
Di taman belakang rumah Tian, semua masih memperhatikan interaksi pertama antara gadis kecil berambut ikal sebahu dengan wanita berambut panjang lurus yang juga akan menjadi guru gadis kecil itu.
Cherry hari ini sangat terlihat cerah dengan setelah baju dan celana kodoknya berwarna kuning gading. Di tengah bajunya ada bordiran gambar bunga matahari. Hana yang melihat penampilan Cherry menjadi semakin gemas, tapi Hana tetap menunggu agar gadis kecil ini menyambutnya duluan. Hana ingin Cherry bertindak senyamannya gadis kecil itu saja tanpa merasa ada paksaan.
^^^"Hai anak manis. Aku Hana, nanti kita akan sering bertemu di sekolah. Senang berteman denganmu Cherry." -Hana^^^
Cherry sedikit demi sedikit maju ke depan, tidak lagi bersembunyi di belakang tubuh neneknya. Dengan perlahan menerima uluran tangan Hana, dan tersenyum malu-malu.
Hana merasa senang karena Cherry langsung menerima uluran tangannya lalu mulai berkomunikasi lagi dengan Cherry. Kali ini Hana berbicara dan mengerakkan tangannya berbahasa isyarat dalam waktu bersamaan.
^^^"Thank you, Cherry." -Hana^^^
Cherry, dan juga keluarga Tian yang lain terkejut melihat Hana ternyata bisa berbahasa isyarat. Semua kecuali Tian dan Manager Raka, yang memang sudah mengetahui hal ini. Cherry dengan binar mata lucu langsung merespon Hana.
Masih dalam bahasa isyarat, tapi Cherry hanya mengerakan tangannya saja tidak di ucapkan lisan juga seperti Hana.
^^^"Miss Hana bisa bahasa isyarat?"^^^
^^^-Cherry.^^^
Dalam hati Cherry, dia senang merasa tidak takut lagi. Keterbatasan interaksi dengan dunia luar dan gangguan bicaranya, membuat Cherry selalu mengambil sikap rendah diri terlebih dahulu setiap bertemu dengan orang baru. Ketakutannya adalah orang selain keluarganya tidak akan memahami dirinya untuk dapat menyampaikan semua kata hati dan pikiran Cherry. Cherry bersemangat ke sekolah tapi tetap takut kalau teman dan gurunya nanti akan menjauhinya karena tidak bisa lancar berkomunikasi.
^^^"Hehe. Bisa sih tapi sudah lama Miss tidak pakai, takut lupa. Nanti kalau lupa, Cherry ajari lagi ya." -Hana^^^
Hana masih berkomunikasi dengan dua arah dengan gadis kecil ini dengan hangat dan ramah. Selama berinteraksi Hana tidak ragu mengeluarkan ekspresi riang untuk menunjang interaksi jadi semakin menyenangkan.
Tidak lama waktu yang dibutuhkan Hana untuk mengambil hati gadis kecil seperti Cherry. Hana memang menyukai anak kecil dan gampang dekat dengan mereka. Terlebih pada dasarnya, diluar rasa rendah diri Cherry karena kesulitan gangguan bicaranya, Cherry sepertinya anak yang manis dan riang.
Tian yang melihat pemandangan manis di depannya, hatinya terenyuh. Tian seperti bisa mendengar debar jantungnya sendiri berdetak kencang. Selain memang sudah tertarik, dia sangat bersyukur Hana bisa dengan mudah mengambil hati Cherry. Sus Rita saja butuh waktu adaptasi yang cukup lama untuk diterima oleh Cherry saat pertama kali datang.
Dia memang orang yang tepat. Maksudku jadi guru Cherry saat ini. -Tian
Tian agak heran dengan cara pikirannya yang sekarang selalu menjurus ke arah sana. Dia mulai mengakui hatinya tertarik dengan guru putri kecilnya ini, tapi sekarang bukan saatnya. Tian juga ingin Cherry merasa nyaman dan senang atas kegiatan nanti di sekolah. Maka dari itu, prioritas kenyamanyan Cherry yang mendasari dia membuat pertemuan ini.
Walau begitu, dia memuji dirinya sediri atas ide pertemuan hari ini, Tian jadi bisa melihat Hana sekali lagi. Sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui, begitu pujinya.
Tian berdehem, ingin mulai terlibat interaksi manis itu.
^^^"Eri, ayo ajak Miss Hana ke kamar Eri sambil menunggu kita makan siang nanti ya?" -Tian^^^
Hana kaget. Lagi lagi tuan artis ini bertindak sesukanya tanpa ada aba-aba untuk Hana harus berbuat apa selanjutnya.
Memang sih, kalau dilihat dari tujuan kedatangan yang disampaikan kemarin, pertemuan hari ini adalah cara untuk mengakrabkan diri Hana dengan Cherry. Tapi setidaknya kalau diberi tahu dari awal Hana merasa bisa menyiapkan hal hal yang bisa dia lakukan bersama Cherry tentunya dengan lebih baik lagi.
Cherry mengangguk senang. Cherry mulai menarik tangan Hana untuk ikut bersamanya. Hana menurut pasrah dan tetap tersenyum pada Cherry. Hana berpamitan dengan santun kepada orang orang sekitarnya.
__ADS_1
Tian dengan cengiran andalannya, juga ikut senang dan berbicara lagi.
^^^"Maaf paman David, dan semuanya. Aku mengantar Eri dan Miss Hana ke kamar dulu, nanti aku akan bergabung lagi ke sini."^^^
^^^Ucap Tian santai.^^^
Kepala sekolah David tidak keberatan dan mengangguk setuju saja. Ayah, ibu, Bella saling pandang penuh arti tapi juga tidak berkomentar. Hanya Manager Raka yang berani bicara menggoda sang artis.
^^^"Kenapa tidak panggilkan sus Rita saja yang menemani mereka? Oh. Baiklah. Kamu hanya ingin memastikan mereka sampai kamar saja kan. Okay, bro."^^^
^^^-Manager Raka^^^
Manager Raka menahan tawanya. Dia hanya berani menggoda sampai sini saja, karena takut akan pandangan mata sengit dari sang artis sudah seakan memakan dirinya nanti.
Benar benar sudah tidak tertolong dia! Haha. -Manager Raka
Setelah melihat tiga orang tadi yang pergi ke kamar tidur Cherry, orang orang yang masih berada di taman belakang melanjutkan pembicaraan mereka. Kepala sekolah David, bernostalgia dengan teman lamanya Dave Alexander. Sesekali istrinya Dave, Sandra ikut terlibat pembicaraan mereka berdua. Mereka bertiga sama sama pernah berkuliah di Inggris, tempat kelahiran Sandra.
Tinggal dua orang yang hanya bisa menjadi pendengar pembicaraan dari tiga orang senior itu. Bella menghampiri Manager Raka karena penasaran akan suatu hal. Toh, mereka berdua juga tidak begitu memahami pembicaraan dan nostalgia tiga orang senior yang ada sekarang kan, begitu pikir Bella.
^^^"Kak Raka, mau tanya dong."^^^
^^^-Bella^^^
Manager Raka refleks sedikit bergeser dari duduknya agak menjauh, setelah Bella mendekati dan duduk di kursi kayu panjang yang sama dengannya. Manager Raka tidak pernah nyaman jika berinteraksi berduaan saja dengan Bella.
"Tanya apa, Bell." -manager Raka.
Manager Raka berusaha bersikap cool, dia banyak mencontoh sikap Tian, sang artis idola hampir seluruh orang di negeri ini.
^^^"Kakakku itu, suka sama guru Eri? Atau karena dia suka sama guru Eri, jadi dia berusaha pendekatan dengan cara ini?"^^^
^^^-Bella.^^^
Bella sebenarnya ingin memberi pertanyaan yang banyak, tapi untuk saat ini dua pertanyaan tadi dirasa cukup mewakili. Saat bertanya, Bella makin mendekatkan dirinya dan berbisik di telinga Manager Raka. Maksudnya agar tiga orang senior yang ada di dekat mereka tidak mendengarkan.
Bella tidak menyadari, bahwa tindakannya membuat orang yang diperlakukan seperti itu jadi berdesir hati dan jantungnya. Manager Raka masih belum menjawab, dia malah berusaha menenangkannya dirinya.
Oh my god, jadi ini rasanya saat aku bilang ke Tian tahan dirimu. Hei, kau terlalu dekat nona! Manager Raka ingin teriak dalam hati karena kecanggungan yang dia rasakan sekarang.
^^^"Ih, kak Raka dengar ga sih?"^^^
^^^-Bella^^^
^^^"Hmm entahlah, aku tidak tahu Bella. Coba kau tanya kakakmu saja."^^^
__ADS_1
^^^-Manager Raka^^^
Jawabnya dengan nada yang berhasil dia kuasai untuk bersikap tenang. Karena tidak ingin terlihat canggung lagi, Manager Raka akhirnya bangun dan meninggalkan Bella tanpa kata kata.
Bella terdiam dan setelah sadar jadi kesal sendiri.
^^^"Ih, apa sih. Nyebelin banget."^^^
^^^-Bella.^^^
...π»π»π»...
Tiga orang yang saling bergandengan tangan itu, masih berjalan di tangga menuju kamar Cherry di lantai atas.
Pemandangan yang baru pertama kali ada di rumah ini. Tian menggandeng tangan Cherry, dan Cherry juga menggandeng tangan Hana disampingnya.
Sekilas mereka terlihat seperti keluarga kecil, kata manager Raka. Dia mengeluarkan handphonenya.
Kau akan berterima kasih padaku tuan artis, batin Manager Raka senang.
Manager Raka berinisiatif untuk mengabadikan momen ini dan berpikir akan meminta imbalan pada sang artis atas inisiatifnya ini.
Hana sendiri sudah bisa mengatur ekspresi dan perasaannya agar tidak lagi terbaca oleh sang artis, karena dirinya sudah banyak berlatih dikaca sejak semalam. Tapi sebisa mungkin Hana tidak memandang langsung ke laki-laki yang memang sangat menarik itu.
Berbeda dengan penampilan pertemuan pertama mereka di ruang kepala sekolah. Hari ini Tian sangat terlihat santai dengan kaos oblong lengan pendek press body warna Sage. Dia memakai celana panjang bahan santai. Tidak ada aksesoris lain, tapi Tian tetap terlihat mencolok di mata Hana.
Aku bertaruh, mungkin aku adalah mantan fans yang beruntung bisa melihat tuan Tian berpakaian santai dan.. seksi? Ah, tidak apa sih yang kupikirkan. Ya Tuhan, otot tangannya terlihat." -Hana
Hana memalingkan pandangannya dan berusaha meraih fokusnya kembali dengan memilih berbicara dengan Cherry.
Cherry menjawab dengan kata sederhana dan pelan, lebih sering dengan anggukan kepalanya. Karena dia tidak bisa menggunakan tangannya yang digandeng dua orang dewasa ini untuk berbahasa isyarat. Cherry merasakan rasa senang yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
Tian yang tahu kalau daritadi Hana mencuri pandang kepadanya merasa sangat puas dan senang. Tian tersenyum lebar.
.
.
.
doumo arigatou gozaimasu.
.
.
__ADS_1
Bersambung