
...71...
"Alena, hentikan!" teriak Madam Mosy dengan titah mutlak. Di mana ia menarik tubuh Alena hingga terjatuh ke lantai.
Brugh!
Alena membuka kedua matanya yang sembab dan menatap lekat pada Madam Mosy yang terlihat khawatir. Alunan musik yang ia dengar tadi ternyata sudah mati. Deru nafas Alena memburu dengan dada yang naik turun tak beraturan.
"Ceritakan, apa yang kamu sembunyikan!" seru Madam Mosy terkesan memerintah dan tak ingin disanggah.
Alena menyeka keringat yang ada di wajahnya dengan cepat. Menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan dengan perlahan. Apa yang sudah ia lakukan? Karena terlarut dalam tariannya sendiri. Ia sampai lupa jika ada Madam Mosy yang memperhatikan dirinya.
Seharusnya ia fokus dengan latihan dan tidak membawa masalah pribadi saat latihan. Namun, melodi sedih yang menyentuh kalbu yang diputar sungguh sangat sesuai dengan apa yang ia rasakan saat ini. Rasa sesak, sakit hati, kecewa, dan rasa yang tak bisa di ungkapkan, ia salurkan dalam setiap gerakan tubuhnya.
"Madam, maafkan aku. Aku terlalu menghayati tarianku," ucap Alena memberi alasan dengan kepala tertunduk.
Madam Mosy duduk di samping sang murid. Ia mengelus lembut puncak kepala Alena. Sudah hampir belasan tahun ia menjadi guru gadis cantik ini. Tentu saja, ia tahu jika Alena tidak baik-baik saja. Setiap Alena memiliki beban kehidupan, gadis itu akan menyalurkannya lewat tarian. Entah itu amarah atau pun bahagia. Namun, hari ini ia seakan melihat semua emosi menyatu menjadi beban yang sangat berat pada Alena. Gadis itu mungkin mengatakan jika dia baik-baik saja. Namun, tariannya sudah membuktikan jika dia tidak baik-baik saja.
"Aku mengenalmu sejak kamu masih berusia dua tahun. Kamu masuk ke sanggar tariku di saat usiamu masih sangat muda. Setiap moment lucu dan duka dalam hidupmu hampir aku tahu karena kamu tumbuh di sekitarku. Aku sangat mengenal bagaimana kamu menghayati setiap gerakan dengan melodi yang dimainkan. Namun, tadi kamu tidak melakukan hal itu. Aku melihat setiap gerakan yang kamu tekan. Seolah kamu menyuarakan apa yang kamu rasakan. Sekarang kamu katakan padaku apa yang coba kamu sembunyikan?" tutur Madam Mosy panjang kali lebar, membujuk sang murid agar terbuka dan bercerita padanya.
Dua buliran bening jatuh begitu saja di pipi Alena. Bagaimana pun ia menyembunyikan rasa sakit ini dari semua orang tapi ia tidak bisa mengelabui sang guru. Madam Mosy selalu tahu jika ia ada masalah maka gerakan tariannya akan terpengaruh.
"A--aku tidak bisa sembuh. Hiks ... Hiks ...." Tangis Alena pecah dengan tubuh yang bergetar hebat. Lagi-lagi ia menangis sesenggukan. Sungguh, ia ingin terlihat tegar dan kuat. Namun, ia belum bisa menjadi sosok itu. Ia sangat rapuh bahkan lebih rapuh dari kertas yang menjadi abu.
"Aku baru tahu, Madam. Jika pengobatan yang ku lakukan di Singapura ternyata gagal. Pengobatan itu tidak pernah menyembuhkan penyakitku. Hiks ... tapi hanya membuat umurku semakin panjang. Aku kecewa Madam, momy dan dadyku menyembunyikan hal ini dan berbohong dengan mengatakan aku akan sembuh. Namun, kenyataannya tida seperti itu, malah penyakit kanker ini semakin menyerang tubuhku." Alena menyeka air mata yang ada di wajahnya meskipun cairan asin dan bening itu terus mengalir.
"Aku merasa terbang dengan sangat bebas di langit yang tinggi. Di mana harapan dan semangatku begitu besar. Aku sangat senang karena aku tidak akan sakit lagi. Aku tidak akan merasakan betapa sakitnya kemoterapi dan sejenisnya. Aku akan sembuh seperti gadis lainnya. Namun, semua itu hanyalah ilusi. Sayap yang ku gunakan untuk terbang dipotong dan tubuhku dibanting dengan sangat keras hingga jatuh ke bumi. Hiks ... Hiks ... Duniaku hancur dan menjadi gelap." Madam Mosy memeluk Alena dengan hangat. Air matanya mengalir begitu saja dengan hati yang ikut merasa sedih.
Kesedihan Alena seolah menular dan bisa ia rasakan. Pasti sangat menyakitkan ketika kamu diberi harapan dan setelah itu, harapan itu diambil kembali. Madam Mosy menepuk pelan pundak Alena, menyalurkan kekuatan dan ketenangan pada gadis yang hampir hancur ini.
__ADS_1
"Semua yang terjadi ada hikmahnya. Kamu adalah gadis yang sangat cerdas dan pintar. Madam yakin, semuanya akan baik-baik saja. Percayalah, jika hal yang mustahil bisa terjadi. Begitu pula dengan penyakitmu. Jika kamu semakin lemah dan rapuh maka kanker itu akan semakin ganas menyerangmu, tetapi jika kamu kuat dan berani. Maka, pertumbuhan sel itu akan terhambat," hibur Madam Mosy mengurai pelukannya dan menghapus jejak air mata di wajah Alena.
"Kamu tidak pernah menyerah di setiap pertandingan. Apa kamu akan menyerah begitu saja di pertandingan hidup ini." Madam Mosy berusaha membakar semangat Alena agar bangkit lagi dan tidak terpuruk dalam keputus asaan.
"Iyah, Madam memang benar. Aku tidak bisa menyerah sekarang," balas Alena dengan senyum yang dipaksakan.
Terkadang menyerah di depan takdir adalah hal yang benar. Batin Alena menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong.
...----------------...
"Vans, bagaimana kalau kita pergi ke luar?" tanya Raline dari ujung telpon. Yah, saat ini Vans dan Raline sedang telponan. Raline sejak tadi terus mengirim Vans pesan dan akhirnya mereka berakhir dengan berbicara via telpon.
"Maaf tapi gue ngak bisa," tolak Vans dengan lembut. Di mana wajahnya terlihat masam.
"Kenapa?"
"Hmm, ya udah deh. Selamat malam Vans."
"Selamat malam."
"Nice ******."
"Iya."
Vans memutuskan panggilan tersebut. Lalu, melihat riwayat panggilan, mengecek apa ada panggilan masuk dari Alena saat ia menelpon dengan Raline. Namun, ternyata tidak ada sama sekali. Pesan yang ia kirimkan pun tidak dibalas sama sekali. Jangankan dibalas, dibaca pun tidak oleh gadis itu.
Kesabaran Vans benar-benar habis. Ia sudah sangat tersiksa dengan rasa khawatir dan cemas yang membelengu dirinya. Tanpa pikir panjang, Vans keluar dari kamar dengan berlari melewati Tuan Ferdy, Nyonya Hana, dan Vihan yang tengah berkumpul di ruang tamu.
"Vans kamu mau pergi kemana?" tanya Tuan Ferdy saat melihat sang putra berlari melewati mereka.
__ADS_1
"Iya, kok buru-buru banget?" tambah Nyonya Hana ikut memberondog Vans dengan pertanyaan.
"Aku mau keluar sebentar," jawab Vans singkat dan terus berlari menuju lemari kunci.
"Tapi kamu belum makan malam!" teriak Nyonay Hana.
"Aku makan diluar," timpal Vans dengan berteriak juga.
Tuan Ferdy, Nyonya Hana, dan juga Vihan menatap siluet Vans yang hilang begitu cepat dari bari pintu.
"Sudalah, Mom. Dia pasti pulang tepat waktu," ucap Vihan yang melihat sang ibu sedikit khawatir.
"Anak itu, dia belum makan malam tapi udah main pergi keluyuran malam-malam," hembus Nyonga Hana dengan gelengan kepala.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
komentar
gift
vote
tips
__ADS_1