
Menuju siang hari, masih di hari yang sama, sebuah gedung perpustakaan.
Hale tidak menyangka akan bertemu dengan junior wanitanya, yang dulu sangat dekat saat kegiatan klub Basket sekolah.
Bertemu dengan teman lama di sekolah, membuat Hale jadi mengenang masa-masa sekolahnya dulu. Masa-masa dirinya masih berseragam putih abu-abu.
Sama dengan kehidupan sekarang di kampus, sejak di sekolah dulu pun Hale selalu menjadi idola sekolah. Wajahnya yang tampan dan menarik, juga keterampilan dalam bermain basket membuat hampir semua murid wanita mengidolakannya. Bahkan banyak juga murid laki-laki yang menjadikan dia panutan.
Sifatnya yang cool, tapi bukan tergolong sombong membuatnya makin disukai. Kepopulerannya bahkan katanya sampai ke sekolah lain yang letaknya tidak jauh dari sekolah Hale.
Seingatan Hale saat bersekolah di sekolah menengah akhir dulu, dia merasa hidupnya hanya berpusat pada Basket saja. Nilai-nilai di raport tidak terlalu menonjol, tapi juga tidak membuat orang tuanya yang seorang pengajar malu. Cenderung murid biasa saja.
Meski tidak terbilang menonjol dalam bidang akademik, Hale membuat prestasi dalam bidang olahraga. Semua kejuaraan dalam bidang olahraga khususnya Basket, Hale dan tim sekolah menangkan hingga dapat mengharumkan nama sekolah.
Karena prestasinya ini, mendapatkan hadiah beasiswa masuk sekolah atlet di sponsori langsung dari kementerian olahraga. Namun Hale tidak mengambil kesempatan itu karena baginya olahraga hanya untuk kesenangan dan hobi saja.
Kecintaan Hale terhadap hal hal terkait coding dan system komputer, atau apapun yang berhubungan dengan programming computer membuatnya lebih memilih jurusan Teknologi Informasi atau IT, dibandingkan olahraga Basket.
Terlebih, Hale menyukai kerja dengan ketenangan, pribadinya yang tidak banyak bicara cocok dengan bidang ini. Menurut Hale, dengan komputer dia tidak perlu susah susah membangun hubungan interpersonal yang rumit.
Selama Hale kuliah IT, Hale tetap bisa melakukan hobi basketnya. Hale biasa main dengan Riga dan beberapa teman timnya di kawasan olahraga dekat rumah Hale.
Setelah memutuskan pilihan kuliah dan tujuan karirnya di bidang Teknologi Informasi, Hale sangat fokus dengan kuliahnya dan memperlihatkan keseriusannya dalam bidang teknologi yang di gelutinya ini.
Semua tugas dan materi kuliah dia pelajari dengan baik. Tidak ada tugas pun, Hale suka mengotak-atik program dan coding demi memuaskan rasa penasarannya. Penilaian saat magang Hale juga mendapatkan nilai sempurna.
Hale magang di perusahaan bidang teknologi yang cukup mempunyai nama di negeri ini. Pengalaman magangnya selama enam bulan mampu membuat Hale semakin yakin dengan pilihan karirnya ini. Senior pengujinya sangat puas dengan kemampuan dan dedikasi Hale saat magang enam bulan itu sehingga Hale lulus magang dengan nilai sempurna dan juga dapat rekomendasi diterima langsung masuk kerja ketika nanti lulus kuliah. Tentu saja Hale sangat tertarik dan menerima rekomendasi itu.
Hale bertekad ingin mencari pengalaman yang banyak di perusahaan nanti tempat dia akan bekerja. Sampai nanti akhirnya Hale bisa mewujudkan cita-citanya sendiri mengeluarkan produk dan perusahaan software keamanan yang bisa dipakai oleh perusahaan perusahaan besar.
Ketika ada project, seperti pengembangan software dia hanya perlu merumuskan dan membuat proposalnya, lalu mempresentasikannya. Namun, itulah kelemahan Hale sekarang. Dia belum menguasai cara mempresentasikan apa yang mau dia teliti dalam bentuk tulisan skripsi.
Kembali lagi ke permasalahan yang kini dihadapi oleh Hale.
Hale agak frustasi dengan penulisan skripsi yang baik dan benar. Padahal ide untuk topik yang ingin diteliti sudah dia miliki sejak lama. Hale juga percaya diri topik yang diangkat sangat relevan dan up to date untuk dikembangkan. Hanya saja metode penulisan skripsi sangat menghambat progres Hale untuk lanjut ke bab selanjutnya. Sehingga mau tidak mau, Hale harus berusaha belajar tentang penulisan skripsi yang baik dan benar.
Rasa frustasi itulah yang membawanya untuk pergi ke perpustakaan dan akhirnya bertemu juniornya Sasi Arlivia.
Sasi, junior wanita yang dulu berambut pendek menyerupai laki-laki, kini menjelma menjadi wanita cantik berambut panjang. Hanya dengan perubahan yang ada di rambutnya, penampilan Sasi jadi berubah image 180 derajat. Pantas saja, Hale sempat tidak mengenalinya.
Rambutnya hampir sepanjang kak Hana. Lebih panjang dari mantan pacarku, pikir Hale.
^^^"Maaf, Sa, aku tuh pangling lihat kamu sekarang. Kamu jadi beda karena rambutmu." -Hale^^^
Hale mengacak-acak puncak rambut Sasi, sama seperti waktu dulu jaman mereka di sekolah.
Mahasiswi-mahasiswi di sekeliling mereka terlihat kaget dan gusar, mereka yang memang sebenarnya datang kesini karena melihat Hale masuk perpustakaan.
Hale terlihat dekat sekali dengan petugas perpustakaan itu. Ih, siapa sih dia, bisik bisik mereka yang masih bisa di dengar oleh Sasi.
Jangan tanya apakah Hale dengar atau tidak. Mungkin Hale dengar tapi dia tidak peduli. Laki-laki dengan gelar 'cowok cool sekampus' itu benar benar dan sangat cuek dengan sekitar.
Bagi Hale sendiri, Sasi adalah junior wanita yang bisa dekat dengannya tanpa rasa canggung. Selain karena sering bermain basket bersama, Hale dan Tian memiliki frekuensi obrolan yang sama.
Selain Sasi, Hale tidak pernah dekat dengan dengan lawan jenis manapun saat sekolah. Karena setelah menjadi teman dekat sebentar, teman wanita itu pasti akan langsung menyatakan perasaannya. Sehingga sulit mencari teman wanita yang bisa berteman dengan lama.
Meskipun Sasi adalah seorang wanita dan usianya lebih muda dua tahun dari Hale, tapi Sasi sangat jago dalam bidang basket. Dia bisa bermain one on one dengan laki-laki. Bahkan melawan Hale yang menjadi pemain Ace di tim basket sekolahnya.
Awal kedekatan mereka pun bermula dari Sasi yang selalu menantang Hale untuk bermain one on one. Tentu saja Sasi kalah. Tapi, karena itu Hale jadi mengakui kemampuan Sasi, dan mengajak Sasi masuk klub Basket sekolah.
__ADS_1
Sejak saat itu, Hale pasti selalu mengajak Sasi bermain basket. Hale tidak malu untuk datang duluan ke kelas Sasi dan menjemputnya. Murid murid wanita lainnya di sekolah itu menjadi iri dengan Sasi. Banyak juga yang jadi berlatih dan masuk klub basket wanita, berharap bisa dekat dengan Hale seperti Sasi.
Hale yang akhirnya tersadar kembali setelah mengingat awal awal kedekatannya bersama Sasi.
Karena Hale masih takjub dengan perubahan Sasi dimatanya, Hale menjadi penasaran lalu menyentuh rambut Sasi.
^^^"Ini bukan wig kan, Sa?" ^^^
^^^Ujar Hale jahil.^^^
Hale menarik-narik rambut Sasi dengan kedua tangannya.
^^^"Ih, kak Hale ini sembarangan banget. Rambut asli tau!" -Sasi^^^
Sasi jadi kesal sendiri dengan kejahilan Hale. Menjawab tidak kalah sengit.
^^^"Aku yang rambut panjang jadi cantik kan? Aku juga baru saja menerima surat cinta dari mahasiswa sini." -Sasi^^^
Sasi tertawa sedikit mengibaskan rambut demi memperlihatkan rambut yang dia banggakan sekarang.
Sasi lalu mengeluarkan surat warna merah muda salem yang tadi disimpannya di bawah buku, untuk dipamerkan kepada seniornya itu. Itu adalah surat cinta keduanya selama dia magang di kampus ini.
Sasi sudah dua Minggu magang di perpustakaan kampus swasta terkenal ini. Magang yang kerjakannya ini tidak dibayar, karena hanya sebulan dan diperuntukkan untuk nilai keaktifan mata kuliahnya. Sasi sendiri mahasiswi diploma jurusan kepustakaan. Karena di kampusnya, pasti sudah banyak yang melamar untuk magang, Sasi memilih kampus swasta yang dekat dengan rumahnya. Sekarang masa magangnya sisa dua Minggu lagi.
Sasi senang takdir mempertemukannya dengan senior favorit selama dia sekolah.
Hale ikut tertawa melihat tingkah Sasi tadi. Bagi Hale, mungkin Sasi adalah wanita pertama yang bisa membuat nyaman jika bersama dengannya selain keluarga. Dengan mantan pacarnya saja, Hale kadang merasa tidak nyaman kalau mantannya itu bertingkah berlebihan.
Aneh sekali, padahal tingkah Sasi tadi juga masuk kategori berlebihan dalam kamus Hale tapi dia tidak merasa risih sama sekali.
^^^"Biasa saja. Dari dulu tetep Sasi tomboy tuh dimataku. Haha." -Hale^^^
Sasi kesal, karena Hale terus mengacak-acak rambutnya sehingga berantakan. Untung kamu kak, kalau yang lain udah ku pukul berani mengacak-acak rambut berhargaku, Sasi bersungut dalam hati sambil merapikan kembali rambutnya yang berantakan.
Lalu, terdengar deheman keras dari dua mahasiswa yang berada di belakang Hale. Mereka berdua jadi ikut memperhatikan dua orang teman lama yang sedang reuni sedari tadi. Reuni yang ditambah acak-acak rambut segala.
Hale dan Sasi menengok dan tersadar kalau mereka membuat antrian jadi panjang. Belum lagi tatapan sengit dari mahasiswi mahasiswi yang sepertinya tergabung dalam kelompok fans penyuka Hale Rommy, membuat reuni dadakan mereka harus diakhiri sekarang juga.
^^^“Oke, ku buatkan member perpus untukmu kak. Tolong berikan kartu mahasiswa-mu dan isi form pendaftaran ini ya.” -Sasi^^^
Hale menyerahkan kartu mahasiswanya dan menerima form juga pulpen dari Sasi.
Sasi mulai menginput data diri Hale di computer perpustakaan, namun Sasi salah fokus karena foto Hale di kartu mahasiswa sangat tampan.
Wah, kenapa dunia tidak adil. Kak Hale selalu tampan bahkan di foto seperti ini pun. Boleh ku foto ga ya, gumam Sasi dalam hati lalu dia mendapatkan ide.
^^^“Kak, aku input dulu datamu ya dan kupinjam kartu mahasiswanya sehari. Besok kak Hale datang lagi untuk ambil kartu member, okay?” -Sasi^^^
Padahal pendaftaran jadi member perpustakaan tidaklah memakan banyak waktu, tapi Sasi sengaja meminjam kartu mahasiswa dan meminta Hale bertemu dengannya lagi besok. Hale yang memang tidak tahu apa-apa menurut saja.
^^^“Oke, besok sebelum makan siang ya. Thank you Sa.” -Hale^^^
Hale menjawab dengan tangannya memberikan jempol pertanda dirinya setuju. Sasi tertawa dan menggoda Hale.
^^^“Ih, masih aja gayanya kaya bapak-bapak pake jempol gitu.” -Sasi^^^
Hale ikut tertawa, lalu pergi sambil melambaikan tangannya ke Sasi.
^^^"Bye, Sa." -Hale^^^
__ADS_1
Seiringan kepergian Hale dari perpustakaan, beberapa kumpulan mahasiswi mahasiswi yang tadi datang hanya karena ingin melihat Hale juga ikut keluar dari perpustakaan. Hampir seluruh jumlah dari pengunjung jadi berkurang, menyisakan suasana hening dan sepi seperti biasanya suasana perpustakaan pada umumnya.
Hale terpikirkan sesuatu saat sudah sampai ke parkiran motor.
Ah, aku lupa minta nomor Sasi buat nanti tanding one on one lagi. Eh, besok kan aku kesini lagi ya, gumam Hale.
Hale ingin pulang cepat, jadi Hale pun naik ke motornya bersiap untuk pulang ke rumah.
...🌻🌻🌻...
Kembali lagi ke tuan artis yang sudah tertawa-tawa senang saat keluar dari kamar putrinya, Cherry.
Tian merasa moodnya bagus dan juga harinya menjadi tiga kali menyenangkan setiap bertemu Hana.
Manager Raka yang sudah menunggu Tian di dekat pintu kamar Cherry juga bisa melihat hal itu dengan jelas.
Manager Raka dan Tian berjalan bersama menuju taman belakang, awalnya Manager Raka tidak ingin berbicara apapun yang bisa merusak mood sang artis. Tapi jiwa isengnya untuk meledek muncul lagi.
^^^“Lama banget sih di dalam ngapain aja sih? Ayahmu sampai herannya kau engga turun turun.” -Manager Raka^^^
^^^“Bukan urusanmu, kak.” -Tian^^^
Tetap bersenandung kecil tidak terpengaruh kata kata managernya. Hatinya sangat senang hari ini, misi dengan alasan yang dia sengaja buat berjalan dengan baik.
Kalau aku sekalian mengantar Hana pulang? Ah, tidak. Terlihat aku sangat agresif kesannya, gumam Tian.
Tian berpikir sambil berjalan hingga tidak sadar kalau sudah sampai di taman belakang.
^^^“Kamu kok lama banget sih, Tian. Katanya mau diskusi tentang persiapan sekolah Eri, eh malah David dibuat menunggu kaya tadi. Kamu ngapain aja diatas sih?” ayahnya Tian, Dave.^^^
Ayahnya Tian merasa tidak enak karena Tian membuat temannya menunggu. Berbeda dengan ibunya Tian, ayahnya belum peka tentang perasaan tertarik yang dimiliki anaknya. Dave sama seperti kepala sekolah David masih berpikir positif kalau anaknya lama diatas karena berdiskusi dengan Hana. Hanya saja karena terlalu lama jadi terlihat tidak sopan karena kepala sekolah David jadi belum dilibatkan dalam diskusi itu. Biar bagaimanapun, kepala sekolah yang punya wewenang pertama tentang peraturan dan metode pengajaran para murid sebelum di terapkan oleh para guru. Oleh karena itu, dia merasa harus sedikit memarahi anaknya atas ketidaksopanan yang lakukan Tian tadi.
^^^“Hanya melihat dan mengawasi interaksi Eri dan gurunya, Ayah. Maaf ya paman David. Aku membuat paman jadi menunggu lama.” ^^^
Ucap Tian dengan tulus.
Tian merasa sedikit tidak enak jadinya. Tadinya dia juga tidak menyangka kegiatan yang niatnya hanya ingin memperhatikan sebentar jadi memanjang sampai kegiatan cium-cium rambut segala.
Semua tindakan yang Tian lakukan di kamar Cherry tadi benar-benar diluar kendalinya, tubuhnya bertindak sangat refleks dan seringkali spontan jika dekat dengan Hana.
Setelah itu, mereka yang ada di taman belakang berbincang dan berdiskusi dengan hangat. Kadang diselingi dengan tawa dan canda satu sama lain, khususnya dari ayahnya Tian dan kepala sekolah yang mendominasi percakapan.
Mereka terus berbincang sampai waktu makan siang yang sepertinya masih agak lama.
.
.
.
🌻: aku masukin bab Hale dan kesulitannya dalam menulis skripsi, karena keingetan adikku yang juga lagi berjuang. Bagi semua yang juga sedang merasakan hal yang sama, semangat ya! ganbatte kudasai ne!
itsumo arigatou gozaimashita, mina-san.
.
.
Bersambung
__ADS_1