
Bangun di pagi di akhir pekan memang memberikan suasana yang berbeda, begitu juga untuk Yoga. Pagi ini masih di pembaringannya, dengan malas dia melangkahkan kakinya menuju pintu. Dari tadi Maminya sudah berteriak di depan kamarnya.
" Kenapa sich Mi??? Belum jam enam sudah buat kehebohan. " Ucap Yoga sambil mengucek kedua matanya.
" Yoga, ini sudah mau pagi. Pasti kamu belum salat subuh. Cepat mandi lalu salat. Kalau sudah turun ke bawah, papi menunggumu di taman belakang. " Ucap Maminya yang sudah berlalu pergi.
Setelah Maminya meninggalkan kamar Yoga, dia pun terus ke Kamar mandi. Sebenarnya dia masih ingin tidur tapi karena malas mendengar omelan Maminya di pagi hari, maka Yoga pun menuruti perintah Maminya yang super cerewet tapi tetap selalu di hati karena hanya dia adalah wanita pertama yang selalu ada buat Yoga.
Setelah dia selesai dengan ritual mandi dan salat dia pun turun ke lantai bawah dan langsung menuju taman belakang rumah. Disana Mami dan Papinya sudah menunggunya sambil menikmati secangkir kopi dan beberapa kue kering.
" Pagi pi, pagi Mi. " Sapa Yoga
" kok lama banget sich baru turun Ga??? Dari tadi kami sudah nunggu buat sarapan. " Ucap Maminya.
" Sorry Mi, tadi lanjutin kerjaan sebentar. Lagian kan masih jam tujuh dan juga ini akhir pekan. Masih panjang waktu. " Ucap Yoga panjang lebar.
" Kamu mau sarapan nasi goreng Ga??? Kalau mau Mami suruh Bi Ratmi bawakan kesini. " Ucap Maminya.
" Biar Yoga ambil sendiri Mi, sekalian mau minta bikinkan air jeruk hangat. Papi mau nasi goreng juga??? " Tanya nya pada Papinya yang masih fokus pada tablet di depannya.
" Gak usah Ga, Papi mau minum kopi aja. "
" Okey, kalau gitu Yoga ke dalam sebentar. "
selang beberapa waktu Yoga kembali ke taman belakang rumah sambil membawa sepiring nasi goreng plus telur ceplok kesukaannya dan segelas air jeruk hangat.
" Mami mau??? Enak lo. " Ucap Yoga yang mulutnya di penuhi oleh makanan.
__ADS_1
" Kamu aja yang makan Ga, Mami masih kenyang. Dan juga pelan - pelan makannya. Jangan kayak anak kecil. "
" Iya Mi. Ngomong - ngomong ada yang ingin kalian bicarakan??? Gak biasanya Mami nelpon suruh Yoga pulang ke rumah. "
" Kamu ini ya memang anak durhaka. Tinggal satu kota tapi kok gak pernah ke rumah jengukin Mami. Mami kan kangen sama kamu Ga. "
" Sorry Mi, Yoga belakangan ini sibuk banget jadi gak punya kesempatan untuk pulang. "
" Alasan kamu Ga. Makanya cepat cari istri biar ada yang mengurusmu. "
" Yoga belum siap Mi. Jadi Mami dan Papi sabar dulu ya. "
" Ingat umur mu gak muda lagi Ga, gak lama lagi akan menginjak usia 30 tahun. Usia yang tepat untuk berumah tangga. " Ucap Papinya menimpali.
" Masalahnya Yoga belum menemukan yang cocok Pi. "
" Ga, Papi sudah buat keputusan untuk menjodohkan kamu dengan anaknya Om Brata. Anaknya lulusan dari luar negeri dan juga dia juga cantik. " Ucap Papinya tegas dan sukses membuat yoga menghentikan makannya yang tinggal beberapa suap lagi.
" Kali ini kamu harus nurutin perkataan Papi, Papi bosan menunggumu membawakan seorang wanita ke rumah. Dari kuliah hingga sekarang tak pernah sekalipun kau memperkenalkan calon istri kepada kami. " Ucap Papinya lagi sebelum beranjak pergi meninggalkan taman. Dia sengaja meninggalkan istri dan anaknya untuk menghindari pertengkaran dengan anak semata wayangnya yang keras kepala, sama seperti dirinya.
" Mami liatkan. Papi maunya menang sendiri. Kenapa sich harus ada perjodohan?? Yoga masih bisa kok mencari istri tanpa harus dijodohkan. " Ucap Yoga yang masih kesal.
" Ga, Papi dan Mami sudah memikirkan masalah ini. Fenia adalah calon istri yang pantas buat kamu. Dia cantik dan juga dari keluarga terpandang, sama seperti kita. Bibit, bobot dan bebetnya sudah jelas. " Ucap Maminya menjelaskan.
" Kenapa sich Mami dan Papi selalu memandang orang lain dari hartanya, kenapa bukan dari akhlaknya. Yoga gak suka dengan Fenia, dia wanita modern yang hanya tahu bersenang - senang dan menghabiskan waktu dengan clubing. "
" Wajar dong dia memanjakan dirinya, dia putri satu - satunya dari keluarganya. Dan Om Brata sangat menyayangi dia dan juga dia sangat menginginkanmu menjadi menantunya. Keluarga kita akan semakin terpandang bila engkau menikah dengan Fenia. "
__ADS_1
" Terserah lah, Yoga mau ke kamar dulu. " Ucap Yoga sebelum beranjak pergi meninggalkan Maminya seorang diri di taman belakang.
Sampai di kamar, Yoga yang masih kesal dengan ucapan Maminya.
" Bisa - bisanya mami dan papi memaksanya bertunangan dengan Fenia. Wanita manja dengan gaya hidup yang glamour dan juga tahunya bersenang - senang. Padahal aku sangat menginginkan wanita lembut seperti kamu La. Sayangnya kamu sudah menjadi istri orang lain. " Gumam Yoga yang frustasi sambil mengacak - acak rambutnya.
Sosok Lala akan selalu muncul jika dia membayangkan seorang wanita yang ingin dijadikannya istri. Sampai sekarang dihatinya masih terpaut nama Lala dan entah kapan bayangan itu akan pergi dari hati dan pikirannya. Yoga tak pernah menceritakan perihal Lala pada kedua orang tuanya, terutama Maminya. Karena dia tahu pasti mereka akan menolak mentah - mentah kalau tahu orang tua Lala yang hanya seorang pegawai negeri biasa. Mereka selalu menilai seseorang dari harta dan derajatnya saja, dan hal itu membuat Yoga kadang membenci orang tuanya.
Dan juga bukan tanpa alasan Yoga mengatakan Fenia wanita manja yang tahunya bersenang - senang. Sudah dua kali dia bertemu dengan Fenia dan kesan pertama yang dilihatnya semua sungguh tidak mengenakkan. Dia wanita egois yang selalu mengandalkan harta orang tua dan juga dia wanita yang tidak tahu menghormati orang yang lebih tua darinya. Dan itu semua membuat Yoga muak.
Lelah berkutat dengan pikirannya, akhirnya Yoga memutuskan untuk pulang ke apartemennya. Sebenarnya dia masih ingin menginap, tapi untuk menghindari pertengkaran dengan kedua orang tuanya jadi dia memutuskan untuk kembali ke apartemennya sekarang.
Setelah berganti pakaian dan mengumpulkan berkas - berkas yang berserakan di meja dia pun langsung menuju ke lantai bawah. Di ruang keluarga dia melihat Mami dan Papinya sedang santai sambil menonton televisi. Dia pun menghampiri mereka untuk berpamitan.
" Kamu mau kemana Ga???? " Tanya Maminya yang melihat Yoga sudah berganti pakaian.
" Yoga mau kembali ke apartemen dulu Mi, masih ada pekerjaan yang harus Yoga selesaikan. " Jawab Yoga.
" Disini kan juga bisa di selesaikan Ga. " Ucao Maminya lagi.
" Yoga mau singgah ke kantor sebentar Mi, mau ambil berkas yang tertinggal. Terus Yoga mau langsung ke apartemen aja, kan lebih dekat. " Ucap Yoga memberi alasan.
" Biarkan dia menyelesaikan pekerjaannya. Dan ingat besok kau telpon Fenia untuk mengajaknya makan siang. Kamu harus lebih mengenalnya. Pertunanganmu dengannya akan kita bicarakan setelah makan malam keluarga minggu depan. Akan lebih baik segera dilaksanakan. " Ucap Papinya Tegas.
" Pi, Yoga belum memutuskan masalah ini. Beri Yoga waktu memikirkannya. " Bantah Yoga.
" Ga, keputusan Papi sudah bulat dan tidak bisa di ganggu gugat. "
__ADS_1
" Terserah Papi, Yoga malas ngebahas masalah itu. Yoga pamit. " Ucap Yoga lalu berlalu pergi meninggalkan sepasang suami istri yang masih marah melihat kelakuan anaknya itu.
Yoga melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke apartemennya, dia masih marah karena paksaan dari orang tuanya yang menyuruhnya untuk bertunangan dengan wanita yang sama sekali tidak dicintainya. Sampai di Apartemen dia langsung menuju kamar untuk beristirahat dan menenangkan hati dan pikirannya yang sedang kacau balau.