
Di rumah mansion artis senior Dave Alexander, yang berada di kawasan rumah artis Cinere.
Ibu Tian baru saja menutup panggilan telepon dengan putranya dan juga seorang wanita, yang diharapkannya bisa menjadi menantunya kelak.
Syukurlah, kalau memang mereka bisa dekat. Semoga Hana bisa membuat Tian melepas perasaan bersalahnya itu sepenuhnya. Ucap penuh harap Casandra dalam hati.
Sebagai seorang Ibu, dirinya sangat memahami Tian anaknya sangat hancur dan penuh dengan rasa bersalah sejak kejadian kecelakan yang menimpa mendiang istrinya dan Cherry putrinya. Tian merasa itu adalah bagian dari kesalahannya, tidak menjaga keluarga kecilnya dengan baik.
Kemudian, tahun pertama setelah kecelakan itu, itu bukan hanya masa sulit untuk Cherry. Juga masa yang sulit untuk Tian. Di setiap malam dalam beberapa bulan pertama, Tian mengalihkan rasa sakitnya dengan banyak meminum alkohol. Untungnya Manager Raka selalu siap menemani sang artis kapanpun, sampai jam berapapun.
Tian menangis setiap malam mencium kening Cherry saat putrinya itu tertidur. Menggenggam tangan mungil putrinya menangis terisak.
^^^"Maafkan ayah, karena ayah kamu kehilangan ibumu. Maafkan ayah kamu harus melalui semua ini, sayang." tangis Tian waktu itu.^^^
Walau dalam keadaan sehancur itu, Tian masih terikat kontrak kerja yang harus dijalankan dengan profesional. Dave, ayahnya menawarkan lebih baik membayar pinalti saja agar Tian bisa istirahat dulu memulihkan perasaannya. Tapi Tian menolak.
^^^"Justru kalau aku tidak melakukan kesibukan apapun, aku bisa jadi gila, yah. Tolong jangan lakukan. Beri aku kesibukan saja." ucap Tian dengan tenang.^^^
Tapi Dave tahu, ada badai bergemuruh di hati putranya itu.
Hari ini, Casandra melihat lagi binar mata Tian yang seakan lebih hidup selama bersama Hana. Meski sepertinya masih terlalu awal untuk menyimpulkan, tapi Hana mungkin bisa melepaskan Tian dari perasaan bersalah yang masih membelenggunya. Casandra sangat berharap bisa seperti itu.
Lalu Casandra memandang mata bulat cucunya. Jelas sekali, Cherry juga ikut mengalami hal baik setelah bertemu Hana kemarin. Gadis kecil usia lima tahun ini biasanya agak menutup diri dengan orang baru. Tapi dengan Hana, Cherry sudah telihat dekat sejak pertemuan pertama kemarin di rumah Tian.
Tadi saja Cherry enggan menutup panggilan video dan hampir menangis.
^^^"Masih ingin bicara banyak dengan Miss Hana." rengek Cherry dengan bahasa isyarat.^^^
Namun setelah dibujuk dengan baik, Cherry akhirnya mau menurut. Hana membujuk, menjelaskan bahwa Senin nanti Hana dan Cherry akan bertemu lagi di sekolah. Cherry mengangguk setuju, lalu neneknya pun bisa menutup panggilan video.
Setelah panggilan video tadi, Casandra mencoba bertanya kepada Cherry cucunya.
^^^"Eri sangat suka Miss Hana ya?" tanya Casandra.^^^
^^^"I...ya... Suka! Miss baik... cantik..kaya Rapunzel." celoteh Cherry.^^^
Mendengarnya saja Casandra senang. Sudah sejak kemarin Cherry banyak mencoba bicara. Artikulasinya semakin baik dapat jelas didengar. Ditambah, memikirkan kemungkinan jikalau Tian berhasil membuat Hana jadi ibu sambungnya Cherry, gadis kecil ini pasti tidak kesulitan menerimanya. Karena Cherry sendiri sudah menyukai pribadi Hana. Demi terwujudnya kemungkinan itu, Casandra merasa harus berbuat sesuatu.
__ADS_1
^^^"Hehe. Nenek juga suka Miss Hana. Eri sayang, bagaimana kalau Miss Hana jadi ibu Eri. Eri mau?" tanya Casandra hati-hati.^^^
Casandra agak khawatir dengan pertanyaan ini, berharap Cherry bisa memahami ide yang akan disampaikannya. Namun kekhawatiran itu hilang, seiring dengan respons Cherry yang mengangguk dengan cepat.
^^^"Mau! Eri mau banget!" ujar riang Cherry.^^^
^^^"Hahaha. Mau banget ya." Neneknya gemas dengan jawaban lucu Cherry.^^^
^^^"Kalau gitu Eri juga bilang ke ayah. 'Ayah Eri mau Miss Hana jadi ibu Eri'. oke sayang?" tambah Casandra.^^^
^^^"Oke Nek!" jawab Cherry.^^^
Cherry senang mendengar pertanyaan Neneknya. Lucunya gadis kecil itu langsung membayangkan kalau Hana menjadi ibunya.
Saat sesi terapi dengan dokter Nuel, berapakali Cherry melihat anak anak yang diantar oleh orangtuanya. Digandeng dengan ibu dan ayah mereka, membuat hati Cherry sedih. Dia juga ingin punya ibu. Ingin tangan kanan dan kirinya digandeng juga oleh kedua orangtuanya.
Meskipun Tante Bella dan kakek neneknya juga bergantian menjaga Cherry kalau ayahnya sedang bekerja. Tapi rasanya tetap kurang. Cherry berharap dia juga punya seorang ibu, sama seperti anak-anak itu.
^^^"Oke nanti Eri bilang ya pas ayah pulang nanti. Kalau begitu sekarang Eri tidur dulu. Sudah malam." ucap Casandra sambil menciumi pipi cucu satu-satunya.^^^
Mereka berdua tertawa riang, berjalan menuju kamar tempat Cherry tidur.
...π»π»π»...
Kembali ke suasana Restoran Jepang fine Dining, tempat sepasang manusia yang belum bisa dibilang kekasih menunggu hidangan yang akan disajikan.
Tian sudah kembali duduk di kursi yang berhadapan dengan Hana, bukan lagi duduk di sampingnya.
Tak lama berselang selesainya panggilan video call, beberapa pelayan wanita berkimono masuk dari dapur berpintu mushido Mado. Dibelakangnya juga ada chef asli Jepang. Mereka membawa hidangan yang tadi disiapkan langsung oleh chef itu.
^^^"Selamat malam. Saya Tate Mukai, chef yang diberikan kepercayaan untuk menghidangkan menu omakase." ucap chef Jepang itu dalam bahasa yang fasih.^^^
^^^"Saya sudah menyiapkan menu pilihan seperti sashimi moriawase, beberapa sushi paling favorit, dan juga daging Australian Wagyu yang dimasak dengan kematangan sempurna. Douzo omeshi agatte kudasaimase." terang chef itu diakhiri dengan ojigi.^^^
(π»: kalimat sopan untuk memepersilahkan lawan bicara makan hidangan yang ada.)
^^^"Arigatou gozaimashita, Mukai-san."^^^
__ADS_1
Jawab Tian dan Hana hampir berbarengan.
Setelah menjelaskan menu yang dihidangkan, chef Tate Mukai dan juga beberapa pelayan itu pamit undur diri. Agar sang tamu bisa menikmati makan malam dengan hidmat tanpa gangguan.
Sepanjang makan malam Hana merasa hatinya senang tidak karuan, tapi ada rasa aneh seperti ketakutan dalam hatinya. Entah ketakutan seperti apa, awalnya dia juga tidak bisa menjabarkannya. Sampai akhirnya, dia tahu ketakutan ini adalah perasaan kalau dia takut salah paham dengan semua hal yang terjadi. Takut terbawa perasaan menjadi semakin menyukai sang artis. Lebih dari artis idola, ataupun wali muridnya.
Perhatian dan semua perlakuan Tian terasa tidak nyata, Hana membatasi perasaannya. Hana berpikir bahwa tidak ada hubungan romantisme sama sekali dalam makan malam hari ini.
Makan malam ini hanya satu bagian dari kepentingan sang artis memastikan persiapan sekolah putrinya dengan baik. Hana bersusah payah untuk mengingatkan dirinya, agar bisa menempatkan dirinya selalu sebagai guru dari putri sang artis.
Tapi kepentingan apa yang pantas dijadikan alasan seorang laki-laki mengundang makan malam berduaan seperti ini. Aaaaa. Sadar Hana perasaanmu ini terlalu berlebihan. Hana terlihat berperang batin dengan dirinya sendiri.
Tian melihat kegelisahan dari raut wajah cantik Hana. Apa dia tidak menyukai hidangan nya ya? gumam dalam hati Tian.
^^^"Ada apa Miss Hana? Apa makanannya ada yang kurang cocok? Kita bisa request lagi ke chef kalau begitu." tanya Tian.^^^
^^^"Ah, tidak kok. Makanannya enak sekali. Terima kasih tuan Tian." sanggah Hana dengan cepat^^^
"Kamu yakin?" Tian memastikan sekali lagi.
Karena kegugupannya Hana hanya mebalas dengan anggukan kepala cepat saja. Hana berpura-pura fokus lagi dalam makanannya. Dipandang intens oleh Tian semakin otaknya tidak bisa berpikir netral. Selalu mengikuti kata hatinya.
Oh tuhan, kasih aku kekuatan untuk meneguhkan hatiku. Jangan kasih celah untukku menyukai orang ini lebih dari yang sudah kupunya sekarang.
.
.
.
Itsumo arigatou gozaimashita.
.
.
Bersambung
__ADS_1