Terpikat Duda Artis

Terpikat Duda Artis
Jangan Bilang Miss Hana ya..


__ADS_3

Siang hari, kegiatan sekolah sudah usai.


Di kantor dekat ruang kepala sekolah semua guru dan staff sekolah lain sudah pulang, kecuali Miss Laura. Setelah makan siang biasanya guru-guru mulai berpamitan untuk pulang.


Sebagai satu-satunya staff HR, Miss Laura memang biasa pulang terakhir hampir bersamaan dengan Riga dan Kepala Sekolah David. Kali ini, selain masalah kerjaan Miss Laura sengaja ingin tinggal lebih lama karena punya hal yang ingin di sampaikan kepada Riga.


"Mister Riga, boleh saya minta waktu bicara?"


"Sure. Bicaralah." jawab Riga.


"Ehm, kalau boleh saya ingin bicara di luar." ucap Miss Laura melirik kepala sekolah David.


Riga ikut melirik ke arah yang sama lalu mengerti kalau maksudnya Miss Laura mungkin tidak bisa bicara disini karena ada ayahnya, sang kepala sekolah. Akhirnya mereka berdua keluar. Berhenti di lorong sekolah.


"Sebelumnya saya minta maaf, kalau mungkin yang ingin saya bicarakan adalah hal yang privasi dan mungkin bukan ranah saya bicara. Tapi karena ada gosip yang beredar di staff sekolah dan guru-guru, sehingga saya memberanikan diri menyampaikan ke Mister Riga."


"Bicaralah." singkat Riga yang memang tidak suka bertele-tele kalau bicara.


"Apakah gosip antara Miss Hana dan Mister Riga itu benar?" Miss Laura bertanya memancing.


Melihat Riga mengerutkan dahi Miss Laura tahu kalau dia berhasil memancing Riga dalam percakapan ini. Jadi dia melanjutkan lagi.


"Begini, mister. Beberapa hari belakangan ini ada berita yang terdengar di sekolah. Hubungan antara Mister Riga dan Miss Hana, yang dulu sangat dekat, sekarang menjadi canggung dan menjauh."


Riga tidak dapat menyembunyikan kesedihan di wajahnya.


Jadi terlihat ya. Aku hanya belum bisa menerima hubungan Hana dan Tian. Belum bisa biasa saja, sementara memikirkannya saja sesakit itu. Tapi kalau begini, tidak bagus dilihat yang lain. Aku harus cepat mengatasinya. Gumam Riga dalam hati.


"Ah itu tidak benar kok Miss Laura. Kami berdua baik baik saja. Kami hanya sedang sibuk. Sekolah baru dimulai dengan beberapa peraturan baru. Saya dan guru-guru lain, termasuk Miss Hana, jadi sibuk dengan beberapa aktivitas dan persiapan baru kan. Bukan menjauh tapi tidak ada waktu bicara saja." kilah Riga sambil tersenyum.


"Eh, begitu? Tapi kok aku dengar dari Miss Hana beda ya. Ah. Maaf kalau begitu! Abaikan saja perkataan saya Mister Riga. Saya pamit dulu ya." Miss Laura pun menunduk ijin pamit undur diri.


"Tunggu Miss! Apa yang dikatakan Miss Hana memang kepada Miss Laura? Apanya yang beda?" Riga terpancing.


Miss Laura yang sudah berbalik arah membelakangi Riga tersenyum menyeringai, sebelum kembali berhadapan dengan Riga.


"Hm, sebaiknya saya tidak mengatakannya. Jadi mohon lupakan saja ya Mister Riga. Saya mohon maaf."

__ADS_1


"Tolong katakan saja, Miss." Riga memaksa.


"Baiklah. Aku mendengar dari Miss Hana, kalau, kalau alasan hubungan kalian menjauh adalah Mister Riga patah hati dan cemburu karena Miss Hana sudah memiliki pacar. Ah. Tentu saja saya tidak mempercayainya. Makanya saya merasa harus bicarakan hal ini ke Mister Riga langsung."


Aku harus membuat Mister Riga kesal dan hubungan mereka makin menjauh. Hahaha. Mister Riga tidak tahu juga kan kalau aku sedikit memodifikasi yang ku dengar tadi siang. Eh? Kenapa raut wajahnya malah memelas begitu. Kenapa malah seperti kata-kataku itu dia benarkan.


"Jadi, Hana sebenarnya tahu perasaanku ya." Riga tanpa sadar berbicara lirih.


Apa!


Miss Laura tidak percaya apa yang didengarnya. Meskipun lirih, dia masih mendengar dengan baik ucapan kesedihan Riga.


"Jadi tentang Mister Riga yang menyatakan cinta dan patah hati itu benar?"


"Benar atau tidak, saya rasa tidak perlu menjelaskannya kepada Miss Laura, maupun ke staff dan guru lainnya. Ini adalah urusan pribadi saya dan Miss Hana." nadanya berubah dingin.


"Ah. Saya minta maaf." Miss Laura salah tingkah karena tiba-tiba Riga jadi bicara sedingin es.


"Satu lagi. Tolong sampaikan kepada semuanya. Kalau bekerja saja tanpa bergosip yang tidak tidak." Tetap dengan nada dingin, tidak seperti Riga yang biasanya.


"Ba-baik. Ehm, apakah Mister Riga akan bicara juga dengan Miss Hana? Kalau nanti bicara dengan Miss Hana, tolong jangan beritahu kalau anda mendengarnya dari saya. Saya tidak enak."


Riga langsung berbalik masuk ke kantor tanpa menoleh lagi, meninggalkan Miss Laura yang tersenyum menang.


...🌻🌻🌻...


Di tempat berbeda, dalam kota yang sama.


Tepatnya di sebuah kamar gelap tanpa sirkulasi udara yang baik apalagi cahaya lampu yang sengaja di redupkan. Tempat ini masih menjadi tempat sang fanatik mengurung diri.


Waktu sudah banyak berlalu dari saat dirinya mendengar konfirmasi tentang hubungan Tian dengan pacar non artisnya. Sampai sekarang fans fanatik itu masih berkutat dengan laptopnya mencari tahu indentitas sang pacar dari artis idolanya.


"Sial! Aku bahkan tidak rela menyebut wanita j*lang itu pacar Tian-ku. Kalau dia juga Tianager, kenapa bukan aku! Aku yang lebih mencintai Tian dibandingkan siapapun di dunia ini. Aaaaarrrrgh! Breng*sek!" teriak kencang.


Setelah itu terdengar barang barang seperti dihancurkan, dibanting lempar ke berbagai arah. Sepertinya orang yang ada di dalam kamar itu sudah sangat marah sampai kehilangan kewarasannya.


Suara itu menyeramkan sekaligus memilukan untuk seorang wanita paruh baya yang selalu setia mendengarnya dibalik pintu.

__ADS_1


Wanita paruh baya ini selalu datang untuk memberikan makanan, mengecek keadaannya putrinya, berusaha mengajaknya bicara.


Wanita paruh baya itu adalah ibu dari fans fanatik yang sekarang sangat tidak terkendali emosinya sejak berita dating sang artis pujaan.


Sang ibu, terus menangis dan berdoa semoga Tuhan mengembalikan kondisi anak perempuan pertamanya menjadi lebih baik lagi. Dirinya tidak sanggup kalau harus menjalani hidup yang sulit seperti ini. Apalagi suaminya juga sudah tiada.


Hanya anak perempuan kedua saja yang membuatnya kuat dan saling menguatkan.


"Ibu, jangan terus menangis seperti ini. Nanti ibu akan jatuh sakit karena banyak pikiran." ucap anak perempuan kedua itu.


"Tapi, kakakmu nak. Kakakmu akan sampai kapan begini. Ibu sedih melihatnya nak. Ibu sedih sekali. Ibu bukan ibu yang baik, tidak bisa menjaga kalian. Ibu harus bagaimana." suara wanita paruh baya dengan Isak tangis yang tertahan, sangat memilukan.


"Ibu... Jangan bicara begitu. Ibu adalah ibu terbaik di dunia. Kakak...dia mungkin masih belum menerima keadaan saja, tapi ini diluar kuasa kita Bu. Ibu jangan begini ya."


"Kalau saja, masih ada Ayah. Mungkin Ayah bisa menasehati Nia, kakakmu. Kakakmu pasti akan mendengarkan Ayah. Ya kan Mia?"


Miss Mia menghela napasnya. Sebenarnya dirinya sangat lelah dengan kondisi seperti ini.


Kondisi dimana Ibunya selalu menyalahkan diri sendiri atas sikap emosional kakaknya, yang Miss Mia pikir kakaknya pasti sudah jadi gila. Apalagi Ibu masih mengharapkan sosok Ayahnya hadir untuk ikut membantunya mengurus dua putri yang sudah besar besar ini. Itu yang paling membingungkan karena Ayah sudah meninggal, tidak mungkin kembali. Mau tidak mau peran Mia menjadi double sekarang, karena kakak perempuan pertamanya bahkan tidak bisa diandalkan.


"Baiklah. Ibu tenang ya. Mia akan coba bicara sama kak Mia. Tapi ibu makan dulu ya, ibu terus disini sampai lupa makan dari pagi kan."


Miss Mia yakin Ibunya belum makan karena saat pulang dari sekolah tadi dia melihat kondisi dapur dan ruang tamu masih belum dibersihkan, masih sama seperti saat dirinya pamit berangkat ke sekolah tadi lagi.


"Tolong ya, Mia sayang. Bujuk kakakmu keluar dari kamar. Hibur kakakmu ya sayang. Kasian dia." akhirnya tangis itu pecah juga.


Miss Mia memeluk Ibunya, membiarkan wanita paruh baya itu menangis berbagi beban kehidupan yang dirasakan.


.


.


.


Itsumo Arigatou gozaimasu.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2