Terpikat Duda Artis

Terpikat Duda Artis
Rambut Boneka


__ADS_3

Di dalam ruang belajar kamar Cherry di lantai dua.


Ayah dan sang putri kompak menyentuh rambut panjang milik Hana. Kegiatan sentuh menyentuh rambut Hana ini berlangsung lama. Hana hanya diam, niatnya menunggu sampai mereka berdua bosan, tapi ayah dan putri ini kompak sekali tidak selesai-selesai main dengan rambutnya. Malah asyik bercanda ria sendiri.


^^^"Hehe. Ram..but na Miss..alus."^^^


^^^(baca: rambutnya Miss Hana halus ya.) -Cherry^^^


Tian dan Cherry tertawa riang, seakan menemukan mainan baru. Mereka bermain dengan rambut Hana dengan cara memilin-milin rambut dengan jari lalu dielus dari tengah rambut sampai ujung rambut, dan melakukan gerakan itu berulang dengan tawa riang.


Hana menunggu hingga sekitar tiga menit tapi kesabarannya juga jadi menipis.


^^^"Hmm, Maaf tuan, tapi rambut saya bukan rambut boneka. Bolehkah kita selesaikan saja main main dengan rambutnya?"^^^


^^^-Hana^^^


Tian tertawa mendengar Hana akhirnya terusik dengan kegiatan menyenangkan itu. Cengiran Tian muncul sebelum dia melakukan tindakan selanjutnya.


Haduh. Kenapa sampai dicium segala rambutku! -Hana


Hana merinding dan kaget. Tindakan Tian ini diluar prediksinya. Tian menyentuh rambut saja tidak pernah dibayangkan oleh Hana, apalagi rambutnya juga dicium oleh sang artis.


Apa dia ternyata artis yang mesum ya sampai cium cium rambut segala.


-Hana


Seharusnya Hana kesal dan marah, tapi dibandingkan perasaan itu dia lebih merasa berdebar karena tindakan Tian ini benar benar tidak sehat untuk jantungnya. Semua pertahanan diri Hana agar tidak terlihat malu jadi hancur. Hana malu dan pasti mukanya memerah sekarang. Refleks dia menutup muka dengan tangannya.


Haha. Dia benar-benar menggemaskan. -Tian


Tian semakin menjadi-jadi untuk mengerjai wanita ini.


^^^"Cherry rambut Miss Hana wangi buah apa ya? Coba Cherry cium juga dan kasih tahu ayah."^^^


^^^-Tian^^^


Apa! Jangan selalu menggunakan anakmu hei, duda nyebelin. -Hana


Hana semakin tidak percaya dengan semua perbuatan duda artis ini. Tapi, Hana tidak bisa berbuat apa-apa. Hana hanya pasrah menerima perlakuan dari ayah dan putrinya ini.


Kalau bersama Cherry Hana pasti tidak akan marah kan. Lihat. Cherry juga terlihat senang. Memang pintar putriku ini, gumam Tian puas.


Terlihat Cherry juga menyukai ide ayahnya itu, dia mulai melakukan hal yang sama menciumi rambut Miss Hana. Hingga tawa riangnya keluar, saat mengetahui wangi rambut Miss Hana.


^^^"Ayah! Buah Stroberi !"^^^


Mungkin karena perasaannya senang, Cherry sendiri tidak sadar kalau dirinya berbicara dengan lantang dan jelas. Dia suka makan buah stroberi, dan juga dia jadi menyukai wangi rambut Miss Hana. Untuk mengungkapkan perasaan senangnya bahkan Cherry bertepuk tangan gembira.


Tian dan Hana terkejut senang.


Ini pertama kalinya Cherry berbicara lantang dan tidak terbata bata. Tian langsung menciumi puncuk kepala Cherry dan memujinya. Cherry tetap tidak sadar kalau dirinya sudah mengucapkan kata kata dengan lancar. Cherry menyangka ayahnya senang karena tebakan Cherry benar, kalau wangi rambut Miss Hana adalah wangi buah stroberi.


Hana tahu, Cherry berbicara hanya spontan dan senang saja saat mengucapkan kata-kata tadi. Hana melihat hal ini sebagai sebuah perkembangan yang baik.


Hana jadi punya gambaran metode pengajaran nanti, dia akan menggunakan metode pendekatan mulai dari hal hal yang Cherry sukai, agar dapat menstimulasi kemampuan Cherry lebih baik lagi. Sebuah catatan penting yang harus diperhatikan untuk persiapan di kelas. Aku akan mencari tahu hal hal apa saja yang disukai Cherry.


Akhirnya fokus Hana teralihkan dan menjadi rileks kembali. Mereka bertiga jadi tertawa bersama.


Lalu terdengar suara ketukan dari Sus Rita di depan pintu kamar Cherry. Mereka bertiga kompak menengok ke arah suara.


^^^"Maaf tuan, nona dan nona kecil jika saya menganggu. Tuan besar meminta saya membawakan minuman dan cemilan. Boleh saya letakan di dalam?"^^^


^^^-Sus Rita^^^


Setelah dipersilakan masuk oleh Tian, sus Rita meletakan minuman dan cemilan itu di meja kecil dekat mereka bertiga duduk. Sus Rita langsung pamit untuk kembali ke dapur sehabis urusannya selesai.


Tak berselang lama dengan kepergian sus Rita, muncul lagi orang yang datang ke kamar Cherry yang tadi juga sempat berpapasan dengan sus Rita di tangga. Dia adalah Manager Raka.


Manager Raka sebenarnya tidak ingin menyusul Tian ke lantai atas, tapi bos besarnya tuan Dave meminta tolong dirinya untuk memanggil Tian.


^^^"Kemana Tian itu, katanya hanya mengantar ke kamar saja, tapi sampai sekarang belum balik kesini. Bahkan dia belum menyapamu dengan benar ya David. Maafkan anakku yang satu itu."^^^


^^^-Dave^^^


^^^"No problem, Dave. Mungkin Miss Hana dan Tian sedang berdiskusi tentang Cherry, kan."^^^

__ADS_1


^^^- kepala sekolah David.^^^


Kepala sekolah David memang sangat positif pikirannya. Karena memang itulah alasan kami kemari, begitu pikirnya.


Tapi karena sudah telalu lama, Dave jadi tidak sabar menunggu anaknya Tian. Meminta tolong Manager Raka untuk memastikan dan memanggil Tian untuk bergabung di taman belakang.


Disinilah, Manager Raka berdiri melihat pemandangan lucu yang membuat bulu kuduknya meremang. Dia melihat Cherry dan Hana dengan asyik bercerita tentang putri Rapunzel kesukaan Cherry, namun laki-laki disampingnya tidak ikut terlibat dia hanya memilin milin rambut dari guru itu.


^^^Haish, apa yang kau lakukan sih. Seperti orang bodoh saja tuan artis ini.^^^


^^^-Tian^^^


Kenapa juga wanita itu tidak merasa risih rambutnya dimainkan oleh laki-laki asing? Ah, aku lupa Hana adalah Tianager ya jadi mungkin tidak keberatan, gumam Manager Raka menerka nerka sendiri kejadian yang sedang terjadi.


Manager Raka masih berjalan mendekati mereka bertiga, dan akhirnya berdehem pelan agar kehadirannya diketahui.


^^^"Apa aku mengganggu waktu kalian, tuan dan nona?" -Manager Raka.^^^


Hanya Cherry dan Hana yang tidak menyadari kehadiran Manager Raka. Tian sudah melihat manager Raka dari sudut matanya. Namun Tian cuek saja.


^^^"Kenapa kemari?"^^^


^^^-Tian^^^


Kalau dari intonasi suara, Tian terdengar seperti bertanya biasa saja. Tapi Manager Raka yang mengetahui sifat asli sang artis, intonasi itu bermakna ketidaksukaan sang pemilik suara kalau kegiatannya diganggu. Lihat itu matanya melotot lagi kan, batin Manager Raka ketika bertabrakan pandangan dengan sang artis.


^^^"Aku diminta tuan Dave untuk memanggilmu bergabung bersama di taman belakang."^^^


^^^-Manager Raka.^^^


Tidak terima disalahkan sepihak, dia membalas dengan pandangan juga ke Tian, berkata seolah-olah bukan sengaja mau mengganggu kegiatan anehmu cium cium rambut orang tadi, tau!


Hah. Ayah ini merusak kesenanganku saja, keluh Tian tidak rela.


^^^"Okay. Will go down soon. Duluan aja kak." -Tian^^^


Sekarang bukan hanya pandangan mata sang artis yang seakan mengusir Manager Raka, tapi tangan Tian juga bergerak mengusir Managernya itu.


^^^Dih, sialan. Malah ngusir.^^^


^^^-Manager Raka.^^^


^^^-Manager Raka^^^


Kau pikir aku berani turun duluan tanpamu? Yang ada aku dimarahi oleh ayahmu kan sialan, protes Manager Raka dalam hati. Setelah menjawab seperti tadi, Manager Raka benar benar keluar kamar Cherry dan menunggu di depan kamar.


Selepas kepergian Manager Raka, suasana canggung menghampiri atmosfer kamar Cherry. Cherry sendiri sedang asyik makan cemilan yang dibawa sus Rita, karena cemilan yang dibawa memang cemilan favoritnya.


Tinggal Tian dan Hana masih betah diam belum memulai percakapan lagi. Dua-duanya seperti berpikir dengan hatinya masing-masing.


^^^"Miss Hana."^^^


Akhirnya Tian memilih untuk berbicara duluan memecahkan kecanggungan tadi.


^^^"I-iya tuan Tian."^^^


Karena terlalu gugup, Hana jadi berbicara sedikit tergagap.


Duh, kenapa suasana berubah jadi gugup lagi ya. Habisnya tadi kami seperti ketahuan oleh Manager Raka melakukan tindakan yang salah, sesal Hana.


Hana sangat malu kejadian cium cium rambut dilihat oleh Manager Raka. Terlebih, Hana seolah Hana tidak mempermasalahkan hal itu dan tetap melakukan interaksi dengan Cherry seperti biasa. Fokus Hana teralihkan setelah Cherry berhasil mengucapkan kata kata dengan lantang dan jelas.


^^^"Bersantailah dengan Cherry di sini. Nanti kalau makan siang sudah siap pelayan akan memanggil kalian untuk kebawah." -Tian^^^


Hana hanya menjawab dengan anggukan kepala. Tian akhirnya berdiri dari tempat duduknya. Tapi posisinya masih berdiri, belum beranjak ke luar ruangan. Hana bingung lagi melihat kelakuan sang artis.


Apalagi sekarang? -Hana


Tian menghela napasnya, dan berbicara.


"Kau jelek sekali dikuncir seperti ini. Buka dulu kunciran rambutmu sebelum turun ke bawah."


Setelah berbicara Tian melangkah keluar ruangan kamar Cherry. Di sudut bibirnya muncul cengiran.


Kau tidak boleh memperlihatkan lagi leher jenjangmu sembarangan Miss Hana. Aku saja hampir kehilangan kesadaranku untuk menyentuhnya. Aku tidak ingin yang lain lihat, terlebih kak Raka! -Tian.

__ADS_1


Tian sudah meninggalkan ruangan, menyisakan Hana yang tidak percaya apa yang didengarnya barusan.


Hari ini Hana merasa seperti Tian benar benar mengerjainya.


Kemarin tuan artis itu sendiri yang meminta rambutnya dikuncir, sekarang malah mengatakan dirinya jelek dikuncir. Hana sangat kesal tapi juga tidak bisa memaki orang yang membuatnya kesal seperti ini.


Haish, menyebalkan sekali sih. Aaaa. -Hana


...🌻🌻🌻...


Di hari yang sama, sebuah kampus swasta di Jakarta.


Hale keluar dari ruangan dosen, menyelesaikan bimbingan skripsinya. Hale menghela napasnya, beberapa judul yang diberikan belum dapat memuaskan pendapat dosen bimbingannya.


Secara ide dan gambaran dosen bilang sangat menarik, tapi secara penulisan skripsi Hale sangat jauh dari kata bagus.


Haish, kita kan jurusan IT, terbiasa ngotak ngatik sistem dan coding, bukan kata-kata, keluh Hale.


Dia sudah berkonsultasi juga dengan seniornya, mereka menyarankan agar mencari joki skripsi atau kalau tidak pacar yang bisa membantu Hale membuat skripsinya.


Dari dua pilihan saran seniornya, kemungkinan yang paling cepat adalah mencari pacar yang bisa membantunya membuat skripsi. Hal itupun tidak akan sulit mengingat banyak sekali wanita yang mengejarnya. Hari ini saja, di loker jurusan ada tiga surat cinta yang Hale terima. Tapi ide itu tidak membuat Hale tertarik.


Hale sedang tidak berminat menjalani hubungan lagi setelah putus dengan mantan pacarnya. Bukan karena trauma, tapi karena merasa tidak nyaman dengan segala keribetan yang harus diterima Hale nantinya.


Ide joki skripsi, sudah pasti tidak akan dipilihnya. Seluruh anggota keluarga Hale berlatarbelakang pendidikan, tidak mungkin dia memilih jalur curang seperti itu. Jadi, pilihan Hale hanya dirinya sendirilah yang berusaha.


Usaha yang disarankan oleh dosen pembimbingnya tadi adalah banyak membaca skripsi atau jurnal terdahulu agar dapat referensi.


Oleh karena itu, sekarang Hale berada di perpustakaan kampus.


Perpustakaannya sudah modern jadi bisa mencari judul buku dengan sistem komputerisasi. Hale mulai dari mencari skripsi senior yang dia kenal, sebagai referensi. Hale mengetik nama senior tersebut dan keluar nomor lemari tempat salinan skripsi itu disimpan. Namun, untuk bisa membaca atau meminjam buku, Hale harus mendaftar sebagai anggota perpustakaan dulu.


Sehingga mau tidak mau, Hale ke counter tempat petugas perpustakaan untuk registrasi pendaftaran member.


Ya, selama Hale kuliah disini ini pertama kalinya dia masuk perpustakaan apalagi meminjam buku. Hale tidak menyangka hari ini tiba, karena Hale bukan orang yang suka membaca buku dengan lama.


^^^"Ada yang bisa dibantu kak?"^^^


Hale menyangka kalau semua petugas perpustakaan biasanya orang orang tua saja, karena perpustakaan sangatlah membosankan menurut Hale. Anak muda tidak mungkin tertarik menjaga perpustakaan kan, pikirnya.


Tapi petugas perpustakaan yang berada didepannya masih sangat muda. Mungkin lebih muda dari dirinya. Hale melirik nametag petugas itu, Sasi Arlivia. Loh, kok aku seperti mengenal nama itu ya. Ah sudahlah, Hale memilih tidak berpikir keras tentang sebuah nama yang sepertinya dia kenal.


^^^"Hmm, bagaimana cara jadi member perpustakaan?" -Hale.^^^


Bukannya menjawab pertanyaan Hale, petugas wanita perpustakaan ini malah diam. Hale mengernyitkan keningnya. Dia tidak mendengarkan kata-kataku ya, gumam Hale.


^^^"Kakak ingin daftar jadi member, atau mencari joki skripsi? Aku bisa jadi joki skripsi untuk kak Hale."^^^


Sasi tersenyum manis kepada Hale, mantan kakak kelasnya di sekolah menengah akhir dulu.


Hale yang bingung hanya terdiam lalu akhirnya berbicara.


^^^"Hah? Kamu kenal aku?" Tanya Hale.^^^


Sasi tersenyum lagi. Dia sudah tahu kalau Hale tidak akan mengingatnya karena memang penampilan Sasi berubah sangat drastis.


^^^"Ini aku kak, Sasi junior kakak di klub basket saat sekolah dulu."^^^


Sasi mengatakannya dengan riang, dengan gerakan tangan menguncir rambutnya, dijadikannya seperti rambut pendek.


^^^"Ah! Sasi tomboy?" -Hale^^^


.


.


.


Yonde shite kurete hontouni arigatou gozaimashita.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2