
Di halte depan Velodrom.
Setelah pamit dengan Hale dan Riga,
Hana pergi keluar untuk menunggu Tian sesuai instruksi dari sang artis di panggilan telepon tadi.
Dari kejauhan Hana sudah melihat mobil mewah yang dikendarai sendiri oleh Tian. Mobil SUV mewah berwarna putih dengan kaca film jendela yang gelap. Hana tidak bisa melihat jelas sang artis dari luar.
Apalagi mobil ini berbeda dengan mobil yang kemarin dipakai oleh sang artis saat makan malam dan kencan di Aquarium.
Tapi karena mobil itu memberikan tanda lampu sen kiri, dan berhenti di lokasi halte tempat Hana berdiri Hana yakin yang didalamnya benar orang yang ditunggunya.
Hana melirik kanan kiri lalu masuk di kursi penumpang depan.
^^^"Hai, baby. Maaf kamu nunggu lama ya." ucap Tian sambil mengelus kepala wanitanya.^^^
^^^"Engga kok." ucap Hana malu.^^^
Tian sampai gemas melihatnya. Sudah berkali kali bertemu tapi Hana masih terlihat seperti malu dengannya. Tian mencubit pelan pipi Hana yang memerah. Hana mengaduh pelan.
Tidak sakit, tapi cubitan Tian membuat dirinya makin berdebar.
^^^"Benar aku boleh main dadakan ke rumah seperti ini? Ayah dan Ibu tidak masalah?"^^^
^^^"Tidak kok. Tadi aku sudah mengirim pesan ke Ibu. Kata Ibu main saja di rumah. Hehe." jawab Hana.^^^
"Makasih cantik." jawab Tian dengan senyum manis.
Hana menegang. Bukan karena senyum manisnya Tian, tapi karena Tian mengambil tangan kanan Hana lalu digenggam erat oleh sang artis.
^^^"Kamu cantik banget hari ini...Tapi malah ketemu sama laki-laki lain. Aku sedih." ucap Tian dengan nada yang dibuat sesedih mungkin.^^^
Tangan Hana digenggam dengan jari bertautan, satu tangan Tian masih memegang kemudi. Saat mendengar hal barusan Hana melirik bingung ke arah Tian.
Siapa? Apa maksudnya Hale dan Riga? Lagian darimana aku cantik, aku hanya pakai sunscreen dan lipbalm saja kok. Eh, tunggu apa kak Tian cemburu?
^^^"Tadinya aku hanya ingin olahraga sendirian. Tapi Ayah menyuruhku berolahraga dengan Hale dan Riga juga. Jadi aku ikut mereka."^^^
Berusaha menjelaskan agar Tian tidak salah paham. Bahwa bukan niatnya untuk mengajak Hale dan Riga berolahraga. Hana hanya terjebak dengan alasan yang dia buat sendiri. Tapi Hana malu untuk bilang alasan itu, karena artinya dia juga harus menyebut bagian menutupi tanda yang ada di lehernya ke sang artis.
Namun Tian malah melepaskan tautan jarinya dari tangan Hana. Hana kaget, dan sedikit sedih.
Kedua tangan Tian sekarang mencengkram kemudi mobil dengan erat. Padahal Tian sudah pernah diberitahu kalau keluarga Hana dekat dengan Riga. Namun rasanya masih tetap kesal saja.
Apa ayahnya sangat dekat dengan Riga, sampai mengusulkan Hana berolahraga dengan Riga. Kenapa tidak memintaku saja? Aku harus lebih pintar lagi mengambil hati calon mertuaku, gumam Tian.
^^^"Kak Tian?" tanya Hana hati-hati.^^^
__ADS_1
Tian memandangi Hana lagi. Sengaja diperlihatkan kalau dia menghela napas, dengan raut wajah sedih. Sepertinya akan mulai lagi melodrama baru dari artis tampan ini.
^^^"Apa aku salah kalau aku tidak menyukai kamu dekat dengan laki-laki lain?^^^
^^^"Riga sudah seperti kakak bagiku kak."^^^
^^^"Tapi dia bukan kakakmu, baby." Ucap Tian sudah mulai terlihat kesal.^^^
^^^"Tapi Riga sudah berteman denganku sejak lama kak. Aku yakin Riga juga menganggap aku seperti adiknya. Tidak lebih dari itu kok." Hana berusaha menjelaskan dengan baik.^^^
Tian menghela napasnya kasar.
Hana jadi takut salah bicara lagi. Jadi wanita itu diam saja.
Apa kak Tian sedang marah padaku sekarang?
^^^"Hah...Aku bahkan tidak suka namanya keluar dari bibirmu. Maaf aku tidak sedang marah padamu baby."^^^
Tian tidak bisa berbohong, kalau dari nadanya saja Tian terdengar tidak suka mereka membicarakan Riga. Tian cemburu. Tapi bagaimana menyampaikan kepada wanitanya ini agar Hana mengerti.
Setelah itu, mereka berdua masih sama sama diam. Sampai akhirnya Tian menepikan mobilnya di sebuah lapangan.
Hana yang juga baru menyadari, melihat kanan kiri. Ternyata ini lapangan dekat rumahnya.
Eh, ternyata sudah mau sampai rumah. Tapi kenapa tidak langsung ke rumah. Haduh, apa kak Tian masih marah ya? Aaa. Aku harus bagaimana ini.
^^^"Hm?"^^^
^^^"Apa kak Tian marah?" bertanya hati-hati.^^^
^^^"Tidak."^^^
^^^"Apa...Kak Tian cemburu?" tanya Hana dengan lirih.^^^
Sudah gila ya aku?! Kenapa aku berani menanyakan sih! Aku yang bertanya aku yang jadi malu. Kenapa kami percaya diri sekali sih Hana Jasmine!
Tian tersenyum samar. Memang ini yang mau dia bicarakan.
Dia melepas seltbeltnya. Lalu berbalik ke arah Hana. Memandang wajah cantik Hana dengan lekat.
^^^"Apa terlihat sekali ya?" dengan nada sedih.^^^
Setelah berbicara seperti itu, Tian merebahkan kepalanya ke pundak kecil Hana. Mengambil kesempatan untuk kesekian kalinya.
^^^"Kak Tian..." menahan napasnya karena terkejut atas tindakan tiba tiba sang artis.^^^
Tidak berhenti sampai disitu, sang duda artis ini mengambil tangan Hana untuk mengarahkan tangan mungil Hana ke pucuk kepalanya, menggerakan tangan Hana seperti gerakan tangannya.
__ADS_1
Seolah meminta Hana mengelus kepala sang artis itu.
^^^"Hana...aku tidak mau terlihat picik dengan temanmu sendiri. But I can't help to feeling uneasy when I heard you with him. Baby, am I over jealous?"^^^
Mendengar kalimat itu Hana menjadi merasa bersalah. Hana mendengarkan saja perkataan Tian. Tangannya mulai mengelus-elus kepala laki-laki yang disayanginya itu dengan kemauannya sendiri, tidak lagi diarahkan oleh tangan Tian.
^^^"Maaf ya kak. Aku mengerti. Aku akan sedikit jaga jarak dengan Riga."^^^
^^^"Benarkah baby?"^^^
Tian mengangkat kembali kepalanya dari pundak Hana.
Hana hanya mengangguk sebagai jawabannya. Hana jadi teringat dengan Cherry jika Tian memandangnya dengan tatapan mata yang berbinar seperti itu.
Ternyata mata Cherry sangat mirip dengan ayahnya. Lucu sekali. Hihihi. Kenapa kalau cemburu jadi menggemaskan ya. Apa besok aku buat Kak Tian cemburu lagi?
^^^"Thank you baby. Ehm. Aku mau nanya lagi boleh?"^^^
Karena Hana masih gemas, sedang fokus menahan dirinya tidak mencubit pipi sang artis tampan itu jadi jawaban Hana masih sama. Menganggukkan kepala saja.
^^^"Kalau Riga seperti kakak bagimu. Lalu aku siapa bagimu?"^^^
Eh! Ternyata pertanyaan ini semudah itu keluar dari mulutnya! Aaa. Aku juga memang ingin bertanya sih, memastikan hubungan kami. Tapi sekarang aku belum mempersiapkan hatiku dan jawabanku. Ya Tuhan. Aku harus jawab apa.
^^^"Baby...kamu mengaggapku apa hm? Aku tidak mau hanya jadi artis idolamu sayang..."^^^
^^^"Bukan kok. Kan aku sudah lama tidak menjadi fansmu kak." Tegas.^^^
Jawaban tegas Hana malah tidak diprediksi oleh Tian. Tian terlihat terkejut. Cepat cepat Hana berkata lagi.
^^^"Aku... menyukaimu lebih dari fans kak." Hana mengatakannya dengan mata tertutup karena menahan malunya.^^^
Aaaa. aku mengatakannya! Aku sudah mengatakannya! Bagaimana ini reaksinya? Loh? Kok tidak ada jawaban apapun dari kak Tian? Ya Tuhan, aku jadi salah tingkah kalau dia tidak menjawab kan.
Hana perlahan membuka matanya. Melihat Tian yang sedang memandangnya dengan tatapan penuh makna.
.
.
.
Itsumo arigatou gozaimashita.
.
.
__ADS_1
Bersambung