The Most Beautiful Love

The Most Beautiful Love
Berakhir pilu


__ADS_3

...12...


Acara pun di mulai. Acara pertama adalah boy-band sekolah yang mempersembahkan sebuah lagu yang membuat para murid bersorak penuh kesenangan. Di lanjutkan dengan acara-acara yang semakin seru. Alena begitu menikmati acara ini, meski ia tidak turut berbaur.


Sementara itu, di tengah-tengah keriuhan para murid. Vans tengah menatap gugup pada Raline yang asik berjoget dengan dentuman musik di sekitar panggung.


Aku harus bisa mengatakan perasaanku. Batin Vans menyemangati dirinya dan memantapkan niatnya.


Tangannya yang memegang setangkai bunga mawar terlihat bergetar dengan keringat yang mulai keluar. Di tambah dengan jantungnya yang berdegup dengan sangat kencang, seperti genderang perang yang sedang ditabuh.


Vans menyentuh dada kirinya. Ia semakin yakin, jantungnya berdetak karena Raline adalah cinta sejatinya, seperti yang dikatakan oleh Vihan.


Vans menarik nafasnya panjang. Lalu, berjalan mendekat ke arah Raline dengan mantap. Kali ini, ia tidak akan mundur.


Reline terus meliuk-liukkan badannya mengikuti irama musik yang semakin membuat tubuhnya panas. Terlalu asik dengan tariannya, Reline tidak tahu jika Vans berada di belakangnya.


"Re--Reline!" panggil Vans dengan terbata-bata. Akan tetapi sepertinya panggilan Vans tidak di dengar oleh Reline. Suara dentuman musik yang begitu memabukkan membuat suara panggilan Vans tenggelam.


"Reline, bisakah kita bicara?" tanya Vans sedikit mendekatkan dirinya pada Reline. Namun, lagi-lagi Reline tidak mendengar suara Vans.


Vans mulai merasa sedikit kesal karena Raline tidak kunjung merespon panggilannya. Gadis cantik itu malah semakin menggila meliuk-liukkan tubuhnya.


Dia sama sekali tidak mendengarku. Di sini terlalu ribut, aku tidak mungkin mengatakan perasaanku saat suasana seperti ini, batin Vans mulai memutar otak untuk menemukan cara agar dia bisa mengatakan perasaannya pada Reline sesuai dengan tips yang diajarkan oleh Vihan.


Vans menoleh ke arah atas panggung. Di mana seorang DJ terus memainkan alunan musikknya yang sedikit memekakkan telinga. Vans segera naik ke atas panggung dan mencabut soket listrik. Sehingga dentuman musik tersebut berhenti seketika.


Para murid yang menari segera berhenti dan menatap kesal ke arah DJ. Mereka tidak terima jika musik dimatikan di saat mereka sedang asik menari.


"Kenapa dimatikan musikknya?" tanya seseorang murid dengan nada tinggi.


"Bukan gue, tapi dia." DJ tersebut menunjukan Vans.


"Hei, culun, colok ngak tuh soket! Atau lo mau gue setrum," ancam murid tersebut dengan memperagakan tangannya hendak menyentrum Vans.


Glek!


Vans menelan salivanya paksa. Nyalinya seketika ciut, ia meremas jahitan celananya dengan erat. Saat ini semua mata menatapnya penuh amarah.


Cinta sejati akan membuat jantungmu berdebar dan darahmu berdesir.


Kalimat yang dikatakan oleh Vihan seketika terngiang-ngiang dan berputar-putar di kepala Vans. Ia kembali merasakan detakan jantungnya yang semakin berdebar dengan sangat kencang. Bahkan, nafasnya mulai terasa berat.


Tidak, aku tidak boleh mundur. Jantungku berdegup karena aku mencintai Raline, bukan karena takut melihat kemarahan semua orang. Batin Vans.


Vans perlahan menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya dengan perlahan. Memantapkan hati dan jiwanya jika sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengatakan perasaannya, dan membuat Raline menjadi kekasihnya.


Ingatan-ingatan saat dirinya melayani Raline berputar di dalam ingatan Vans. Seperti sebuah video yang diputar dengan otomatis. Senyum, dan kecantikan Raline serta kedekatannya dengan Raline, membangun sebuah kekuatan dan kemantapan niat Vans.

__ADS_1


Perlahan tapi pasti Vans mendekati Reline yang menatapnya dengan tatapan jijik. Semua fokus murid-murid langsung tersita dan penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh pria culun itu. Begitu pula dengan Alena yang juga sama penasarannya dengan yang lain.


Alena mengeratkan tudung hoddynya dan berjalan semakin dekat agar bisa melihat dengan jelas, apa yang akan dilakukan oleh Vans.


Vans memejamkan kedua matanya untuk sejenak. Suasana menjadi hening tanpa ada suara. Dengan berani Vans meraih satu tangan Raline dan langsung berlutut di hadapan gadis itu.


Tangannya yang membawa bunga ia sembunyikan di balik punggung. Vans mendongak menatap wajah Raline yang selalu membuat ia jatuh dalam pesona kecantikan gadis itu.


Bulu mata lentik dan wajah yang tirus, benar-benar perpaduan yang sempurna.


"Raline, kamu adalah perempuan tercantik yang pernah aku temui. Raline Hartawan aku mencintaimu. Maukah kamu menjadi kekasihku?" Vans memberikan setangkai bunga mawar sebagai pelengkap pernyataan cintanya, berharap Raline akan mengatakan iya dan menerima perasaanya.


Semua murid bahkan Raline sendiri membulatkan kedua matanya dengan sempurna. Seorang pria culun dengan penampilan yang benar-benar buruk berani menyatakan perasaan pada gadis yang paling populer di sekolah ini.


"Ha ... Ha ..., dia benar-benar tolol."


"Tidak tahu diri, Ha ... Ha ...."


"Dia menembak Reline, wawww dia tidak memiliki urat malu."


Dalam sekejap suara tawa terdengar. Suara hinaan dan cacian dari para murid terlontar dengan begitu menyakitkan. Vans tidak bergeming, ia tidak peduli dengan semua hinaan itu. Ia hanya menunggu jawaban dari gadis yang masih terdiam menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


"Kenapa kamu diam? Raline," tanya Vans yang langsung membuat semua mulut kembali bungkam. Di mana situasi kembali hening.


"Apa, diammu ini berarti iya." Vans bangkit dengan senyum yang mengembang sempurna. Bukankah diam seorang gadis adalah jawaban jika dia setuju?


"Ehh, hmmm. Terimakasih sudah menerimaku, Raline. Aku sudah menduga jika kamu juga mencintaiku. Sungguh aku sangat bahagia," ucap Vans dengan terharu. Ia pun mendekatkan tubuhnya hendak memeluk Raline.


"Gue ngak sudi jadi pacar laki-laki culun kayak lo. Asal lo tahu, diam gue bukan karena gue setuju dan miliki perasaan yang sama. Tapi, gue jijik sama cowok kayak lo yang dengan beraninya nembak cewek terpopuler di sekolah ini," hina Raline.


"Ta--tapi kedekatan kita," sosor Vans.


"Kedekatan? Ha ... Ha ..., kamu pikir aku dekat denganmu karena gue suka sama lo? Apa lo ngak punya cermin di rumah lo Vans. Lihatlah penampilan lo yang culun dan kampungan itu. Mana mungkin seorang Raline Hartawan menyukai pria kayak lo. Pria tolol, jelek, buruk rupa, dan tidak berguna. Lo sama sekali bukan tipe gue. Gue sama lo itu kayak bumi dan langit ngak akan bisa bersatu. Oh, ya lo pikir dengan Gue mau ngomong sama lo, lo pikir gue suka sama Lo? Jawabanya lo cuma gue anggap sebagai babu."


Jleb!


Srak!


Hinaan dan penolakan Raline menusuk ke dalam hati Vans. Rasanya begitu sakit, Vans seperti ditikam oleh ribuan pedang yang menyayat habis seluruh hatinya.


Harapan yang ia bayangkan dengan begitu indah. Di mana Raline akan memeluk dan menerima dirinya sebagai kekasih, seketika semua itu hancur. Ternyata khayalan tak seindah kenyataan.


Vans menggelengkan kepalanya cepat. Raline pasti hanya bercanda dengan mengatakan itu semua. Tidak mungkin Raline tidak mencintai dirinya, pikir Vans. Ia kembali membangkitkan rasa optimis yang sempat di hancurkan dengan kejam oleh Raline.


Vans segera bangun dan meraih tangan gadis itu. Raline menarik tangannya, tetapi tidak bisa terlepas dari genggaman Vans.


"Raline, aku rela melakukan apapun demi dirimu. Katakan, jika yang kamu katakan tadi cuma candaan. Kamu sebenarnya mencintaiku bukan? Bukankah kamu begitu membutuhkan aku untuk mengerjakan semua tugasmu, membeli pesanan makanan yang kamu inginkan, dan menjadi pembawa barang-barangmu. Bukankah kamu melakukan hal itu karena kamu mencintaiku?" desak Vans dengan air mata yang mulai mengalir.

__ADS_1


"Lepasin gue! Dasar cowok gila. Lo itu cuma babu gue, ngak sudi gue deket-deket sama lo, apalagi jadi pacar li. Iuuu menjijikkan," umpat Lessia dengan jijik, sembari terus menarik tangannya agar terlepas dari genggaman tangan Vans. Baginya Vans tidak lebih dari seongok kotoran yang sedikit berguna baginya. Namun, ia tidak menyangka jika pria culun ini malah nekat dan berani mengatakan perasaannya di depan semua murid. Harga diri seorang Raline dilibas habis oleh pria tidak punya malu yang tidak mau melepaskan tangannya.


Bugh!


Tubuh Vans langsung melayang dan terpental, hingga akhirnya mendarat dengan keras di lantai.


"Aaauuuu!" jerit Vans kesakitan. Rasanya seluruh tubuhnya remuk karena membentur lantai yang keras.


Vans beringsut, membalikkan tubuhnya menatap pria tegap dan kekar yang kini menatapnya dengan sangat tajam dan horor.


Vans menelan salivanya paksa melihat Justin yang langsung menarik kerah kemejanya dan melayangkan satu pulang tepat di rahangnya.


Bugh!


Tubuh Vans lagi-lagi tersungkur, bahkan kacamata yang dipakainya sampai pecah menjadi dua. Rasa pusing seketika menyerang Vans. Di mana tatapannya buram ketika melihat ke arah Justin.


Vans mengerjapkan kedua matanya, tetapi ia sama sekali tidak bisa melihat dengan jelas. Vans meringgis kesakitan, rahangnya terasa pecah karena pukulan dari Justin. Bahkan, bisa ia rasakan ujung bibirnya sobek.


Vans mengusap sudut bibirnya, di mana cairan kental dan merah menodai tangannya. Dengan susah payah, Vans mencari kacamatanya. Akan tetapi, dengan jahatnya Justin malah menginjak tangan Vans hingga pria itu berteriak kencang.


"Aahhh, tanganku!"


"Dengar, culun. Jangan berani lo deketin Raline lagi. Dia itu calon pacar gue. Kalau lo berani ngedeketin apalagi nembak dia, habis lo di tangan gue," ancam Justin.


Justin kembali mencengkram tubuh Vans yang sudah tidak berdaya, dan menariknya untuk kembali berdiri. Tanpa rasa kasihan Justin mendorong tubuh Vans hingga tercebur ke dalam kolam.


Byurr!


Semua murid menutup mulut mereka melihat tubuh Vans yang mulai tenggelam di kolam. Justin memang sangat kejam. Akan tetapi, tidak satupun dari mereka yang mencoba menyelamatkan Vans.


Di dalam air, Vans berusaha untuk naik kepermukaan. Namun, tangannya yang sempat diinjak tanpa ampun oleh Justin benar-benar terasa sakit. Sehingga ia tidak bisa berenang naik kepermukaan.


Vans terus berusaha, tetapi tubuhnya malah semakin jatuh ke dasar kolam. Vans yang semakin panik membuat ia meminum banyak air kolam dengan nafas yang semakin habis.


Hanya karena penampilan, aku dihina seperti ini. Hatiku hancur, Raline tidak pernah mencintaiku. Aku diperlakukan seperti sampah yang tidak berguna. Kalian begitu kejam. Batin Vans dengan hati yang terluka.


Perlahan tapi pasti, pandangan Vans menjadi buram dan seketika menjadi gelap. Paru-parunya mulai teraliri air. Namun, dengan kesadaran yang hampir hilang. Vans melihat bayangan yang mendekat ke arahnya.


...----------------...


...****************...


Uhhhh kasihan banget ya si Vans...


Jangan lupa like


koment

__ADS_1


gift


vote


__ADS_2