
Lokasi pemotretan menjadi riuh berisik, setelah Manager Raka menegur beberapa kru wanita yang tadi bergosip tentang Tian dan Rainy.
Tiga orang yang tadi sedang berdiskusi tentang hasil foto, Tian, Rainy dan fotografer Geo segera bergegas menghampiri tempat keributan.
Manager Raka masih dengan ketegasannya meminta ID card para kru wanita yang bergosip itu. Mencatat nama dan perusahan mereka, berkata bahwa ini adalah kesempatan terakhir bagi para kru itu bekerja dengan Tian.
Kalau sudah ada kontrak yang harus melibatkan mereka bekerja dengan Tian, dia akan membicarakan dengan agency untuk di review ulang.
Kesalahan bergosip dalam bekerja merupakan poin pelanggaran yang ada di kontrak kerja. Jadi, tindakan Manager Raka tidak seluruhnya dikatakan berlebihan.
Hanya saya beberapa artis dan manager lainnya mungkin tidak setegas Manager Raka, atau mungkin tidak peduli? Pokoknya para kru wanita itu akan di masukan daftar hitam oleh Manager Raka. Masih beruntung mereka tidak dikenakan pinalti karena melanggar poin di kontrak kerja. Entah apa masih bisa dibilang ini beruntung atau tidak.
Yang jelas, ini juga jadi pelajaran bagi kru lainnya untuk berhati-hati berbicara apalagi bergosip saat ada Manager Raka.
Tian yang pertama berbicara untuk mencoba mencairkan suasana.
^^^"Kak Raka, sudahlah mereka sudah mengakui kalau tidakan mereka tidak bijak. Aku dan juga Rainy tidak masalah." Ujar Tian.^^^
Ketika Tian berbicara seperti itu, keadaan berbalik dari biasanya Manager Raka lah yang jadi menatapnya dengan sengit.
Tian sebenarnya ingin menahan tawanya, karena Manager Raka sangat protektif terhadapnya. Manager Raka terlihat sangat menjaga Tian dan citra diri sang artis melebihi dirinya sendiri. Tian merasa dijaga oleh keluarga sendiri bukan sekedar manager biasa.
^^^"Dan untuk kalian, eh untuk teman-teman semua yang disini juga. Mohon melihat hal ini dengan profesional. Kami dekat karena pekerjaan. Kedepannya tolong bantu jaga suasana agar selalu menyenangkan saat kita bekerja bersama ya, okay?"^^^
^^^-Tian^^^
^^^"Baik, tuan Tian." Hampir semua kru menjawab dengan serentak.^^^
Pada akhirnya, keributan diselesaikan dengan baik. Manager Raka setuju untuk meloloskan mereka untuk kali ini karena Tian sendiri yang memintanya.
^^^"Kalau sampai aku melihat kalian bergosip lagi, tiada ampun bagi kalian."^^^
Sebuah acaman dari Manager Raka dikeluarkannya.
Dengan berakhirnya keributan tadi, pemotretan hari ini juga selesai.
Tian melirik arlojinya lagi.
^^^"Cih, sudah jam sepuluh saja. Hari ini waktu tidak berpihak padaku."^^^
Manager Raka yang melihat sang artis terpaku memandang arloji. Sepertinya Manager Raka tahu apa yang ada di pikiran Tian.
__ADS_1
^^^"Sorry, bro. Kayanya sih udah engga sempat lagi kalau ke sekolah. Tapi..."^^^
Manager Raka sengaja mendramatisir pembicaraan, padahal dia sudah membuat backup rencana agar Tian tetap bisa bertemu dengan Hana.
Tian yang sudah lesu, bertambah tidak semangat mendengar godaan dari Managernya. Tian sudah berjalan gontai menuju ke ruang make up untuk membersihkan riasan konsep vampirnya.
^^^"Tapi apa? Sudahlah, gapapa aku dengar laporan dari paman David saja nanti. Tidak perlu ke sekolah."^^^
^^^-Tian^^^
Manager Raka tertawa kecil, melihat Tian seperti tidak bersemangat lagi hanya karena tidak bisa melihat pujaan hatinya.
^^^"Yakin? Cuma mau dengar laporan dari paman David saja? Ya sudah kalau begitu."^^^
^^^-Manager Raka.^^^
Mendengar perkataan Manager Raka yang ambigu, Tian menghentikan langkah kakinya dan berbalik memandang Managernya itu.
^^^"Apa yang kau rencanakan, Kak?"^^^
^^^-Tian^^^
^^^"Tadi aku sudah sampaikan ke paman David, kalau kau berhalangan hadir langsung. Tapi, kami bisa menyiapkan meeting online agar kau juga bisa ikut mendengarkan meeting dari sini. Of course if you don't mind about that."^^^
^^^-Manager Raka.^^^
Tidak apa apa bertemu via online juga yang penting aku melihat wajahnya Hana, begitu pikiran Tian yang langsung merubah moodnya menjadi bagus kembali.
^^^"Dimana meeting online nya?"^^^
Tian mempercepat langkahnya ke ruang make up. Tian ingin segera menghapus sisa riasan, lalu join meeting online sesegera mungkin.
Khawatir kalau meeting sekolah sudah akan berakhir karena yang Tian tahu meeting sudah dimulai dari satu jam lalu.
...π»π»π»...
Kembali ke ruang kelas di sekolah Summer Breeze, tempat berlangsungnya meeting para guru.
Satu jam lalu, kepala sekolah David mengatakan bahwa sang wali murid artis akan ikut bergabung dalam meeting hari ini. Tetapi sampai hampir jam sepuluh tidak ada tanda kehadiran dari sang artis.
Hana dan para staff sekolah lainnya hanya melihat Riga dan kepala sekolah David berbisik membicarakan sesuatu. Lalu kepala sekolah melanjutkan lagi memimpin meeting.
__ADS_1
Kalau dari pembukaan meeting jam sembilan tadi, seharusnya agenda meeting ini membicarakan sosialisasi peraturan baru dahulu, baru masuk ke persiapan hari orientasi di Minggu depan.
Entah apa alasannya juga tidak di beritahukan oleh kepala sekolah, jadwal ditukar jadi membicarakan persiapan hari orientasi dulu. Staff sekolah tidak ada yang protes, hanya mengikuti saja keinginan kepala sekolah yang juga merupakan pemilik sekolah ini.
Di tengah pembahasan persiapan kegiatan orientasi murid, handphone milik kepala sekolah David berdering. Kepala sekolah mengangkat sebentar lalu tidak lama menutup kembali pembicaraan telepon itu.
Riga sepertinya sudah tahu apa yang harus dia lakukan, saat ayahnya memanggilnya. Riga menarik televisi besar yang biasa digunakan sebagai media penunjang pembelajaran di kelas.
Televisi besar ini biasanya untuk memutar video dan lagu anak anak saat kegiatan menyanyi di sekolah. Televisi besar itu juga di lengkapi dengan alat tambahan web camera diatasnya.
Riga melakukan sesuatu seperti menyeting agar handphone kepala sekolah David bisa terhubung dengan televisi besar dan web camera itu. Setelah selesai menyeting, Riga kembali ke tempatnya tadi disamping Hana.
Tak berselang lama muncul gambar yang menampilkan Tian dan Manager Raka sedang di sebuah ruangan. Kalau dari tampilan panggilan video, ruangan itu mungkin adalah ruang tunggu atau ruang yang di gunakan sebagai ruang make up artis dikarenakan banyak meja dan kaca rias.
Kecuali Riga dan kepala sekolah David, Hana dan staff sekolah lainnya terkejut.
Staff sekolah tidak menyangka bahwa wali murid artis yang di maksud oleh kepala sekolah adalah Ricky Sebastian Alexander. Artis paling terkenal di negeri ini.
Padahal beberapa dari mereka sudah menerka nerka artis lain yang mempunyai anak usia masuk sekolah kindergarten, tapi tidak ada yang menduga kalau itu Tian si artis tampan multitalenta. Kadang banyak orang yang lupa kalau Tian adalah seorang duda anak satu. Mungkin juga karena foto dan kehidupan anaknya tidak pernah di ekspos jadi seolah image Tian masih seperti artis tampan bujangan.
Hana sendiri hanya sedikit terkejut, dirinya sempat merasa lega karena Tian sepertinya tidak jadi hadir dalam meeting. Tapi, saat melihat Tian dari meeting online seperti sekarang Hana merasa lebih baik daripada harus bertemu langsung. Hana menjadi rileks kembali.
Berbanding terbalik dengan tuan artis yang malah menjadi bad mood beberapa saat setelah panggilan video meeting online ini terhubung.
Meeting online ini menampilkan gambar dua arah. Yang ada di sekolah dapat melihat panggilan video dari sang artis dan managernya, begitupun sebaliknya.
Senyum yang tadi melekat di wajah Tian seketika berubah. Tian melihat Hana duduk di samping Riga, hatinya kesal dan panas. Menurut pengelihatan Tian mereka duduk terlalu dekat. Terlebih Tian melihat penampilan rambut Hana yang di cepol ke atas sedikit tidak rapih.
Haish, guru kecil itu tidak mau mendengarkanku ya. Kenapa malah menguncir rambut seperti itu saat duduk dekat Riga sih. Lehernya jadi terlihat jelas! -Tian
Tian sangat kesal, ingin rasanya pergi ke sekolah sekarang juga memisahkan Hana agar tidak duduk dekat dengan Riga.
.
.
.
Itsumo arigatou gozaimashita.
.
__ADS_1
.
Bersambung