Terpikat Duda Artis

Terpikat Duda Artis
Jangan Peluk


__ADS_3

Pelajaran mengajar di kelas berakhir.


Murid-murid juga sudah pulang semua, seperti biasa guru-guru akan pulang sesudah selesai makan siang dan merapihkan kelas.


"Sudah selesai semua kan. Ayo kita pulang bareng." ajak Miss Fira.


"Ayok." jawab Miss Mia dan Hana bersamaan.


Ketiganya berjalan ke arah ruangan kantor dan ruang kepala sekolah untuk berpamitan, namun berpapasan dengan Riga.


"Miss Hana, bisa ikut denganku untuk bicara sebentar?" tanya Riga.


"Hanya sebentar." ucapnya lagi.


"Baiklah. Miss Mia dan Miss Fira duluan saja. Sampai jumpa besok." Hana akhirnya menerima ajakan Riga untuk bicara.


Biar bagaimanapun dia tidak bisa menolak tanpa alasan kan.


"Kau yakin?"


Miss Fira berbisik di telinga Hana, Hana hanya balas tersenyum dan mengangguk untuk jawabannya. Setelah itu, kedua guru tersebut pun pamit. Pemandangan itu juga dilihat oleh beberapa guru dan staff sekolah lain. Termasuk kelompok pegawai dalam.


"Semoga saja rencanaku berhasil. Ku harap Mister Riga terpengaruh oleh kata-kataku kemarin. Lalu hubungan mereka makin merenggang." ucap Miss Laura sambil tersenyum.


Hana mengikuti Riga sampai ke hall olahraga. Keduanya masih betah diam, Hana menunggu Riga untuk berkata duluan.


"Apa kau mendengarnya?"


Ah. Sudah kuduga. Riga akan membicarakan gosip itu.


"Sudah, Ga. Tapi itukan cuma gosip tidak benar. Tidak perlu kita khawatirkan, nanti juga akan mereda sendiri."


"Sungguh? Kau menyangka itu gosip tidak benar? Bukannya..kau bahkan mengkonfirmasi gosip itu ke teman temanmu kan."


"Eh? Doyu koto?"


(🌻: Eh? Gimana maksudnya?")


"Mou, uso shinai de. Wakatta kara sa."


(🌻: sudahlah, jangan berkilah lagi. Karena aku sudah mengetahuinya.)


Hana tak mampu menjawabnya. Membiarkan Riga mengatakan semua yang ingin dikatakannya.

__ADS_1


"Kau menjauhiku setelah bersamanya, Hana. Aku menjauhimu karena aku harus menahan perasaaku. Dan, kau tahu perasaanku, namun mengabaikan ku. Kenapa Hana?" nadanya sedikit meninggi, menandakan laki-laki itu sedikit terbawa perasaan.


"Gomen, Riga." jawab Hana.


(🌻:Maaf, Riga.)


Hana hanya merasa perlu meminta maaf dahulu. Karena ada benarnya kalau dirinya pun menjauhi Riga. Meski sepertinya ada kesalahpahaman diantara mereka.


"Gomen tte. hontouni wakatteru yo ne. watashi no kimochi. anata ni."


(🌻: Permintaan maafmu itu, artinya kamu benar mengetahuinya kan. Tentang perasaanku, kepadamu.)


"Iyak, doyu hanashi nowa wakattenai yo. Masaka? Uso dayone. Uwasa dake dayone."


(🌻: Engga, aku engga ngerti kamu ngomong apa. Masa sih? Kamu bohong kan. Itu kan cuma gosip kan )


"Suki. Daisuki. Kataomoi to wakatteru kedo, zutto anata ni suki dayo." langsung memeluk Hana.


(🌻: Suka. Aku sangat menyukaimu. Meskipun aku tahu cintaku ini bertepuk sebelah tangan, aku selalu menyukaimu.)


Hana sangat terkejut dengan pernyataan cinta dari teman dekatnya itu. Selama ini, jika Hale meledeknya saat bilang Riga mungkin menyukai dirinya, Hana selalu percaya itu hanya candaan belaka. Lalu bagaimana Hana bisa menjawabnya? Hana sudah memiliki kekasih hati, terlebih Riga tidak akan pernah lebih dari teman dekat. Hana tidak pernah sedikitpun membayangkan kemungkinan dirinya menjalin hubungan kekasih dengan Riga. Hana terdiam dalam pelukan Riga.


Eh?


"Kak Tian?!"


"Jangan memeluk pacar orang sembarangan Riga-san." kesal. Masih dengan memeluk Hana dengan posesif.


Riga tak kalah kesal. Tangannya dikepal dengan kuat.


"Ada urusan apa artis yang super sibuk datang jam segini. Setahu saya anak anda sudah dijemput beberapa jam lalu. Saya masih belum selesai bicara dengan Hana."


"Saya bukan menjemput putriku. Saya kesini menjemput calon istriku. Ya kan baby?"


Aaaaa. Hentikan kalian berdua. Aku makin bingung harus jawab apa.


"Hah, calon istri apanya. Meskipun anda adalah pacarnya, tapi jangan sembarang bicara yang membuat Hana tidak nyaman." Riga sangat tidak suka mendengar dua kata itu.


"Siapa yang sembarangan. Baby, tunjukan cincin lamaran kita! Loh? Kenapa kau tidak memakainya, baby?" Tian kecewa saat melihat tangannya Hana kosong tanpa cincin yang diberikannya.


"Maaf selama mengajar aku tidak memakainya kak." berbisik menjelaskan kepada Tian.


"It's okay. Tanpa cincin pun kau tetap calon istriku. Ingat itu, Riga-san. Stay away from my future wife. You got it?" Tian memberikan peringatan yang kesekian kalinya ke rivalnya itu.

__ADS_1


Riga tak bisa membalasnya. Saking marah dan tidak berdayanya Riga sampai meremas tangannya sendiri.


"Let's go, baby." Tian menarik tangan Hana untuk keluar hall olahraga.


Sebenarnya Hana sangat sedih melihat Riga seperti terpuruk. Setidaknya Hana merasa harus menjawab perasaan Riga dengan benar, Riga adalah orang yang baik dan berarti juga untuk Hana. Namun Hana tidak bisa memberikan jawaban yang diinginkan Riga, mungkin itu alasannya Hana masih diam.


Saat melewati pintu hall olahraga, Hana melihat beberapa orang berkumpul disana. Guru-guru dan staff sekolah lain, hampir semua orang lengkap ada disini.


Apa. Dari kapan semua orang melihat kami? Ya ampun, rahasia kami pun jadinya sudah terbongkar ya. Aaaa. Bagaimana aku besok ke sekolah kalau begini.


Hana melihat wajah syok dari semua orang. Tak terkecuali dua rekan yang lumayan dekat dengannya, Miss Fira dan Miss Mia.


"Miss Hana..."


Tidak sempat menjawab karena Tian terus membawanya ke arah keluar sekolah, Hana hanya bisa menjawab dengan gerakan mulutnya, aku akan ceritakan nanti.


Sepersekian detik setelah itu, para bodyguard langsung bergerak cepat mereka berpencar ke ruang keamanan dan ada bodyguard yang badannya paling besar berdiri di depan semua orang yang berkumpul di depan hall olahraga.


Aura yang dikeluarkan bodyguard itu sangat mengerikan, jadi mereka saling merapat untuk melindungi diri mereka bersama.


"Saya ingin menyampaikan pesan dari bos kami. Manager Raka dan tuan Tian. Simpan semua ingatan yang kalian lihat barusan kalian lihat. Kalau sampai hal ini bocor ke publik, kalian yang pertama akan diminta bertanggung jawab. Kalian pasti paham maksud kami."


Merinding.


"A-anda mengancam kami?"


Bodyguard yang badannya besar itu hanya diam, matanya yang memperhatikan semua orang sangat tajam, mengintimidasi semua yang memandangnya. Lalu masih tanpa berkata apapun lagi, bodyguard itu, diikuti beberapa bodyguard lainnya berjalan menjauh.


Semua masih ditempatnya masing-masing, ada yang berbisik-bisik, ada yang hanya memandang Riga dengan tatapan iba dan heran. Mister Riga, tidak pernah terlihat menyedihkan seperti hari ini, begitu kata mereka.


Dari mulai Hana dibawa keluar ruangan hall olahraga ini, sampai bayangan dari wanita cantik itu hilang, Riga terus memandangi sosok wanita yang diam-diam dicintainya itu. Berharap setidaknya Hana berbalik untuk melihatnya lagi.


.


.


.


Itsumo Arigatou gozaimasu.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2