
Akhirnya satu hari yang bersejarah terlewati.
Kenapa bersejarah? Karena hari ini Tian dan Hana secara tidak langsung mengakui perasaannya masing-masing.
Ciuman panas mereka sebagai tanda adanya hubungan yang lebih dari seorang guru dan walimurid. Ataupun artis dan mantan fans.
Apa yang akan ku katakan pada Ibu dan Ayah tentang hubunganku dengan tuan Tian ya? Aaaa.
Hana gelisah memikirkan hal ini sejak Tian dan lainnya mengantarkan pulang tadi.
Saat dua mobil rombongan artis itu tiba di depan rumah Hana, kedua orang tua Hana dan adiknya Hale sudah menunggu sang kakak perempuan itu di teras depan rumah. Langsung berdiri menyambut Tian Manager Raka dan Hana.
Kebetulan Hale juga sudah pulang lebih cepat beberapa menit dari Hana, jadi Hale juga bertegur sapa dengan Tian dan Manager Raka. Ibu dan Ayahnya juga sempat berbicara sebentar dengan Tian dan Manager Raka sebelum akhirnya dua laki-laki itu pamit pulang.
Mereka meminta maaf tidak bisa berkunjung lama. Karena selain sudah malam, Tian tidak bisa meninggalkan Cherry yang sedang tidur di mobil terlalu lama lagi.
Cherry sudah tertidur sejak perjalanan pulang dari Aquarium menuju rumah Hana. Saat itu, Cherry terlelap masih dengan posisi memeluk Hana dengan erat.
Mungkin karena kelelahan seharian bermain, Cherry bahkan tidak terbangun saat Hana dengan pelan memindahkan tubuh mungilnya dari pangkuan Hana, untuk dibaringkan ke kursi belakang.
Sesaat setelah rombongan artis itu pergi, Hana langsung meminta ijin ke atas untuk membersihkan diri dulu sebelum turun lagi untuk makan malam bersama. Hana sangat hati hati menutupi leher dan bahunya dengan jas hitam pemberian Tian. Takut kalau orangtuanya bisa melihat tanda merah merah yang ada di kulit putihnya.
Ayah, Ibu dan Hale melihat gelagat aneh Hana dengan sangat jelas.
Hana orang yang tidak pandai menyembunyikan perasaannya. Mereka langsung curiga pasti terjadi sesuatu antara Hana dan Tian yang mereka ketahui sebagai artis yang di idolakan Hana sejak dulu.
Saat Hana turun kembali dari kamarnya, Ayah, Ibu Hale lebih keheranan lagi.
Hana turun dengan baju turtleneck lengan panjang seperti orang yang berada di daerah dingin. Kerah turtleneck nya sengaja dinaikan Hana agar menutupi tanda merah merah di lehernya.
^^^"Kamu sakit, Na?" tanya Ibu.^^^
^^^"Hm? Engga kok Bu. Kenapa memangnya Bu?" Hana berusaha menjawab senatural mungkin.^^^
^^^"Kalau engga sakit kenapa pakai baju hangat kaya gitu?" tanya Ibu khawatir.^^^
^^^"Iya, kak Hana biasanya pakai kaos simpel aja di rumah. Kak Hana beneran engga sakit?" Hale ikut bertanya sama khawatir nya dengan Ibu.^^^
^^^"Tidak kok! Hanya ingin saja pakai baju ini. Ternyata masih muat ya meskipun jarang dipakai. Haha." jawab Hana.^^^
Jawaban Hana yang aneh itu malah semakin membuat yang lainnya curiga. Ternyata memang terjadi sesuatu hari ini, kompak orangtua dan adiknya berpikiran hal yang sama.
^^^"Ya sudah. Kita makan dulu. Semuanya duduk." perintah Ayah.^^^
^^^"Hana, kamu duduk sebelah ayah. Ayah juga mau tanya." tambah Ayah lagi.^^^
Aaa. Mati aku.
__ADS_1
Belum terdengar pertanyaan dari Ayah saja Hana rasanya sudah ingin menangis. Rasanya seperti disidang oleh dosen. Aura ayahnya memang seperti dosen yang sangat tegas dan menakutkan kalau sedang sedikit bicara seperti ini. Terlebih memang Ayah dikenal dengan dosen tegas di kampusnya.
Semua sudah duduk mengelilingi meja makan. Belum ada yang mengambil makanan karena sang kepala keluarga juga masih diam, belum bicara apapun. Tak lama Ayah mulai memandang ke Hana dengan tatapan yang menggali sesuatu ke anak gadisnya itu.
^^^"Jadi bagaimana, Nak?" tanya Ayah.^^^
Hah? Apanya yang bagaimana yah? Haduh, ayah maksudnya nanya bagaimana pergi hari ini atau bagaimana perasaanku? Yang mana ya? Hana kebingungan sendiri dengan pertanyaan Ayahnya sehingga belum berani menjawab.
^^^"Maksudnya Ayah, jadi bagaimana hubungan kamu dengan tuan Tian? Kenapa bisa kamu diajak pergi main bersama keluarganya? Sedekat apa kalian sekarang?" Ibu Hana membantu menjelaskan.^^^
Memang cuma Ibu yang mampu memahami sifat sedikit bicara Ayah itu. Ibu bagaikan seorang penerjemah bagi kata-kata Ayah yang terkadang sulit dan tidak banyak. Ayah yang mendengar penerjemahan Ibu mengangguk, pertanda Ibu sangat tepat membantunya menjelaskan pertanyaan Ayah tadi.
^^^"Ehm, Kami sudah beberapa kali bertemu Bu... Karena sudah berjanji pada Cherry hari ini aku pergi bersama untuk menyenangkan Cherry."^^^
Hana sengaja melewatkan penjelasan sedekat apa mereka. Karena Hana sendiri bingung harus menjelaskan dari mana.
Dia tidak bisa juga bilang hubungan mereka sudah terlewat dekat karena hari ini mereka sudah berciuman kan? Bisa gawat kalau Hana bicara jujur seperti itu. Hana tegang sambil meraba-raba pundak dan lehernya yang tertutup kain baju turtleneck.
Ayah masih memperhatikan semua gerak gerik anak gadisnya itu.
^^^"Kalau kamu sendiri gimana? Suka?" tanya Ayah lagi.^^^
Suka? Suka tentang apa Ayah? Huhu tolong lebih panjang pertanyaannya. Aku takut salah jawab nih, Hana panas dingin berada dalam sidang keluarga ini.
Hana melirik Ibu memohon bantuan ibu lagi.
Ibu menjelaskannya sambil mengambil tangan putrinya itu, lalu diusapkannya tangan Hana dengan sayang. Berharap bisa mengalirkan rasa tenang. Mungkin Ibunya tahu kalau Hana pasti bingung bagaimana harus menjelaskannya.
Hana terdiam lama, mencoba menyelami hatinya sekarang.
Apa yang kurasakan sekarang? tanya Hana pada dirinya sendiri.
Selama berpikir, Hana balas menggenggam tangan Ibunya. Mencoba mendapatkan kekuatan yang diberikan dari genggaman itu. Mengehela napasnya pendek, setelah dirasa mampu mengumpulkan keberanian untuk menjawab pertanyaan dari orangtuanya.
Akhirnya, Hana sudah mendapatkan jawabannya setelah berpikir lama. Inilah jawaban yang sudah di pilah pilih dalam pikirannya tadi. Setidaknya yang paling yang tepat untuk mewakili perasaannya sekarang.
^^^"Aku...menyukainya lebih dari sebelumnya." inilah jawaban jujur Hana.^^^
Hana menunduk malu. Tidak berani menatap Ibunya apalagi Ayahnya.
Hale yang biasa iseng dan sering meledek kakak perempuannya saja bahkan tidak biasanya ikut diam. Suasana hening masih tercipta setelah Hana menjawab pertanyaan tadi.
Hana makin cemas, karena belum mendapatkan respon apapun dari orangtuanya setelah jawaban terakhir.
Meski takut akhirnya Hana memberanikan diri melihat ke arah Ibunya. Ibunya hanya tersenyum, menggerakkan bibirnya, berbicara tanpa suara.
Tidak perlu khawatir ayah tidak marah kok, begitu yang ditangkap oleh mata Hana.
__ADS_1
Ucapan ibunya membuat Hana menjadi tenang. Hana sangat percaya pada ibunya. Sehingga Hana mulai berani perlahan memandang ayahnya.
Eh? Kenapa ayah ikut tersenyum? Jadi aku lulus sidang nih? Hana kebingungan tapi takut untuk bertanya.
Tidak lama terdengar tawa dari Hale. Hale memeluk ibunya, mulai meledek Hana lagi. Daritadi Hale terpaksa diam, karena memang disuruh Ayah dan Ibu. Ini sudah direncanakan diam diam tanpa sepengetahuan Hana, sejak Hale pulang ke rumah.
^^^"Kak Hana serius sekali sih. Ayah tidak marah tahu. Haha. Kami hanya penasaran hubungan kakak dengan artis idola kakak." Hale yang akhirnya menjelaskan.^^^
Hale kasian melihat kakaknya sudah pucat pasi dengan muka kebingungan. Tapi tidak tahan untuk meledek karena memang menyenangkan untuk menggoda kakak perempuannya itu.
^^^"Ish, Hale Rommy! Pasti ini ide kamu kan! Sini kamu! Nyebelin banget sih." ucap Hana menahan kesalnya.^^^
^^^"Hahaha. Kak Hana bilang apa Bu tadi? 'aku menyukainya lebih dari sebelumnya'..." tiru Hale untuk terus meledek Hana.^^^
^^^"Ibu! Hale nyebelin banget Bu." Hana mengadu ke Ibunya.^^^
Tapi kali ini Ibu sepertinya memilih bersekutu dengan Hale. Karena Ibu malah ikut tertawa bersama Hale.
Hana menahan kesal, mulutnya mengerucut lucu. Kemudian Ayahnya mengelus pucuk kepala Hana dengan lembut. Hana menoleh ke Ayahnya.
^^^"Nanti ajak Tian dan Cherry main di rumah ya, Nak. Kita undang juga untuk makan bersama di rumah kita." ucap Ayah lembut.^^^
Hana tersenyum. Matanya berkaca-kaca. Hana mengangguk dengan senang.
"Iya Ayah. Nanti Hana coba bilang ya. Terima kasih Ayah." ucap Hana.
"Iya, anakku sayang. Kalau begitu, kita makan sekarang?" tanya Ayah kepada semua anggota keluarganya.
"Iya. Aku udah lapar. Kak Hana sih tadi mikir jawabannya terlalu lama." ledek Hale lagi.
"Ish, kamu nih masih aja di panjangin terus ledekannya ya." Ibu akhirnya bicara karena gemas menengahi.
Semua pun tertawa.
Meskipun untuk hari ini harus diawali dengan sedikit ketegangan, suasana makan malam keluarga Hana selalu terasa hangat.
.
.
.
Itsumo arigatou gozaimashita.
.
.
__ADS_1
Bersambung