanya Hana datang ke rumah ini. Namun di kesempatan kali ini, statusnya Hana sudah berubah dari calon gurunya Cherry menjadi guru dan kekasih nya Ayahnya Cherry. Dan hari ini Hana khusus menjenguk putri kecil dari kekasihnya, bukan Cherry muridnya di sekolah.
Ketika sudah sampai di depan kamar, Hana berusaha mengetuk pintu terlebih dahulu. Tiga kali ketokan di pintu, namun tidak ada jawaban dari dalam kamar. Baik dari Tian maupun Cherry.
Hana ragu. Apakah tidak masalah dirinya masuk, atau harus menunggu lagi. Tapi akhirnya Hana memilih masuk saja, toh Hana datang untuk segera menemani Cherry. Begitu akhirnya Hana pun membuka pintu, lalu melangkah masuk.
"Kak Tian? Cherry? Aku masuk ya."
Hana heran kenapa yang ada tempat tidurnya Cherry kosong tidak ada kehadiran Tian maupun Cherry. Lampu kamar pun gelap. Seperti sengaja dimatikan. Lalu Hana melihat ada cahaya lampu keemasan dari ruang belajar yang ada di sebelah, tempat Hana pernah menggambar bersama Cherry saat pertemuan pertama mereka.
"Kak Tian? Cherry? Kalian ada di samping kah?"
Ruang belajar ini disulap menjadi miniatur taman bunga yang manis, terlihat ada hiasan bunga yang membentuk hati makin membuat suasana jadi makin romantis. Tidak sampai situ lampu neon didekatnya bertuliskan 'Marry Me', jelas sekali, mengartikan suatu kejadian besar akan terjadi pada hari ini.
Tian pun datang dengan cara dramatis. Tidak tahu arahnya dari mana, tiba-tiba saja sudah berada di belakang Hana. Tian bersama dengan Cherry yang membawa bucket bunga dengan kartu yang bertuliskan 'Will you be My Mother forever?' Bucket yang ukurannya lumayan besar sampai menutupi sebagian wajah kecil itu.
"I love ibu Hana." Cherry bicara dengan manisnya dan menyerahkan bucket bunga kepada Hana.
Hana kehilangan kata-katanya. Otaknya masih mencerna situasi yang ada didepannya. Namun perasaannya penuh dengan rasa senang. Hana menerima bucket bunga dari Cherry, mengusap kepala putri kecil itu dengan sayang.
"Hana, Baby. Mari kita hidup bersama, menjadi orangtua yang baik untuk Eri, dan anak-anak kita kelak." Tian mulai berbicara, lalu berjongkok.
"Will you marry me, baby?" sambil membuka kotak kecil yang ada ditangannya.
Deg..Deg.
A-apa aku sedang bermimpi? Aaaa. Hatiku ingin meledak rasanya. Hana belum mampu berkata-kata saking merasa terharu dan bahagia dalam satu waktu. Hana menungkupkan tangannya menutupi muka. Dia menangis bahagia.
__ADS_1
Suasana hening itu semakin dramatis dan romantis, saat Tian berdiri mengambil tangan Hana sebelum menyematkan cincin di jari manis sang wanita pujaan itu. Tian bertanya sekali lagi.
"Menikahlah denganku, Hana Jasmine. Aku akan membuat dirimu menjadi wanita paling bahagia di dunia ini."
Hana mengangguk, masih belum bisa berkata-kata tapi anggukan kepala sudah cukup sebagai jawaban.
"That's mean yes for yes?" Tian tidak kuasa mengembangkan senyumannya.
"Ya. Aku mau. Menikah dengan kakak, dan menjadi ibu untuk Eri juga." dengan mata masih berkaca-kaca.
Menyambut lamaran Tian, Hana memberikan tangannya untuk disematkan cincin oleh laki-laki yang akan menjadi suaminya itu. Setelah itu, Hana menghamburkan dirinya untuk memeluk Tian.
Riuk tepuk tangan dari beberapa orang terdengar.
Lagi-lagi Hana dibuat terkejut.
Ternyata di dalam ruang yang dihiasi bunga dan balon itu ada beberapa orang lainnya, selain mereka bertiga. Ada orangtuanya Tian, Manager Raka, Bella, dan juga orangtua Hana beserta Hale.
Ternyata ini sudah direncanakan, juga sudah diketahui semua orang yang ada di sini. Semua kecuali Hana sendiri. Ayah dan Ibu Hana, juga Hale langsung dijemput oleh Manager Raka setelah Hana naik taksi menuju ke rumah Tian. Bahkan taksi yang di naiki Hana, merupakan salah satu bagian yang terlibat dalam rencana ini. Supir taksi bertugas penting, selain mengantarkan Hana dirinya juga harus mengulur waktu agar perjalanan Hana tidak terlalu cepat sebelum semua persiapan selesai.
Tian menceritakan semuanya dengan tawa jahil. Satu lagi kejahilan yang terpikirkan oleh sang artis tampan.
"Oh ya Baby, kenapa hanya menjawab mau jadi ibunya Eri saja. Bagaimana dengan calon anak anak kita nanti? Aku mau langsung memberikan adik untuk Eri." berbisik namun suaranya masih terdengar oleh semuanya.
"Kakak!"
Semua orang ikut tertawa melihat kelakuan Tian kepada Hana.
Melihat pemandangan itu kedua pasang orangtua mereka ikut terharu. Ikut merasakan kebahagiaan atas lamaran kedua putra putri mereka. Begitu juga yang lainnya.
.
.
.
Itsumo Arigatou gozaimasu
.
__ADS_1
.
Bersambung