
Perumahan asri kawasan Rawamangun Jakarta Timur itu, sudah sepi tidak banyak kendaraan maupun orang berlalu lalang. Mobil mewah Alphard hitam milik Tian memasuki kawasan itu, dan sudah berhenti di depan rumah keluarga Hana.
Hana melirik dari dalam jendela mobil.
Rumah dua tingkat Hana yang menghadap lapangan itu, beberapa lampu ruangannya terlihat sudah padam.
Ah, mungkin ayah, ibu dan Hale sudah masuk kamar untuk beristirahat, pikir Hana.
Namun, empat orang di dalam mobil masih enggan membuka suara, saling menunggu berharap salah satu dari mereka bisa membuka pembicaraan.
Hana ingin segera masuk ke rumahnya. Tapi Hana sendiri bingung memikirkan cara berpamitan dengan tiga orang laki-laki di dalam mobil ini.
Apa aku berbasa-basi dulu atau bagaimana, batin Hana. Akhirnya setelah mengumpulkan kata-kata di kepalanya, Hana bicara duluan.
^^^"Ehm, terima kasih sudah mengantar. Kalau begitu aku turun ya." ucap Hana cepat.^^^
^^^"Baiklah. Maaf sepertinya aku tidak bisa mampir ke rumah mu, Miss Hana. Sudah malam." ucap Tian santai.^^^
Dih, ditawarin mampir saja tidak. Sungguh rasa percaya diri yang luar biasa, Manager Raka bersungut dalam hatinya.
"Tidak apa apa. bisa lain kali." jawab Hana tanpa sadar.
Eh. Aku bicara apa tadi.
^^^"Haha. Baiklah aku janji lain kali." jawab Tian.^^^
Tian cukup terkejut dengan jawaban spontan Hana. Tapi dia menyukai jawaban itu. Ku anggap ini sinyal yang baik untukku ya Hana, batin Tian berbunga-bunga.
^^^"Hah?! Bu-bukan begitu...Maksudku selamat malam tuan-tuan semua!" jawab Hana^^^
Panik. Hana membuka pintu mobil dan keluar begitu saja. Tapi saat dia ingin melangkah masuk ke dalam rumah, Tian membuka jendela dan memanggil Hana lagi.
^^^"Miss Hana, tunggu! Ada yang ketinggalan." ucap Tian.^^^
Hah? Aku tidak merasa ada yang tertinggal. Eh, kalau di drama drama Korea yang ku lihat maksudnya yang tertinggal setelah ngedate itu...ciuman??
Pikiran fantasi seperti drama Korea mulai merasuki kepalanya. Mukanya pun langsung membayangkan apa yang akan dia terima kalau berbalik dan mendekati jendela tempat Tian berada.
Tian masih menunggu dengan heran. Apa Hana tidak mendengarku ya?
^^^"Miss Hana?" tanya Tian sekali lagi.^^^
^^^"I-iya tuan. Apa yang ketinggalan ya?" akhirnya memberanikan diri berbalik ke arah jendela mobil, tempat Tian menunggunya.^^^
^^^"Kau sepertinya lupa membawa ini. Ini tertinggal di dalam mobil. Ambilah." jawab Tian.^^^
__ADS_1
Tian menyerahkan amplop berisi rekam medis dan catatan terapi Cherry yang tadi di berikannya di restoran. Sepertinya Hana tidak sengaja meninggalkannya di kursi belakang, karena terlalu terburu-buru keluar mobil tadi.
Oh, ya ampun. Karena gugup aku melupakan itu! Bodohnya! Hana merutuki dirinya sendiri dalam hati.
Hana berjalan menunduk menghampiri jendela mobil. Wajahnya tidak mampu lagi ditegakkan untuk melihat Tian. Hana malu sekali, sudah melupakan hal penting lalu membayangkan fantasi aneh di kepalanya.
Tian menyadari sesuatu hanya dengan melihat wajah memerah Hana. Tersenyum dengan lebar.
Saat Hana mengambil amplop yang di tangannya, Tian menggoda lagi.
^^^"Eh, sepertinya ada yang ketinggalan lagi ya Hana." pancing Tian agar Hana memandangnya.^^^
Tian berhasil membuat Hana bingung lalu memandang Tian kembali.
^^^"A-apa lagi tuan?"^^^
Hana dalam kebingungannya memberanikan diri bertanya. Dadanya berdegup kencang.
Jarak mereka sekarang lumayan dekat, hanya tersekat oleh pintu mobil yang jendelanya dibuka.
Aku ingin menciumnya. Aku pasti sudah gila, batin Tian.
Tian menelan ludahnya. Dia tidak yakin melakukan hal yang ada dipikirannya, dan mungkin dipikiran Hana. Tapi sudah kepalang tanggung kalau dihentikan juga.
Sial. Kalau tidak ada dua pengganggu di kursi depan aku pasti bisa melakukannya. Oke, ini usaha terakhirku di hari ini. Masih ada besok besok.
Padahal Manager Raka dan bodyguard Tagor sudah pasrah, menjadi nyamuk dalam melodrama yang di sutradarai langsung oleh artis Ricky Sebastian Alexander ini. Mereka berdua patuh tidak bergeming, meski telinga mereka aktif mendengar setiap interaksi antara Tian dan Hana.
^^^"Good night. Selamat mimpi indah." ucap Tian dengan suara dibuat semanis mungkin.^^^
Cup.
Tak hanya itu, Tian juga mencium rambut Hana setelah mengatakan kata-kata barusan. Hana mematung.
^^^"....Good night. Selamat tinggal." tak tahan lagi Hana langsung berjalan masuk ke dalam rumah tanpa menoleh sedikit pun.^^^
Tian melihat Hana yang setengah berlari masuk ke dalam rumah, tertawa dengan puas. Kali ini dia yakin, Hana akan memikirkan dirinya sepanjang malam.
^^^"Hahaha."^^^
Tawa yang tidak mereda, malah semakin keras.
^^^"Kau lihat kak? Mukanya sangat merah, dan lucu sekali." ucap Tian.^^^
^^^"... Memangnya aku sudah boleh berbicara? Aku dan Tagor daritadi kan hanya penonton melodrama mu." ucap sinis Manager Raka.^^^
__ADS_1
Mendengar hal itu, Tian mulai bisa menghentikan tawanya. Tapi masih tersenyum. Suasana hatinya sangat bagus, jadi kesinisan Manager Raka tadi membuat Tian tidak terlalu terpancing. Malah Tian bisa mengembalikan kesinisan itu kepada Manager Raka.
^^^"Haha. Sudah jadi penonton masih jomblo lagi." ucap Tian tak mau kalah.^^^
Tagor refleks menengok ingin mengkoreksi perkataan bosnya.
^^^"Bukan kau Tagor, kau kan sudah menikah. Tau lah siapa yang ku maksud."^^^
Sialan, umpat Manager Raka dalam hati.
^^^"Oh ya, mulai sekarang kau tidak usah menghubunginya kalau tidak seijin ku, kak." tambah Tian.^^^
^^^"Menghubungi Hana maksudnya?" tanya Manager Raka memastikan.^^^
Bukannya dijawab, Tian malah berdecak keras. Seolah ingin berkata, sudah tahu tapi masih nanya.
^^^"Tadi siang itu juga sudah seijinmu, kan?" kilah Manager Raka.^^^
^^^"Cih, tetap saja. Harusnya kau bilang pada Hana. Tidak perlu menyimpan nomormu. Karena kau lupa, makanya nomormu disimpan di Handphonenya." Tian sudah bersungut kesal.^^^
Manager Raka hanya terdiam mendengar komplain yang tidak masuk akal sehatnya itu. Dia speechless.
Haish. Kenapa sih denganmu. Semua saja kau salahkah aku!
Sementara itu, Hana yang sudah berada di kamar tidurnya. Masih bersandar di pintu setelah kejadian tadi di depan mobil.
Debar jantungnya tidak terkontrol, dirinya bahkan bisa mendengar detak jantung dalam keheningan malam itu.
Suara manis mengucapkan selamat malam, dan perlakuan manis yang diterimanya masih berputar putar di kepala seakan ada yang menyetel ulang semua kejadian tadi di pikirannya.
Haduh, gimana ini. Yang ada aku malah tidak bisa tidur, gumam Hana frustasi akan perasaannya sendiri.
Tian benar, sepertinya mulai malam ini Hana akan memikirkan Tian lebih dari biasanya. Memikirkan kemungkinan yang diminta oleh perasaannya sendiri, akankah bisa statusnya berubah dari Tianager menjadi kekasih sang artis?
.
.
.
Itsumo arigatou gozaimashita
.
.
__ADS_1
Bersambung