The Most Beautiful Love

The Most Beautiful Love
Pejamkan!


__ADS_3

...48...


Ciiittt!


Taksi tiba-tiba mengerem mendadak, membuat tubuh Alena dan Vans terhempas ke depan. Dengan cepat dan sigap, Vans meletakkan telapak tangannya pada kening Alena sehingga kepala Alena tidak membentur jok depan.


Hal itu membuat kedua jantung mereka semakin terpompa dengan cepat karena rasa terkejut oleh taksi yang mereka tumpangi yang mengerem mendadak.


"Lo ngak papa?" tanya Vans dengan khawatir, sembari memeriksa jika Alena baik-baik saja.


Alena meremas jahitan roknya dengan kuat, menekan perasaan sendiri yang terasa sedang meledak hebat. Perlakuan Vans yang begitu manis dan mengayomi dirinya membuat rasa cinta dalam dirinya semakin tumbuh subur.


Oh tuhan, Vans kenapa sih lo bersikap seperti ini sama gue. Lo ngak tahu apa, kalau hati gue mau sekarat karena baper sama lo. Batin Alena mengeluarkan unek-unek dalam hatinya. Namun, ia tidak seberani itu untuk mengatakan hal itu pada Vans.


"Woii, ngelamun terus!" sentak Vans dengan menambah volume suaranya.


Srak!


Alena lansung mendorong tubuh Vans hingga menjauh dari dirinya. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Di mana nafasnya terlihat tidak stabil karena terlalu gugup saat berdetakan dengan Vans.

__ADS_1


"Bisa ngak sih, lo jangan deket-deket gue," ketus Alena dengan memasang wajah tidak suka. Vans yang melihat sikap jutek Alena merasa kesal karena bukannya berterimakasih tapi Alena malah bersikap sinis. Seolah-olah ia melakukan hal yang salah.


"Lo itu gimana sih, bukannya bilang makasih malah ketus sama gue. Kalau gue ngak ada bisa-bisa kepala lo benjol tahu, Lena." Vans memasang wajah kesal.


"Pokoknya kita akan ke danau titik," imbuh Vans lagi. Lalu, memilih membuang pandangannya keluar jendela.


Taksi melaju membelah jalanan dengan arah haluan yang berbeda, sesuai dengan permintaan sang penumpang. Alena lagi-lagi hanya bisa menghela nafas berat. Ia tidak bisa menolak atau pun membuat Vans mengerti jika mereka harus pulang.


Entah apa yang akan terjadi saat ia pulang nanti. Akan tetapi, yang pasti ia akan mendengar ocehan sepanjang sungai Nil dari sang Momy, membayangkan hal itu saja membuat ia menalan ludah paksa.


Sedangkan Vans, ia memilih untuk diam dan mengunci mulut. Ia tidak mau berebat lagi dengan Alena. Ia tidak ingin gadis cerewet dan bawel itu akan menolak dan berubah pikiran. Ia janji, dirinya tidak akan menyita banyak waktu Alena. Ia hanya membutuhkan sedikit waktu, untuk memberikan hal yang pastinya akan membuat gadis di sampingnya merasa bahagia.


Vans segera menarik wajah Alena, saat gadis itu hendak melihat keluar jendela. Tentu saja, hal itu membuat Alena terlonjak kaget bukan kepalang. Apalagi sekarang, wajah Vans hanya berjarak dua centimeter dari wajahnya. Bahkan, Alena bisa merasakan sapuan hangat nafas Vans pada wajahnya.


Jangan ditanya lagi, bagaimana perasaan Alena saat ini. Ia sudah merasa menjadi mayat hidup dengan detak jantung yang berhenti berdetak.


Perlahan, tangan Vans terangkat mengusap wajah Alena mulai dari atas hingga ke bawah.


"Pejamkan mata indah lo untuk sebentar. Gelap ini akan mengantarkan lo pada sinar yang indah," lirih Vans dengan tatapan yang begitu dalam. Kedua kelopak mata Alena terpejam dengan rapat meskipun ia bingung dengan apa yang akan dilakukan oleh Vans. Namun, seluruh bagian tubuhnya menurut pada perintah pria itu walaupun pikiran dan perasaan menolak akan hal itu.

__ADS_1


"G--gue takut gelap," ujar Alena terbata-bata dengan raut wajah panik, tetapi kedua matanya tetap terpejam. Seolah sapuan tangan Vans yang begitu lembut di wajahnya seperti lem perekat yang sangat lengket.


...----------------...


...****************...



ini Alena ya.. bayangkan aja punya tompel๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


jangan lupa


like


komentar


gift


vote

__ADS_1


tips


__ADS_2