Terpikat Duda Artis

Terpikat Duda Artis
Pengamatan Miss Mia


__ADS_3

Satu hari terlewat lagi. Pagi hari sudah datang.


Semua memulai harinya dengan segudang aktivitas. Sama halnya guru-guru sekolah Kindergarten Summer Breeze.


Piket hari ini gilirannya Miss Mia dan Miss Nana, guru kelas pre-school. Miss Mia datang pagi, dan sekarang tugas piketnya pun sudah selesai.


"Aku ambil minum dulu. Miss Mia mau sekalian?" tanya Miss Nana.


"Tidak usah Miss. Aku langsung ke kelas kindergarten aja. Ada yang harus ku lakukan."


Sesampainya di ruang kelas kindergarten, Miss Mia duduk di salah satu kursi murid. Memandang kosong ke arah papan tulis putih di kelas. Pikirannya masih tertuju pada kejadian di rumah kemarin.


Kemarin, setelah makan malam, Miss Mia menepati janjinya kepada kakaknya, Nia, untuk bercerita. Dia harus mengatakan semuanya yang dia ketahui, karena kakaknya pun menepati janji untuk mau berkumpul lagi, bahkan bersih bersih kamar dan dirinya setelah mengurung diri dalam waktu yang begitu lama.


Ibu mereka sangat bahagia. Senyum yang sempat hilang di wajah cantik wanita paruh baya itu kembali muncul. Membuat Miss Mia ikut bahagia, walau dadanya masih saja berdegup tanpa alasan yang jelas.


Kakaknya memulai pembicaraan yang normal, bahkan membantu merapihkan piring serta dapur setelah makan. Kak Nia terlihat kembali normal, tidak seperti beberapa waktu belakangan.


Sampai akhirnya tinggallah dua wanita kakak beradik itu, yang saling pandang bergerak menuju kamar Nia, sang kakak. Di kamar itu, Miss Mia juga melihat beberapa foto koleksi sang artis idola kakaknya. Awalnya risih karena kakaknya ini sudah seperti stalker dibandingkan fans. Namun, sebagai saudara satu satunya, Miss Mia tidak bisa menjudge apalagi membenci perilaku kakaknya, walau kalau boleh ditanya, Miss Mia sangat ingin membenci kakaknya.


Di malam itu, Miss Mia menceritakan semua yang dia tahu. Semua kejadian yang diamati oleh Miss Mia sehingga dirinya berani menarik kesimpulan ini.


Miss Mia tahu, kalau pacar non-artis itu adalah wanita cantik berambut panjang, yang juga berprofesi sebagai guru kindergarten di sekolahnya. Yang artinya rekan guru, teman yang cukup dekat dengannya di sekolah. Karena didesak oleh kakaknya, Miss Mia juga menceritakan awal mula dia tahu rahasia yang kemungkinan belum ada yang tahu, selain Miss Mia sendiri.


Ternyata, Miss Mia sempat melihat, waktu sang artis Tian mengajak Miss Hana ke dalam mobil, di suatu pagi saat Miss Hana kebagian giliran piket. Miss Mia yang baru saja turun dari ojek online melihat dengan jelas, meskipun dari samping pagar sekolah.


Tidak hanya itu, Miss Mia juga mendengar dengan jelas percakapan mesra Miss Hana dan Tian di telepon, di hari dimana Tian melakukan live interview yang juga pernyataan resmi hubungannya.


Apalagi, kemarin siang juga, Miss Hana sendiri yang mengungkapkan bahwa dirinya sudah punya pacar.


Ah. Satu lagi fakta penentu. Beberapa kali, Miss Mia memergoki dan mendengar sendiri Cherry, anak dari tuan Tian, memanggil Miss Hana dengan sebutan Ibu Hana. Cukup aneh kan? Apalagi anak kecil itu termasuk anak yang sulit untuk bicara karena kondisinya yang khusus itu. Hanya dengan Miss Hana dia mau bicara banyak, dan memanggil Ibu. Sudah pasti karena Cherry sudah memiliki ikatan yang sangat dekat juga dengan Miss Hana, ikatan yang lebih dari seorang guru dan murid.

__ADS_1


Miss Mia memang tergolong orang yang peka dengan kemampuan analitik yang bagus. Fakta-fakta diatas sudah lebih dari cukup untuk mengetahui bahwa Miss Hana adalah pacar sang artis tampan itu.


Seusai menceritakan semuanya, Miss Mia menelisik respons dari sang kakak.


Kenapa? Kenapa hanya diam saja? Dia begini makin menyeramkan, Miss Mia menelan ludahnya gugup.


"Kak? Kau baik-baik saja?" bertanya hati-hati.


"Well. Aku tidak pernah sebaik hari ini dalam beberapa hari terakhir." dengan senyum mencurigakan.


"Kau yakin?" Miss Mia masih dengan sikap waspada ya.


Aku berpikir dia pasti akan berteriak tidak terima. Memaki Miss Hana, atau, berbicara sesuatu seperti 'pasangan yang layak hanya dirinya'. Miss Mia tidak yakin dengan sikap yang terlalu tenang ini. Apa kakaknya sudah berubah? Secepat ini? Rasanya tidak mungkin!


"Hahaha. Kenapa dengan wajahmu, Mia. Sudah kubilang aku hanya ingin tahu siapa orangnya. Yah, seperti yang kau bilang. Siapa namanya? Oh! Miss Hana adalah orang yang baik dan keibuan. Bahkan sudah dekat dengan putrinya Tian sayangku. Maksudku. Tuan Tian. Aku merasa tidak ada lagi yang harus ku khawatirkan kan?" masih dengan senyum, yang lebih mirip dengan seringai.


Miss Mia ingin menilai sedikit lagi ekspresi kakaknya. Dia membaca ada sesuatu yang dia rencanakan tapi Miss Mia pun tidak bisa menjudge buruk hanya karena firasat saja kan. Jadi dia memilih untuk percaya. Kali ini dia berharap kata-kata kakaknya bisa dipercaya.


"Syukurlah kalau begitu. Kalau misalnya kakak bisa kembali, ehem, seperti kakakku dahulu Nia, aku akan memberikan hadiah. Aku akan mencoba meminta tandatangan Tuan Tian. Ada kemungkinan Tuan Tian akan datang saat acara sekolah." berharap tawaran ini membuat kakaknya semangat untuk berubah.


"Sayangnya, cara itu tidak mungkin dilakukan kak. Sejak Cherry masuk di tahun ajaran baru ini, sekolah sudah banyak perubahan. Keamanan lebih ketat, dan banyak CCTV. Ada kemungkinan besar, walimurid yang bisa datang pun harus dengan undangan. Dan lagi .." Miss Mia ragu untuk mengatakannya.


"Dan lagi apa?"


"Bagaimana kalau tuan Tian dan keluarganya mengenali kakak. Kejadian itu memang sudah berlalu tiga tahun yang lalu. Tapi, apakah mereka tidak mengenali wajah kakak?" tanya Miss Mia agak sungkan.


Mereka pasti tidak akan melupakan wajah terlibat dalam kecelakaan besar mendiang ibu kandung Cherry kan? Aku saja tidak bisa melupakan bagaimana perasaan kalut keluarga kami saat kakak dibawa ke polisi. Dan, hari itu jugalah hari terakhir Ayah bersama kami.


Nyut.


Miss Mia masih ingin menangis dan marah bersamaan jika mengingat hari itu, apalagi keluarga dari artis itu kan.

__ADS_1


"Aku malah ingin seperti itu. Tian-ku harus mengingat wajahku." Nia berucap lirih, hingga tidak terdengar oleh adiknya Mia.


"Kakak bicara apa tadi?"


"Aku bilang, aku bisa hati-hati agar tidak di kenali. Cih. Misalnya perlu undangan, kau harus membuatkan satu untukku kan. Memangnya kau tidak mau membantu ku?!" emosi itu muncul lagi.


Perubahan emosi Nia memang mengkhawatirkan. Miss Mia dan Ibunya sampai kewalahan menghadapi sikap Nia yang seperti ini.


"Hah. Lagipula kenapa juga kalau mereka ingat aku? Aku tidak terbukti bersalah kan? Kecelakaan itu bukan salahku! Makanya mereka tidak memenjarakan ku. Hahaha." tawa Nia benar-benar bikin Miss Mia yang mendengarnya merinding.


"Hei! Pagi pagi melamun aja kamu ya." sapa Miss Hana yang sekarang sudah duduk di depannya Miss Mia.


Tapi berkat itu, Miss Mia jadi kembali lagi dari kilasan memori kejadian kemarin malam.


"Ya ampun. Miss Hana! Kamu balas dendam ya karena kemarin aku mengagetkanmu." mencoba mengusap dadanya menetralisir degupan panik yang dirasa.


"Hihihi. Satu sama deh. Tapi aku juga mau mengajakmu kebawah. Menjemput anak-anak, sudah saatnya mereka datang nih." menunjuk ke arah jam dinding.


"Oke. Oke. Let go down." berdiri dan langsung mengandeng lengan Miss Hana.


Miss Hana, maafkan aku ya. Aku terpaksa membocorkan rahasiamu ke kakakku. Aku akan berjanji itu adalah rahasia pertama dan terakhir yang ku ceritakan. Semoga kau bisa memahamiku. Ucap Miss Mia dalam hati, tapi dirinya masih tak sanggup jujur.


.


.


.


Itsumo Arigatou gozaimasu.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2