Terpikat Duda Artis

Terpikat Duda Artis
Identitas Fans Fanatik


__ADS_3

Miss Mia mengehela napasnya kasar sebelum mengetuk pintu.


Meski tahu usahanya mengetuk pintu pun tidak akan ada gunanya, Miss Mia tetap mencoba.


"Kak Nia. Ini aku Mia. Aku masuk ya."


Diam sebentar, menunggu jawaban yang tetap tidak terdengar akhirnya Miss Mia memilih caranya sendiri untuk tetap masuk menggunakan kunci cadangan.


Mendengar pintunya dibuka dengan kunci, fans fanatik yang dipanggil Nia itu geram. Dia berjalan melewati beberapa pecahan kaca yang otomatis melukai kakinya. Dia tidak peduli. Dia terus berjalan ke arah pintu dan berteriak.


"Jangan kurang ajar kamu, Mia. Jangan masuk!"


Tapi terlambat, Miss Mia berhasil membuka pintu sebelum Nia datang untuk menahan.


"Sialan! Keluar! Tinggalin aku sendiri!"


Miss Mia memandang sekitarnya. Kondisi kamar ini sudah tidak bisa digambarkan lagi, lebih buruk dari kata-kata kamar yang seperti kapal pecah. Pecahan beling dimana-mana. Layar televisi pecah dan rusak, seperti pernah dilempar benda. Baju dan sampah berserakan. Dan kondisi buruk lainnya yang susah dijelaskan satu-persatu.


"Kita perlu bicara kak." Miss Mia tetap bersikap tenang.


Miss Mia bahkan menutup kembali pintu kamar dan menguncinya.


"Kamu ngapain sih?! Ngapain disini, sana keluaaaar. Kalau engga..." dengan nada mengancam.


"Kalau engga apa? Kak Nia mau apain aku?"


Mata Nia masih menyalang marah. Tapi dia tidak menjawab apalagi melanjutkan kata-katanya. Dia akhirnya duduk kembali kursi dan meja yang ada laptop menyala. Tempat dirinya banyak menghabiskan waktu.


"Bicaralah. Lalu setelah itu keluar."


"Kak Nia, sebelum itu sebaiknya kakak obati dulu kaki kakak yang berdarah. Aku juga akan merapihkan kamar kakak. Ada dimana sapu dan obat di kamar ini kak?" Miss Mia bertanya karena dia ingat Ibunya pernah memberikan obat dan sapu untuk disimpan khusus di kamar ini. Kejadian ini bukan yang pertama kali, jadi tidak mengherankan kalau Ibu dan Miss Mia sudah tidak kaget.


"Tidak perlu. Cepatlah bicara! Masih banyak yang harus ku kerjakan!" akhirnya emosi Nia itu kembali datang.


"Kerjakan? Memangnya sekarang apa yang kakak kerjakan?" dengan nada mengejek.

__ADS_1


Padahal Miss Mia sudah berjanji kepada ibunya kalau dia akan sabar saat berbicara dan tidak terpancing untuk bertengkar dengan kakaknya. Tapi tidak dipungkiri Miss Mia sangat kesal dengan kelakuan kakaknya yang sekarang. Jadi dia merasa harus bicara dengan cara ini, berharap taktik ini berhasil. Taktik dengan mengundang emosinya namun juga bisa menarik perhatian kakaknya agar mau bicara dengannya. Terdengar kakaknya berbalik melotot tidak suka dengan pertanyaan yang dilontarkan. Tapi belum menjawab apapun, sehingga Miss Mia berbicara lagi.


"Dulu kakak kerja di perusahaan agency ternama. Menjadi stylish dengan karir cemerlang. Tapi di kamar ini apa yang kakak lakukan? Duduk dan terus mencari informasi tentang pacar dari artis idola kakak yang sialan itukan!"


"Jangan berani memakinya ya! Kalau tidak ku bunuh kamu." teriak lebih kencang dari adiknya.


"Haha. Yah, kakak memang ahli tentang itu kan. Membunuh. Bahkan kakak membunuh teman sendiri, saat orang itu sangat percaya kepada kakak saat bekerja bersamanya. Oh. Kakak sadar tidak? Bahkan Ayah meninggal karena kakak juga! Kakak penyebab Ayah meninggal! Sekarang kakak mau bunuh aku juga? Hah?!"


"Argh!"


Miss Mia tersedak karena kakaknya, Nia, sedang mencengram lehernya sekarang. Mencekik dengan kuat sampai Miss Mia hampir tidak bisa bernapas.


"Diam kamu, anak sialan! Jangan karena kamu adikku, kau pikir aku tidak bisa membunuhmu ya!"


Miss Mia sempat tersenyum mengejek di sela dirinya yang sedang kesusahan bernapas. Membuat Nia semakin kesal, dia menguatkan cengkraman tangannya di leher Miss Mia.


"Anak-anak! Kalian sedang apa? Ya Tuhan, kalian baik-baik saja kan?! Buka pintu nya! Nia! Mia! Ibu mohon." dari arah pintu ibu berteriak frustasi.


Nia tersadar, lalu melepaskan cengkramannya. Akhirnya Miss Mia bisa mengatur napasnya dengan normal lagi. Setelah itu, Miss Mia menjawab ibunya agar sang ibu lebih tenang.


"Kami baik-baik saja Bu! Ibu jangan khawatir. Kalau boleh ibu masak makan malam saja, nanti aku dan kak Nia akan turun saat ibu selesai." Miss Mia bersuara dengan kencang agar terdengar ibunya yang berada di luar pintu.


Lalu terdengar hentakan keras yang berasal dari langkah kaki Ibunya bertemu dengan lantai. Sepertinya wanita paruh baya itu setengah berlari saking semangatnya.


Setelah dirasa Ibunya tidak akan mendengarkan pembicaraan mereka lagi, Miss Mia mulai berbicara kepada kakak perempuannya itu. Miss Mia menguatkan dirinya. Semoga saja tindakanku kali ini benar. Semoga saja aku tidak salah langkah, ya Tuhan, Miss Mia sempat berdoa dalam hatinya.


"Apa yang kakak cari itu, adalah, informasi tentang pacar non artis yang sedang dibicarakan? Pacar artis Ricky Sebastian Alexander?" Miss Mia sempat menjeda perkataannya, karena khawatir dia akan menyesal pernah mengungkapkan ini.


"Apa...kau tahu siapa dia? Bukan. Sepertinya bahkan kau mengenalnya. Ya kan Mia?" tanya kakaknya tepat sasaran.


Sial! Kenapa kakak peka sekali sih. Aku jadi takut. Ya Tuhan, tolong bantu aku. Cuma ini satu-satunya yang bisa ku lakukan. Aku tidak mau Ibu terus bersedih dan kakakku jadi semakin gila, Miss Mia bergumam dalam hatinya.


Nia menyeringai seram, melihat reaksi adiknya yang terlihat jelas.


"Hahaha. Adikku sayang! Beritahu aku, siapa wanita ****** yang merebut kekasihku itu!" entah sejak tangan Nia sudah mencekam pundak Miss Mia.

__ADS_1


Akh. Kakak mencekramku dengan kuat. Sakit. Sial. Aku jadi makin takut.


"Katakan!!!"


"Kalau aku katakan, apa kakak akan mendengarkan kata-kata ku dan Ibu setelah ini?" tanya Miss Mia menantang kakaknya.


"Jangan bertele-tele. Katakan saja siapa dia, sisanya akan ku cari tahu."


"Tidak akan ku katakan." berbalik tersenyum meremehkan kakaknya. Memprovokasi.


"Mia!" kesal.


"Ikut turun bersamaku makan malam. Lalu dengarkan Ibu, baru akan ku katakan semua yang ku tahu, tentang tuan Tian dan pacarnya."


"Apa maksudmu? Bahkan kau pernah bertemu langsung dengan Tian-ku? Dimanaaaaaa?!" berteriak dan mengguncangkan badan Miss Mia.


"Ya, sudah kalau kakak tidak mau. Aku tidak akan pernah mengatakannya ke kakak." menghempaskan cengkraman kakaknya dengan kasar.


Saat Miss Mia akan berjalan menjauh, dirasa tangan kakaknya menahan pergelangan tangan Miss Mia.


"Aku akan ikut makan malam, aku bahkan akan membereskan kamarku. Kau harus tepati janjimu mengatakan semuanya. Se-mua-nya! Kau ingat itu, Mia!"


"Iya. Aku janji. Kakak mandi dulu dan bereskan kamar. Setelah itu turunlah untuk makan. Setelah makan, baru kita bicarakan lagi."


Setelah Miss Mia keluar dari kamar kakaknya, dadanya tidak henti berdegup. Miss Mia hanya bisa berdoa semoga keputusannya untuk mengatakan rahasia yang dia tahu ini adalah keputusan yang tepat. Dan tidak merugikan siapapun.


.


.


.


Itsumo Arigatou gozaimasu.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2