Terpikat Duda Artis

Terpikat Duda Artis
Waktu Berduaan


__ADS_3

Tanpa sadar waktu berjalan cepat.


Sudah lebih dari lima jam dari awal rombongan keluarga artis ini tiba di tempat wisata Aquarium dan Safari Jakarta. Mereka telah menjalani semua kegiatan yang di pandu oleh petugas Nana, menyelesaikan semua tantangan yang ada. Sesungguhnya sih hanya tiga orang yang terlibat aktif untuk berjuang menyelesaikan tantangan, sisanya hanya bertugas sebagai penonton yang ikut serta bersorak memeriahkan suasana.


Tapi tidak masalah, semua merasakan kegembiraan yang sama.


Cherry yang awalnya sangat lincah, riang hingga melompat kesana kemari sekarang sudah terlihat lelah dan mengantuk. Tian yang menyadari putri kecilnya mengantuk menggendong Cherry lalu mengelus pundaknya penuh kasih sayang. Cherry memejamkan matanya dan mulai masuk ke dunia mimpinya sendiri.


^^^"Sepertinya Cherry sangat lelah hingga mengantuk ya." ucap Hana yang sedari awal memperhatikan cara Tian menidurkan putri kecilnya.^^^


^^^"Haha. Iya. Setidaknya kalau Eri tidur dia tidak akan mengingat kalau meminta bawa pulang pinguin kan." ucap Tian sambil tertawa.^^^


Hana ikut tertawa geli, mereka berdua dibuat kewalahan bernegosiasi dengan sang putri kecil terkait permintaannya membawa pinguin untuk di bawa ke rumah. Berbagai cara penjelasan sudah dicoba, namun seperti pada umumnya anak kecil yang sulit mengerti Cherry tetap berkeinginan kuat memelihara pinguin. Alasannya karena pinguin itu lucu sekali mau punya satu di rumah, katanya.


Ketika dirasanya Cherry sudah terlelap dengan nyenyak, Hana memberikan saran agar Cherry dibaringkan saja di pangkuan antara Tian dan Hana. Agar Cherry bisa tidur dengan nyaman, Tian juga tidak perlu menggendong Cherry selama Cherry tertidur. Saran itu langsung dituruti oleh Tian.


Setelah dibaringkan di pangkuan Tian, Hana pun ikut duduk berdampingan dengan Tian. Hana melihat Cherry tidur dengan nyaman dan tenang. Sangat manis seperti malaikat kecil. Hana pun tersenyum melihatnya.


Tertidur nya Cherry, membuat sepasang orang dewasa ini merasa lega sekaligus memunculkan kembali suasana canggung yang tadi sempat tidak terasa. Biar bagaimanapun mereka mampu beradaptasi satu sama lain karena satu tujuan yang sama, menyenangkan Cherry si putri kecil. Di tinggalkan dalam keadaan berdua dengan perasaan mereka yang saling meluap tapi belum jelas ini, membuat Tian dan Hana bingung harus memulai kembali perbicaraan dengan topik apa.


Biasanya Tian yang memiliki banyak ide serta modus modus lainnya, masih betah hanya memandangi wajah Hana dari jarak sedekat ini.


Aku tidak mau bicara. Aku mau menciumnya.


^^^"Tu-tuan Tian...???" ucap Hana lirih.^^^


^^^"Hmm...?" Tian menjawab sekenanya saja.^^^


Wajahmu terlalu dekat! Aku mau bilang itu! Tapi gimana bilangnya, batin Hana sambil menahan napasnya.


Tian bertahan di posisi dimana dirinya tinggal selangkah lagi bisa mencium bibir ranum yang daritadi dipandanginya itu. Bertahan dengan sekuat tenaga, meski sulit rasanya agar tetap membuat dirinya waras dan tidak gila. Karena wangi tubuh dan wajah Hana yang dilihatnya semakin lama semakin imut dan menggoda iman sang duda artis.


Kenapa malah menutup matamu Hana?! Aku hanya niat menggoda sedikit saja. Malah aku yang kena. Haaah! Time out!


Tian mengehela napas.


Tian menyerah dan frustasi. Dia memilih untuk menyandarkan saja kepalanya ke pundak sang wanita pujaan. Agar matanya serta pikirannya tidak fokus untuk mencium wanita ini.


Hana tidak bergerak, tapi Tian tahu dari gestur tubuh Hana yang menegang pasti Hana juga merasa frustasi dengan tindakan Tian yang sekarang.


Setelah mendekat seolah hendak mencium malah berhenti di tengah jalan. Hana sangat bingung harus bereaksi seperti apa sampai hanya bisa diam membatu tidak bergerak.

__ADS_1


Ish menyebalkan. Sekarang dia malah tertawa! protes Hana dalam hati.


^^^"Haha. Maaf. Tapi tolong seperti ini sebentar lagi ya, Hana." pinta Tian tanpa rasa bersalah.^^^


^^^"Baik tuan..." jawab Hana pasrah.^^^


^^^"Haha. Kau berdebar tidak sekarang?" tanya Tian dengan usil.^^^


Apa! Kenapa malah ditanyakan sih!


Hana menolak menjawab, dirinya memilih untuk sedikit memiringkan kepalanya berlawanan dari tempat duduk Tian. Berharap Tian tidak melihat wajah malu yang memerah itu. Namun seakan tahu jawaban Hana yang tak di ucapkan sekalipun, tawa Tian makin keras.


^^^"Tidak apa-apa tidak dijawab juga aku paham." ucap Tian penuh percaya diri.^^^


Tian mengangkat kepalanya lalu memandang Hana untuk melihat reaksi sang wanita itu. Persis seperti dugaan Tian, Hana hanya tertegun mendengar perkataannya barusan. Wajah tertegunnya malah membuat Tian semakin gemas, hingga tak bisa lagi menahan tawanya yang tadi sempat terhenti sebentar.


^^^"Hahaha. Kamu sampai membatu karena aku tepat sasaran ya. Hmmm?" cengiran dari Tian sangat lebar.^^^


^^^"Ish, tolong berhentilah menggodaku!" ucap Hana dengan suara kecil, sangat kecil sampai seperti hanya desisan saja.^^^


Desisan itu tidak terdengar jelas oleh Tian, Tian bisa menebak kalau Hana cukup kesal karena digoda terus seharian. Meskipun tidak terlihat kaku lagi, tapi raut wajah malu memerahnya seolah sudah mengatakan segalanya.


"Hana... seperti apa hubunganmu dengan Riga?" tanya Tian.


Baru mulai Tian langsung memilih topik yang sulit. Habis bagaimana lagi, sejak melihat sendiri kedekatan antara Riga dan Hana saat meeting online pertanyaan itu muncul terus dalam kepalanya. Bersamaan dengan rasa cemburu yang tidak pernah padam.


^^^"Hubunganku dengan Riga? Eh? Memangnya kenapa ya?" Hana malah balik bertanya.^^^


^^^"Apa... kalian pacaran?" Tian sempat menjeda karena mengatakan hal ini sama seperti menyulut kobaran api di dadanya juga.^^^


^^^"Pacaran?! Tidak, tidak! Kami hanya berteman." sanggah Hana.^^^


Kenapa tuan Tian berpikir ke arah yang tidak mungkin begitu sih, Hana keheranan arah pembicaraan ini akan menuju kemana.


Tian tersenyum senang. Tapi rasa cemburu di hatinya belum sepenuhnya hilang. Jadi Tian menambahkan pertanyaannnya.


^^^"Jadi, siapa Riga bagi dirimu Hana?"^^^


^^^"Hmm, teman dekat yang seperti keluarga. Ah, keluarga ku juga dekat dengan Riga soalnya." Hana buru-buru meralat takut Tian salah paham.^^^


Entah kenapa Hana tidak ingin Tian berpikir kalau Hana dan Riga mempunyai hubungan yang khusus selain yang tadi disampaikan Hana.

__ADS_1


^^^"Cih."^^^


Tian berdecih pelan, namun Hana masih bisa mendengarnya.


Eh? Kenapa sepertinya tuan Tian terlihat makin salah paham.


^^^"Sedekat apa keluargamu dengannya? Hmm?" Tian menekan cemburunya dengan mulai memainkan rambut Hana yang di kuncir ponytail.^^^


^^^"Ah... Sebenarnya aku tidak tahu pasti sih. Tapi Hale sepertinya sangat sering bermain basket bersama." jawab Hana dengan hati-hati.^^^


^^^"Hale itu adikmu?"^^^


Sesi pertanyaan menjadi memanjang seperti wawancara saja. Topik nya pun berubah dari Riga menjadi Hale, adiknya. Hana agak bingung, namun tetap menurut saja untuk menjawab.


^^^"Iya adik laki-lakiku." jawab Hana.^^^


^^^"Kamu dekat dengan adik laki-lakimu?"^^^


Tian sudah tahu tentang Hale dari informasi yang di dapatkan Manager Raka sebelumnya. Namun tetap saja Tian bertanya langsung ke sumbernya, siapa tahu informasi yang dia baca ada yang kurang kan. Alasan utamanya sih, karena Tian juga tidak mau mendengar hal hal tentang Riga lagi. Takut menambah rasa cemburunya.


^^^"Dekat sekali. Hehe. Dia segalanya bagiku. Kata orang kami sangat mirip." ucap Hana berseri-seri.^^^


Segalanya bagimu?! Lalu aku apa?!


Hal yang wajar kalau Hana sangat menyayangi Hale sampai menganggap adiknya adalah segalanya bagi wanita itu. Tapi itu artinya kehadiran Tian menjadi kalah dengan dengan Hale dong? Begitu pikir Tian.


Tian gusar, namun merasa salah tempat juga kalau cemburu.


.


.


.


Itsumo arigatou gozaimashita.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2