
Mobil yang dibawa Tian melaju dengan kecepatan maksimal.
Namun kecepatan itu masih dalam toleransi yang diperbolehkan di jalan raya dan jalan Toll. Hingga Tian berhasil mencapai Mansion utama milik keluarganya di Cinere dengan kurang dari setengah jam.
Tian belum mencari tahu dengan benar tentang apa yang terjadi. Karena sejak tadi dirinya hanya fokus untuk menyetir dengan cepat saja. Fokusnya tidak boleh terbagi, sesuai janjinya dengan Hana, Tian harus menyetir dengan aman dan tenang.
Satu pesan yang dibacanya cukup membuat praduga apa yang sedang terjadi sekarang berkaitan dengan hubungannya dengan Hana.
Apa mungkin ada yang melihatku tadi menjemput Hana di Velodrom. Atau aku sekarang sedang dibuntuti wartawan? Kalau benar seperti itu, ayah pasti sedang marah sekarang. Ah, sial! Semua karena Riga!
Tian menyalahkan Riga karena dirinya tidak ingin menyalahkan Hana, apalagi tindakannya sendiri yang impulsif. Sekarang Tian punya nama baru yang bisa dijadikan kambing hitam kekesalannya jika terjadi sesuatu. Selain Manager Raka, Riga akan selalu disalahkan oleh sang artis ini.
Setibanya di jalan dekat mansion, Tian menghentikan laju mobilnya sementara. Melihat kondisi dahulu.
Tian mendengus kesal. Wartawan berkumpul mengerubungi mansion utama Alexander. Mereka tidak bisa masuk. Bahkan tidak sampai halaman depan. Karena banyaknya personil bodyguard yang berjaga di depan pagar.
Tian melihat salah satu bodyguardnya, Tagor, ikut menjaga disana. Tian segera menelepon Tagor, agar mengkondisikan mobil yang dia bawa bisa masuk ke dalam Mansion menembus lautan wartawan itu.
Tagor pun mulai bergerak sesuai perintah. Terlihat dari pandangan Tian kalau Tagor menghampiri satu bodyguard lain, yang dikenali Tian sebagai ketua keamanan rumah ayahnya. Tian mengenalnya karena memang ketua keamanan itu sudah bekerja lama bersama keluarga besar Alexander.
Terlihat mereka bergerak cepat membuat barikade. Tian melihat tanda yang diberikan, segera memajukan mobilnya masuk ke barikade yang disiapkan. Wartawan terdorong keluar. Mereka terlalu terkejut dengan manuver yang dilakukan para bodyguard.
Mobil Tian pun dengan cepat masuk kedalam tanpa hambatan. Wartawan bahkan tidak diberikan sama sekali untuk mendekati mobil itu. Ingin memotret saja tidak bisa, karena kaca jendela mobil Tian sangat gelap. Mereka memakai cara terakhir. Memanggil nama sang artis, meminta Tian sendiri yang menemui mereka.
^^^"Tuan Tian! Beri kami sedikit penjelasan tentang berita yang terjadi. Sedikit komentar saja tidak masalah!" kata satu wartawan, yang setelah itu diikuti wartawan lainnya.^^^
Tian turun dari mobilnya setelah sampai di halaman utama, masuk ke dalam mansion. Tanpa melirik ke arah wartawan yang menunggunya. Ini pertama kalinya Tian tidak menyapa ramah wartawan. Sehingga wartawan semakin curiga kalau berita yang beredar memang benar adanya.
Tian sudah memasuki ruang utama Mansion besar ini. Suara riuh ramai di luar mulai perlahan tidak terdengar lagi. Tian disambut oleh kepala pelayan keluarganya. Kepala pelayan ini bernama Pak Will, pelayan setia yang sudah mengabdikan dirinya selama dua generasi untuk keluarga besar artis Dave Alexander.
^^^"Tuan Muda. Anda sudah ditunggu. Mari saya antar ke ruang kerja Tuan Besar." Pak Will berbicara dengan menunduk hormat.^^^
^^^"Aku melihat mobil Manager Raka. Dia sudah sampai juga, pak Will?"^^^
__ADS_1
^^^"Sudah Tuan Muda. Manager Raka sampai lebih dahulu. Sekitar dua puluh menit yang lalu."^^^
Pantas saja teleponku tidak diangkat! Apa yang Ayah lakukan pada Manager Raka. Sial!
^^^"Aku tidak perlu diantar Pak Will. Aku juga tahu dimana letaknya ruang kerja Ayah kan. Pak Will boleh kembali." ucap Tian mengusir dengan sopan.^^^
Tian tahu dia akan dimarahi oleh Ayahnya. Setidaknya ketika hal itu terjadi, dia tidak ingin banyak yang melihat kejadian memalukan itu.
Pak Will mengangguk. Bersiap kembali ke pekerjaannya mengawasi makan siang, namun berhenti karena mendengar pertanyaan selanjutnya dari Tian.
^^^"Ibu, Bella dan juga Eri ada dimana? Kenapa aku tidak melihat siapapun daritadi?"^^^
Tian menyadari ada yang aneh. Seharusnya kalau Tian pulang, putri kecilnya pasti langsung menyambutnya dibawah. Dadanya berdegup kembali. Ini terlalu aneh, Tian menjadi waspada kembali.
^^^"Nyonya Besar, Nyonya Muda dan Nyonya kecil ada di tempat berbeda Tuan. Anda bisa bertanya kepada Tuan Besar nanti." Pak Will memohon ijin pamit.^^^
Tian menghela napas kasar. Berjalan cepat menaiki lantai dua. Tempat ruang kerja Ayahnya berada.
^^^"Ayah..." suara Tian melemah.^^^
Ayah melihat kedatangan putranya dengan sorot mata menakutkan, seolah penuh dengan amarah yang tertahan.
^^^"Biang onarnya sudah datang! Cepat duduk!"^^^
^^^"Ayah, sebenarnya ada apa? Ceritakan dulu padaku ada masalah apa--"^^^
^^^"Kubilang cepat duduk, Sebastian!" hilang sudah kesabaran yang ditahan oleh Dave.^^^
Tian menelan ludahnya kasar, berjalan cepat menuju kursi samping Manager Raka.
Saat berjalan Tian sudah merasakan atmosfer ketegangan yang membuat tidak nyaman. Saat akhirnya duduk, Tian melirik ke Manager Raka. Mengkode dengan matanya. Ada apa sebenarnya kak? Begitu arti tatapan mata Tian.
^^^"Jangan lirik lirik. Duduk dan lihat foto ekslusif apa yang dikirimkan ke email kantor pagi ini."^^^
__ADS_1
Dave melemparkan maap berisi beberapa foto yang menampilkan wajah Tian dengan jelas, bersama dengan seorang wanita. Wanita berambut panjang. Tian dan wanita rambut panjang ini sedang berhadapan, berada di pintu masuk sebuah restoran Jepang menghadap ke mobil. Beberapa lembar foto terlihat namun dalam semua fotonya tidak terlihat jelas wanta tersebut. Dilihat dari arah fotonya, pengambilan gambarnya diambil dari arah dalam restoran.
Mati aku. Ini waktu aku dan Hana makan malam bersama. Siapa yang berani memotret kami. Tian sedikit terkejut tapi masih bisa menguasai perasaannya. Melirik kesal ke arah Manager Raka. Matanya malah melotot seakan ingin ikut protes. Kenapa bisa bocor? Katamu sudah kau urus dengan Tagor. Begitulah arti tatapan menusuk dari Tian ke Manager Raka.
Karena Tian masih betah diam, Ayahnya mulai bertanya lagi.
^^^"Siapa ini? Ayah tanya Manager Raka katanya ini bukan Rainy." Menarik napas pelan pelan. Terlihat mengendurkan otot leher dan mukanya.^^^
^^^"Tentu bukan Ayah. Kenapa juga aku makan malam berdua dengan Rainy." Tian jadi ikut kesal mendengar pertanyaan Ayahnya.^^^
^^^"Apa sih Ayah. Kenapa ayah terpancing gosip murahan. Aku dan Rainy..." penjelasan Tian terhenti karena melihat ayahnya sudah memejamkan mata. Tanda kemarahan ayahnya sudah mencapai puncak.^^^
Oh no! Siaga satu! Tian memundurkan badannya menyenderkan badan ke punggung kursi.
^^^"Kalau begitu siapa dia?! Kenapa kau tidak hati-hati begini. Kau lihat ketidak waspadaanmu membuat perusahaan kita terseret. Bahkan nama Rainy yang tidak ada sangkut pautnya juga ikut di catut. Berapa banyak kekacauan terjadi hari ini. Kau tahu bahkan rumah produksi drama kalian menelpon, takut hal ini akan berimbas ke promosi drama terbaru kalian!"^^^
Mendengar hal itu, untuk pertama kalinya Tian merasakan kalau Ayahnya benar-benar marah kepadanya.
Bukan hanya sekedar mengomeli dirinya, sepertinya kali ini Tian harus menanggung semua kemarahan itu tanpa bantuan manager Raka.
.
.
.
Itsumo arigatou gozaimashita.
.
.
Bersambung
__ADS_1