
Kegiatan Yoga hari ini di kantor begitu melelahkan. Seharian di sibukkan pertemuan dan meeting bersama beberapa klient. Dan hampir jam tujuh ketika kegiatannya selesai.
Lelah masih terasa, tapi karena dia sudah janji pada Maminya untuk pulang dan makan malam bersama dengan sangat terpaksa dia melajukan mobilnya menuju rumah orang tuanya.
Sampai di depan gerbang Yoga sudah disambut oleh satpam rumahnya, siapa lagi kalau bukan Mang Udin. Setelah membukakan gerbang, Yoga pun langsung memasukkan mobilnya ke dalam rumah.
" Ada tamu Mang Udin ??? " Tanya Yoga ketika melihat mobil Lexus LS warna silver parkir di depan rumahnya.
" Iya Den Yoga. " Jawab Mang Udin.
" Siapa??? Rekan bisnis Papi??? " Tanya Yoga lagi.
" Ih si Aden, pura - pura gak tau lagi. Itu kan mobil keluarganya Non Fenia. " Ucap Mang Udin lagi.
" Fenia??? Mereka datang??? Dari tadi??? " Pertanyaan Yoga yang beruntun membuat Mang udin geleng - geleng kepala.
" Iya Den. Non Fenia datang bersama kedua orang tuanya. Belum lama mereka datang. " Jelas Mang Udin.
" Pantas saja Mami maksa saya pulang, rupanya ada tamu kehormatan. " Ucapnya pelan tapi masih bisa di dengar oleh Mang Udin.
" Kalau gitu saya masuk dulu Mang. Mau ketemu calon mertua. " Ucapnya sambil mengembangkan senyum yang tak tahu apa artinya.
Mang Udin yang mendengar perkataan bosnya hanya bisa tertawa. Sedangkan Yoga sudah bisa di pastikan bahwa makan malam saat ini pasti akan membosankan.
Semenjak bertunangan dengan Fenia satu bulan lalu, membuat Yoga semakin gila bekerja untuk menghindari Fenia. Sebenarnya dia sangat tidak menginginkan pertunangan ini terjadi, tapi karena ingin menghormati kemauan kedua orang tuanya dia terpaksa melakukan hal ini.
Masih dia ingat ketika seminggu setelah pertunangan, ketika Fenia berkunjung ke kantornya. Dengan seenaknya dia menerobos masuk ke dalam ruangannya ketika Yoga sedang ada pertemuan penting dengan klientnya. Dan yang lebih membuatnya ingin marah ketika dia dengan seenaknya memaki dan mengancam akan memecat sekretarisnya karena tidak di ijinkan masuk ke dalam ruangannya. Fenia memaki karena tidak mengenal dirinya sebagai tunangannya Yoga. Lebih tepatnya tunangan yang tak di inginkan sama sekali.
Masuk ke dalam rumah, orang tuanya dan juga orang tua Fenia bersama dengan Fenia sedang duduk di ruang tamu menikmati secangkir teh.
" Yang di tunggu akhirnya datang juga. " Ucap Maminya menyambut kedatangan anaknya.
" Kamu terlambat Yoga. " Ucap Papinya.
" Maafin Yoga, kalau Yoga tahu ada acara makan malam pasti Yoga akan pulang lebih awal. " Ucap Yoga memberi alasan.
" Apa kabar Tante Lisna, Om Brata??? " Tanya Yoga
" Kami baik Yoga. Kamu makin sibuk aja. Setelah bertunangan, baru kali ini kita bertemu lagi. " Ucap mamanya Fenia.
" Maafin Yoga Tante karena belum sempat berkunjung. " Ucap Yoga.
" Sudah, gak apa - apa. Om tahu kok bagaimana sibuknya seorang CEO. Banyak hal yang harus di urus. Lagian semua itu untuk masa depan Fenia juga. " Ucap Papa Fenia sambil melirik ke arah putrinya.
" Kamu memang calon mertua idaman Brata. " Ucap Papinya Yoga.
" Yoga pamit ke kamar sebentar ya, mau mandi. Setelah itu baru kita makan malam. " Ucap Yoga.
" Iya, kami akan menunggu disini. " Ucap Mamanya Fenia.
Yoga pun meninggalkan ruang tamu dan langsung menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua. Sampai di kamar dia pun langsung mandi karena tak ingin tamunya menunggu lama.
Karena ke asyikan mandi, Yoga tak mendengar langkah kaki yang memasuki kamarnya.
" Apa yang kau lakukan disini Fen??? " Tanya Yoga yang masih terkejut karena kehadiran Fenia di kamarnya yang tiba - tiba, dia merasa malu karena hanya menggunakan handuk ketika keluar dari kamar mandi.
" Aku di suruh memanggilmu. Mereka sudah menunggu di meja makan. " Ucap Fenia sambil berjalan mendekat ke arah Yoga berdiri.
" Apa maumu Fen???? " Tanya Yoga yang gugup karena Fenia mulai meraba dada bidangnya dan juga perutnya yang six pack.
" Aku menginginkanmu Ga. " Ucapnya sambil mencoba mencium tunangannya dan langsung di tolak oleh Yoga.
" Kenapa sich Ga lu selalu menghindari gue??? Gue kurang cantik??? Kurang sexy??? " Tanya Fenia yang tersinggung akan sikap Yoga.
" Gue malas Fen, lagian kita masih tunangan. " Ucapnya sambil memakai baju kaos yang diambilnya dari dalam lemari.
" Tapi kita sebentar lagi bakal nikah juga Ga. Gak papa donk kalau kita melakukan hal itu. "
__ADS_1
" Sorry Fen, gue bukan lelaki seperti itu. Lagian apa kamu tidak punya pakaian yang lebih sopan, lebih tertutup. Sayang kalau tubuh cantikmu harus selalu kau umbar di depan lelaki manapun. " Ucap Yoga sambil berlalu pergi.
" Tunggu Ga, gue belum selesai bicara. " Ucap Fenia sambil menahan lengan Yoga.
" Nanti saja kita bicara Fen, orang tua kita sudah menunggu lama. Pasti mereka sudah lapar. "
Yoga pun meninggalkan Fenia yang masih terdiam di kamarnya. Fenia tidak habis pikir, bisa - bisanya Yoga tidak tergiur dengan keseksian tubuhnya. kenikmatan yang sudah dia tawarkan dan akan membawanya pada surga dunia saat ini juga.
" Kamu mau tinggal disitu atau turun ke bawah??? " Tanya Yoga membuyarkan lamunannya.
" Iya, gue turun. " Ucap Fenia sambil melangkah kesal mengikuti Yoga menuju ruang makan.
" Akhirnya turun juga. Ayo kita mulai makan malamnya. " Ajak maminya.
Mereka pun menikmati makan malam bersama diselingi dengan percakapan yang kadang mengundang tawa.
Setelah makan malam, Fenia sengaja mengajak Yoga jalan -jalan di depan orang tuanya agar dia tidak menolak. Dan benar, mau tidak mau Yoga Menyetujui permintaan Fenia.
Setelah pamit, mereka meninggalkan rumah keluarga Yoga. Fenia juga mengatakan pada orang tuanya bahwa Yoga yang akan mengantarnya pulang langsung ke apartemennya nanti, dan tentu saja mereka menyetujuinya.
" Bagusnya kita kemana Ga??? " Tanya Fenia bersemangat.
" Terserah lu ja Fen. " Jawab Yoga ketus.
" Lu kenapa sich Ga. Seharusnya lu senang karena jalan sama gue. "
" Gue senang kok Fen. Sekarang lu mau kemana??? Pasti gue antar. "
" Kalau gitu kita ke Club malam langganan gue ya. "
" Dimana??? "
" Dragonfly. "
" Jauh banget Fen, masa kita harus ke Jakarta Selatan sich. "
" Tapi tadi lu bilang mau antar gue. "
Dengan malas, Yoga melajukan mobilnya menuju Jakarta Selatan. Perjalanan dari Jakarta utara ke Selatan memang cukup melelahkan, kerang lebih setengah jam akhirnya mereka sampai di tempat yang mereka tuju.
Setelah memarkirkan mobilnya, mereka pun langsung masuk ke dalam Club malam. Tanpa ada pemeriksaan mereka langsung masuk, karena Fenia merupakan salah satu pelanggan VIP di club tersebut.
Di sambut oleh teman - teman Fenia yang dari tadi menunggu mereka.
" Datang juga lu Fen. Sebelah lu siapa??? Ganteng banget. " Tanya salah satu temannya Fenia.
" Ini jangan lu ganggu. Ini khusus buat gue. " Ucap Fenia sambil tersenyum.
" begitu amat neng. Gak bakal di ganggu kok, cuma mau kenalan aja. " Ucap yang lain.
" Ini tunangan gue. Yoga Pratama Putra. " Ucap Fenia yang memperkenalkan Yoga pada teman wanita maupun prianya.
Setelah memperkenalkan Yoga dengan teman - temannya Fenia pun mengajak Yoga untuk berjoget di podium tapi yoga menolaknya dan memilih tetap duduk di tempatnya.
Karena Yoga menolak maka Fenia pergi sendiri bergabung dengan teman - temannya yang lebih dulu berjoget ria diiringi musik keras yang di pandu oleh seorang Dj.
Melihat tingkah Fenia yang berjoget - joget ria setelah meminum beberapa gelas alkohol membuat Yoga geleng - geleng kepala.
" Lu memilih jalan hidup yang salah Fen, lu sudah sia - siakan masa mudamu dan juga kepercayaan orang tua lu fen. " Gumam Yoga dalam hatinya sambil menikmati sekaleng minuman bersoda.
" Napa lu gak ikut turun temanin tunangan lu bersenang - senang. " Tanya seorang wanita yang juga teman Fenia yang bernama Mely.
" Gue gak suka berjoget gak jelas seperti itu. " Jawab Yoga yang masih menikmati minumannya.
" Seharusnya lu bisa menyuruh Fenia mengurangi kegiatan gilanya ini. Dia semakin terjerumus. " Ucap Mely.
" Maksud lu??? "
__ADS_1
" Lu kan tunangannya, setidaknya kamu bisa memberi peringatan buatnya agar perlahan meninggalkan gemerlapnya kehidupan di club malam seperti ini. "
" Gue bahkan gak lebih baik dari Fenia. Lagian dia sudah dewasa, dia bisa membedakan yang mana baik dan buruk. "
" Gue yakin lu orang baik - baik. "
" Sok tahu lu. "
" Buktinya lu gak minum minuman beralkohol. "
" Oh ini, gue nyetir. gak mungkin ka gue bawa mobil dalam keadaan mabuk. Dan mungkin juga ada benarnya, gue sedikit lebih baik dari Fenia. Karena beranggapan alkohol bisa ngerusan kesehatan gue. Gue masih mau hidup lebih lama. " Ucap Yoga sambil tertawa.
" Ternyata lu cukup menyenangkan di ajak ngobrol. "
" Dan lu kenapa gak ikut bergabung bersama mereka??? "
" Gue lagi gak mood. "
" Ternyata berjoget pun butuh mood yang baik. "
" itu pasti, ketika mood seseorang tidak baik bisa merusak suasana kegembiraan untuk orang lain. " Ucap Mely sambil meminum segelas beer yang ada di depannya.
" Kalian ngomongin gue ya. " Ucap Fenia yang mulai mabuk sambil tersenyum.
" Sepertinya lu mulai mabuk Fen. Lebih baik gue antar lu pulang sekarang. Lagian ini sudah tengah malam. " Ucap Yoga.
" Nanti aja Ga pulangnya, gue masih mau senang - senang. " Ucap Fenia.
" Sebaiknya lu bawa Fenia pulang sekarang Ga. Dia mulai mabuk. " Ucap Mely memberi saran.
" Baiklah, sampaikan pada yang lain kalau kami sudah pulang. " Ucap Yoga pamit sambil memapah Fenia yang sudah sedikit mabuk.
Meninggalkan Club dan langsung menuju ku apartemen Fenia. Fenia masih sadar walaupun berjalan sudah mulai linglung dan itu membuat Yoga membantu memapah Fenia.
Sampai di apartement, setelah membuka pintu mereka masuk. Selama mengenal Fenia yang baru sekitar tiga bulan lalu, baru sekali ini Yoga menginjakkan kaki di apartement tunangannya.
Memiliki apartemen yang luas untuk ukuran seorang Fenia bukanlah hal sulit. Papanya bisa membelikannya sepuluh apartement yang mahal seperti ini jika putri semata wayang nya mau. Fenia hidup dalam limpahan kasih sayang dan harta yang berlimpah. Apapun yang di inginkannya pasti akan di penuhi oleh kedua orang tuanya. Hal ini lah yang membuat Fenia menjadi manja dan juga tidak pernah menghargai orang lain. Dia selalu bersikap seenaknya kepada orang lain.
" Tunggu bentar ya Ga. " Ucap Fenia yang langsung menuju kamarnya untuk membersihakan diri.
Selang beberapa lama akhirnya Fenia keluar dari kamar dan sudah berganti pakaian. Dia menggunakan lingeria hitam yang sangat seksi dan menunjukkan lekuk tubuhnya yang menggiurkan. Tanpa menggunakan bra membuat penampilannya makin menantang.
" Ga, lu gak usah pulang ya. Temanin gue disini. " Ucap Fenia yang menggoda Yoga.
" Gue harus pulang Fen, ada pekerjaan yang harus gue selesain. " Ucap Yoga sambil menyingkirkan lengan Fenia dari tubuhnya.
" Ga, menginaplah semalam. Aku akan memberikan kenikmatan yang gak akan pernah lu lupain. " Bisik Fenia di telinga Yoga.
Sesaat Yoga mulai terpancing kelakuan Fenia. Wajar karena di lelaki normal. Melihat wanita cantik mengenakan lengeria hitam tanpa menggunakan bra, kulit putih dan mulus terlihat jelas di depan mata. Belahan dada yang menggoda seakan siap untuk dinikmati. Namun dia tidak ingin jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya. Kenangan silam bersama Lala terngiang kembali, dia tidak ingin merusak wanita untuk kedua kalinya. Walaupun dia yakin pasti Fenia sudah tidak perawan lagi. Melihat bagaimana kelakuannya di club malam tadi, membiarkan para teman lelakinya menggerayangi seluruh lekuk tubuhnya dengan santai dan Fenia membiarkan hal itu. Dan sepertinya dia malah menikmati hal itu.
" Ga, lu mau temanin gue kan malam ini??? " Tanya Fenia lagi.
" Sorry Fen, gue harus pergi. " Ucap Yoga lalu berlalu pergi meninggalkan Fenia yang kesal.
" Sialan lu Ga, lu udah bikin malu gue. " Gumamnya dalam hati.
masih kesal Fenia mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
" Kamu dimana sayang???? " Ucapnya manja.
" Gue masih di club Fen, napa??? " Balas seseorang
" Lu ke apartemen gue sekarang ya, gue tunggu. temanin gue malam ini. "
" Mana tunangan lu??? "
" Dia sudah pulang, dia tidak mempan dengan rayuanku. "
__ADS_1
" Okey, gue segera meluncur kesana. Tunggu gue, gue bakal puasin lu malam ini. "
Setelah menutup telponnya, Fenia pun menonton televisi sambil menikmati sekaleng beer yang diambilnya dari kulkas sambil menunggu kehadiran seseorang.