
...32...
"Akhirnya, putri Momy pulang juga!" seru Nyonya Giana yang beranjak dari kursi dapur. Ia sengaja menunggu Alena pulang, jujur ia merasa sedikit khawatir, tetapi kini putrinya pulang tanpa kekurangan sesuatu apapun. Akan tetapi, malah membawa tiga paperbag sekaligus yang menjadi pusat perhatian Nyonya Giana. Alena mengerjit dan mendekat ke arah sang ibu. Biasanya jam segini sang Momy sudah tidur.
"Loh, Mom kok belum tidur?" Alena meletakkan paperbag yang ia bawa di atas meja.
"Gimana Momy bisa tidur kalau putri kesayangan Momy belum pulang."
Alena tersenyum lebar mendengar ucapan sang Momy, kata-kata yang selalu berhasil membuat ia merasa menjadi seorang putri yang sangat beruntung karena memiliki orang tua seperti mereka. Selalu diperlakukan layaknya seorang putri kastil yang sangat berharga.
"Kamu bawa apa, sayang?" tanya Nyonya Giana dengan membuka paperbag yang dibawa Alena.
"Itu titipan dari Momy Hana buat Momy. Dia sangat pandai memasak, aku aja sampai ketagihan dengan masakannya."
"Momy Hana?"
"Iya, maksudku momynya Vans."
"Ohh, sekarang udah main panggil Momy," ledek Nyonya Giana dengan wajah menelisik.
"Issh Momy, jangan berpikiran yang aneh-aneh deh. Momy Hana itu sangat baik, dia juga menitip salam pada Momy. Katanya, kapan-kapan kita harus bertemu dan berkumpul bersama, menghabiskan waktu untuk saling lebih dekat lagi atau grils time."
"Wahh, sepertinya dia itu Momy yang trand juga ya."
"Iya sama kayak Momy, dia juga suka bunga. Momy tahu, aku benar-benar kagum melihat taman bunga miliknya. Hampir semua yang ditanam di sana itu bunga-bunga langka dan juga mahal. Momy Hana juga punya bunga mawar emas yang Momy punya."
"Aduh, Momy ngak bisa kebayang membayangkan tama bunga dengan bunga sebanyak itu. Momy ingin sekali bertemu dengan momynya Vans. Momy ingin sekali berkunjung ke rumahnya." Nyonya Giana terlihat senang dan begitu antusias mendengar cerita Alena. Ia sudah bisa membayangkan betapa baiknya keluarga Vans. Bahkan, setelah pulang dari sana senyum Alena tidak luntur sedikitpun. Ia juga tidak menyangka jika ibunya Vans memiliki hobi yang sama dengannya, yaitu menanam bunga.
"Ya sudah, Mom. Aku ngantuk banget aku kamar ya," pamit Alena, yang diangguki oleh Nyonya Giana. Alena segera menaiki anak tangga yang menghubungkan dirinya dengan kamar kesayangan yang selalu menjadi tempat favorit. Sedangkan Nyonya Giana sibuk melihat makanan yang dikirimkan oleh Nyonya Hana.
Alena terus melangkahkan kakinya dengan wajah tersenyum. Malam ini begitu indah dan menyenangkan. Keluarga Vans menerima dirinya dengan begitu baik. Bahkan memperlakukan dirinya sebagai tamu penting. Rasanya ini semua adalah mimpi kecil yang begitu indah. Ia tidak pernah membayangkan hal seperti ini bisa terjadi, diterima oleh orang luar dan diperlakukan dengan begitu istimewa tanpa mereka tahu identitas aslinya.
Ia menyadari satu hal malam ini. Jika, semua orang tidaklah sama. Ada beberapa orang yang memang sangat tulus dan baik, bisa menerima tanpa ada keinginan untuk menuntut. Alena berhenti di depan pintu kamarnya dan bergegas untuk masuk.
__ADS_1
"Alena!" panggil Tuan Surya yang langsung menghentikan langkah Alena untuk masuk ke dalam kamar.
"Iya, Dad." Alena menoleh, sepertinya sang Dady baru keluar dari ruang kerjanya. Yah, ruang kerja milik Tuan Surya hanya terhalang perpustakaan mini dengan kamar Alena.
"Kamu suda pulang, sayang. Wah, putri Dady terlihat sangat bahagia." Tuan Surya mengusap lembut kepala Alena dengan penuh kasih sayang.
"Iya, keluarga Vans menerimaku dengan sangat baik. Dady tahu, mereka menyulap rumah mereka seperti restaurant berbintang karena ingin membuat aku terkesan. Mereka sangat baik dan juga ramah, dalam pertemuan pertama aku merasa menjadi bagian dari mereka," tutur Alena dengan pipi yang merona, ketika ingatannya membentur kejadian saat ia berada ditaman bunga bersama Vans. Ia masih ingat dengan begitu jelas pujian Vans yang membuat ia membeku menjadi patung es.
Tuan Surya menajamkan penglihatannya untuk memastikan jika apa yang ia lihat tidak salah. Jika pipi putih milik putrinya itu memerah seperti kepiting yang direbus selama ribuan tahun.
Seumur hidup ini adalah pertama kalinya, ia melihat Alena tersipu malu. Entah apa yang dipikirkan Alena tapi Tuan Surya yakin jika terjadi sesuatu antara putrinya dengan pemuda yang bernama Vans.
"Wajahmu memerah, Lena. Apa yang sedang kamu pikirkan?" selidik Tuan Surya dengan nada menggoda, yang langsung membuat Alena refleks memegang kedua pipinya.
Oh tidak, sebenarnya apa yang terjadi dengan wajahku? Kenapa kedua pipiku memerah tanpa aku ketahui. Aku juga merasa sedikit geli. Batin Alena salah tingkah.
"Ahh, Dad. Aku sudah sangat mengantuk, aku tidur dulu. Selamat malam, Dad. Aku menyayangimu!" seru Alena dengan cepat. Lalu, mencium kilat pipi Tuan Surya dan mendobrak pintu kamarnya sendiri.
Brak!
.
Alena menyenderkan tubuhnya di balik pintu dengan debaran jantung yang berdetak semakin cepat. Nafas Alena terasa ditarik-ulur dengan sedikit berat. Akan tetapi, wajah Alena semakin memerah dan memanas. Ia merasa benar-benar malu saat sang Dady menanyakan kenapa pipinya memerah.
Alena menarik nafas dalam-dalam. Lalu, menghembuskannya dengan perlahan. Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya? Ada rasa aneh yang sedang menggerayani hatinya. Rasa yang terasa sangat geli, seperti hatinya sedang dihinggapi oleh ribuan kupu-kupu. Terasa sangat aneh namun juga membahagiakan di waktu yang bersamaan.
Alena berlari ke arah meja rias. Ia menatap pantulan dirinya pada cermin di depannya. Tangan Alena terangkat menyentuh kedua pipinya yang terlihat memerah dengan merona, seperti ia sedang menggunakan blus-on dengan warna yang begitu kontras.
"Ternyata benar, pipiku memerah," gumam Alena bermonolog pada dirinya sendiri.
"Apa aku sakit?" Alena menyentuh keningnya, tetapi suhu tubuhnya sama sekali tidak memanas.
"Tidak, aku tidak sakit. Lalu, kenapa dengan wajahku? Apa karena penyakit kanker yang ada di tubuhku? Astaga ada apa dengan diriku!" pekik Alena dengan suara yang tertahan. Ingin sekali rasanya ia berteriak, mengeluarkan rasa yang begitu menggelikan. Namun, ia tidak sebodoh itu untuk melakukan hal itu. Bisa-bisa semua orang yang ada di perkomplekan ini berkumpul dirumahnya.
__ADS_1
Lirikan mata Alena terhenti pada figura di atas meja belajarnya. Figura yang bukan menampilkan foto, tetapi menampilkan tiga permintaan dan impian Alena dalam hidupnya yang begitu singkat. Kedua sudut bibir Alena terangkat, menciptakan lengkungan yang sangat indah. Ia berjalan mendekat dan meraih figura tersebut.
Tiga impiannya yang sengaja ia tulis dan pajang. Tulisan yang sudah terpajang saat ia berusia tujuh tahun. Ia membuat tiga impian ini agar semangat hidup dan keinginan untuk sembuh dalam dirinya semakin besar. Akan tehapi, seiring berjalannya waktu. Semangat dan keinginan untuk hidup dalam dirinya mulai terkikis dan menghilang. Di depan matanya, hanya terlihat kematian. Semua hal itu terjadi karena hasil pengobatan yang dijalaninya selalu saja gagal hingga ia bosan dan benci kata penyembuhan.
Namun, hari ini salah satu impiannya teruwujud. Ia bahkan tida menyangka dan tidak percaya. Akan tetapi, sepertinya tuhan masih mengasihani dirinya. Tiga impian yang ditulis Alena adalah:
Impian pertama: Aku ingin punya teman.
Sangat sederhana bukan? Tapi percayalah sebagian orang tidak memiliki teman yang tulus, dan ia adalah orang yang masuk dalam golongan orang yang tidak beruntung untuk memiliki seorang teman. Sampai akhirnya, Vans datang menawarkan sebuah pertemanan, dan membuat Alena merasa sangat senang dan bahagia.
Impian kedua: Aku ingin menikmati pasar malam.
Impian ketiga: Aku ingin orang yang paling kukasihi hadir pada ajang terbesar balerina, dan melihatku menari dengan senyum lebar.
Sudut bibirnya Alena berkedut dengan kedua mata yang mulai memanas dan berkaca-kaca, saat ia membaca keinginan ketiga. Impian yang ia rasa sangat sulit untuk terwujud. Impian yang seperti hanya angan belaka yang hanya bisa ditulis tanpa bisa ia wujudkan.
Keinginan yang baginya sangat mustahil karena mungkin umurnya tidak akan bisa mencapai hari itu. Satu tetes air mata Alena jatuh di atas figura. Rasa sesak menyeruak masuk ke dalam dada Alena. Ia menggigit keras bibir bawahnya untuk meredam suara isakan tangis yang semakin pecah.
"Tuhan, aku sangat berharap impian sederhanaku ini kau kabulkan. Jika, kau begitu menyayangiku, setidaknya wujudkan Tuhan. Hari ini, aku begitu bahagia karena kau mengabulkan satu impianku. Aku berharap dua keinginanku berikutnya juga terkabul," lirih Alena dengan menghapus air matanya.
Waktu terasa begitu singkat baginya. Jika boleh meminta, ia ingin hidup hingga hari tua. Namun, ia tidak seberuntung itu. Jangankan berumur hingga hari tua, ia bahkan tidak tahu mungkin umurnya hanya sampai tahun depan.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like koment
gift
vote
__ADS_1
tips
Othor crazy UP nih tolong tipsnya dan juga vote ya