Terpikat Duda Artis

Terpikat Duda Artis
Ujian Kelayakan Menantu


__ADS_3

Flashback dua hari lalu.


Saat Tian datang ke rumah untuk meminta restu pertama kali.


Setelah mendapatkan nomor Hale dari Manager Raka, Tian menyampaikan niatnya serta janjian dahulu dengan Hale, meminta tolong agar Hale menyampaikan kepada orangtua Hana. Juga, Hale diminta merahasiakannya dulu dari Hana.


Hari itu, Tian bukanlah seorang artis bernama Ricky Sebastian Alexander, tapi dia datang sebagai Sebastian yang akan melamar Hana, putri keluarga Harry Anggoro. Tambahan, Tian datang sendirian tanpa ditemani oleh Manager Raka, yang biasanya tidak pernah jauh dari sisinya jika pergi keluarga.


Tian datang bukan dengan tangan kosong. Manager Raka sudah menyiapkan beberapa bawaan yang bisa diberikan untuk keluarga. Entah bisa dibilang beberapa atau tidak, karena hadiah yang dibawa Tian hampir memenuhi ruang tamu rumah Hana.


Awalnya Ayah sempat menolak hadiah hadiah itu, namun ketika Tian sedikit memaksa dengan kata-kata sopan akhirnya semua hadiah itu dimasukan ke dalam rumah. Mata Ayah tertarik pada beberapa benda yang dimasukan oleh orang-orang berseragam hitam itu. Papan catur. Tapi papan catur yang dibawa ada lebih dari satu dalam macam macam variasi.


"Tuan Tian, kenapa banyak sekali? Dan apa itu yang dibawa mereka." menunjuk salah satu papan catur yang akan dibawa masuk.


"Oh itu." melambaikan tangan ke salah satu orang yang membawa hadiah papan catur. Memberikan tanda agar mendekat, membawa papan catur tersebut.


"Karena Tuan Harry sangat suka catur, aku ingin menghadiahkan ini. Namun karena ada beberapa jenis aku sudah memilih beberapa yang terbaik. Mohon diterima."


"Ya ampun. Ini papan catur seri klasik." Ayah terkagum dengan papan dan bidak catur yang sepertinya terbuat dari logam mulia murni.


"Semoga anda menyukainya. Tapi, jika tuan memiliki selera khusus mohon kasih tahu saya ya. Saya akan coba..." ucapan Tian terpotong karena Ayahnya Hana langsung menjawab.


"Tidak! Tidak perlu sampai seperti itu. Ini terlalu banyak. Maksudnya, bukannya saya tidak mau menghargai hadiahmu. Tapi bisakah saya hanya mengambil satu set saja? Saya ambil yang seri klasik ini, jadi tolong ambil kembali papan catur lainnya." tolak Ayah Hana dengan sopan.


"Baiklah. saya mengerti. Tapi untuk hadiah lain, mohon diterima. Saya akan membawa pulang kembali papan catur lainnya saja." jawab Tian.


"Wah. Ini Jersey auntentic klub kesayanganku di NBA dan IBL. Ini boleh ku miliki? Beneran?"


Hale meloncat kegirangan seperti anak kecil yang mendapatkan hadiahnya. Selain Jersey auntentic klub basket, ada juga Jersey netral dengan brand ternama. Brand yang tidak pernah Hale pikirkan akan dia beli sebelumnya karena harganya yang sangat mahal.


"Le, pilih salah satu saja." ucap Ayahnya mengingatkan Hale.


"Tapi Ayah, aku butuh ganti dan juga bolehkah ku bagi ke teman-teman ku yang lain?" tanya Hale.


"Hale, pilih salah satu." ayah bersikeras.


"Tidak apa-apa tuan Harry, saya memang membawa khusus untuk Hale. Yang ini sepertinya akan sulit jika saya return ke toko. Dan, Hale, kau boleh mengambil dan membagikan ke temanmu. Itu sudah menjadi milikmu." jawab Tian.

__ADS_1


"Terima kasih kakak ipar!" Hale sangat senang.


Dia memanggilku kakak ipar! Senangnya. Lihat kan, Riga, aku sudah mendapat kantong ijin menikah dari adik ipar.


"Ehem. Tidak perlu sungkan adik ipar." jawab Tian dengan sumringah.


Bagikan dan pamerlah ke Riga ya! Hahaha, gumam Tian dalam hati. Rasanya Tian ingin mengatakan itu juga kepada Hale.


Tak lupa Tian juga membawakan hadiah untuk calon ibu mertuanya. Karena bingung antara pilihan perhiasan atau alat masak dan perlengkapan dapur, sehingga Tian tak mau repot, dia membawa ketiganya. Padahal hal itu membuat ibu Hana menjadi bingung. Sudah menolak dengan halus, tapi sekali lagi, Tian agak memaksa dengan kata-kata yang dibungkus dengan baik.


Setelah acara penerimaan hadiah yang sedikit dengan negosiasi itu, mulai lah pembicaraan serius. Tentu saja Tian merasa gugup.


Untungnya maksud dan niat Tian disambut baik, walau dengan beberapa pertanyaan pertanyaan ala dosen dan mahasiswanya yang sedang melakukan ujian kelayakan.


Mungkin memang seperti itu adanya, itulah ujian kelayakan menjadi menantu idaman yang harus dilakui Tian. Dirinya harus melalui tahapan ini agar bisa lulus dan mendapatkan restu untuk menikahi gadis cantik, putri dari keluarga Harry Anggoro.


"Apa anda benar-benar menyukai Hana?"


"Iya saya sangat mencintainya Tuan."


"Kenapa kami harus menerima lamaranmu untuk menikahi putri berharga kami? Sedangkan yang saya tahu kalian baru bertemu belum lama. Apakah tidak sebaiknya kalian saling mengenal lebih lama lagi?" mata Ayahnya Hana menelisik tajam ke arah Tian.


Wah tuan Harry tersenyum! Jawabanku sepertinya bagus. Aaaa. good job, Tian. Meski gugup kau tetap keren, puji Tian kepada dirinya sendiri dalam hati.


"Bagaimana Bu?" tanya ayah, memegang tangan istrinya disamping. Lalu tangan itu pun disambut untuk digengam kembali.


"Nak Tian sudah membicarakan hal ini ke Hana?" Ibu malah menjawab dengan pertanyaan lagi.


"Belum, Nyonya."


"Kalau begitu, kami terima maksud baik nak Tian, asalkan...."


"Akan saya lakukan. Katakan saja Nyonya. Saya harus melakukan apa?" ucap Tian bersemangat.


Apapun pasti bisa ku lakukan, demi restu!


"Asalkan bisa memanggil kami dengan Ayah dan Ibu saja. Tidak perlu terlalu formal lagi. Ya kan Ayah?" Ayah tersenyum memberikan jawabannya.

__ADS_1


"Terima kasih! Terima kasih Ayah dan Ibu!"


"Hanya satu. Satu permintaan saya. Bahagiakan Hana."


"Pasti. Ayah. Saya berjanji, akan membuat Hana bahagia hidup bersama saya."


"Tapi, kak. Apa kak Tian tidak akan menyesal? Sebaiknya kak Tian lebih mengenal kak Hana dulu."


"Hale!" ibu gemas dengan anak laki-lakinya. Mencoba memberikan kode dengan tatapan matanya yang dibuat melotot agar putranya itu diam tidak bicara macam macam.


"Loh, benar kan Bu. Aku sih senang mendapatkan kakak ipar artis terkenal seperti kak Tian. Tapi kak Na itu banyak sekali tingkah anehnya. Ah! Gaya tidurnya sangat aneh. Kalau mandi juga sangat lama!"


"Saya sangat mencintai Hana, jadi sepertinya akan menyukainya apapun yang belum saya ketahui itu. Terima kasih adik ipar informasinya."


"Wah. Memang ya, orang jatuh cinta itu pasti akan seperti ini. Baiklah. Kalau kak Tian kerepotan tentang kak Hana nantinya, jangan sungkan bicara padaku ya."


"Sudahlah Ale." akhirnya Ayah yang turun tangan menghentikan ocehannya Hale.


"Tidak apa apa, tuan. Eh. Ayah, Ibu. Oh ya, saya ingin melamar Hana namun masih menjadi kejutan hari dan tempatnya. Boleh tolong dirahasiakan dulu kedatangan saya hari ini kerumah?"


"Baiklah. Kami tidak akan bicara dulu ke Hana." jawab ibu.


"Kak Tian terlalu khawatir. Kak Hana wanita yang tidak peka, bahkan, meskipun nanti pulang dia melihat semua hadiah ini dia tidak akan berpikiran jauh tentang apapun. Dia hanya akan berpikir kami yang membelinya, bukan hadiah."


Ibu dan Ayah tertawa mendengar perkataan Hale kali ini yang dirasa ada benarnya.


.


.


.


Itsumo Arigatou gozaimasu


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2