
Lama Cherry menangis dalam pelukan Hana.
Sekarang tangis gadis kecil ini sudah mereda, napasnya juga mulai teratur. Hana sejak tadi tidak berhenti memeluk dan mengelus kepala hingga punggung kecil Cherry. Tak peduli baju dan rambutnya ikut basah karena air mata sang gadis kecil.
^^^"Sudah nangisnya anak manis?"^^^
Akhirnya Hana bertanya setelah memastikan tidak lagi terdengar suara tangis dari Cherry.
Cherry mengangguk pelan. Ternyata masih sedikit tersisa sengguk tangis, namun Cherry sudah merasa lebih lega.
Memang itu yang dilakukan Hana. Membiarkan Cherry menangis meluapkan perasaannya baru nanti mengajak bicara setelah gadis kecil itu merasa lega.
Kadang banyak orangtua meminta anak kecil berhenti menangis, padahal hal itu bisa berdampak buruk untuk perkembangan emosi sang anak itu sendiri loh. Anak kecil juga punya hak merasakan perasaan nya yang jujur. Sama seperti orang dewasa. Mereka boleh menangis jika memang ada hal yang membuatnya tidak nyaman atau sedih.
Hal ini, adalah hal dasar yang di pelajari Hana saat mengajar di Kindergarten Summer Breeze.
Para guru tidak pernah mencoba menghentikan anak murid menangis. Mereka mendampingi sang anak sampai anak itu memutuskan berhenti menangis dengan sendirinya. Fungsi pendampingan itu sendiri hanya memastikan saat menangis sang anak tidak melukai dirinya sendiri atau guru harus menjaga agar tidak terluka oleh sekitarnya.
Setelah merasa yakin Cherry sudah siap untuk diajak bicara, barulah Hana memulai membuka pertanyaan lagi. Berusaha membantu Cherry mengurangi perasaan sedih yang membuatnya menangis tadi.
^^^"Cherry manis. Cherry sedih ya tadi saat bangun tidak ada Ayah dan Ibu Hana?" tanya Hana.^^^
^^^"Iya... Kenapa Eri ditinggal? Hiks...Hiks..." raut wajah Cherry masih terlihat sedih.^^^
Lalu gadis itu memeluk Hana lagi dengan erat.
^^^"No pergi. Eri jangan ditinggal lagi...." ucap sedih Cherry yang menyayat hati semua orang dewasa yang mendengarnya.^^^
Hana yang mengerti kesedihan Cherry, merasa bersalah. Karena mengetahui kalau sumber Cherry sedih adalah sebagian besar karena dirinya, Hana pun meminta maaf.
^^^"Maafin Ibu Hana ya. Maafin juga Ayah. Maafin kami yang pergi tanpa ijin Cherry. Tapi kita tidak akan pernah meninggalkan Cherry. Maafin ya anak manis." ucap tulus Hana.^^^
Cherry terlihat ingin menangis lagi, matanya berkaca-kaca. Kali ini lebih terlihat seperti tangis lega. Mungkin karena perkataan Hana barusan?
Cherry merasa tenang mendengar kalau dirinya tidak akan pernah ditinggalkan lagi. Ketakutan yang tadi menyelimutinya menjadi hilang perlahan. Kini gadis kecil itu mulai kembali tersenyum.
^^^"Janji ya, Ibu Ana..." ucap Cherry lucu menyodorkan jari kelingking kecilnya.^^^
Hana ikut tersenyum, tanpa jeda lama Hana langsung menautkan jari kelingkingnya juga ke jari kelingking mungil sang putri kecil.
^^^"Janji dong anak manis." jawab Hana yang setelah itu langsung menghapus sisa air mata Cherry.^^^
^^^"Minum dulu ya sayang?" melirik ke botol minum yang daritadi dipegang oleh sus Rita.^^^
Mungkin sus Rita sudah menawarkan Cherry untuk minum saat menangis keras tadi. Hanya saja belum sempat disentuh oleh putri kecil itu.
__ADS_1
Sus Rita yang sangat peka langsung menyerahkan botol minum ke Hana. Hana menerima dan menuntun Cherry untuk meminum air perlahan.
Setelah keadaan Cherry semakin membaik, barulah sang ayah kembali bergabung bersama mereka.
Tian terlihat panik melihat wajah putrinya yang sedikit merah dan bagian mata yang bengkak sisa dari tangis tadi.
^^^"Apa Eri menangis?" tanyanya tidak jelas kepada siapa. Karena dia ingin siapa saja bisa menjawabnya dengan cepat.^^^
^^^"Iya, tapi Hana sudah membantu menenangkan Eri kok. All is well." Manager Raka yang menjawab mewakili.^^^
Manager Raka menjawab begitu karena dirinya menyaksikan sendiri cara Hana menenangkan Cherry tadi. Manager itu takjub dengan kemampuan Hana yang bisa mengerti perasaan halus anak-anak seperti Cherry dan lainnya. Apa ini karena Hana seorang guru Kindergarten? Begitu yang ada di hati sang manager.
Biasanya kalau Cherry sudah menangis tantrum seperti ini, Cherry tidak akan berhenti sampai dirinya yang lelah sendiri karena menangis. Bukan karena keinginannya berhenti menangis.
Perbedaan yang signifikan. Meskipun dua duanya tetap menguras energi sang putri kecil maupun orang dewasa yang melihatnya, tapi efek hasilnya sepertinya sangat berbeda.
Sekarang Cherry terlihat lebih tenang, bahkan sudah bisa mengobrol dengan Hana dengan biasa.
Kalau yang sebelumnya, Cherry akan tertidur kelelahan tapi saat bangun akan teringat lagi lalu menangis kembali sampai tertidur lagi. Seolah tantrum yang tertunda karena kelelahan.
^^^"Huh. Yah jahat. Tinggalin Eri!" protes gadis kecil itu mengundang tawa semua orang kecuali Tian yang diprotesnya.^^^
^^^"Ayah engga tinggalin Eri kok. Ayah tadi cuma main sebentar sama Ibu Hana. Cherry kan bobo, sayang." Tian berkilah.^^^
^^^"Ah!"^^^
^^^"Kok kamu mukul aku?" bisik Tian gemas.^^^
Ingin rasanya Tian balas mukul tapi pakai bibirnya. Hehe. Dasar duda artis modus.
^^^"Minta maaf saja dulu, tuan. Cherry tadi ketakutan karena kita pergi tanpa ijin. Nanti saya ceritakan." Hana balas berbisik.^^^
Setelah itu barulah Hana sadar apa yang tadi dia lakukan kepada sang artis tampan itu.
Haduh kenapa aku reflek memukul tangannya sih. Hana buru-buru meminta maaf.
^^^"Ah, maaf tadi aku tidak sengaja. Apa sakit?"^^^
Melihat kesempatan, Tian langsung berakting.
^^^"Iya. sakit nih. Eri tangan ayah sakit kayanya harus dirawat Ibu Hana." Tian seperti mengadu kepada putrinya dengan nada didramatisir.^^^
Berharap putrinya seperti biasa akan membantu Tian untuk menjalankan ide modus lainnya.
^^^"No! Ibu Ana punya Eri. Yah ama paman Raka aja!" tolak Cherry.^^^
__ADS_1
Sepertinya Cherry masih bad mood kepada ayahnya. Tangannya direntangkan antara Hana dan Ayahnya, Tian. Bukannya minta maaf ayahnya ini malah main drama baru biar diperhatikan Hana, Cherry jadi makin sebal dibuatnya.
Cherry memutuskan tidak mau berbagi Hana dengan Ayahnya sekarang. Tidak untuk sisa hari ini. Cherry memeluk Hana dengan posesif.
^^^"Hahaha."^^^
Hana dan yang lainnya hanya tertawa. Tidak ada yang bisa menang dari bos kecil. Termasuk ayahnya sendiri.
Manager Raka bahkan tertawa paling keras, lalu berbisik kepada sang artis yang masih tercengang karena putrinya sekarang sudah tidak kompak lagi.
^^^"Bro. Eri memang terbukti putrimu. Bahkan sifat posesifmu sekarang menular ke Eri. Hahaha." ledek Manager Raka dengan tawanya lagi.^^^
Sepersekian detik Tian pun ikut tersenyum, meskipun awalnya kaget tapi Tian rela mengalah kalau Cherry yang berebut perhatian Hana darinya.
Gemas dengan dua wanita kesayangan beda usia itu, Tian mengusap sayang kepala keduanya bergantian.
(🌻: kenapa juga mengusap kepala Hana. Dasar duda modus. wkwkwk)
^^^"Ayah minta maaf ya. Ayah tidak akan seperti itu lagi. Ayah tidak akan pergi sebelum ijin sama Eri ya." permintaan maaf yang tulus dari Tian akhirnya keluar juga.^^^
Sebagai seorang ayah, Tian sadar perannya sebagai orangtua kadang tidak sempurna. Tapi Tian tidak keberatan untuk belajar lebih baik lagi setiap harinya. Meminta maaf kepada putrinya juga akan dia lakukan. Karena tidak selamanya tindakan orang tua menyenangkan bagi anaknya, adakalanya terjadi seperti kesalahpahaman di hari ini.
Di saat seperti itu, tidak ada ruginya kalau orang dewasa lah yang bertanggung jawab untuk mengolah emosi sang anak, berinisiatif duluan untuk meminta maaf agar hubungan orangtua dan anak tetap terjalin sebagai hubungan yang saling menghormati dan menyayangi kedepannya.
Cherry yang mendengar Ayahnya meminta maaf, langsung tersenyum. Mengangguk dan memberikan jari kelingkingnya lagi.
Seperti halnya yang Cherry lakukan kepada Hana. Cherry ingin ayahnya juga berjanji padanya tidak pergi tanpa ijin lagi.
^^^"Janji Yah?" tanya Cherry dengan nada dan kedipan mata lucu.^^^
^^^"Yes. Promise, Ma chérie."^^^
Setelah itu senyum termanis Cherry mengembang dengan sempurna.
.
.
.
Itsumo arigatou gozaimashita.
.
.
__ADS_1
Bersambung