
Masih dengan kegiatan anak muda. Sasi dan Hale.
Kini mereka sudah sampai di Mall of Jakarta yang berada di kawasan Kelapa Gading. Tepatnya berdiri di depan Sport Theme Park.
^^^"Ini sport centernya, Sa? Kok kaya tempat main anak anak ya?" tanya Hale ragu.^^^
Sasi tertawa geli.
Saat diajak oleh Hale untuk bermain basket, Sasi terpikirkan untuk main disini. Sudah lama Sasi penasaran setelah banyak melihat review di Inspogram dan U-live. Tapi karena lokasi rumahnya dengan tempat ini lumayan jauh, dan juga tidak ada teman yang bisa diajak ke sini Sasi belum sempat untuk mencobanya.
Disinilah dia bersama senior laki-laki yang disukai nya. Dengan alasan bermain basket, Sasi berhasil datang kesini meski harus sedikit berbohong kepada Hale.
^^^"Kenapa ketawa coba? Dih, kamu tuh bohong ya, Sa."^^^
Hale memandang Sasi tidak percaya. Bisa-bisanya dia dibodohi oleh junior yang suka di isenginya.
Aku kan lagi mau main basket sama dia. Dia balas dendam karena sering ku jahili ya? gumam Hale dalam hati.
"Hehe. Tenang dulu kak Hale. Aku ga bohong. Di sini juga ada lapangan basketnya kok. Tapi...ya beda sama lapangan yang biasa tempat kita main."
Sasi menjelaskan sambil tertawa.
Gemas dengan penjelasan dan ekspresi meledek Sasi, Hale jadi mencubit pipi mulus junior itu.
"Aww. Kak Hale!" teriak Sasi.
Bekas cubitan dari Hale membuat pipinya sedikit merah, tapi Sasi tidak bisa marah. Hale pasti sengaja mencubit pipinya, karena dirinya yang mulai duluan tidak menjelaskan tentang lokasi main basketnya.
^^^"Ish kamu nih ya. Nakal. Aku tuh udah mikir kaya sport center gitu. Atau kawasan latihan olahraga lainnya." omel Hale agak panjang.^^^
^^^"Hehe. Maafin ya. Abis aku belum pernah kesini dan aku tuh mau banget ke sini kak. Please, ya kak." pinta Sasi lagi.^^^
Hale berdecih kecil. Bukannya tidak mau, tapi Hale merasa ragu di dalam ada lapangan basket seperti yang di bilang Sasi. Apalagi Sasi bilang dia juga belum pernah kesini.
Namun mereka berdua sudah sampai di lokasi, tidak mungkin juga tidak jadi masuk. Tiba-tiba saja Hale terpikirkan satu hal bagus.
^^^"Cih. Aku pulang saja deh. Kamu main sendiri." Hale hanya berpura-pura marah.^^^
^^^"Kak Hale! Iya deh aku ngaku salah. Maafin aku. Ayo kita ke lapangan basket lain aja." ucap Sasi menjadi merasa bersalah.^^^
Tadinya Sasi menduga Hale tidak akan sampai marah, tapi mungkin kali ini Sasi memang keterlaluan. Jadi dia mengakui kesalahannya. Tidak ingin Hale malah jadi marah padanya.
^^^"Begini saja. Kita main one on one di sini. Tapi untuk menebus kebohongan mu kamu bantuin aku menulis skripsi." ucap Hale.^^^
^^^"Dih. Aku jadi joki skripsi dong. Katanya kemarin engga perlu joki skripsi. Sekarang kenapa malah minta itu." Sasi protes merasa terpojok tapi juga tidak mau ikut dalam permainan Hale.^^^
Ini pasti akal akalan kak Hale. Jadi joki skripsi kan susah. Aku engga mau, ah!
^^^"Oke. Fine. Kamu main sendirian aja. Aku udah engga mood karena dibohongi." Hale berbalik pura-pura ingin pergi.^^^
^^^"Iya! Maaf! Aku mau deh..." Sasi menyerah.^^^
Hale bersorak dalam hatinya. Berhasil. Haha, Hale senang tertawa tanpa bersuara
__ADS_1
^^^"Tapi kak, jurusan kakak kan IT aku pasti kesulitan nanti. Yang ada nilai kakak malah jelek, aku engga mau disalahin ya." jawab jujur Sasi.^^^
^^^"Engga masalah. Isinya tetap aku yang buat. Kamu cuma harus memperbagus kata kata yang tidak terkait dengan istilah teknologi itu. Ibaratnya kamu copy writernya." terang Hale meyakinkan Sasi.^^^
^^^"Oke kalau begitu." Sasi pasrah.^^^
Menyesali idenya mengajak Hale ke sport Theme Park. Ini seperti buah simalakama.
Kenapa yang kena imbasnya malah aku, Sasi menangis dalam hati.
^^^"Karena kita sudah sepakat ayo kita masuk ke dalam." ajak Hale merangkul Sasi yang masih cemberut.^^^
Setelah membeli tiket untuk bermain selama dua jam di counter depan, Hale dan Sasi tidak membuang waktu langsung menunju lapangan basket yang ditunjuk oleh petugas disana.
Sport Theme Park ini merupakan tempat alternatif berolahraga dengan virtual. Dikhususkan untuk yang ingin mencoba banyak olahraga namun bukan seperti olahraga pada umumnya. Semua cabang olahraga ini difasilitasi dengan stand yang ada layar dan alat bantu olahraga itu sendiri. Misalnya olahraga sepakbola, ada bola dengan layar yang menampilkan gambar kiper dengan gawangnya. Pengunjung hanya perlu menendang bola itu ke arah layar untuk bermain bola bersama sang kiper virtual.
Bisa dibilang ini adalah semi teknologi dalam bidang olahraga.
Kembali ke olahraga yang dipilih oleh Hale dan Sasi.
Untuk lapangan mini basket itu sendiri hanya bisa dimainkan oleh dua orang dengan satu ring. Tidak terlalu buruk. Karena tujuan Hale dan Sasi memang cuma bermain berdua one on one.
Kebetulan sekali hanya lapangan basket ini saja yang tidak banyak antrian pengunjungnya. Jadi Hale dan Sasi bisa bermain sepuasnya.
Ketika mereka berdua mulai bermain basket, semua kenangan serta keseruan yang dulu ada saat sekolah seperti kembali ke tempatnya.
Ternyata mereka berdua saling merindukan satu sama lain. Merindukan momen, kegiatan, percakapan, dan tentu saja merindukan orangnya. Seolah Hale dan Sasi seperti memang menunggu dipertemukan kembali agar bisa merasakan semua yang sempat hilang itu.
Selama Hale dan Sasi bermain dengan serius, mereka saling berebut mencetak angka ke dalam ring. Setiap cetakan angka baik dari Hale maupun Sasi, akan terdengar suara sorak gembira dari pengunjung lain yang mendadak berubah menjadi pendukung mereka.
Namun saking seriusnya mereka berdua bermain basket, Hale dan Sasi tidak sadar keadaan sekitar. Jadi saat selesai bermain untuk beristirahat mereka baru menyadari. Tentu saja terkejut melihat lapangan mini basket ini dikelilingi banyak orang.
Seolah sudah sesuai dugaan Sasi, pengunjung wanita yang menyemangati Hale jauh lebih banyak, jika dibandingkan pengunjung yang menyemangati Sasi.
^^^"Kak lihat penggemarmu lebih banyak daripada penggemarku." Sasi bercanda sambil memukul pelan lengan berkeringat Hale.^^^
Hale ikut tertawa, sambil mengelap keringat dengan bajunya.
Perut kotak kotak Hale jadi terlihat sedikit karena aksinya itu. Pengunjung wanita berteriak semakin keras.
Hari ini memang luar biasa aneh tapi menyenangkan bagi Hale. Bagaimana bisa dirinya tidak menyadari kalau sudah sebanyak ini pengunjung yang berkumpul menonton pertandingan kecil antara Hale dan Sasi. Bahkan sampai menyoraki seolah sebuah game sesungguhnya. Apa karena mereka berdua terlalu fokus? Atau memang waktu yang dihabiskan berdua dengan Sasi membuat Hale tidak perdulikan sekitarnya? Hale bertanya kepada dirinya sendiri.
Diliriknya Sasi yang ikut mengelap mukanya dengan lengan baju kaos yang di pakai Sasi. Tapi tetap saja tidak menghapus keringat yang ada di dahi dan beberapa bagian wajah imut sang Junior wanita itu.
^^^"Kamu bawa handuk dan baju ganti?" tanya Hale.^^^
^^^"Engga. Hehe. Aku engga nyangka kalo kita jadi tanding one on one dengan serius kaya gini kak." jawab Sasi jujur.^^^
^^^"Dih, dasar kamu tuh ya. Bentar." ucap Hale lalu berjalan ke arah tas yang dibawanya tadi.^^^
^^^"Nih pakai handukku. Kalau minum bawa?" ^^^
Hale berbicara sambil menaruh handuknya di kepala Sasi sehingga semua bagian wajahnya tertutup handuk Hale. Hale sendiri meminum air di botol air minumnya.
__ADS_1
Lagi lagi terdengar suara sorak sorai pengunjung wanita disini, ternyata Hale dan Sasi masih menjadi tontonan menarik bagi mereka yang melihatnya.
^^^"Ish. Nakal banget sih kak! Engga bawa minum, aku beli aja di sebelah sana." jawab Sasi menunjuk counter tempat menjual makan dan minum di lokasi ini.^^^
^^^"Eh? Ngapain beli. Nih, minum aja punyaku." jawab Hale santai menyodorkan minuman yang bekas dirinya tadi minum.^^^
^^^"Hah! Kak Hale bercanda ya? Engga ah. Aku beli sendiri aja." tolak Sasi dengan panik.^^^
Kenapa dia santai sekali? Kalau aku minum disitu kita seperti berciuman tidak langsung kan, suara hati Sasi tertahan didalam.
^^^"Kenapa kamu jijik bekas aku ya? Berlebihan banget. Dulu kan juga sering begini. Nih ambil cepet!" paksa Hale tidak mau ditolak.^^^
Dulu kan kita masih sama sama kecil kak! Aku juga belum menyukaimu. Hiks, kenapa orang ini tidak peka ya.
Mau tidak mau Sasi menerima botol air minuman Hale, meminumnya dengan perlahan.
Sasi merasakan suhu wajahnya memanas, dan tentu saja teriakan tidak terima dari beberapa pengunjung wanita ke arahnya.
Sasi bisa mendengar semua perkataan mereka.
"Ah! Siapa sih dia?! Wanita yang bermain dengan laki-laki tampan. Mengganggu pemandangan saja."
"Apa mereka pacaran ya? Bahkan sampai rela berbagi minuman begitu. Wah, padahal aku ingin meminta nomor handphone laki-laki tampan itu tadinya."
"Sepertinya hanya teman deh, soalnya auranya hanya tidak seperti sepasang kekasih. Apa friendzone kali ya. Haha."
Sasi semakin ingin menangis mendengar semua perkataan itu. Melirik orang yang jadi perbincangan, tapi tidak terlihat raut wajah terganggu apalagi peduli sekitar.
^^^"Buruan minumnya. Kita main olahraga yang lain baru cari makan ya. Masih ada sisa waktu." Hale melirik gelang bermain dan jam arlojinya.^^^
Kesal. Hanya Sasi yang merasa seperti ini sendirian. Sasi pun memukul lengan Hale lagi sebagai pelampiasan kepada Senior yang tidak peka itu.
"Haduh, apa sih daritadi pukul pukul terus, Sa." kata Hale.
"Ish, engga sakit juga. Aku pukulnya juga pelan. Berlebihan tau. Haha."
Sasi melanjutkan kata katanya lagi sebelum Hale membalas aksi pukulan pelan darinya.
"Ayo kita main yang lain kak!"
.
.
.
Itsumo arigatou gozaimashita.
.
.
Bersambung
__ADS_1