
Riana sampai di Rumah Sakit pukul sembilan. Erick sudah menceritakan semua yang terjadi dan juga tentang kedatangan Clara. Dan Riana juga berjanji akan mencoba membantu Erick untuk membujuk Lala, tapi dia tidak bisa menjamin Lala akan mendengarkan perkataannya nanti.
Menuju bangsal VVIP Riana berhenti sejenak melihat Erick yang masih berdiri di depan pintu kamar perawatan Lala.
" Bang Erick , apa yang kau lakukan disini??? " Tanya Riana.
" Lala sedang di periksa oleh Dokter. "
" Lalu kenapa abang malah berdiri disini??? "
" Aku sudah mengatakan padamu, Lala tidak ingin bertemu denganku untuk sementara waktu. "
" Baiklah, sepertinya abang harus bersabar sementara waktu. " Ucapnya sambil tertawa penuh ejekan.
" Hentikan candaanmu Na, tidak lucu "
" Okey, aku hanya bercanda bang. Lebih baik aku masuk menemani Lala. "
" Masuklah Na, dan aku mohon bantu aku untuk membujuk Lala. Aku bisa gila kalau tidak bersamanya. Abang akan ke bawah menemui Rizal sebentar. "
" Akan Riana usahakan bang. Aku masuk dulu bang. "
Ketika akan masuk ke dalam ruang perawatan, Dokter dan para Perawat akan keluar dari dalam. Mereka baru saja selesai memeriksa Lala.
" Bagaimana keadaan istri saya dok??? " Tanya Erick yang masih khawatir.
" Tak ada yang perlu di khawatirkan Pak Erick. Istri anda semakin membaik. Dia hanya perlu istirahat dan jangan membuat dia stres. Kondisi yang tidak baik dapat mempengaruhi janinnya. "
" Baik dok. Dia sudah boleh pulang kan??? "
" Iya, dia sudah bisa pulang hari ini, dan tolong perhatikan asupan gizinya juga obat dan vitaminnya jangan lupa di minum. "
" Baik dok. Terima kasih banyak. "
" Sama - sama pak Erick. " Ucap dokter tersebut sebelum melangkah pergi meninggalkan bangsal VVIP.
Setelah kepergian dokter dan para perawat, Riana pun memasuki ruangan perawatan Lala.
" Sudah siap kembali ke rumah ??? " Tanya Riana yang melihat Lala merapikan pakaiannya.
" Eh kamu na, Dari tadi kau datang??? " Tanya Lala
" Ya La. Tadi gue di luar ngobrol sama bang Erick di depan. "
" Ohhhh " Ucap Lala sambil celingukan mencari sosok yang di sebut oleh Riana.
Riana yang melihat kelakuan Lala hanya tersenyum tanpa ingin berkomentar.
" Trus dimana dia sekarang??? " Tanya Lala yang masih sibuk mencari.
" Siapa??? "
" Dia. "
" Dia siapa??? "
" Sudahlah, gak usah di bahas. " Ucap Lala akhirnya karena Riana mempermainkannya.
" Bilang saja kau merindukan bang Erick, La. Gak usah munafik. Kamu pasti menginginkannya ada disini bersamamu. " Gumam Riana sambil tersenyum sendiri.
__ADS_1
" Dia ke bawah, Mas Rizal menunggunya disana. "
" Mas Rizal??? Ada urusan apa??? "
" gue gak tahu. Mungkin akan mengurus biaya rumah sakit lu. Tapi kenapa lu gak tanya langsung pada bang Erick. "
" Aku malas membahas ini Na. "
" Baiklah. Kau sudah siap untuk pulang kan??? "
" Antar aku ke apartemen ku Na. "
" Kenapa harus ke apartemen sayang??? " Tanya Erick yang tiba - tiba masuk ke dalam ruangan.
" Gue gak setuju kalau lu harus ke apartemen lu La. Lu akan sendirian disana La. Kalau ada apa - apa siapa yang akan nolong lu. Pokoknya gue gak setuju. " Ucap Riana dengan sedikit kekesalan.
" Kita pulang ke rumah ya sayang!!!! " Pinta Erick lembut, berharap istrinya akan luluh.
" Biarkan aku sendiri dulu mas. " Ucap Lala.
" Lu ikut gue ke rumah aja La. " Ucap Riana.
" Aku gak mau ngerepotin kamu Na. "
" Ikut Gue atau pulang ke rumah lu??? Kalau ke apartemen lu, gue gak setuju. " Ancam Riana.
" Lebih baik kamu ke rumah Riana sayang. Mas akan lebih tenang kalau kau berada disana. " Ucap Erick pasrah.
Erick berpikir kalau di rumah Riana akan ada tante Indah dan om Haris yang akan membantu memantau Lala. Dari pada dia berada di apartemen seorang diri yang pasti akan membuat Erick khawatir.
" Aku ikut ke rumahmu Na. " Ucap Lala akhirnya mengalah.
" Okey, karena sudah deal kita berangkat sekarang. "
" Abang gak usah khawatirkan Lala. Dia aman berada di rumah ku. "
" Abang titip Lala ya Na. Kalau ada apa - apa langsung hubungi abang, dan tolong bantu abang membujuk Lala. "
" Riana usahain bang. Riana pamit dulu bang. "
" Hati - hati bawa mobilnya Na. Kalian berdua sedang hamil muda. "
" Baik bang. "
Riana pun berlari kecil menuju tempat kemudi. Setelah memasang safety belt nya, Riana pun mulai mengendarai dengan kecepatan sedang menuju rumahnya. Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan seperti biasa. Lala lebih banyak diam dan melamun, banyak yang sedang dia pikirkan saat ini. Tentang kelanjutan pernikahannya dengan Erick, tentang janin yang ada di perutnya saat ini dan itu semua sukses membuat kepalanya sakit.
Sampai di rumah, Riana dan Lala sudah di sambut oleh Mamah Riana. Sebelum berangkat ke rumah Sakit Riana sudah menceritakan yang terjadi pada Lala ke mamahnya, tanpa kurang satu pun. Dan sebelum dia meninggalkan rumah sakit dia juga menelpon mamahnya untuk memberitahukan bahwa Lala akan tinggal di rumahnya sementara waktu, dan itu membuat mamahnya senang.
" Kalian sudah datang. Ayo kita masuk sayang. " Ucap Mamah Riana pada dua orang ibu hamil.
" Mah kamar Lala sudah disiapkan kan??? " Tanya Riana.
" Sebentar lagi siap sayang, bi Surti sedang mengganti seprainya. " Jawab Mamahnya.
" Kamu sudah enakkan La??? " Tanya nya lagi pada Lala.
" Lala sudah baikan tante. " Jawab Lala.
" Maaf nyonya, kamar nya sudah siap. " Ucap bi Surti pada nyonya nya.
__ADS_1
" Iya bi, terima kasih. "
" Sama - sama, saya pamit ke belakang dulu. " Ucap Bi Surti lalu segera kembali ke belakang melanjutkan pekerjaannya.
" La, kamu istirahat dulu ya. " Ucap mamahnya Riana.
" Antar Lala ke kamarnya Na. " Perintahnya pada Riana.
" Yuk La. " Ajak Riana
Riana pun membawa Lala menuju kamar tamu yang berada di lantai dua rumahnya, bersebelahan dengan kamarnya. Mamahnya sengaja menempatkan Lala dekat dengan Riana, jadi bisa sekalian melihat keadaan kedua ibu hamil tersebut.
" Ini kamar lu La, sekarang lu istirahat dulu. Nanti kalau sudah bangun baru kita bahas masalah lu dan cari solusinya bersama. " Ucap Riana dan hanya di jawab anggukan oleh Lala.
Riana meninggalkan kamar Lala setelah menutup pintunya. Dia akan membiarkan Lala beristirahat sebelum membahas masalahnya. Riana tidak ingin Lala berpisah dengan Erick karena masalah yang sudah lama berlalu. Dia yakin Lala hanya emosi sesaat dan dia tidak ingin sahabatnya mengambil keputusan di saat seperti ini yang hanya akan membuatnya menyesal seumur hidup. Riana yakin Lala sangat mencintai Erick dan tak ingin berpisah darinya.
Sementara di kamar setelah di tinggalkan Riana seorang diri, Lala hanya bisa menangis karena sudah merindukan suaminya. Padahal baru beberapa menit yang lalu dia melihat wajah suaminya di parkiran rumah sakit, tapi saat ini dadanya bergemuruh kencang karena rindu dan amarah menjadi satu. Lelah menangis akhirnya Lala tertidur dengan mata sembabnya.
□□□□□□
Di dalam kamarnya, Riana sedang beristirahat ketika sambil menonton televisi ponselnya berdering. Riana pun mengambil Ponselnya dan melihat nama Erick disana.
" Ya bang, Lala baik - baik aja. Dia sedang beristirahat sekarang. " Ucap Riana tanpa menunggu pertanyaan dari Erick, karena dia tahu pasti Erick menelpon untuk mengetahui keadaan istrinya.
" Makasih banyak Na sudah membantuku menjaga Lala. " Ucap Erick di seberang sana.
" sama - sama bang. Aku juga gak ingin melihat Lala bersedih. Nanti aku akan ngomong ke dia dan memberi pengertian ke dia. Jadi abang tenang aja ya. "
" Iya Na. Terima kasih sekali lagi. Titip Lala ya. " Ucap Erick sebelum memutuskan sambungan telponnya.
Setelah memutuskan sambungan telponnya, Riana pun melanjutkan menontonnya. Asik dengan tontonannya terdengar suara handle pintu dan membuat Riana berbalik untuk melihat siapa yang datang.
" Sayang, tumben sudah pulang. " Ucap Riana yang bingung melihat Arga sudah berada di rumah padahal masih jam empat kurang, karena biasanya Arga selalu pulang menjelang magrib.
" Kenapa??? Kamu tidak suka melihat suamimu pulang cepat??? "
" Bukan begitu sayang..... "
" Tadi aku dari meeting di luar, karena meetingnya selesai lebih cepat jadi aku memutuskan untuk segera pulang. " Ucap Arga memotong ucapan Riana
" Lagian aku sudah merindukanmu lagi. " Ucapnya sambil mencium bibir istrinya singkat.
" Dan juga anak nya papi ini. " Ucapnya lagi sambil mengelus perut riana yang masih datar karena kandungannya masih memasuki bulan ketiga.
" Hentikan itu sayang. "
" Kenapa??? Emangnya kau tak merindukanku??? " Tanya nya lagi sambil mencium kembali bibir istrinya, kali ini lebih lama dan dalam.
Arga menghentikan ciumannya untuk membiarkan Riana mengambil nafas.
" Sayang hentikan, Lala ada di kamar sebelah. " Ucap Riana memberitahu sambil menunjuk kamar yang di tempati Lala.
" Lala berada disini??? Kenapa??? "
" Aku kan sudah menceritakan padamu, dan tadi Lala tidak ingin pulang ke rumahnya sementara waktu, dia ingin pulang ke apartemennya seorang diri. Aku dan Bang Erick tidak mengijinkannya jadi aku membawanya ke rumah. "
" Hmmm baiklah, tapi bisa kita melanjutkan yang tadi??? Lala tidak akan mendengar desahanmu, kita akan melakukannya pelan - pelan. "
" Hmmm dasar. Hanya itu yang ada di otakmu sekarang. Kita lanjutkan nanti malam. " Ucap Riana sambil beranjak meninggalkan tempat duduknya.
__ADS_1
" Baiklah, tapi kita akan melakukannya sampai pagi. "
" Terserah. lebih baik kamu mandi karena aku akan turun ke bawah membuatkan kamu kopi." Ucap Riana sebelum menutup pintu kamarnya.