
Di kamar Hana. Setelah makan malam.
Hana baru saja menyelesaikan serangkaian tahap perawatan kulit untuk di malam hari. Pakaiannya juga sudah diganti menjadi piyama tidur yang nyaman.
Jam menunjukkan waktu sekitar jam delapan lebih, Hana sudah naik ke kasur tempat tidurnya. Merasa perlu beristirahat lebih awal hari ini.
Meskipun berniat seperti itu, anehnya beberapa menit berlalu tapi Hana belum memejamkan matanya. Malah diam sambil mendengarkan detik suara jam berbunyi.
Hari ini adalah waktu terpanjang yang dia pernah lalui dalam hidupnya.
Padahal harusnya Hana merasa kelelahan hari ini karena sudah pergi bermain seharian bersama Tian dan Cherry, namun matanya tak juga terpejam.
Setali dengan matanya, pikirannya pun ikut menerawang jauh. Tidak menurut untuk diminta beristirahat. Dirinya masih memikirkan seseorang yang berhasil membuatnya selalu berdebar. Bahkan saat orang itu tidak berada disamping Hana sekarang.
Terhitung sudah kurang lebih dua Minggu lalu, sejak Hana pertama kali bertemu dengan Tian di ruangan kepala sekolah David. Mungkin semenjak itu pula perasaan untuk sang artis berkembang tanpa Hana bisa hentikan.
Hana masih terdiam menatap langit-langit kamarnya.
Bagaimana kalau aku tidur dan bangun di esok hari nanti, ternyata yang ku alami hari ini hanya mimpiku saja?
Satu persatu kekhawatiran muncul, membuat menambah pikiran Hana yang semakin penuh saja.
Lalu lamunannya buyar karena terdengar nada dering pesan masuk dari handphone Hana. Hana terduduk, segera mengecek handphonenya. Berharap seseorang yang daritadi dipikirkannya lah yang mengirimkan pesan itu.
Hana tersenyum. Harapannya terjadi. Dengan perasaan senang tak terkira, langsung saja Hana membuka pesan itu.
sender: Tian dan Eri
Sudah tidur?
Tanpa sadar Hana langsung membalas pesan itu dengan cepat.
Belum. Tuan Tian belum tidur? Lalu Hana memencet tombol send.
Tunggu! Apa aku terlalu cepat membalasnya?! Haduh pasti terlihat sekali dong kalau aku menunggu dikirimkan pesan. Malu sekali!
Hana memukul jidatnya sendiri merasa dirinya sudah salah mengambil langkah.
Satu menit Hana menunggu balasannya. Sampai akhirnya handphone itu kembali berdering. Tapi kali ini nada dering untuk untuk pemberitahuan panggilan video.
Eh kaget aku! Kenapa harus video call sih?!
Hana tidak siap mengangkat panggilan video ini karena tidak ingin memperlihatkan wajah polosnya tanpa tampilan make up sama sekali. Tapi Hana juga tidak mau melewatkan panggilan dari Tian.
Sempat sempatnya Hana mematut dirinya sebentar dari pantulan layar handphone. Kemudian di dering kelima, akhirnya Hana mengangkat panggilan tersebut.
Tapi Hana hanya mengarahkan kamera dari kening sampai mata saja.
Hana malu untuk mengarahkan semua wajahnya apalagi kalau Tian melihat piyama yang sedang dipakainya. Hari ini Hana memakai piyama tanpa lengan motif sapi. Sangat kekanak-kanakan. Sekali lagi Hana merutuki kebodohannya.
^^^Panggilan video.^^^
^^^"Malam, Hana." sapa Tian duluan.^^^
__ADS_1
^^^"Malam juga..." Hana menjawab dengan malu.^^^
^^^"Hehe. Kamu sekarang dimana? Ayah dan Ibu sudah tidur? Kalau belum aku ingin menyapa juga. Maaf ya tadi tidak bisa terlalu lama."^^^
^^^"Ah, Ayah dan Ibu sudah di kamar. Mungkin sudah tidur. Aku juga sudah di kamar. Gapapa kok tuan. Kami mengerti."^^^
^^^"Ini yang dari tadi menggangguku. Jangan panggil aku tuan lagi, ya? Aku tidak suka panggilan itu."^^^
^^^"Lalu...aku harus panggil apa?"^^^
^^^"Sayang? Hahaha. Kalau masih malu, panggilan apapun yang membuatmu nyaman. Tian saja juga boleh. Asal jangan terlalu formal. Okay?"^^^
Tian tertawa karena terlihat dari layar kalau Hana terkejut saat Tian mengatakan kata 'sayang'.
Dia memang manis. Kalau saja lagi dekat denganku kucium lagi nanti. Hehe.
^^^"Apa... tidak apa-apa kalau aku panggil kak Tian?"^^^
Meskipun layar tidak menampilkan seluruh wajah Hana, tapi Hana tetap merasa malu saat mengatakan hal tadi. Sehingga refleks Hana menjauhkan kamera dari wajahnya.
^^^"Hahaha. Bagaimana ya? Perlihatkan dulu wajah cantikmu. Baru ku pertimbangan panggilan tadi."^^^
Tian semakin senang menggoda wanitanya.
Mengenai panggilan, sebenarnya Tian lebih suka dipanggil sayang. Tapi untuk sekarang Tian akan mengikuti kenyamanan Hana dulu. Masih ada waktu untuk membuat Hana memanggil dirinya sayang dengan sendirinya, kan? Begitu rencananya nanti.
^^^"Ja-jangan! Seperti ini saja ya? Aku...sedang tidak memakai make up..." ucap Hana lirih.^^^
^^^"Perlihatkan wajahmu atau kamu harus memanggilku dengan panggilan sayang. Bahkan saat bertemu di sekolah. Pilih mana?"^^^
Tunggu, kenapa dua pilihannya begitu sih? Hana bingung diberikan pilihan yang dilihat darimanapun hanya menguntungkan dari sisi sang artis tampan ini saja.
^^^"Baiklah! Tapi tunggu sebentar. Kasih aku lima menit ya?"^^^
^^^pinta Hana.^^^
^^^"Yah, sayangnya kita tidak punya banyak waktu. Sebentar lagi aku harus siap siap live chat connect2gather. Aku hanya ingin berbicara sebentar saja sambil memandang wajah cantikmu. Boleh ya?"^^^
Satu persatu rayuan maut sang artis yang dipelajarinya saat mendalami peran Casanova akhirnya lolos dari bibir Tian. Laki-laki itu berteriak senang dalam hati saat Hana akhirnya memperlihatkan seluruh wajahnya yang malu malu itu dalam layar handphonenya.
^^^"Tuh kan cantik. Ini bener kamu engga pakai makeup? Kok bisa tetap cantik sih."^^^
Ya ampun. Tolong hentikan. Ini terasa fitnah di telingaku, Hana sampai tidak bisa berkata-kata lagi mendengar semua rayuan gombal Tian. Hana salah tingkah, sambil mengipasi wajahnya yang memerah.
^^^"Ah, apa boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Tian.^^^
Inilah salah satu pertanyaan yang membuat Tian ingin menelepon sekarang. Alasan lainnya, pastinya sudah bisa ditebak kan. Tian hanya ingin saja melihat wajah cantik Hana lagi, padahal baru beberapa jam berpisah namun sudah rindu lagi. Begitu alibinya.
^^^"Iya boleh...tanya apa. Ehm. Kak Tian?" tanya Hana.^^^
Hahaha. Not bad lah. Aku cukup menyukai panggilan itu. Apa jadi terdengar merdu karena Hana yang mengatakannya ya.
Tian memperlihatkan cengiran lebarnya. Setelah itu mulai melanjutkan pertanyaan yang sempat dijeda tadi.
__ADS_1
^^^"Apa Ayah dan Ibumu bicara sesuatu tentangku?" akhirnya pertanyaan ini diutarakan juga oleh Tian.^^^
Tian sangat penasaran tentang hal ini. Kesan pertama itu sangat penting baginya untuk melihat apakah keluarga Hana bisa menerimanya atau tidak.
Oleh karena itu, saat menyapa dan mengobrol dengan orangtua Hana sebisa mungkin Tian menjaga image nya. Berusaha keras agar terlihat sopan dan pantas untuk Hana.
Meskipun dari luar Tian tetap terlihat percaya diri, tapi jauh dalam hatinya ada ketakutan orangtua Hana akan memandangnya negatif perihal statusnya sebagai duda satu anak.
Tian pernah menonton adegan sesama artis dalam drama atau film, biasanya rintangannya saat bertemu pertama kali dengan calon mertua adalah restu yang terhalang oleh status. Bisa status sosial maupun status perkawinan seperti dirinya.
'Apakah pantas seorang duda mendekati wanita yang bahkan belum pernah menikah dengan jarak umur yang lumayan jauh?'
Kira-kira seperti itu skrip yang diucapkan orangtua pemeran wanita kepada pemeran laki-laki dalam drama yang dimaksud.
Di dalam kepala artis tampan ini sepertinya memang telalu banyak adegan melodrama.
Hana tersenyum. Wanita ini terharu karena ternyata Tian juga terlihat berusaha agar bisa dekat dengan kedua orangtuanya. Jadi secepat mungkin, Hana ingin menjawab untuk menghapus kekhawatiran sang laki-laki yang disukainya ini.
^^^"Ayah Ibu tidak bicara banyak sih, tapi Ayah tadi bilang, kapan kapan mau mengajak kak Tian dan juga Cherry makan bersama di rumah kami. Kalau tidak sibuk tentunya..."^^^
Raut wajah sang artis berubah. Dari wajah yang menampilkan eskpresi sedikit khawatir jadi sedikit memerah karena terlalu senang.
^^^"Yang benar Hana? I mean. I would love to! Ke depannya aku akan banyak jadwal kosong. Nanti ku check dulu ya lalu kamu tolong kasih tahu Ayah dan Ibu. Thank you baby."^^^
Hana meleleh dengan panggilan baby yang sengaja diucapkan Tian dengan manis. Mukanya terlihat senang bercampur malu membuatnya semakin menggemaskan dimata Tian.
Tian tahu Hana pasti mendengarnya panggilan darinya dengan jelas tapi malu untuk merespon nya. Niat menggoda wanitanya muncul lagi.
^^^"Ah, seperti kamu punya panggilan sayang untukku. I will call you 'baby' from now on. Boleh kan, baby?"^^^
Lagi-lagi dengan sengaja Tian melakukan penekanan pada kata baby yang diucapkannya.
^^^"Bo-boleh saja. Tapi tolong hanya saat kita berdua ya..." pinta Hana masih dengan suara lirih.^^^
Kenapa juga minta persetujuanku, padahal sebelumnya langsung menentukan sendiri. Pasti sengaja ya. Aaaa. Bagaimana ini?! Aku juga menyukai panggilan itu.
Tangan Hana menggenggam kuat handphone nya karena merasa malu.
.
.
.
π»: Terima kasih untuk like dan komentarnya ya mina-san. Kalau dapat dukungan like yang banyak aku juga jadi semangat double up nih.
Itsumo arigatou gozaimashita.
.
.
Bersambung
__ADS_1