
Siang yang berbahagia itu, jadi hari pertama adanya pertemuan dua keluarga.
Semua sudah berkumpul mengelilingi meja makan yang ada di rumah Tian. Suasana makan siang yang akan dimulai itu terasa khidmat namun penuh kekeluargaan.
"Terima kasih sudah memenuhi undangan kami yang mendadak ini, Tuan Harry dan Nyonya Laksmi. Maaf, kalau ada beberapa kekurangan di hari ini ya. Putra saya ini selalu saja merencanakan sesuatu yang mendadak." lirik Dave kepada putranya itu.
Yang dilirik hanya tersenyum tanpa dosa.
Dih. Kemarin disuruh segera menikahi Hana. Sudah berhasil melamar malah dibilang mendadak. Ayah ini gimana sih. Kalau boleh mengeluarkan protesnya mungkin Tian akan berbicara seperti itu. Tapi Tian mana berani.
"Tidak apa-apa, Tuan Dave. Saya menghargai itikad baik dari nak Tian. Apalagi saat nak Tian datang ke rumah beberapa hari lalu. Padahal saya mengerti pasti jadwalnya sedang sibuk. Saya merasakan ketulusan dan keseriusan nya." puji tulus Ayah Hana, berpandangan dengan istrinya yang ikut mengangguk setuju.
Hana yang baru tahu mengenai hal ini, melirik ke arah Tian dan ayahnya bergantian. Kapan kak Tian datang ke rumah? Apa kak Tian ke rumah membicarakan hari ini? Kenapa hanya aku yang tidak tahu sii.
Bagi Ayahnya Hana, sikap sopan dan cara Tian menemui dirinya sebagai sesama laki-laki patut diacungi jempol. Itulah hal pertama yang membuat Harry, seorang dosen killer, menerima Tian untuk menjadi calon menantunya.
Pertimbangan kedua adalah karena, Cherry.
Melihat Cherry, entah kenapa mengingatkan dirinya akan anak sulungnya, Hera. Kalau Hana menikah dengan Tian, Cherry akan menjadi cucu mereka juga. Membayangkan memiliki cucu sepintar dan selucu Cherry membuat laki-laki senior yang hampir menyentuh separuh abad itu merasa senang. Dia dan istrinya sudah membayangkan untuk bermain bersama cucu diusia lanjut mereka. Dan keinginan itu akan segera terwujud.
"Kakak bilang syuting ke luar kota." bisik Hana.
"Aku ingin berusaha meminta restu duluan ke Ayah dan Ibu, baby. Ah. Hale juga sudah memberikan restu. Bahkan dia mulai menyebutku kakak ipar. Hehe." balas Tian bangga.
Dua hari lalu Tian memberanikan dirinya untuk datang ke rumah Hana. Tian berniat menyampaikan niatnya pertama kali kepada orangtua Hana, baru setelah itu melamar Hana secara pribadi di hari ini. Untungnya maksud dan niat Tian disambut baik, walau dengan beberapa pertanyaan pertanyaan ala dosen dan mahasiswanya yang sedang melakukan ujian kelayakan. Tian lulus dan berhasil mendapatkan restu untuk menikahi gadis cantik, putri dari Harry Anggoro.
Kembali ke makan siang kedua keluarga. Makan siang ini banyak membahas tentang hubungan Tian dan Hana. Obrolan di sela makan siang ini berjalan semakin serius. Di saat semuanya terlihat menyelesaikan makannya, Dave mulai membicarakan topik yang ingin segera di diskusikan dari awal.
"Jadi bagaimana menurut tuan Harry kalau pernikahannya kita adakan segera? Saya bisa mempersiapkan sebulan lagi paling lama. Lebih cepat lebih baik kan?" tanya artis senior itu kepada calon besan.
"Saya sih inginnya ikut bagaimana dari nak Tian dan Hana saja. Karena mereka yang akan menjalankan kehidupan berumahtangga nantinya." jawab Harry memegang tangan Hana.
Seketika perasaan haru menyusup ke dalam relung dadanya laki-laki yang berprofesi dosen itu. Putri kecilku sudah akan menikah, begitulah perasaan yang dirasakan oleh Harry sekarang.
"Saya setuju. Saya ingin segera menikahi Hana. Tapi saya juga ingin mendengar pendapat Hana dahulu. Baby bagaimana denganmu?
Karena pertanyaan yang dilemparkan oleh Tian, kini semua mata memandang Hana. Menunggu jawaban dari wanita itu.
__ADS_1
"Hmm. Kalau sebulan lagi.. sepertinya terlalu cepat."
Tian kecewa. Para orangtua sedikit terkejut jawaban dari Hana, namun sepertinya mampu memahami yang dimaksudkan oleh Hana. Sehingga mereka tidak memberikan komentar apapun.
"Baby, apa kamu belum siap menikah denganku?" dari nada bicara saja Tian tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya.
"Bukan begitu kak. Hanya saja kita kan perlu mempersiapkan segala sesuatunya. Kalau hanya sebulan sepertinya waktu terlalu sedikit." terang Hana.
"Kalau hanya itu, sepertinya kamu tidak perlu khawatir. Ayahku bisa mengurusnya. Aww. Kenapa Ayah menendangku." Tian meringis sambil mengusap kakinya.
"Cih. Kau ini. Tadi bilangnya mau dengar pendapat Hana. Lalu kenapa malah bicara sebaliknya sekarang. Kalau ayah setuju. Persiapan sebulan mungkin bisa saja dilakukan, namun pasti tidak maksimal. Mari kita persiapkan dengan baik ya, Hana." ucap Dave menenangkan.
Hana mengangguk. Bersyukur sekali calon mertua nya adalah orang yang pengertian.
"Kalau begitu, kami bisa menikah berapa lama lagi?" terdengar agak frustasi.
Aku harus bersabar menahannya berapa lama lagi, Ya Tuhan.
"Tergantung Hana. Bagaimana Hana?" tanya Dave lagi.
Hana melirik Ayah nya meminta saran lewat matanya. Namun Ayahnya hanya tersenyum, jawaban akan dibebaskan sesuai perasaan Hana. Karena semua menunggu, Hana langsung menjawab.
Aku hanya tidak ingin kabar pernikahan ini akan mempengaruhi rating drama kakak nantinya. Juga komentar fans dan netizen lainnya. Kakak dan yang lainnya pasti sudah bekerja keras. Tapi aku tidak bisa mengatakan hal ini. Aaaa. Aku harus mengatakan alasan apa ya.
"Kalau begitu masih enam atau tujuh bulan lagi?? Baby, why it is taking so long? I just wanna marry you soon." Tian mencoba merubah pendapat kekasihnya itu.
Hana menjadi tidak enak dan merasa bersalah. Tapi dia lebih bingung lagi untuk menjelaskannya. Beruntungnya kata-kata Manager Raka bisa mewakili jawaban Hana.
"Ehem. Maaf sebelumnya kalau saya ijin ikut bicara dalam masalah keluarga. Tapi sepertinya maksud Hana adalah Hana juga ingin pernikahan dilangsungkan secepatnya namun setelah semua kegiatan promosi dan drama terbaru Tian selesai. Karena kalau bersamaan, mungkin atensi penonton akan terbagi dua." penjelasan dari Manager Raka.
"Benar begitu, Hana?" tanya Dave mewakili semuanya.
Hana mengangguk lemah. Tian melihat itu pun pasrah. Seharusnya dia merasa beruntung kan, Hana sangat mengerti akan pekerjaannya sebagai artis. Namun tetap saja, jauh dari hatinya Tian tidak masalah kalau saja Hana sedikit menuntutnya untuk cepat menikah. Namun keputusan Hana merupakan keputusan terbaik untuk sekarang. Jadi baik Tian dan semua yang hadir pun menyetujuinya.
"Baiklah. Berarti sudah diputuskan. Pernikahan akan dilangsungkan setelah semua tanggungjawab mu selesai. Dan, sesuai janji Ayah, saat itu pun kau akan mendapatkan cuti panjangmu. Nanti Ayah dan Ibu akan memberikan hadiah bulan madu ke tempat yang kalian sukai. Jadi berhentilah merajuk seperti Cherry. Ingat umurmu, Sebastian."
"Ayah. Hentikan. Siapa juga yang merujuk." protes Tian dirinya malu Ayah nya memperlakukan dirinya seperti itu di depan semua keluarga Hana, yang akan menjadi mertua dan iparnya.
__ADS_1
"Tapi aku pegang janji Ayah tentang hadiah honeymoonnya yaa. Hehehe."
Sontak tawa pun terdengar lagi melihat kelakuan sang artis. Hale masih tidak percaya image Tian yang selama ini terlihat di layar kaca sangatlah berbanding terbalik dengan yang ditemuinya sekarang.
"Iya. Tidak usah khawatir. Kalau begitu pernikahan yang paling cepat adalah pernikahan Bella ya Bu?" tanya Dave kepada istrinya, yang langsung di jawab senang dengan anggukan.
"Haish. Ayah, ini kan acaranya kak Tian. Tidak usah mencampurkan dengan aku." sergah Bella agar Ayahnya tidak berbicara lebih banyak lagi.
"Oh, iya. Kamu sih nakal, sampai bermalam bersama. Harus segera dinikahkan ya Yah." goda Tian.
"Ku bilang tidak terjadi apa apa kan. Kakak saja duluan. Aku nikah habis kak Tian juga tidak apa-apa. Ya Ayah, Bu?" Bella berusaha meyakinkan orangtuanya.
"Tidak bisa. Keluarga Nuel sudah setuju, kamu akan menikah dua Minggu lagi.
Jangankan Bella, semua orang yang ada di ruangan makan itu terkejut. Yang paling terkejut adalah Manager Raka.
Selagi Bella mencoba sekali lagi menawar waktu pernikahannya, Manager Raka bertanya kepada Tian.
"Hah. Tian, Nona Bella akan menikah? Dengan Nuel? Nuel mana?" tanya Manager Raka berusaha memfokuskan pikirannya yang mulai negatif.
Tian menatapnya dengan tatapan iba. Dia sangat tahu, hal ini akan melukai hati Managernya, tapi kenyataannya memang begitu adanya. Jadi Tian tidak mampu berusaha menutupi kebenaran.
"Sorry, bro. Iya. Bella akan menikah dengan dokter Nuel. Dokter Nuelnya Cherry."
Seketika dunia Manager Raka jadi buram. Manager Raka, juga tidak mendengarkan lagi pembahasan keluarga yang terjadi di hari ini.
Entah, Manager Raka belum pernah merasakan hal ini, tapi rasanya sulit sekali bernapas. Apa yang sebenarnya dirasakan Manager Raka?
.
.
.
Itsumo Arigatou gozaimasu.
.
__ADS_1
.
Bersambung