The Most Beautiful Love

The Most Beautiful Love
Tidak bertemu


__ADS_3

...16...


Alena meraih sebuah note kecil berwarna Pink. Ia sangat menyukai warna soft ini. Warna itu melambangkan sebuah kebahagian, tetapi tida ia dapatkan dalam hidup. Perlahan, tangan Alena yang sedikit gemetar mulai menorehkan sebuah kalimat pada note kecil itu.


'Aku tidak menduga jika diriku bisa berguna untuk orang lain, menjalani hidup ini dengan standar kehidupan membuat sesuatu dalam diriku ingin bermimpi. Akan tetapi, aku terlalu takut.'


Klek!


Pintu kamar Alena terbuka, dari balik pintu terlihat Nyonya Giana membawa nampan berisi makanan dan obat-obatan.


Lagi, batin Alena menatap nanar beberapa kantung obat. Hanya dengan melihatnya saja membuat Alena malas.


"Sedang apa? Sayang," tanya Nyonya Giana mendekat ke arah Alena.


Alena segera merapikan kembali note miliknya, memasukkan benda kecil itu ke dalam laci meja.


"Tidak ada," jawab Alena singkat.


Nyonya Giana memaksakan senyumnya. Tentu saja, ia tahu apa yang sedang dilakukan Alena. Apalagi, jika bukan meratapi nasibnya. Namun, ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan putrinya. Ia harus terlihat kuat agar Alena juga kuat menjalani pengobatan ini.


"Lihat, Momy membawakan makanan kesukaanmu, dan juga obatmu. Sebentar lagi kamu pasti akan sembuh, Lena," ucap Nyonya Giana menghibur Alena.


Alena tersenyum kecut, lalu meraih garpu dan sendok kemudian mulai memakan makanan tersebut. Alena menggigit lidahnya sendiri karena ternyata makanan yang masuk ke dalam mulutnya terasa begitu pahit. Sungguh, penyakit ini juga mengganggu indra pengecapnya.


"Enak?" tanya Nyonya Giana.


"Sangat enak," bohong Alena.


"Setelah makan, minumlah obat ini." Nyonya Giana meracik butiran-butiran obat untuk Alena.


"Mom, kapan kita bisa pulang?"


"Lima hari lagi, sayang. Setelah hasil laporan pengobatanmu keluar. Momy yakin pasti ada perubahan. Penyakit sialan itu pasti akan pergi dari hidupmu," hibur Nyonya Giana memberi semangat pada putrinya, memasang wajah ceria seolah-olah semuanya akan selalu baik-baik saja.


"Syukurlah, aku sudah sangat bosan di sini, Mom. Aku sudah sangat merindukan sekolah dan les ballet. Pasti, Madam Mosy akan marah karena aku melewatkan banyak latihan."


"Madam Mosy tidak akan marah padamu, sayang. Dady sudah meminta izin padanya. Jadi, kamu hanya perlu fokus dengan pengobatanmu. Pokoknya kamu tidak boleh menyerah, kamu sudah berhasil bertahan sampai tahap ini. Momy yakin kamu bisa melawan penyakit ini."

__ADS_1


Sampai kapan? Batin Alena tertawa lucu dalam hati. Harapan orang tuanya memang sangat besar. Akan tetapi kenyataan lebih pahit daripada besarnya harapan itu.


...----------------...


Seperti biasa, Vans memarkirkan sepedanya di antara deretan motor mahal dengan berbagai merek. Ia segera berjalan masuk ke dalam sekolah. Ia sudah tidak sabar untuk segera menemui Alena. Ia harus segera berterimakasih pada gadis itu dan menanyakan pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh gadis itu.


Vans berjalan sambil menundukkan kepalanya. Saat sepanjang jalan yang ia lewati para murid menatapnya dengan penuh jijik dan merendahkan.


Bahkan, Vans bisa mendengar suara bisikan-bisikan mencela dan menghina dirinya. Tentu saja, tentang masalah ia berani menyatakan perasaan pada sang dewi sekolah.


Vans meremas tali tasnya dengan erat. Ia merasa sangat gugup dan risih dengan tatapan semua orang. Ia merasa seperti seorang penjahat yang baru saja melakukan sebuah kejahatan yang sangat besar.


Vans menekan kacamata pada hidung mancungnya. Namun, langkah Vans berhenti saat sebuah tangan terentang di depannya. Ia mengangkat wajahnya, dan terlihat Justin berdiri tepat di hadapannya.


Tubuh Vans langsung gemetar ketakutan. Keringat dingin mulai mengalir di pelipis pria itu. Dada Vans terlihat naik turun dengan nafas yang dihembuskan dengan berat. Ia masih ingat bagaimana Justin memukulinya dan mendorongnya hingga tenggelam di dalam kolam.


"Aaa--apa yang lo mau?" tanya Vans dengan terbata-bata. Tubuhnya melangkah mundur ke belakang. Namun, tiba-tiba di belakang tubuhnya menabrak sesuatu. Vans berbalik ke belakang dan melihat Billy sudah berdiri dengan seringgainya.


"Lo, mau kabur?" cibir Billy.


Puk!


Justin menepuk bahu Vans yang sontak langsung membuat Vans terlonjak kaget.


"Ampun, ampun." Vans mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


Justin, Billy, dan Denol tertawa terbahak-bahak melihat Vans yang langsung ketakutan saat sang bos menyentuh bahunya. Sungguh hiburan yang sangat lucu.


"Bagi duit donk!" Denol menengadahkan tanganya di depan wajah Vans.


Tidak ingin menjadi bahan samsak tiga monster di depannya. Vans memberikan sebagian uang sakunya pada Denol.


"Bagus, terus jadi anak baik ya, culun. Setiap hari lo harus bagi uang saku lo buat kita-kita. Berani lo ngelawan, abis lo." Denol memperagakan gerakan memutus leher untuk mengancam dan membuat Vans ketakutan. Tentu saja, hal itu berhasil membuat wajah Vans menjadi pucat.


"Dengar, lo ngak boleh deketin Raline karena dia itu calon pacar gue. Tapi, lo harus ngerjain tugas Raline karena gue ngak mau lihat dia kesusahan, paham?" ujar Justin yang langsung di angguki oleh Vans.


Justin tersenyum melihat kepatuhan murid culun ini. Dengan kurang ajarnya, Justin menoyor kepala Vans dengan keras. Lalu, ketiga pria itu pergi meninggalkan Vans dengan rasa takutnya.

__ADS_1


Vans segera berlari menuju kelasnya. Jantungnya hampir copot karena perlakuan kasar Justin dan kedua temannya. Akan tetapi, sekarang ia harus menjadi babu ketiga pria itu dan selalu menuruti semua keinginan pria kejam itu.


Dan untuk masalah Raline, ia sangat kecewa. Namun, ia tidak bisa membohongi hatinya yang masih tertarik dengan gadis cantik itu, meski dengan jahatnya Raline menolaknya mentah-mentah dan menghinanya.


Vans mengedarkan pandanganya ke seluruh sudut kelas yang sudah mula ramai. Namun, sosok Alena yang ia cari tidak ia temukan.


"Gadis itu belum datang?" gumam Vans dengan meletakkan ranselnya di atas meja. Lalu, merebahkan bokongnya di kursi. Teman sebangkunya hanya diam tidak menganggap Vans ada di dekatnya.


Beberapa menit berlalu, jam terus berjalan. Tinggal dua menit lagi jam pelajaran akan dimulai. Namun, Alena tak kunjung datang.


Vans menoleh ke arah meja pojok yang selalu ditempati oleh gadis berkacamata dan bertompel itu. Akan tetapi, meja itu kosong tanpa penghuni.


"Apa dia tidak masuk sekolah? Tapi, ini hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang. Menambah libur sama sekali tidak diperbolehkan oleh pihak sekolah. Atau, jangan-jangan gadis itu pindah sekolah?" Mulut Vans terbuka lebar memikirkan pertanyaan yang baru saja keluar dari mulutnya.


"Hei, Apa Alena tidak masuk?" tanya Vans dengan wajah panik pada teman sebangkunya yang sejak tadi memilih untuk tidur.


"Aku tidak tahu, jangan mengganguku, culun. Aku bukan spesies manusia seperti kalian. Jadi, aku tidak tahu spesiesmu ada di mana," sinis pria tersebut lalu kembali melanjutkan tidurnya.


"Selamat pagi, semua!" seru pria paruh baya yang sepertinya adalah wali kelas baru.


"Selamat pagi, pak!" jawab seluruh murid dengan serempak.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


koment


gift


vote


tips

__ADS_1


__ADS_2