
Beralih sebentar dari Aquarium dan Safari Jakarta.
Di tempat yang lain.
Weekend adalah hari olahraga basket rutinnya Hale.
Tapi berbeda dengan weekend Minggu lalu dan weekend weekend sebelumnya juga. Hale tidak bermain basket dengan team basketnya kali ini. Padahal Riga sudah mengajaknya dari dua hari lalu.
Hari ini Hale sudah janji akan bermain basket bersama Sasi. Junior wanitanya di club basket sekolah dulu.
Bahkan Hale sampai rela menjemput Sasi di rumahnya. Rumah Sasi berada dekat kampusnya di kawasan Kuningan, Jakarta selatan. Hale sengaja menjemput dari rumahnya yang ada di Rawamangun Jakarta Timur lalu menjemput Sasi yang ada di Jakarta Selatan hanya untuk bermain basket bersama di daerah sport center kawasan Kelapa Gading. Yang malah lebih dekat dari rumahnya di Rawamangun.
Tentu hal ini bukan hal yang biasa buat Hale. Hale orang yang simpel dan tidak mau ribet. Bolak balik seperti hari ini adalah diluar kebiasaannya, tapi Hale tidak merasa keberatan sama sekali.
Setelah saling bertukar nomor telepon beberapa hari lalu. Hale dan Sasi sering bertukar pesan. Banyak yang mereka bicarakan. Lebih banyak hal random, sama seperti dulu saat mereka sekolah.
Tapi Hale sangat menunggu pesan Sasi tiap harinya.
Bermain basket bersama di hari ini juga merupakan ide dari Hale. Demi bisa bermain basket dengan Sasi, Hale rela merubah jadwal rutin bermain basket bersama teamnya menjadi hari Minggu. Hale sudah memberi tahu kan informasi tentang perubahan hari bermain basket ini ke semua teamnya, termasuk Riga.
Sekarang, Hale sudah sampai di depan rumah Sasi. Ini pertama kalinya Hale datang dan melihat sendiri rumah besar Sasi.
Di sekolah dulu, bukan rahasia kalau Sasi Arlivia adalah anak orang kaya. Banyak yang bilang pekerjaan orang tua Sasi adalah seorang Pebisnis sukses. Namun Sasi tidak pernah sekalipun pamer apalagi menyombongkan hartanya apalagi nama keluarganya. Jadi Hale juga teman Sasi yang lainnya tidak pernah tahu alamat rumah apalagi nama keluarga Sasi.
Setelah sampai di depan rumah Sasi, Hale merasa sungkan untuk masuk ke dalam. Jadi Hale memutuskan untuk menelpon Sasi memberitahukan bahwa dirinya sudah sampai dan menunggu di luar rumah saja.
^^^Pembicaraan telepon.^^^
^^^"Halo, kak Hale" jawab Sasi dari panggilan telepon.^^^
^^^"Halo, Sa. Aku udah di depan rumah kamu ya." ucap Hale.^^^
^^^"Oh! Masuk dulu kak. Aku bentar lagi selesai kok." ucap Sasi lagi.^^^
^^^"Hmm, aku tunggu di depan saja ya. Gapapa aku tungguin kamu siap siap kok." tolak Hale dengan lembut.^^^
^^^"Eh? Jangan dong. Diluar kan panas. Kak Hale lihat berita juga kan? Panasnya Jakarta dan beberapa negara Asia akhir akhir ini sangat parah loh! Masuk ya? Mau aku jemput dulu ke luar kah?" ucapan Sasi berbondong untuk Hale.^^^
Hale hanya tertawa mendengar Sasi yang selalu cerewet ini.
__ADS_1
^^^"Jakarta selalu panas kali, Sa. Lagian aku kan cowok. Masa takut panas." kata kata Hale masih diselingi tawa.^^^
Lalu setelah itu pembicaraan telepon mereka diputus karena Sasi sudah siap untuk keluar rumah.
Tak menunggu terlalu lama, Sasi datang dari dalam rumah memakai celana kulot berbahan jeans yang sedang viral dipadukan dengan kaos berlengan panjang bahan knitting. Rambutnya dibiarkan digerai, namun saat mendekati Hale Sasi akhirnya mengikat rambutnya.
^^^"Maaf ya kak jadi nunggu lama." sapa pertama dari Sasi.^^^
^^^"Engga kok. Engga lama juga kan." jawab Hale.^^^
Lalu Hale menambahkan pertanyaannnya.
^^^"Kamu sendiri gimana Sa? Emang beneran gapapa naik motor panas panas gini? Maaf ya aku cuma bisa jemput pakai motorku." ucap Hale lagi.^^^
^^^"Ih, gapapa kali. Kan kita pakai sunscreen. Hehe." jawab Sasi.^^^
^^^"Haha. Tetep aja nanti kamu jadi hitam loh, Sa. Pantes belum dapat pacar." Hale mulai keisengannya lagi ke Sasi.^^^
^^^"Ih, kak Hale! Nakal banget sih!" ucap Sasi Kesal sambil memukul pelan lengan Hale.^^^
Hale pura-pura mengaduh kesakitan, membuat Sasi semakin sebal. Bibirnya mengerucut maju sedikit sambil protes ke Hale. Melihat hal itu Hale semakin puas meledek Sasi.
"Hahaha. Yaudah ayo naik, Sa." Hale menyerahkan satu helm nya ke Sasi.
^^^"Tunggu! Kak Hale udah pake sunscreen belum?" tanya Sasi tiba-tiba.^^^
Sasi menerima helm yang diberikan Hale tapi belum juga di pakainya di kepalanya.
Hale mengerenyitkan dahinya.
^^^"Buat apa aku pakai kosmetik kaya wanita?" ucap Hale sekenanya saja.^^^
Karena memang Hale tidak pernah memakai berbagai produk perawatan. Selain hanya produk membersihkan muka untuk laki-laki yang dia punya. Dan pengetahuan Hale tentang hal itu sangat minim, Hale tidak tahu kalau produk perawatan dan perlindungan kulit bisa dipakai semua jenis kelamin, tidak harus wanita.
^^^"Ish, gak gitu kok. Kita semua harus pakai karena radiasi sekarang sangat bahaya. Sudah ku duga kakak pasti belum pakai. Nih aku bawain!" panjang lebar Sasi bicara untuk mengedukasi sang senior tampan itu.^^^
^^^"Hei, tidak usah Sa. Aku engga perlu pakai kok. Aku kan laki-laki. Masa takut hitam." tolak Hale dengan cepat.^^^
^^^"Ih. Kenapa sih cuma kepikiran takut hitam saja dari tadi?! Bukan itu kok. Nanti kulit kakak terbakar dan rusak kan. Pakai ya?" pinta Sasi.^^^
__ADS_1
Hale menghela napasnya. Bingung bagaimana harus menolak juniornya ini agar tidak perlu memikirkan hal remeh seperti itu. Tapi entah kenapa karena melihat wajah Sasi yang memohon dengan serius malah terlihat lucu. Hale jadi gemas, malah tidak bisa menolak kalau begitu caranya kan. Hale mengalahkan pikirannya kali ini untuk mengikuti kemauan Sasi.
^^^"Cih. Kamu itu sekarang ribet banget deh Sa. Yaudah sini taruh di tanganku." Hale melepaskan helmnya dulu agar bisa mengaplikasikan sunscreen di wajahnya.^^^
Sasi tersenyum lebar, senang kalau dia berhasil memenangkan debat tentang sunscreen ini. Walaupun Sasi juga tahu Hale pasti terpaksa karena Hale adalah orang yang sangat simpel.
Sasi harus memaksa karena dia perhatian dengan Hale. Efek radiasi sekarang kalau menurut berita tidak main main. Ada yang bilang sampai bisa meningkatkan resiko kanker kulit. Entah berita ini benar atau hanya berita yang di besar besarkan. Tapi lebih baik langkah pencegahan saja kan, begitu pikir Sasi.
^^^"Udah kan. Ayo naik deh buruan Sasi tomboy ribet!" ucap Hale gemas, lalu segera Hale memakai helm full face nya kembali.^^^
^^^"Hahaha. Muka kakak jadi glowing." ledek Sasi.^^^
^^^"Berisik Sasi jelek. Glowing gini makin ganteng kan aku? Dah cepet deh, naik. Kapan jalannya kalo gini." jawab Hale.^^^
Jawaban Hale yang sangat tepat sasaran membuat Sasi tersedak tak sanggup menjawab apa apa. Apalagi meledek Hale lagi. Akhirnya Sasi memakaikan helm dan naik ke atas motor Hale.
^^^"Pegangan Sa. Nanti jatuh kamu." ucap Hale saat baru menyalakan mesin motornya.^^^
^^^"I-iya kak. Gini?" ucap Sasi kaku.^^^
Sasi sangat gugup, bingung harus memegang bagian yang mana. Ini pertama kalinya Sasi naik motor. Selain itu kegugupan nya berasal dari debaran jantung yang tidak bisa diajak kerjasama ini.
"Bercanda ya kamu, Sa. Masa pegangan pundak. Pegang disini." Hale memegang tangan Sasi menuntun agar Sasi memegang bagian samping pinggang Hale.
Pegangan tangan Hale membuat Sasi semakin debaran jantungnya ingin meloncat keluar.
"Oke. Kita berangkat ya." ucap Hale tanpa rasa bersalah. Tidak tahu orang yang di belakangnya sudah keringat dingin akibat sentuhan tangan yang tidak disadari oleh laki-laki itu.
Hale mulai menjalankan motornya menuju Sport Theme Park, yang berada di dalam Mall sebuah kawasan kelapa Gading.
.
.
.
Itsumo arigatou gozaimashita.
.
__ADS_1
.
Bersambung