Terus Mencintai

Terus Mencintai
Jangan Pernah Menyesal


__ADS_3

Hari ini Erick di sibukkan dengan jadwal yang padat. Jam sembilan pagi ini Erick akan ada pertemuan penting dengan klientnya.


Sampai di kantor, Rizal sudah menunggu Erick di ruangannya sambil menyiapkan berkas bersama sekretaris Erick dan juga istrinya, Sita.


" Ini ruangan kerjaku, bukan tempat kalian berpacaran " Ucap Erick ketika masuk ke ruangannya dan melihat asisten dan sekretarisnya menyiapkan berkas sambil bercanda.


" Pak Erick sudah tiba rupanya, saya akan menyiapkan hal lain untuk rapat penting pagi ini. " Ucap Sita sebelum pergi meninggalkan ruangan Erick.


" Bagaimana, apakah semua sudah siap??? " Tanya Erick yang masih sibuk di depan laptopnya.


" Sudah Pak. Sepuluh menit lagi kita berangkat. "


" Baiklah. Kuharap pak Hendy setuju dengan penawaran kita dan mau menandatangani kontrak yang kita ajukan. Aku tak ingin kehilangan kesempatan besar ini. Kita sudah bekerja keras untuk ini. "


Membayangkan keuntungan milyaran rupiah di depan mata seandainya perusahaannya memenangkan tender besar ini membuat Erick tersenyum sendiri, matanya masih menatap laptop di depannya, tapi pikirannya sudah melayang jauh di luar sana.


" Pak Erick kita bisa berangkat sekarang. " Ucap Rizal yang membuyarkan lamunan Erick.


Sampai di restaurant tempat tujuan mereka langsung memasuki ruang private. Klient yang di tunggu belum datang, baru beberapa menit kemudian mereka pun tiba.


" Maaf, kami sedikit terlambat. "


" Tidak mengapa. Kami sepertinya yang terlalu cepat. perkenalkan saya Erick Aditya Sanjaya. " Ucapnya sambil mengulurkan tangannya.


" dan ini asisten saya, Rizal. "


" Hendy Nugraha. " Membalas uluran tangan dari Erick.


" Memang benar kabar yang saya terima, Pak Erick pengusaha muda dan tampan serta sangat berkharisma. "


" Anda terlalu memuji, tapi saya akan tetap mengucapkan terima kasih atas pujiannya. "


" Anda terlalu merendah Pak Erick, apakah anda sudah menikah??? "


" Ya, saya sudah menikah. Belum terlalu lama. "


" Masih terpancar aura pengantin baru di wajah anda. Wanita mana yang begitu beruntung mendapatkan anda. Seandainya anda belum menikah, saya bisa mengajukan calon istri yang tepat buat anda. "


Disambut gelak tawa yang lain.


" Lebih baik kita melanjutkan pembicaraan masalah bisnis kita. "


" Baiklah, mari kita lanjutkan. "


Erick pun mulai memperlihatkan proposal yang sudah disiapkan. Menjelaskan kepada Pak Hendy secara detail.


Pak Hendy memperhatikan secara seksama, dia sangat senang dan puas menerima semua penjelasan dari Erick. Setelah mendengar semua tanpa ragu dia pun menandatangani kontrak kerja yang telah disediakan oleh Erick.


" Saya menantikan kerja sama yang baik antara perusahaan kita. "


" Terima kasih Pak Hendy atas kesempatan dan kepercayaannya. "


" Kalau begitu cukup sampai disini hari ini, kalau ada hal lain anda bisa menghubungi sekretaris saya. Saya permisi dulu karena masih ada rapat yang harus saya hadiri. "


" Sekali lagi terima kasih Pak Hendy. "


Mereka pun saling berjabat tangan sebelum berpisah.


" Akhirnya kita mendapatkan kontrak ini Rizal. "


" Selamat Pak. "

__ADS_1


" Terima kasih, semua ini juga berkat kerja keras dan usahamu. "


" Sama - sama Pak "


" Lebih baik kita kembali ke kantor. "


Rizal pun mengikuti langkah Erick yang meninggalkan ruangan tempat mereka rapat.


" Tunggu aku di mobil, aku ke toilet sebentar. "


" Baik pak "


Rizal menuju ke mobil ketika Erick melangkahkan kakinya menuju ke toilet. Keluar dari toilet Erick melihat seseorang memasuki toilet wanita


" Bukan kah dia wanita itu. Kebetulan sekali. " Gumamnya dalam hati.


Erick memutuskan menunggu perempuan tadi.


Lima menit kemudian dia pun keluar dari toilet.


" Permisi, bisa bicara sebentar??? "


Sherly memandang Erick dengan sejuta pertanyaan.


" Anda bicara padaku??? "


Erick hanya mengangguk


" Tapi sepertinya saya tidak mengenal anda. Ada perlu apa??? "


" Sungguh anda tidak mengingatku??? "


Sherly pun mulai berpikir, disaat seperti ini kadang dia mengutuk dirinya yang begitu pelupa. Tapi akhirnya dia pun mulai mengingatnya.


" Ada hal penting yang ingin aku tanyakan. Kamu ada waktu??? "


Sherly melirik jam yang ada di tangannya. Setengah jam lagi dia ada pemotretan.


" Sekarang sepertinya tak bisa, sebentar lagi aku ada pemotretan dan aku tak tahu kapan akan selesai. Tapi besok siang sepertinya aku senggang. "


" Baiklah, mari kita bertemu besok pada jam makan siang. Aku akan menunggumu disini. "


" Okey, aku akan datang. "


Setelah membuat janji, Sherly pun kembali ke tempat duduknya lalu mengajak seorang wanita yang menunggunya pergi meninggalkan restaurant itu.


" Apa yang diinginkan suamimu dariku La??? Apa yang ingin dia tahu??? Semoga seperti yang kuharapkan. " Gumam Sherly dalam hati sambil mengembangkan senyum khasnya, senyum yang bisa membuat lelaki bertekuk lutut di depannya.


Erick langsung menuju mobil, disana Rizal sudah menunggu lama. Mereka harus segera kembali ke kantor sekarang.


" Hanya dia harapanku satu satunya, mudahan dia mengetahui sesuatu. " Gumam Erick dalam hati sepanjang perjalanan menuju kantor.


□□□□□□□


Erick pulang kantor ketika magrib, sampai di rumah dia langsung menuju kamarnya. Istirnya yang baru selesai shalat menyambutnya dengan senyuman hangat yang bisa membuat lelahnya hilang dalam sekejap.


" Kamu sudah pulang Mas??? "


" Hmmmm "


Tidak ada jawaban lain yang di terima Lala. Sikap dingin yang selalu di berikan oleh suaminya sudah dianggap biasa oleh Lala. Tapi Lala tetap ingin ada perubahan pada Erick, walaupun sedikit dia ingin suaminya lebih peduli padanya.

__ADS_1


" Mandilah mas, baru mas salat. Setelah itu kita turun untuk makan malam. "


Lala memberikan Erick handuk bersih, tanpa suara Erick pun mengambil handuk dari tangan Lala dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dari kepenatan seharian di kantor.


" Mas, aku akan turun lebih dulu untuk menyiapkan makan malam. Turunlah kalau sudah selesai, aku menunggu mas di bawah. " Teriak Lala dari balik pintu kamar mandi lalu dia pun langsung melangkah menuju dapur.


Di dapur dia melihat bi Tini sedang menyiapkan makan malam mereka.


" Mana Erika bi??? Apa dia sudah pulang??? "


" Neng Erika belum lama datang. Dia mungkin sedang mandi. "


" Okey. Biarkan aku membantu menyiapkan makan malam. "


Tanpa menunggu jawaban, Lala mulai membantu asisten rumah tangganya. Begitulah Lala, dia tidak bisa tidak melakukan apa apa.


" Non semua sudah siap, biar saya panggilkan neng Erika dulu. "


" Gak usah bi, Erika sudah disini. " Ucap Erika ketika muncul di dapur.


" Dimana Bang Erick, kakak ipar ???? "


" Mungkin dia masih shalat. Dia akan segera turun. "


" Bagus lah kalau dia shalat, dia harus banyak berdoa dan meminta ampun pada tuhan agar dia tidak di laknat karena perbuatannya. "


" Jaga bicaramu Erika. " Suara Erick terdengar marah " Kau semakin tidak sopan denganku. Apa itu yang kau dapat ketika kau belajar di Korea??? "


Erika tidak menggubris ucapan Abangnya, dia malah duduk di tempatnya dan bersiap untuk makan.


" Sudahlah mas, sebaiknya kita makan. Tak baik bertengkar di depan makanan. " Ucap Lala mencoba menengahi pertengkaran kakak beradik itu biar tak terjadi perang besar.


Lala pun menyendokkan nasi serta lauk ke piring suaminya, lalu meletakkan di depan Erick.


" Kenapa sich La kamu begitu baik, padahal Bang Erick kan sudah menyakiti hatimu??? " Tanya Erika dalam hati ketika melihat cara Lala melayani suaminya.


" Erika mau kuambilkan makanan??? " Tanya Lala membuyarkan lamunannya.


" Tidak perlu kakak ipar, aku akan mengambil sendiri."


Erika pun menyendok sayur dan lauk ke piringnya. Dia menikmatinya masakan bi Tini dalam diam.


" Kenapa kau tidak makan nasi Ka??? " Tanya Erick karena melihat Erika makan tanpa nasi, dia khawatir adiknya akan sakit kalau kurang makan.


" Bang selama di korea, aku sudah mulai terbiasa makan tanpa nasi. Jadi abang gak usah khawatikan aku. Khawatirkanlah diri abang sendiri. "


Erick mengerti arah pembicaraan adiknya tapi dia pura pura acuh dan terus melanjutkan makan malamnya.


" Kau akan menyesal Bang ketika waktu akan merubah segalanya. " Erika.


" Aku sangat menantikan hari esok untuk mengetahui segalanya. " Erick.


" Kenapa kalian menjadi seperti orang asing??? Aku akan mencairkan suasana canggung ini " Lala.


" Bagaimana dengan urusanmu Ka??? "


" Hampir selesai kakak ipar. "


" Jadi kau akan segera kembali??? "


" Sepertinya aku akan mengundur beberapa hari kepulanganku ke Korea. Ada satu urusan lagi yang harus selesaikan sesegera mungkin. "

__ADS_1


Lala tidak melanjutkan kembali pertanyaannya dan memilih diam dan menghabiskan makan malamnya.


__ADS_2