
Masih di hari yang sama, menunggu waktu makan siang. Di kamar tidur Cherry di lantai dua.
Setelah Tian keluar dari kamar ini, Hana sudah bisa mengatur kembali perasaannya sehingga bisa kembali berfokus ke calon muridnya, Cherry.
Hana dan Cherry duduk berdampingan, Hana menghapus sisa makanan yang ada di pipi tembem Cherry dan tersenyum sebelum berbicara kepada putri sang artis.
^^^"Cherry, mulai hari ini kita sudah berteman, kan? Ayo buat janji pertemanan dengan Miss."^^^
^^^-Hana^^^
Hana mengatakannya dengan riang, Cherry pun langsung mengangguk cepat. Cherry dan Hana saling berbalas senyum yang manis.
Tangan Hana membuat gerakan yang dikenal dengan janji jari kelingking. Cherry pun tanpa menunggu lama ikut menautkan jari mungil kelingkingnya dengan jari Hana. Cherry terlihat tersenyum lebar sekali.
Selama ini, Cherry banyak berinteraksi dengan keluarga terdekat, pengasuh, dan beberapa pelayan saja. Bahkan Cherry tidak pernah berbicara ke para bodyguard. Mungkin karena badan mereka yang besar, Cherry merasa takut untuk mengajak para bodyguard berbicara. Dan memang para bodyguard itu juga jarang berbicara dengan siapapun kecuali sedang diberi perintah kerja.
Beberapa kali Cherry bertemu anak seusianya di ruang tunggu anak saat sesi terapi dengan dokter Nuel, tapi belum ada yang bisa berinteraksi dengannya apalagi jadi temannya. Cherry terlalu malu untuk mendekati duluan, begitupun anak anak lain yang sepertinya juga sama malunya dengan Cherry.
Oleh karena itu, pertemuan pertamanya dengan Miss Hana, lalu diajak berteman dengan calon gurunya ini adalah hal yang sangat Cherry tunggu tunggu.
Cherry masih betah berlama lama menautkan jari mungilnya, Hana juga tidak keberatan. Hana malah jadi ikut bermain, sedikit mengayunkan tangannya pelan ke kanan dan kiri saat jari mereka masih bertautan. Saat akhirnya Cherry ingin melepaskan tautan jari mereka, Hana bersorak senang menghidupkan suasana lagi.
^^^"Yeeey, sudah janji ya." -Hana^^^
Alhasil, suasana di kamar itu menjadi sangat hangat dan riang dengan tawa dan interaksi dari dua orang yang berbeda umur itu.
Cherry sangat senang Miss Hana akan jadi teman pertamanya. Cherry akhirnya mencoba berbicara semampunya menjawab Hana.
^^^"Miss, Eri..aja.. no Cher.. Ry."^^^
^^^(Baca: Miss, panggil Eri aja, jangan Cherry. )^^^
Meski terlihat agak kesusahan Cherry berusaha mengatakan bahwa Hana boleh memanggilnya dengan nama Eri, nama yang biasa orang terdekatnya memanggilnya.
Saat berbicara kalimat agak panjang ini, terlihat sekali ketakutan di wajah Cherry, apa Miss Hana akan memahami kata-kata ku ya.
Hana tersenyum pertanda dia mengerti. Untuk selanjutnya pun, Hana berencana selalu menyampaikan kata-kata penyemangat yang mampu membuat anak manis di depannya ini percaya. Bahwa Hana benar-benar akan berusaha mengerti dan menjadi teman untuknya, jadi Cherry tidak perlu khawatir.
Hana ingin segera menghapus ketakutan di wajah manis gadis kecil ini.
^^^"Kamu mau Miss panggil Eri saja ya? Oke, siap anak manis." -Hana^^^
Cherry mengangguk senang.
^^^"Ma..aciih..miss."^^^
^^^(baca: terimakasih ya Miss).^^^
Setelah itu, Hana teringat barang yang sengaja dia bawa dari rumah.
Hana sudah menyiapkan alat dan kegiatan yang bisa Hana berikan untuk Cherry hari ini. Persiapan yang singkat, mengingat dia juga baru dihubungi mendadak.
Hana berencana melakukan kegiatan menggambar bersama sambil mendekatkan diri dengan Cherry.
Kemampuan menggambarnya selalu dia gunakan untuk menarik perhatian murid-murid. Jadi, Hana mencoba cara yang sama dengan Cherry.
^^^"Eri, suka menggambar? Miss Hana bisa gambar loh. Hehe. Eri suka apa?"^^^
^^^-Hana^^^
Saat berinteraksi dengan Cherry, Hana selalu menggerakkan tangannya untuk double komunikasi bicara dengan mulutnya dan bahasa isyarat. Tujuannya memancing Cherry melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Namun sepertinya masih terlalu awal, Cherry masih terlihat nyaman berbahasa isyarat saja kalau kalimat yang akan dikeluarkannya panjang.
Hana tidak mempermasalahkannya, karena seharusnya ini akan jadi proses yang dilakukan secara rutin. Hana akan sabar menunggu hasilnya nanti.
Masih dalam bahasa isyarat Cherry menjawab.
^^^"Eri suka stroberi, Miss! Ah, Eri juga suka kelinci, susu. Dan, putri Rapunzel."^^^
Ketika mengatakan itu diakhir gerakannya, Cherry menyentuh rambut Hana lagi, seolah artinya gadis kecil itu suka putri Rapunzel yang rambutnya panjang seperti Miss Hana. Kali ini Hana senang saja disentuh rambutnya, malah Hana membalas mengusap puncuk kepala Cherry dengan lembut.
^^^"Ah, benar. Eri suka putri Rapunzel yang rambutnya panjang kaya gini ya. Oke kita gambar putri Rapunzel yuk. Mau sekarang?"-Hana^^^
Kebiasaan yang sudah Hana pelajari saat jadi guru kindergarten adalah seringnya penggunaan kalimat tanya diakhir kalimat. Seolah seperti mengajak anak muridnya melakukan hal yang diminta bersama-sama. Alih-alih menggunakan kalimat perintah, kalimat tanya jauh lebih baik digunakan untuk anak anak usia sekolah.
Cara ini efektif agar murid murid yang mendengar menjadi tertarik untuk berinteraksi dan terlibat secara aktif dalam kegiatan yang disebutkan.
Terdengar jawaban dari Cherry.
^^^"Mau!"-Cherry^^^
Ini kali kedua Cherry berbicara dengan lantang. Sepertinya kalau suasana hatinya senang, Cherry sendiri tidak sadar kalau dia tidak lagi takut untuk berbicara.
Akhirnya, mereka berduapun sudah terlarut dalam momen kegiatan menggambar, juga dilanjutkan kegiatan mewarnai hasil gambar itu. Setelah menggambar dan mewarnai putri Rapunzel, mereka berganti gambar lainnya. Hana banyak membuat gambar sesuai dengan permintaan Cherry.
Kegiatan ini terus berlangsung sampai waktu makan siang akhirnya tiba. Sus Rita yang datang untuk memanggil Hana dan Cherry untuk ikut bergabung ke meja makan dengan keluarga lainnya di lantai bawah.
Saat di depan pintu, Sus Rita takjub dengan suasana yang berhasil diciptakan oleh Hana.
Cherry terlihat sangat senang dan berusaha banyak bicara selama kegiatan menggambar itu. Hana juga dengan sabar mendengar satu satu kalimat Cherry yang masih terdengar tidak terlalu jelas karena intonasi nya yang lemah dan terbata-bata.
Tidak terlihat raut muka yang kebingungan, Hana malah terus tersenyum saat menjalin momen interaksi yang hangat itu.
Sus Rita terharu, sangat berharap metode ini bisa membawa hal baik buat nona kecilnya.
Beban tanggung jawab yang besar adalah alasan awalnya Sus Rita pernah berniat ingin berhenti jadi pengasuh Cherry. Di awal kontrak pertamanya, tertulis bahwa dia diminta bekerja hanya selama setahun, setelah itu akan direview untuk kontrak selanjutnya.
Selama setahun pertama bekerja itulah Sus Rita banyak melihat masa-masa sulit Cherry. Cherry banyak memperlihatkan gejala tantrum dan mogok makan. Membuat semua orang kewalahan. Di saat itu, ada kalanya Sus Rita menyalahkan dirinya sendiri karena merasa belum bekerja maksimal. Sehingga terbersit untuk tidak melanjutkan kontraknya.
Namun, selama bekerja untuk keluarga besar artis ini, Sus Rita juga merasa perlakuan keluarga sangat baik padanya meskipun dirinya ini hanya seorang pengasuh putri kecil di keluarga ini.
Sehingga Sus Rita memutuskan tetap bertahan sampai sekarang.
Bahkan dia sangat menyayangi nona kecilnya ini, berharap suatu saat Cherry bisa sembuh dan hidup bahagia serta mempunyai banyak teman bermain yang berusia sama dengannya.
...π»π»π»...
Cherry dan Hana turun ke lantai bawah menuju meja makan.
Orang orang yang tadi berbincang di taman belakang itu memang sudah berkumpul di area meja makan, melihat ke arah dua sosok yang turun dari tangga.
Hana bergandengan tangan dengan Cherry mulai dari kamar tidur Cherry sampai tiba di meja makan. Sesekali tertangkap oleh beberapa pasang mata itu interaksi dan tawa menghiasi guru dan murid yang baru bergabung ke meja makan itu.
Cherry segera duduk di samping Tian, ayahnya. Hana juga duduk di posisi yang masih kosong yang ada di samping kepala sekolah David. Posisi Hana berhadapan langsung dengan Tian. Dalam jarak pandangan ini, Tian bisa leluasa melihat Hana. Namun, Hana lebih memilih banyak memandang ke arah Cherry.
Acara makan siang bersama ini berlangsung dengan nuansa kekeluargaan. Hanya sedikit pembicaraan berat karena memang diskusinya sudah dilakukan sebelum makan siang.
Setelah makan siang, Kepala Sekolah dan Hana pamit ijin pulang. Tian mengurungkan niatnya untuk menawarkan mengantar Hana. Karena dia tidak menemukan alasan yang tepat, Tian tidak ingin jadi agresif juga. Masih ada waktu lain, pikirnya
Keluarga besar artis ini mengantarkan para tamunya sampai ke halaman depan sebelum akhirnya benar-benar berpisah dengan Hana dan Kepala sekolah David.
...π»π»π»...
__ADS_1
Tak berselang lama, manager Raka juga pamit pulang. Manager Raka ingin mengisi waktu libur setengah harinya ini dengan tidur, mengingat kemarin dia juga jadi ikut lembur akibat permintaan dadakan sang artis.
Tinggallah Tian, Ayah dan ibunya saja di ruang keluarga. Bella sudah masuk ke kamarnya karena katanya mau meeting online dengan content creator lainnya untuk project besar u-live. Cherry juga sudah naik ke kamar tidurnya ditemani oleh Sus Rita.
Orangtua dan anak yang akhir-akhir ini jarang bertemu terlibat dalam pembicaraan yang ringan tapi sedikit serius. Tian dan Dave berbincang sambil menikmati kopi mereka.
"Tian, ayah rasa keputusanmu tepat untuk menyekolahkan Cherry di sekolah David. Ayah setuju dan mendukung hal ini." -Dave
Ibunya, Casandra tidak ikut berkomentar, hanya duduk saja disamping suaminya. Terlihat tangan Dave menggenggam tangan istrinya itu. Dave dan istrinya selalu mesra meski sudah dalam usia lanjut seperti inipun. Cinta mereka semakin kuat semakin bertambahnya umur.
"Terima kasih ayah. Kebetulan aku juga ingin meminta bantuan ayah berkaitan hal ini." -Tian
Dave menjadi waspada, anak laki-lakinya ini kalau sudah minta bantuan biasanya hal hal yang sulit kadangkala bikin kepalanya pusing duluan. Dave tidak merasa ada kejadian besar yang dihadapi anaknya sekarang jadi seharusnya hal yang diminta itu bukanlah masalah besar untuk mengabulkannya. Tapi, sejujurnya dia tetap takut mendengar isi permintaan anaknya nanti.
"Bantuan apa?" -Dave
"Aku ingin mengambil cutiku sebagai artis setelah dari masa promosi drama terakhirku." -Tian
Tian berbicara tenang sambil meminum kopinya. Ayahnya terlihat menunggu maksud dari pembahasan ini, tapi karena Tian tidak melanjutkan apa apa jadi gilirannya yang bertanya lagi.
"Boleh saja. Kira-kira sampai kapan?" -Dave
"Tidak tahu. Mungkin setahun? Mungkin lebih lama, aku ingin fokus mengurus sekolah Eri." -Tian
Gerakan tangan Dave yang ingin mengambil cangkir kopinya jadi berhenti. Apalagi yang dia rencanakan kali ini, pikir ayahnya Tian. Dave melirik Istrinya, yang pasti juga berpikiran sama dengan dirinya.
"Sebenarnya kenapa Tian? Apa ada alasan khusus?" -Casandra
Kali ini ibunya yang berbicara. Casandra sepertinya tahu alasan sebenarnya putranya itu, tapi apa harus sampai cuti juga? Pasti ada yang putranya ini rencanakan.
"Ada. Ya alasannya aku ingin melihat perkembangan Eri saat sekolah." -Tian
Tian menjawab dengan nada meyakinkan. Tapi orangtuanya pasti mengenal anaknya, apalagi anaknya seorang artis yang jago akting. Mata kedua orangtua Tian menelisik jauh, mencoba menerka dari mata sang artis itu. Melihat pandangan mata curiga dari orangtuanya, Tian pun menutupinya dengan tawa.
"Haha. Ayolah. Apa aku terlihat aneh hanya karena meminta hari liburku sendiri?" -Tian
Dave menatap Istrinya kembali, kali ini seperti meminta persetujuan. Bos perusahaan agency memanglah dirinya sendiri Dave Alexander, tapi jika terkait dengan keluarga Dave selalu meminta pendapat istrinya. Kali ini pun sama, kalau istrinya setuju, dia pun setuju saja. Apalagi istrinya ini pasti lebih memahami karakter anak laki-lakinya itu.
Dari segi perusahaan, karena Tian juga selama tiga tahun terakhir ini sangat bekerja keras tanpa sekalipun mengambil libur jadi sewajarnya memang sang artis ini mendapatkan hak cutinya.
Dave akan serahkan penjadwalan kepada Manager Raka, untuk mengecek sisa kontrak kerja dan mengatur kebutuhan persiapan sebelum Tian mengambil libur yang sepertinya akan jadi libur panjang sang artis ini.
Casandra melihat putranya dan tersenyum, tangannya yang tidak lagi muda itu memanggil agar Tian mendekat kepadanya. Tian pun mendekati ibunya.
Casandra langsung memeluk putranya dan memberikan ijinnya. Kata Casandra, Sebagai orangtua dirinya sangat memahami perasaan Tian terhadap Cherry jadi mereka juga akan mendukung.
Tian berterima kasih dan mencium pipi ibunya. Tian senang karena itu artinya dia bisa leluasa mengatur waktunya untuk ikut terlibat sekolah Cherry sekaligus banyak bertemu dengan Hana.
Selanjutnya, aku pakai alasan apalagi ya, untuk bisa bertemu dengannya. -Tian
.
.
.
itsumo arigatou gozaimasu
.
.
__ADS_1
Bersambung