Terpikat Duda Artis

Terpikat Duda Artis
Sehari Bersama Cherry


__ADS_3

Hari senin. Beberapa hari setelah pertemuan pertama di ruang kepala sekolah.


Dikarenakan kesibukannya, sudah satu bulan ini Tian hanya bertemu Cherry saat sarapan pagi dan komunikasi melalui panggilan video atau telepon saja.


Seharusnya tiga hari lalu, Cherry ada jadwal terapi dengan dokter Nuel. Sesi terapi kali ini penting, apalagi Cherry sebentar lagi masuk sekolah kindergarten. Dokter ingin menginformasikan perkembangan Cherry dan hal hal apa saja yang harus diperhatikan selama Cherry masuk sekolah. Namun Cherry tidak mau pergi terapi kalau tidak diantar oleh Tian, meskipun Tante Bella sudah berusaha membujuk Cherry untuk pergi terapi bersamanya.


Oleh karena itu hari ini Tian sengaja meminta Manager Raka mengosongkan jadwalnya untuk seharian bersama Cherry, putri tercintanya. Hari ini Tian sudah berjanji akan mengantar Cherry ke terapi dan makan es krim di dekat rumah sakit.


Sudah kurang lebih tiga tahun Cherry menjalani terapi wicara dengan dikontrol langsung oleh dokter khusus bernama Nuel. Hasil dari terapi ini, Cherry mengalami perkembangan yang cukup baik, meskpuni masih belum bisa dinyatakan sembuh.


Cherry Sebastian Alexander, didiagnosa mengalami sakit disartria, umumnya dikenal dengan pelo atau cadel. Penyebabnya diduga adanya cidera kepala setelah kejadian kecelakaan besar yang juga membuat ibu Cherry meninggal.


Cherry bahkan sempat mendapatkan perawatan intensif karena kecelakaan besar itu. Saat setelah sadar, Cherry yang berusia dua tahun tidak mau berbicara sama sekali, padahal sebelum kecelakaan Cherry mampu menunjukan kemampuan bicara sesuai dengan anak usia dua tahun pada umumnya. Kemunduran dalam berbicara Cherry ini yang membuat Cherry harus melakukan terapi wicara yang kemudian diketahui Cherry mengalami disartria.


Disartria merupakan gangguan berbicara yang terjadi karena adanya kelainan pada sistem saraf. Sehingga, pengidapnya menjadi kesulitan untuk berbicara dan berkomunikasi dengan orang lain. Meski begitu, disartria tidak memengaruhi tingkat kecerdasan atau pemahaman pengidapnya.


Selain gangguan bicaranya, Cherry tidak berbeda dengan anak seusia pada umumnya. Kalau orang yang tidak mengetahui kondisi itu, Cherry hanya terlihat seperti anak pendiam dan jarang bicara saja. Dia bisa merespon, mendengar dan beraktivitas seperti biasa.


Dalam kasus Cherry, disartria yang dialami oleh Cherry pada fase sekarang adalah ketidaksempurnaan pengucapan artikulasi sehingga terjadi kesulitan dalam berbicara. Cherry bisa berbicara satu atau dua patah kata sederhana dengan artikulasi yang kadang lemah dan tidak jelas. Kadang Cherry masih belum bisa berbicara dengan kalimat panjang. Jika sudah seperti itu, Cherry akan menyampaikan keinginannya dengan bahasa isyarat.


Namun sayangnya hampir tidak ada yang bisa berbahasa isyarat dengan lancar di keluarga Tian. Tian dan adik perempuan Tian, yang bernama Bella hanya bisa mengingat beberapa gerakan saja dalam bahasa isyarat. Selain itu ada pengasuh Cherry, Sus Rita yang lebih lancar berbahasa isyarat.


Sus Rita memang diperkerjakan khusus untuk membantu dan menjaga Cherry. Dulu Sus Rita berkerja untuk dokter Nuel. Tian yang memilih langsung dan dia juga menyeleksi orang orang yang akan ditempatkan berada dekat Cherry.


Tian selalu menyediakan waktunya untuk menemani Cherry terapi. Kadang Tante Bella menemani Cherry jika Tian sedang ada syuting ke luar daerah atau agenda lainnya. Tapi kali ini Cherry hanya ingin ditemani ayahnya saja. Putri kecil usia lima tahun itu merajuk, tidak mau keluar kamar saat hari seharusnya Cherry dan Tante Bella bertemu dokter Nuel untuk terapi tiga hari lalu. Maka dari itu, di hari Senin Tian menjanjikan akan pergi menemani dan membelikan es krim sebagai permintaan maaf untuk kesibukannya tiga hari lalu.


Jam masih menunjukan waktu tujuh pagi, Cherry berlari kecil dari ruang kamarnya ke ruang kamar ayahnya.


^^^"Nona kecil jangan berlari, nanti jatuh, non."^^^


Sus Rita merasa khawatir ikut berlari kecil mencoba menyesuaikan lari dengan nona mudanya.


^^^"Mau..ke..yah.." ^^^


^^^(baca: mau ke ayah)^^^


Cherry melambatkan larinya ketika sudah dekat pintu kamar ayahnya.


Karena sudah kebiasaan Cherry yang suka membangunkannya tidur jika Tian tidak ada jadwal, maka pintu kamar Tian juga dipastikan sengaja tidak dikunci. Kaki kecil Cherry sedikit menjinjit ketika membuka handle pintu kamar Tian, dan Cherry masuk dengan pelan. Sus Rita tidak ikut masuk, karena yang diperbolehkan masuk hanya keluarga dan kepala pelayan yang ditunjuk khusus oleh Tian.


Cherry sangat senang sekali membangunkan ayahnya sambil menepuk nepuk pipi ayahnya pelan dan menciumnya. Yang dibangunkan biasanya lebih senang lagi. Tian akan tetap memejamkan matanya agar bisa dicium lebih lama oleh putri kecilnya.


^^^"Yah...ngun! Yah...ngun!" ^^^


^^^(baca: Ayah, bangun! Ayah, bangun!)^^^

__ADS_1


^^^"Hmmm. Ayah ngantuk nak bentar lagi, ya."^^^


Masih dengan memejamkan matanya tapi tetap memberi ciuman di pipi tembem Cherry.


^^^"No! A..yah, ...ba..ngun!"^^^


Tian langsung terbangun ketika mendengar Cherry mengucapkan kata kata dengan jelas. Meski terbilang simpel, Tian sangat senang ketika Cherry beberapa kali berhasil mengucapkan kata-kata dengan jelas.


Kata dokter Nuel, penghargaan sekecil apapun berarti untuk menumbuhkan kepercayaan diri dan semangat Cherry latihan bicara lebih baik lagi.


^^^"Putri ayah hebat sekali. Terima kasih sudah bangunin ayah. Ayah mandi dulu Eri tunggu dibawah ya cantik."^^^


Ucap Tian sambil terus mengecup pipi kanan dan kiri putrinya bergantian.


Cherry mengangguk lalu berjalan keluar kamar. Diikuti oleh Sus Rita menuju meja makan yang sudah ada Tante Bella. Setelah mengantar Cherry sampai meja makan, Sus Rita pamit ke dapur belakang.


Tak berselang lama, Tian bergabung dengan Bella dan Cherry di meja makan.


Hari ini seperti biasa tuan artis Tian yang sangat menjaga penampilannya sudah terlihat rapi. Tian memang agak perfeksionis untuk penampilan, meski hari ini tidak ada jadwal tentang keartisannya Tian tetap terlihat rapi dan tampan dengan paduan kaos polo hitam dan celana jeans-nya. Tidak lupa dia membawa topi dan masker hitamnya ditangannya, maksudnya ingin tidak terlalu mencolok nanti jika keluar rumah. Tapi apapun baju dan aksesoris yang Tian pakai selalu membuatnya bertambah mencolok, karena yang paling mencolok wajah dan postur tubuh tegap itu. Meski orang orang tidak akan mengenali wajahnya sebagai Tian sang artis, tapi setiap kehadirannya sendiri sudah jadi daya tarik orang memandang. Gaya rambutnya sendiri dia tarik kebelakang sekenanya saja. Rambut coklat kehitamannya akan lebih sering tertutup topi jadi tak perlu ditata rapi, pikir Tian.


Selama sarapan sesekali mereka bercengkrama sebelum akhirnya memulai aktivitas masing masing.


Tante Bella sempat mengatakan kesedihannya kalau hari ini belum bisa ikut mengantarkan Cherry terapi. Ya, biasanya Tante Bella juga ikut mengurus Cherry membantu kakaknya.


Lalu, Bella juga mengatakan hal yang memang bukan pertama kali disampaikan ke kakaknya, bahwa sepertinya kakaknya itu sudah harus menikah lagi agar ada yang membantu mengurus Cherry dan tentu kakaknya juga.


Dia cuma harus pintar mengurus Eri, aku sih tidak perlu diurus. Karena aku yang akan melayani calon ibu Eri nanti, jawabnya bercanda.


Bella agak sebal dengan jawaban bercanda Tian karena dia benar-benar ingin mencarikan jodoh untuk kakaknya. Namun bila dipikirkan, sepertinya itu adalah jawaban dari hati Tian meskipun dengan nada bercanda, Tian pasti mencari calon istri yang mau menerima dan mengurus Cherry dibanding yang mencintai Tian saja.


Cherry sedang asyik makan roti dengan selai kesukaannya, selai stroberi, ketika Tian dan Bella masih berbincang disela sarapan mereka.


^^^"Sudahlah, jangan urusi aku dan Eri saja. Urus dirimu juga, Bell. Tapi terima kasih selalu membantuku dan Eri disini." ^^^


^^^ucap tulus Tian.^^^


Tian mencoba mengalihkan topik dari pembahasan tentang calon istri dan ibu sambung untuk Cherry. Selain karena Tian sama sekali belum memiliki keinginan untuk menikah lagi, dia juga tidak ingin Cherry tidak nyaman kalau nanti Tian menikah dan harus membagi perhatian dengan calon istri dan juga Cherry. Itulah kekhawatiran Tian saat ini.


^^^"Aku? Memang aku kenapa kak? Aku kan bicara seperti ini buat kamu dan Eri. Kamu semakin sibuk dengan jadwalmu, dan Eri akan sibuk juga dengan jadwal sekolahnya nanti. Kalau aku sih karena aku u-liver jadi aku bisa mengatur jadwalku sendiri."^^^


^^^-Tante Bella ^^^


Aku hanya sedih kalau mengingat Eri hanya mau ditemani orangtuanya seperti beberapa hari lalu. Aku jadi tidak bisa berbuat apapun. Kesedihan Tante Bella datang lagi saat dia melirik Cherry yang sepertinya tidak mengerti pembicaraan dua orang dewasa ini.


Padahal, Cherry mampu mendengar dan mencerna isi pembicaraan tersebut.

__ADS_1


Apa ayah akan menikah lagi? Aku jadi punya ibu ya? Aku mau punya ibu, batin Cherry.


Dia ingin ikut terlibat dan menjawab seperti yang ada di hatinya. Tapi Cherry selalu takut dan sedih jika ucapannya tidak tersampaikan. Selama ini, itulah yang banyak Cherry rasakan. Kekhawatiran orang lain tidak akan mengerti apa yang akan disampaikannya, jika dengan bahasa isyarat juga kadang ayah dan tantenya yang belum lancar bahasa isyarat tidak terlalu paham. Cherry menjadi selalu merasa rendah diri di usianya yang memasuki lima tahun.


Pembicaraan santai saat sarapan tetap berlanjut. Sampai akhirnya, Tante Bella pamit duluan karena ada janji berbelanja dengan teman sesama u-liver nya.


Karena masih banyak waktu sampai janjian terapi hari ini, Tian dan Cherry setelah makan mengisi kegiatannya dengan membaca buku dongeng favorit Cherry. Buku tentang Princess Rapunzel, putri yang berambut panjang.


^^^"Pada akhirnya, Rapunzel kembali ke istana dan ia menikah dengan Flynn. Selesai." -Tian.^^^


Cherry bertepuk tangan senang. Dia paling senang ketika ayahnya menyempatkan waktu untuk mendongeng, apalagi buku favoritnya. Dia memeluk dan mencium ayahnya sebagai ucapan terimakasih.


^^^"Kau senang, Ma chérie?" Tian.^^^


Cherry mengangguk senang dan mencium pipi ayahnya lagi. Dia suka sekali dengan panggilan Ma chérie. Kata ayahnya, Tian, panggilan ini dulu diperuntukkan untuk ibu Cherry, Cristal sebelum Cherry lahir. Kemungkinan besar nama Cherry juga berawal dari kata ini.


(🌻: Ma chérie dalam bahasa Perancis bermakna sayangku. Hanya bisa dipakai untuk perempuan. untuk laki laki menjadi mon chéri.)


Tian hanya tertawa senang. Dalam hatinya banyak rasa bersalah karena akhir akhir ini dia sangat susah mendapatkan jadwal kosong untuk bersama putrinya ini. Tian mengelus pipi dan puncuk kepala anaknya untuk mengalirkan kasih sayangnya.


^^^"Ngomong ngomong tentang putri Rapunzel, nanti guru Eri di sekolah juga berambut panjang. Persis seperti di buku ini."^^^


Tian menunjuk gambar putri Rapunzel di buku cerita dongeng yang dia baca tadi.


^^^"Benal..kah..yah? ^^^


^^^(baca: benarkah, ayah?"^^^


Tian tertawa lagi. Dia tertawa karena melihat mata anaknya berbinar. Seperti dugaan Tian, Cherry pasti akan menyukai guru kecil itu. Tian jadi membayangkan lagi momen dia dan Hana. Tian selalu terhibur mengingat wajah dan telinga Hana yang memerah didepannya. Jangan lupakan tentang adegan rambut menyangkut juga.


Namun seketika senyum itu menghilang sesaat tiga orang di foto yang dilihatnya dalam Inspogram Riga muncul di kepalanya. Sama seperti sebelumnya, foto itu membuat mood Tian berubah kesal seketika.


Cih, sialan jadi teringat lagi kalau dia sudah punya pacar. Awas saja saat mengajar dia tidak fokus. Akan ku minta tambahan peraturan kepada paman David. Semua guru di sekolah dilarang pacaran!


.


.


.


🌻: hai semua, mohon koreksi kalau ada penyampaian informasi yang kurang tepat ya, khususnya di bagian medis. Aku udah research tapi kemungkinan masih banyak yang kurang. Tolong info ya kalau ada masukan dan saran


arigatou gozaimashita!


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2