
Setelah mengirimkan pesan terakhir, Manager Raka menunggu balasan dari Hana. Disamping Manager Raka, Tian juga jadi ikut menunggu.
Sepuluh menit berlalu, tidak kunjung datang balasan dari Hana.
^^^"Kenapa dia tidak membalasmu, Kak? Dia tidak mau di telepon atau tidak mau makan malam denganku?" tanya Tian tidak sabar.^^^
^^^"Mana ku tahu. Sudahlah, kita langsung telepon saja." balas Manager Raka.^^^
Telepon pertama tidak langsung tersambung. Manager Raka dan Tian jadi bingung sendiri. Apa Hana benar-benar menolak ajakan Tian untuk makan malam?
Tian menjadi kesal sendiri. Baru kali ini ada yang menolak pesonanya. Biasanya banyak yang meminta duluan untuk bisa sekedar makan malam dengannya. Dia malu, dan jadi gemas. Semakin penasaran dengan Hana.
^^^"Haish, kau sih ada-ada saja, Kak! Untuk apa memberikan ide mengundang makan malam. Dia mungkin sungkan padaku." protes Tian.^^^
Seperti biasa, Tian selalu melimpahkan semua kesalahan kepada Managernya itu. Dia gengsi untuk menerima kenyataan kalau kemungkinannya undangan makan malamnya ditolak oleh Hana.
^^^"Hei! Aku mengusulkan ide itu karena kau terlihat cemburu hanya karena Hana duduk disamping Riga. Aku memikirkan ide itu juga untukmu tahu!" balas Manager Raka tidak kalah kesalnya.^^^
^^^"Cih." balas Tian.^^^
Tian menjadi serbasalah. Memang semua karena moodnya yang jadi kesal hanya karena melihat Hana duduk berdampingan dengan Riga. Sekarang moodnya juga jadi down karena merasa ditolak secara halus oleh Hana.
Apa aku terlalu agresif? Tidak, Hana memang berbeda. Tidak ada yang pernah menolakku sebelumnya, bela Tian dalam hatinya.
Saat sedang meratapi hatinya, terdengar suara dering telepon dari handphone Manager Raka.
^^^"Tian! Hana menelpon balik!" seru Manager Raka.^^^
^^^"Angkat, kak! Kenapa juga kau malah laporan. Eh, di loudspeaker!" balas Tian senang.^^^
Ini pertanda baik kan? Tian kembali mendapatkan kepercayaan dirinya yang tadi sempat hilang.
^^^Pembicaraan di telepon^^^
^^^"Ha-halo, ini Hana. Maaf tadi aku sedang mengendarai motorku." Hana berkilah.^^^
Padahal Hana panik saat mendengar handphonenya berbunyi, dering panggilan dari Manager Raka membuat jantungnya tidak bisa bekerja normal. Niatnya Hana ingin mengatur kembali jantungnya dulu baru mengangkat telepon. Namun, karena terlalu lama, panggilan sudah berakhir tanpa sempat diangkat.
^^^"Tidak apa-apa, Miss. Maaf kalau anda terkejut. Kami menyimpan nomor anda dari CV yang dikasih paman David. Aww, sakit tau!" ucap Manager Raka agak berteriak.^^^
^^^"Kenapa..kamu.. bilang..kami? Nanti ketahuan ada aku juga, kak!" ucap Tian lirih.^^^
__ADS_1
^^^"...Oh, begitu ya. Oke, gapapa tuan Manager." balas Hana lirih.^^^
Hana bisa mendengar suara Tian, meski dengan suara kecil. Sekarang Hana sedang menutupi mukanya. Beruntungnya, orang-orang yang disebrang telepon tidak melihat hal ini.
^^^"Jadi, tentang makan malam bagaimana Miss?" tanya Manager Raka to the point.^^^
^^^"Ah, itu! Aku tidak masalah! Maksudku, jam berapa aku harus tiba disana?" ucap Hana salah tingkah.^^^
Di sebrang telepon, Tian sudah bersorak senang tanpa suara dan mengangkat tangannya. Tian juga mengguncang bahu managernya itu. Lalu Tian menggerakan ketujuh jarinya seperti berbahasa isyarat, menginstruksikan Manager Raka bilang jam tujuh kepada Hana.
Lihat! tingkahnya seperti orang gila sekarang! Manager Raka merinding sendiri melihat pemandangan langka di depannya.
^^^"Okay, jam tujuh bertemu, tapi nanti akan ada yang menjemput anda jam setengah enam di rumah. Miss Hana hanya perlu bersiap saja." ucap Manager Raka.^^^
Eh, kenapa harus di jemput segala? Hana bingung harus menjawab apa.
Tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya di telepon, Manager Raka memutuskan untuk mengakhiri panggilan.
^^^"Okay, terima kasih Miss Hana." singkat Manager Raka.^^^
Pembicaraan telepon pun berakhir.
Tian sangat senang Hana menerima undangan makan malam bersamanya. Tian ingin malam segera datang.
Dia tersenyum secerah bunga matahari.
...π»π»π»...
Manager Raka dan Tian terlihat keluar dari lokasi pemotretan tadi pagi. Mereka menuju ke parkiran mobil. Langkah mereka terhenti, melihat mobil dan orang yang dikenal.
^^^"Kak, itu nona Silvia managernya Rainy kan?" tanya Tian sambil menunjuk ke orang yang dilihatnya.^^^
^^^"Iya, itu benar Silvia. Kukira mereka sudah berangkat setelah pemotretan berakhir?" Manager Raka malah ikut bertanya.^^^
"Ah! kak Raka, tuan Tian!" sapa Silvia dengan nada panik.
^^^"Apa kalian melihat Rainy? Dia tadi ijin ke toilet dari dua jam lalu. Aku terus mencarinya ke toilet manapun, tapi dia tidak ada! Bagaimana ini?"^^^
Kecemasan tergambar jelas di wajah manager wanita ini. Takut terjadi sesuatu yang buruk pada artis yang harusnya bisa ia jaga.
^^^"Tenanglah Silvia. Kau sudah coba cari kemana saja? Sudah telepon handphone nona Rainy?" ucap Manager Raka.^^^
__ADS_1
^^^"Aku cari ke semua toilet setiap lantai gedung ini. Tapi dia tidak ada. Aku coba telepon, ternyata handphone dan tasnya bersamaku. Aku harus bagaimana? Aku takut terjadi---"^^^
Silvia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Dia menjadi menangis membayangkan hal buruk terjadi pada artisnya.
^^^"Tenanglah nona Silvia. Kita cari lagi bersama-sama. Ayo kak Raka." ajak Tian.^^^
Akhirnya mereka bertiga berpencar mencari Rainy. Mereka bertanya kepada semua karyawan gedung yang mereka lihat. Tidak lupa juga menanyakan kepada para kru yang ikut pemotretan tadi pagi. Berharap ada yang melihat dimana Rainy terakhir berada.
Mereka menyusuri jalan mulai dari lantai lokasi pemotretan tadi pagi. Lokasi itu ada di lantai atas di gedung kantor siaran ini. Lalu mereka bertiga membagi tugas, Manager Silvia mencari di beberapa lantai atas. Tian di lantai tengah, dan Manager Raka lantai bawah.
Pencarian Rainy memakan waktu sangat lama. Rainy seperti menghilang. Tidak ada yang melihatnya setelah selesai pemotretan selesai. Anehnya CCTV gedung juga hari ini sedang rusak. Jadi mereka bertiga tidak bisa melihat dimana posisi terakhir Rainy.
Rainy hanya tertangkap CCTV parkiran luar, saat berjalan kembali dari mobil ke arah gedung. Setelah itu, Rainy tidak terlihat keluar dari gedung menuju ke parkiran.
Silvia sudah lemas, hal ini juga sudah dia laporkan ke perusahan agency Stargazer. Silvia dimarahi karena kecerobohan tidak menjaga sang artis dengan benar.
Dugaan dari perusahaan, kemungkinan Rainy diikuti oleh fans nya. Kemungkinan terburuknya bisa jadi Rainy di culik.
Tapi jika di culik saat kondisi kantor sibuk dengan lalu lalang karyawan dan juga tamu gedung, sepertinya hal yang sangat mustahil kalau tidak ada yang melihatnya.
Manager Raka memutar otaknya. Dia mulai merasa ada kejanggalan. Mencoba lebih tenang, untuk dapat menemukan Rainy. Manager Raka yakin Rainy masih ada di gedung ini. Tapi ada dimana?
Semua sudah mereka telusuri, mulai dari toilet sampai ruang kantor. Ah, ada satu tempat yang tidak bisa dia check tadi.
Firasatnya mengatakan dia harus mengecek sekali lagi ke tempat itu. Manager Raka bergegas kembali ke lokasi itu.
^^^"Hei! Kak Raka kau mau kemana?"^^^
Tian berteriak kebingungan melihat Manager Raka tiba-tiba berlari.
.
.
.
Itsumo arigatou gozaimashita!
.
.
__ADS_1
Bersambung