
Masih terlarut dalam interaksi dua orang beda usia, di teras taman rumah Hana.
Perlakuan Ayah Hana memberikan satu lagi perasaan hangat di hati Tian.
Tian telah berpikiran jauh, kalau Ayah dan Ibu Hana pasti akan bertanya macam macam. Apalagi melihat dirinya yang seorang duda satu anak menjemput putri mereka.
Pikirannya ternyata salah. Yang ada Ayah Hana memperlakukan Cherry dengan sangat baik.
Tian jadi sadar kalau kebaikan hati orang tua Hana sangat terpancar tulus. Satu hal lagi yang membuat Tian semangat untuk melangkah mendekati Hana.
^^^"Kakek bisa bahasa isyarat juga ya?" tanya Cherry dengan mulut dan tangannya berbarengan.^^^
^^^"Kakek Nenek sama seperti Miss Hana. Kami bisa berbahasa isyarat. Tapi kakek sendiri suka suara Cherry. Suara Cherry bagus sekali ya ternyata." ucap ramah Ayah Hana.^^^
Ibu dan Hana takjub dengan kata kata ayahnya. Memang ayahnya sangat mengerti psikologis anak, terbukti dengan kata kata sederhana itu, Cherry tampak senang sekali.
Baru kali ini ada yang memuji suaranya. Padahal Cherry selalu merasa rendah diri orang orang tidak akan mengerti perkataan dirinya karena berbicara tidak jelas dan pelan. Cherry membalas lagi.
^^^"Benarkah Kek?" tanya Cherry memastikan.^^^
^^^"Benar kok. Suara Cherry bagus. Kakek suka dengarnya." jawab Ayah.^^^
Raut wajah merona dan mata binarnya sangat menggemaskan semua orang yang melihatnya.
^^^"Tapi Cherry susah bicara kek..." ucap Cherry sedih.^^^
^^^"Engga kok. Buktinya Kakek lalu Ayah dan lainnya mengerti kalau Cherry bicara kan. Tapi kalau Cherry masih merasa susah, ya engga apa apa. Pelan pelan saja ya." ucap Ayah dengan nada menenangkan.^^^
Kali ini Ibu Hana juga ikut terlibat interaksi manis itu.
^^^"Cherry mau pergi liat ikan ya. Nanti pas pulang boleh engga cerita juga ke Kakek dan Nenek lihat ikan apa saja disana?" Ibu Hana memancing stimulus Cherry untuk berbicara lagi.^^^
^^^"Iya!" jawab Cherry senang.^^^
Biasanya dia cukup untuk mendengarkan orang dewasa bicara. Tapi kali ini ada orang dewasa yang menginginkan ceritanya. Cherry jadi bersemangat.
Hana melihat interaksi kedua orang tuanya juga dengan takjub.
Wah, begini ya rasanya kalau guru senior turun langsung. Hehe, batin Hana.
Baru lah Tian memulai pembicaraan. Tapi kata yang keluar dari mulutnya hanya kata sederhana yang berarti banyak maknanya. Tian terlalu terbawa suasana. Dia tidak menyangka mendapatkan hal yang luar biasa di hari ini.
^^^"Terima kasih. Saya sungguh berterima kasih." jawab Tian lirih dan tulus.^^^
Ayah dan Ibu tersenyum. Ayah mengangguk lalu berkata.
^^^"Ini bukan apa apa kan. Sebagai orang tua, saya tahu rasanya jadi tuan Tian. Anda harus lebih semangat lagi demi Cherry." ucap Ayah kepada sang artis.^^^
^^^"Ehm, iya tuan Tian. Tidak perlu sungkan. Apa mau masuk dulu? Saya bisa siapkan teh atau kopi buat semuanya juga." kata Ibu melirik semua orang termaksuk keempat bodyguard berbadan besar yang berjaga di pintu depan.^^^
^^^"Maaf saya bukan maksud menyela pembicaraan. Tapi kalau boleh kami langsung berangkat saja, Tuan dan Nyonya."^^^
__ADS_1
Manager Raka mengambil alih situasi. Sadar akan suatu hal, dengan cepat Manager Raka berbicara lagi mengenalkan dirinya.
^^^"Ah, saya Raka managernya Tian." tambah Manager Raka mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Ayah Hana.^^^
^^^"Iya sebaiknya begitu. Cherry sudah tidak sabar ya lihat ikan." ucap Ayah Hana kepada Cherry.^^^
Lagi lagi Cherry menjawab dengan anggukan senang.
Singkat cerita, akhirnya mereka berempat pun berpamitan kepada Ayah dan Ibu Hana.
...π»π»π»...
Hana melihat keluar jendela, Ayah dan Ibunya masih di depan pintu melepas mereka pergi.
Tian yang dari tadi juga memperhatikan Hana akhirnya berbicara.
^^^"Ayah dan Ibu mu orang yang sangat baik." kata Tian.^^^
Cherry pun ikut mengangguk setuju, dua orang ayah dan anak itu memandangi Hana.
Hana tersenyum membalas pujian untuk orang tuanya.
"Orang tua saya biasa saja tuan. Mereka kebetulan seorang guru juga. Selain itu, Cherry juga hebat bisa ramah ke semuanya kan." Hana tersenyum kepada Cherry.
Menurut Hana Cherry juga perlu di puji. Beberapa hari ini Cherry berani untuk berbicara tanpa malu untuk berkomunikasi dua arah dengan yang lain.
Hana mengusap pucuk kepala Cherry dengan lembut. Cherry terlihat senang pipi tembemnya bersemu merah muda.
Tangan Tian hampir menyentuh puncuk kepala Hana juga, karena Hana menoleh jadi Tian tersadar dan tangannya Hana di rentangkan di belakang kursi.
^^^"Kita akan pergi kemana tuan?" tanya Hana.^^^
^^^"Lihat ikan!" lagi lagi Cherry yang menjawab.^^^
Tian hanya tersenyum, dia akhirnya menjawab karena tidak tega melihat kebingungan di wajah Hana.
^^^"Kita akan ngedate bertiga ke aquarium." jawab Tian santai.^^^
Deg. Tuh kan mulai lagi isengnya, batin Hana.
"Sa-saya bertanya serius tuan." ucap Hana cepat.
Dia sudah tahu akan seperti ini jadinya, tapi Hana sudah mempersiapkan diri. Cukup baginya belajar dari dua kali pengalaman sebelumnya. Hana menganggap kata kata Tian hanya keisengan belaka.
Tuan Tian pasti terhibur karena reaksiku yang malu malu. Dia tidak berniat serius dengan semua perkataannya kan? Hana terlihat kukuh mempertahankan perasaannya agar tidak salah paham..
^^^"Aku tidak pernah seserius ini dengan yang lain malah, Miss Hana." jawab Tian dengan cengirannya.^^^
Eh. kita sedang berbicara apa sih, Hana menjawab dari hati memilih tidak melanjutkan bicara.
Lalu Tian memberikan instruksi kepada putrinya dengan kedipan mata. Tentu saja kacamata hitamnya sudah tidak dipakainya sejak masuk mobil. Jadi kedipan mata Tian terlihat jelas oleh Cherry.
__ADS_1
Cherry merespon ayahnya dengan membentuk jari O, lalu menarik pinggir baju Hana. Hingga Hana jadi memandang Cherry setelah pandangan sebelumnya diarahkan ke luar jendela.
^^^"Hmm? Cherry butuh sesuatu ya?" tanya Hana.^^^
^^^"Miss Ana. Mau jadi Ibuku ndak?" tanya Cherry dengan polos.^^^
Hah?! Apa lagi sekarang ya Tuhan. Hana tidak mampu berbicara apapun.
^^^"Jadi Ibu Cherry satu hari ya, please."^^^
Kali ini Cherry mengatakan hanya dengan gerakan bahasa isyaratnya sambil memperlihatkan ekspresi lucu yang sulit untuk di tolak.
^^^"Ah, Jadi Ibu Cherry ya? Memang Miss Hana sudah jadi Ibu guru Cherry kan." Hana memutar otaknya menjawab seperti itu.^^^
Memilih jawaban aman, berspekulasi bahwa Cherry bukan meminta dirinya menjadi ibu yang lain, selain ibu guru.
"No...Ibu Cherry bukan Ibu guru..." pinta Cherry lagi.
Haduh, aku harus jawab apa. Aku tidak mungkin menolak nanti Cherry jadi sedih. Tapi kalau aku jawab iya, apa reaksi tuan Tian ya, Hana terlihat bimbang.
Eh. Tangan!
Hana panik dan terkejut tangannya disentuh oleh Tian. Aliran listrik menjalar dari tangan yang disentuh menuju ke detak jantungnya.
Hanya sedikit sentuhan saja sebenarnya, walau Tian niatnya ingin menggenggam tangan Hana.
^^^"Maaf ya Miss Hana, aku sudah mencoba memberikan pengertian ke Cherry. Tapi Cherry tetap ingin seperti itu. So, would you be her mommy just one day, please?" bujuk Tian.^^^
Seperti yang sudah di rencanakannya, mulai dari hari ini Tian tidak akan menyembunyikan perasaannya. Dia akan perlahan memperlihatkan keseriusannya hatinya kepada Hana. Namun Tian juga sedikit menahan dirinya, takut kalau berlebihan malah Hana tidak nyaman dan malah menjauh.
"O-okay." jawab pasrah Hana.
Bersamaan dengan jawaban Hana itu terlihat dari kaca tengah yang dilihat Manager Raka. Kalau Cherry dan Tian saling bertukar pandangan, bahkan sempat sempatnya mengedipkan mata. Bukti kalau misi mereka berjalan lancar.
Luar biasa kompaknya duo Ayah dan anak ini, batin Manager Raka memuji.
Manager Raka tidak mau terlibat, seperti biasa dia akan menjadi tidak terlihat. Menjadi penonton setia melodrama yang akan di lakukan oleh sang artis di kehidupan nyata.
.
.
.
Itsumo arigatou gozaimashita.
.
.
Bersambung
__ADS_1