
Kegiatan kencan keluarga sang duda artis beserta rombongannya memasuki penghujung sore hari.
Sebelum pulang, mereka semua memutuskan untuk melihat pertunjukan teater yang disediakan oleh Aquarium dan Safari Jakarta ini. Teater musikalisasi yang berjudul 'Pearl of the South Sea'.
Cherry sangat bersemangat melihat pertunjukan ini.
Pearl of The South Sea menyuguhkan cerita tentang seorang putri yang dikutuk menjadi ratu laut. Di akhir pertunjukan, pengunjung pun dapat mengabadikan momen bersama beberapa putri duyung yang menari di balik akuarium raksasa.
Lalu beberapa waktu pun berlalu.
Dengan berakhirnya pertunjukan teater musikal ini, berakhir juga semua kegiatan kencan keluarga di Aquarium dan Safari Jakarta hari ini.
Secara garis besar, hari ini sangat berkesan bagi sang putri kecil. Meskipun ada waktu Cherry menangis tantrum karena ketakutannya saat Tian dan Hana pergi berdua. Tapi, hari ini Cherry sangat bahagia. Perasaan yang selama ini belum pernah ia rasakan.
Pergi bersama Ayah dan Ibu, selayaknya anak lain pada umumnya. Bergandengan tangan dengan Ayah dan Ibu Hana. Seperti yang selalu dia inginkan saat melihat keluarga yang lainnya di ruang terapi.
^^^"Yah...Ibu Ana... Eri happy!" celoteh Cherry setelah mereka selesai menonton pertunjukan teater tadi.^^^
^^^"Eri happy? Sama dong. Hari ini Ayah juga happy. Very Happy." sambil tersenyum melirik ke arah Hana.^^^
Ada dua makna Happy dalam senyuman dan perkataan Tian itu.
Hana menangkap maksud sang artis tampan, tapi berpura-pura tidak mengerti. Hana harus merespon seperti apa coba? Hana hanya dapat tersenyum malu-malu.
^^^"Eri sayang. Eri kalau happy biasanya melakukan apa?" tanya Tian.^^^
Dari senyumannya Tian saja sudah mencurigakan. Manager Raka yang ada di dekat mereka bertiga, sudah mencium akal modus sang artis.
Dih. Mulai lagi deh. Kapan selesainya ini ya Tuhan, protes Manager Raka dalam hatinya. Manager berparas tampan namun single dari lahir itu meratapi nasibnya harus berada di tengah duda artis puber kedua yang tidak pernah kehabisan ide modus.
^^^"Cium Yah!" jawab Cherry riang.^^^
^^^"Good girl. Kiss Ayah disini, Eri sayang." terang Tian ikut senang.^^^
Tian mendekatkan wajahnya ke arah Cherry yang ada di dalam gendongan Hana. Menunjuk pipinya yang sedikit ditutupi oleh bulu halus di daerah dagunya dan bawah pipinya.
Sejak Cherry berhenti menangis sampai saat ini, gadis kecil itu tidak melepaskan Hana dari pelukannya. Tetap meminta Hana selalu di dekatnya. Meminta digendong oleh sang guru cantik berambut panjang itu kemanapun Hana pergi. Tian sampai susah untuk melakukan modus dekat dekat dengan Hana karena Cherry akan langsung menghalangi ayahnya itu.
Cherry sangat posesif, tidak ingin berbagi Hana bahkan dengan ayahnya sendiri.
Oleh karena itu, saat Tian meminta ciuman dari sang gadis kecil inilah kesempatan yang dicurinya untuk dapat berdekatan lagi dengan Hana.
Eri dengan polosnya mencium pipi ayahnya, gerakan badan sang putri kecil membuat Hana yang menggendongnya juga ikut mendekat kearah Tian sang artis. Cherry mencium kedua pipi ayahnya dengan cepat.
^^^"Yah juga kiss Eri!" kata Cherry.^^^
__ADS_1
^^^"Ayah juga ya? Oke ayah kiss Eri dan Ibu Hana." kata Tian menjawab dengan senang.^^^
Eh? Kenapa aku juga? Di depan Eri?! Aaaa. Hana kaget bukan main dengan jawaban modus sang artis.
Bagaimana bisa artis ini selalu mendapatkan ide cium cium itu si. Hana tentu ingin menolak karena malu. Tapi seperti biasa dia tidak diberikan kesempatan untuk protes. Jadi Hana hanya memejamkan matanya. Setelah itu Hana mendengar suara nyaring dari Cherry.
^^^"No! Yah no cium Ibu Hana." ucap Cherry.^^^
Bahkan Cherry memotong gerakan Tian yang akan mencium pipi Hana dengan tangan mungilnya di tempel di bibir Tian. Tian berdecih pelan. Mau marah tapi ini Cherry putrinya sendiri.
Kenapa Eri jadi posesif seperti ini sih, Tian heran dengan putrinya yang tidak mengijinkan dirinya mengambil kesempatan sedikitpun dekat dengan Hana sejak tadi kembali dari simulator kapal selam.
Hana hanya terkekeh pelan. Ada rasa senang diselamatkan oleh putri kecil berpipi tembem itu. Namun ada juga sedikit rasa sedih.
Eh? Kenapa juga sedih? Apa sih aku jadi ikutan sikap aneh duda artis ini kan. Aaa. Hana bingung dengan perasaannya yang berubah ubah sendiri.
"Okaay. Ayah hanya akan cium Eri saja." Tian akhirnya mengalah lagi demi putrinya.
Cherry mengangguk dan memberikan pipinya dengan sukarela ke arah ayahnya. Yang artinya badan Hana kembali tertarik lagi mendekat ke arah Tian.
Saat mencium pipi Cherry, Tian memiliki sedikit akses untuk dekat dengan Hana. Inilah yang diharapkannya. Tian mencium pipi Cherry dengan lama sambil matanya terbuka melihat ke arah Hana. Hanya dipandang dengan mata warna iris terang sang artis tampan, tapi Hana sudah merasa Tian menggoda dirinya lagi. Karena tidak tahan Hana yang memutuskan pandangan matanya duluan karena kalau terlalu lama membuatnya berbedar tidak karuan.
Tatapan mata sedekat itu mampu mengingatkan Hana lagi dengan kejadian mereka berciuman di simulator kapal selam.
Tian terkekeh lagi. Selalu suka reaksi manis dan jujur Hana. Membuatnya tidak bosan.
...π»π»π»...
Di jam yang sama.
Setelah matahari berganti malam.
Motor Hale berhenti di warung nasi goreng yang berjualan di pinggir jalan. Lokasinya tidak terlalu jauh dari gerbang masuk kompleks perumahan Sasi.
^^^"Kamu engga apa apa makan pinggir jalan Sa?" tanya Hale yang bukan lagi basa basi.^^^
Kalau dulu sebelum melihat rumah Sasi, Hale pasti tidak akan menanyakan hal ini. Hale tidak terlalu suka berbasa basi. Namun sejak melihat rumah besar Sasi, Hale jadi langsung teringat kalau Sasi berasal dari keluarga yang sangat cukup kaya dan berada. Apa Sasi akan keberatan kalau diajak makan dipinggir jalan seperti ini? Hale jadi bertanya dalam hatinya.
Inginnya sih makan di restoran yang ada di Mall of Jakarta tadi. Tapi sebagai mahasiswa akhir yang juga sedang butuh banyak uang untuk menyusun skripsinya, Hale sedang berhemat.
Kalau hanya traktir makan nasi goreng pinggir jalan sih tidak masalah bagi Hale.
^^^"Ya gapapa dong. Aku sering kok makan ini. Aku kenal loh sama abang yang jual. Nanti kita pasti dapet diskon. Hehe." jawab Sasi.^^^
^^^"Masa? Awas ya kalau engga diskon. Kamu tuh kan tadi aja udah bohong. Jangan jangan sekarang bohong juga." ledek Hale.^^^
__ADS_1
^^^"Ish. Maaf sih. Masih aja diungkit terus kak Hale nih. Yang tadi kan bukan bohong cuma engga cerita full aja." protes Sasi tidak terima terus dikatakan bohong.^^^
"Hahaha. Iya deh. Percaya." ucap Hale mengacak rambut Sasi lagi.
Setelah itu mereka memesan nasi goreng dua lengkap dengan minumannya. Sesuai perkataan Sasi, ternyata Abang jualan nasi goreng memang mengenal Sasi.
Mereka makan sambil bercerita banyak hal. Seperti biasa obrolan dua anak muda ini lebih banyak obrolan random. Kadang basket, kadang nostalgia masa sekolah. Kadang kegiatan mereka sekarang.
Saat lagi asyik bercerita, Sasi reflek berbicara kepada Hale karena melihat sesuatu di wajah tampan berambut bro flow itu.
^^^"Haha. Kak Hale makannya berantakan kaya anak kecil. Tuh ada nasi kak di wajah kakak." ledek Sasi sambil tertawa.^^^
Tawa Sasi sangat lepas dan jenaka. Hale suka gurat wajah Sasi yang sedang tertawa. Tapi Hale sebal karena dibilang anak kecil oleh Sasi.
Aku dibilang anak kecil sama orang yang lebih mirip anak kecil, batin Hale.
^^^"Enak aja. Engga mungkin ah." kilah Hale.^^^
^^^"Dih, beneran kok. Tuh di pipi." ucap Sasi gemas.^^^
^^^"Mana sih? Kamu nih hari ini bohongin aku terus yaa. Sasi nakal." jawab Hale sambil meraba-raba wajahnya tapi tidak merasakan ada nasi yang nempel di wajahnya. Terutama pipi, bagian yang disebutkan Sasi.^^^
"Haish. Kenapa sih engga percaya aku. Nih aku ambilin deh." ucap Sasi lagi.
Tangan Sasi mengambil nasi yang menempel di pipi dekat dengan sudut bibir Hale. Jari Sasi tidak sengaja menyentuh bibir Hale juga saat mengambil benda itu. Hale terkejut, sentuhan itu membuatnya merasa aneh.
Dih. Kenapa sih aku? Biasanya juga main basket kena tangannya juga. Tapi tadi apa yang kurasakan ya saat jarinya menyentuh bibirku? Hale merasakan dirinya sedikit berdebar karena gerakan refleks Sasi tadi.
"Kak? Kok malah diam?" Sasi bingung melihat seniornya tiba tiba berhenti bicara.
Eh? Apa Sasi memang secantik ini ya? Mataku kayanya ikutan aneh deh!
Hale masih di fase menyangkal terkait debaran aneh yang ada di hatinya sekarang. Debaran yang muncul saat dirinya bersama Sasi. Junior tomboy yang sekarang menjelma menjadi gadis cantik berambut panjang yang sedang ada di hadapannya itu.
.
.
.
Itsumo arigatou gozaimasu.
.
.
__ADS_1
Bersambung