The Most Beautiful Love

The Most Beautiful Love
Party


__ADS_3

...11...


Malam akhirnya tiba. Alena sudah siap dengan penampilan sederhana. Ia mematut dirinya di depan cermin rias. Alena menyunggingkan senyum menatap pantulan dirinya di depan cermin.


Tubuh ramping dengan lengkukan yang sempurna ditutupi oleh hoddy dengan ukuran King Size, serta celana olahraga yang longgar. Tidak lupa, Alena menguncir kuda rambutnya, lalu menempelkan tompel buatan di pipi kiri. Lalu, meraih kaca mata bulat yang selalu menjadi keidentikan dirinya.


"Selesai!" pekik Aelin menatap dirinya yang sudah siap. Alena segera meraih ponselnya dan memasukkan benda pipih itu ke dalam saku hoddy. Lalu keluar dari kamarnya.


Nyonya Giana yang kebetulan ada di ruang tengah langsung menoleh saat mendengar langkah kaki menuruni tangga. Terlihat jika Alena sedang berlari, sontak saja hal itu membuat ia panik.


"Lena, jangan lari. Turunnya pelan-pelan, sayang!" seru Nyonya Giana memperingatkan putrinya.


Alena langsung menghentikan langkah kaki, dan mengangkat tangannya membentuk huruf V sebagai pertanda ia minta maaf.


"Maaf, Mom. Aku terlalu semangat jadi turun tangga buru-buru," kekeh Alena dan mulai berjalan.


"Dady, pulang!" seru suara Tuan Surya dari arah pintu yang langsung membuat fokus dua perempuan itu tertuju pada sang kepala rumah tangga.


Tuan Surya menatap lekat pada Alena. Ia tahu jika putrinya berpenampilan seperti ini pasti putrinya akan pergi. Akan tetapi, kemana? Malam-malam seperti ini?


"Lena, kamu mau pergi kemana? nak," tanya Tuan Surya. Sembari memberikan tas kerjanya pada sang istri.


"Lena, mau pergi ke acara party akhir tahu Dad. Mom, sudah melarangnya tapi putri kita malah mengancam dengan tidak mau minum obat," adu Nyonya Giana.


"Dady, jangan larang aku. Please, perlakukan aku seperti remaja gadis lainnya. Aku bosan menjalani hariku, hanya dengan bangun tidur, lalu minum obat," keluh Alena dengan memberengutkan bibirnya. Ia segera menghampiri sang ayah dan mengamit lengan Tuan Surya dengan manja. Berharap jika sang ayah tida akan melarangnya seperti sang ibu.


Tuan Surya memeluk Alena dan mendaratkan kecupan ringan di puncak kepala putrinya.


"Dady, akan izinkan tapi Dady sendiri yang akan mengantarmu."


"Setuju!" pekik Alena senang. Ternyata sang ayah tidak melarang, bahkan menawarkan untuk mengantarnya.

__ADS_1


Nyonya Giana menghembuskan nafasnya kasar. Suami dan putrinya kompak tidak mendengarkan dirinya. Percuma tadi, ia mengompori suaminya berharap sang suami akan membantu ia memberi pengertian pada Alena untuk tidak pergi.


Setelah membersihkan diri. Tuan Surya menepati janjinya untuk mengantar Alena ke pesta. Selagi hal itu bisa membuat Alena bahagia, ia akan melakukan apapun untuk putri kesayangannya.


...----------------...


Di sisi lain, Vans juga tengah merapikan penampilannya. Sejak tiga jam lalu, ia terus saja merubah-rubah penampilannya. Ia ingin terlihat sempurna malam ini. Tentu untuk membuat Reline terpesona akan dirinya.


Akhirnya, Vans menetapkan pilihannya pada baju kotak-kotak berwarna merah bercampur hitam, lalu di masukkan ke dalam celana jins berwarna hitam. Sedangkan untuk model rambut, Vans memilih model rambut belah tengah. Vans menggunakan minyak rambut yang banyak, sehingga membuat rambutnya terlihat berkilau dan lepek.


Tak lupa, benda terakhir yang tidak akan pernah bisa ia tinggalkan. Tentu saja, kacamata. Tanpa alat ini ia tidak akan bisa melihat sesuatu jarak jauh dengan jelas.


"Aku yakin, Reline akan terpesona melihat penampilanku," lirih Vans dengan percaya diri sembari mengusap sekali lagi rambutnya.


Vans mengulum senyum melihat setangkai bunga mawar yang sudah ia siapkan untuk Reline. Perlahan ia mengambil bunga mawar tersebut dan menghirupnya. Aroma bunga mawar yang menyegarkan langsung menyeruak masuk ke dalam lubang hidunganya.


"Bunga ini untukmu, Reline. Aku tidak sabar, sebentar lagi kita akan menjadi sepasang kekasih dengan cinta sejati," gumam Vans dengan wajah penuh kebahagian.


...----------------...


Mereka semua mengenakan baju bagus dan juga indah. Acara ini juga menjadi ajang untuk memamerkan kekayaan keluarga mereka.


Tuan Surya menatap ke arah Alena yang hanya mengenakan baju santai. Selera putrinya memang sangat berbeda.


"Alena, kau tidak salah sayang memakai baju seperti itu? Lihatlah, teman-temanmu. Mereka mengenakan gaun yang indah," ujar Tuan Surya.


"Dad, aku tidak mau mengenakan gaun yang cantik seperti mereka. Aku tidak mau jika identitasku sampai diketahui oleh orang lain. Lagi pula, aku nyaman dengan pakaianku," balas Alena dengan tersenyum menyakinkan.


"Bukankah kau ingin menjalani hari seperti gadis lainnya? Lalu untuk apa kau bersembunyi di balik gaya yang terkesan ... Maaf cupu."


"Aku memang menginginkan hal itu, Dad. Tapi, aku tidak lupa jika di sini aku tidak ditakdirkan untuk menjadi seorang pemain. Aku hanya ditakdirkan hanya untuk menjadi penonton Dad. Aku juga tidak ingin mereka mengenalku dengan baik karena aku tidak ingin mereka menyimpanku dalam ingatan mereka. Cukup, mereka mengenalku sebagai gadis culun yang sama sekali tidak penting," jelas Alena dengan tersenyum getir. Perkataannya berhasil membuat hati Tuan Surya teriris nyilu. Bahkan, putrinya tidak berani untuk menjalani sebuah kehidupan. Tuan Surya memejamkan kedua matanya sejenak, menahan genangan air mata yang bersarang di pelupuk matanya.

__ADS_1


"Baiklah, Dad. Aku masuk dulu." Alena mencium sekilas pipi kiri Tuan Surya dan segera keluar dari mobil. Tuan Surya menatap kepergian Alena dengan rasa sesak di dadanya.


Alena menatap takjub lapangan belakang sekolah yang kini telah disulap menjadi tempat yang indah. Beberapa meja bundar dengan kain putih sudah tertata dengan rapi. Sebuah panggung mini terletak di dekat kolam renang yang ada di samping lapangan.


Alena memilih untuk duduk di salah satu kursi yang terletak di bagian pojok. Ia sengaja memilih tempat ini karena akan jauh dari kerumunan para murid yang sedang asik dengan kegiatan masing-masing.


Acara pun di mulai. Acara pertama adalah boy-band sekolah yang mempersembahkan sebuah lagu yang membuat para murid bersorak penuh kesenangan. Di lanjutkan dengan acara-acara yang semakin seru. Alena begitu menikmati acara ini, meski ia tidak turut berbaur.


Sementara itu, di tengah-tengah keriuhan para murid. Vans tengah menatap gugup pada Raline yang asik berjoget dengan dentuman musik di sekitar panggung.


Aku harus bisa mengatakan perasaanku. Batin Vans menyemangati dirinya dan memantapkan niatnya.


Tangannya yang memegang setangkai bunga mawar terlihat bergetar dengan keringat yang mulai keluar. Di tambah dengan jantungnya yang berdegup dengan sangat kencang, seperti genderang perang yang sedang ditabuh.


Vans menyentuh dada kirinya. Ia semakin yakin, jantungnya berdetak karena Raline adalah cinta sejatinya, seperti yang dikatakan oleh Vihan.


Vans menarik nafasnya panjang. Lalu, berjalan mendekat ke arah Raline dengan mantap. Kali ini, ia tidak akan mundur.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa like


koment


gift


vote


tips

__ADS_1


__ADS_2