Terpikat Duda Artis

Terpikat Duda Artis
Boleh Satu Kali Lagi?


__ADS_3

Masih di mobil yang terparkir di lapangan tidak jauh dari rumah Hana.


Hana masuk kembali di mobil, menyerahkan bingkisan dengan totebag besar yang diterima ya dari kurir kepada Tian.


^^^"Makasih baby. Tapi kenapa kamu tadi tersenyum manis padanya? Aku jadi was was kalau dia jadi naksir bagaimana?" dengan nada sedih lagi.^^^


Ya ampun. Apa lagi ini! Aku senyum saja tidak boleh sekarang? Hana bingung dengan sikap aneh sang Tian.


^^^"Hehe. Itu kan otomatis kak. Kalau kita ucapkan terimakasih ke orang pasti dengan senyum juga kan."^^^


Hana tetap menjawab, mengabaikan rasa herannya terhadap pertanyaan aneh Tian.


^^^"Hm iya juga sih. Tapi senyumnya jangan keseringan ya. Nanti banyak yang naksir kamu baby." masih kekeh.^^^


^^^"Engga ada yang naksir aku kok. Lagian aku senyum kaya gini biasa kok. Engga ada yang naksir, Hmph!"^^^


Tian membuat ucapan Hana terhenti dengan perbuatannya yang mencium bibir Hana tiba-tiba.


Deg.


Mata Hana terbelalak karena terkejut. Ciuman singkat yang langsung dilepaskan oleh Tian.


Setelah ciuman singkat itu Tian masih mempertahankan jarak wajahnya dengan wajah Hana sekitar 10 senti. Hana merasakan napas hangat Tian. Semburat merekah di pipi mereka bisa dilihat jelas satu sama lain. Tian tersenyum penuh arti.


Hana masih terdiam. Seolah membeku di tempatnya, tidak bisa berkata-kata apapun saking kagetnya.


Aaaa. Jantungku mau copot rasanya. Kebiasaan deh suka tiba-tiba cium!


Dalam jarak dekat itu, Tian berkata berbisik.


^^^"Coba senyum lagi? Ku hukum kamu karena engga menurut. Hehe. Senyummu itu membahayakan tahu baby. Aku aja susah payah menahan diriku."^^^


Hana memalingkan wajahnya. Wajahnya memerah sempurna. Debaran jantungnya tidak terkontrol lagi. Sekarang, Hana takut Tian akan mendengarkan debaran jantungnya yang menghentak keras, seakan mau keluar dari tubuhnya itu.


Karena Hana memalingkan wajahnya, Tian jadi leluasa melihat leher putih Hana. Leher yang kemarin dia rasai dengan rakus, tentu saja, Tian melihat bangga tanda kepemilikan yang ditorehkannya di leher Hana.


Wah, tanda itu masih terlihat. Hehe.


Mata Tian berkelana turus turun ke ceruk leher Hana. Sampai ke tulang selangka. Seksi sekali, begitu pujinya dalam hati.


Tian meneguk s*livanya sendiri.


Satu ciuman tidak pernah cukup untuknya. Ah, bibir Hana yang merah ranum terlalu candu. Apalagi leher putih yang menggoda itu. Tangan Tian sudah berada di leher itu, entah sejak kapan. Tian sedikit kehilangan kewarasannya. Padahal sejak tadi dia berusaha menekan napsunya. Ingat kau akan bertemu calon mertua. Jangan malah terlihat sekali bermesraan dengan anaknya! Kalau ketahuan habis kau di interogasi! Tapi, pertahanan dirinya itu sepertinya memang gampang sekali jebol. Jadi, dia berharap Hana yang bisa mengkontrol dirinya nanti.

__ADS_1


^^^"Baby... boleh satu kali lagi? Tapi hentikan aku kalau aku sudah melewati batas ya."^^^


Hah? Melewati batas yang kaya gimana maksudnya? Aku kan juga tidak paham beginian? Eh. Eh! Ah, tidak tahu lah!


Tian menunduk, maju mendekat lagi ke wajahnya Hana. Tangan Tian sudah berpindah dari leher, sekarang, menarik dagu Hana untuk mendekat.


Kepala Hana menjadi kosong. Hana bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Jadi, Hana memutuskan untuk menutup mata saja. Membiarkan apa yang akan terjadi, terjadi sesuai perasaan mereka.


Penyatuan bibir keduanya tidak bisa dihindari lagi. Ciuman panjang, yang dalam, kuat, dan penuh tuntutan.


Tangan Tian bergerak lagi, pindah ke tengkuk leher Hana. Menekan, untuk memperdalam ciuman mereka. Tidak berhenti menghujani bibir Hana dengan sesapan, gigitan kecil yang menggoda. Gigitan yang diniati agar Hana ikut membuka bibirnya. Yang ditunggu Tian akhirnya datang. Hana membuka sedikit bibirnya karena sesapan dan gigitan kecil itu membuatnya sedikit mend*sah.


Hana menjerit tertahan saat lidah Tian bertamu masuk ke dalam bibirnya. Bergerak seolah mengabsen giginya. Terakhir menghisap lembut lidahnya.


Apa ini! Aaaa. Kenapa beda dengan yang sebelumnya!


Karena kepalanya pusing, Hana refleks memegang bahu bidang Tian. Sedikit mendorong. Gerakan itu sepertinya berhasil membuat Tian tersadar. Tian mengendurkan intensitas ciuman menuntut, kembali ke ritme lembut.


Sampai akhirnya pagutan itu terlepas. Hana terengah-engah menarik oksigen sebanyak-banyaknya setelah ciuman yang membuat sesak napas itu.


Keduanya saling berpandangan. Tertawa berbarengan. Tawa canggung yang menutupi rasa senang bercampur malu atas perilaku keduanya barusan.


...🌻🌻🌻...


Ayah yang sedang duduk di teras depan berdiri menyambut mereka.


Tian menyapa sopan laki-laki senior dengan wajah tegas namun terlihat bijak itu.


^^^"Maafkan saya datang bertamu lagi dengan mendadak, Tuan Harry. Ehm, saya dengar anda menyukai teh. Semoga anda menyukainya."^^^


Tangannya dengan sopan menyerahkan tea box ukiran mahal dari brand TW* Tea yang terkenal itu.


Hana tahu karena melihat dari beberapa u-liver yang mencoba membeli, lalu mereview yang katanya teh sultan itu. Satu teh dengan bandrol 100ribu plus plus itu, sekarang, diserahkan oleh pacar artisnya dengan satu kotak penuh size besar untuk Ayah. Gila. Ini pasti harganya mahal kan.


Tapi bukan itu masalahnya.


Hana panik. Karena Tian salah informasi. Ayahnya lebih menyukai kopi dibanding teh.


Lagipula Hana belum pernah mengatakan apapun tentang kesukaan Ayah dan Ibunya ke Tian. Tian juga tidak pernah bertanya soalnya. Jadi siapa sebenarnya informan yang salah memberitahu sang artis tampan ini kalau ayahnya Hana menyukai teh?


Namun, Hana tidak sampai hati untuk mengklarifikasinya. Tian terlihat bangga saat menyerahkan tea box dan mengatakan bahwa Ayahnya menyukai teh. Inginnya Hana membiarkan saja. Sama seperti dirinya tidak berusaha mengklarifikasi kesalahan saat Tian salah mengucapkan salam bahasa Jepang di waktu acara makan malam sebelumnya. Hana berbaik hati menjaga perasaan sang artis tampan.


Hana hanya berharap ayahnya berbaik hati, untuk mengikuti alur cerita saja. Tapi Hana tidak berani menatap Ayahnya. Lebih baik Ayah menganggap aku yang salah kasih informasi deh, begitu pikir Hana.

__ADS_1


Ayah, yang dari tadi melirik putrinya sudah tahu kalau Hana juga terkejut dengan ucapan sang laki-laki pujaannya itu. Berarti informasi yang salah ini juga bukan dari Hana ya, begitu tebakan ayah dengan tepat.


Ayah menahan tawanya. Tersenyum.


Setidaknya, Ayah ingin tetap menghargai niat baik sang artis ini, membawa bingkisan yang dianggapnya adalah kesukaan dirinya. Toh, bukannya Ayah tidak menyukai teh sama sekali, hanya jarang saja. Jadi Ayah menerima hadiah itu dengan rasa terima kasih.


^^^"Terima kasih, tuan Tian. Padahal anda tidak perlu repot-repot."^^^


^^^"Ah, tidak repot. Sungguh! Dan, tolong dipanggil Tian saja. Hehe." ucap Tian sungkan.^^^


Apa ini? Kenapa aku lebih gugup dari sebelumnya?


Anehnya tampak luar, pembawaan Tian tidak terlihat gugup sama sekali. Yang tahu kalau Tian gugup, ya hanya dirinya sendiri. Hana dan Ayah Hana tidak merasa kalau Tian sedang gugup. Ah, memang hanya Manager Raka saja yang bisa mengetahuinya. Kapan artis ini akting ataupun jujur mengeluarkan perasaannya.


^^^"Oke baiklah. Nak Tian bisa main catur?"^^^


Gleg.


Main catur? Aku hanya tahu rule dasarnya karena pernah diajarkan Ayah. Tapi karena aku tidak tertarik dengan permainan itu, aku sama sekali tidak pernah mencoba bermain dengan serius.


^^^"Ehm. Dulu pernah main bersama ayahku sih Tuan."^^^


Untuk pertama kalinya, kepercayaan diri sang artis menguap begitu saja. Catur bukan bidang yang bisa dibanggakan oleh sang artis. Saat berkarir juga tidak pernah ada peran yang bersinggungan dengan bidang ini. Membuat Tian kehilangan rasa percaya diri dengan sangat cepat.


^^^"Tidak apa. Bisa sambil diingat ingat. Mau main bersama, Nak Tian? Biasanya saya main sama Hale. Kadang sama Riga kalau dia sedang main disini. Tapi mereka belum ada." tanya Ayah.^^^


Mendengar kata Riga, memantik kobaran yang tadi sudah padam dalam hati Tian. Panas, kobaran itu membuat Tian lupa akan ketidakpercayaan dirinya tadi. Dirinya sekarang on fire lagi. Bersemangat menjalankan misi mengambil hati sang calon mertua.


Riga lagi? Riga lagi! Riga ini kenapa selalu disebut dalam keluarga pacarku sih?! Lihat saja, aku akan menjadi menantu idaman. Mengalahkan Riga. Aku harus bisa mengambil hati Ayah, Tian bertekad kuat dalam hatinya.


^^^"Baiklah tuan. Ayo kita main catur." dengan semangat yang berkobar.^^^


.


.


.


Itsumo arigatou gozaimashita.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2