
...27...
Alena memandangi pemandangan di luar mobil. Terlihat sebuah rumah dengan gaya arsitektur modern di sampingnya. Rumah tersebut tidak lebih besar dari rumahnya. Namun, rumah ini jauh lebih modern daripada gaya rumahnya.
"Rumah gue ngak sebesar rumah lo!" seru Vans memarkirkan mobilnya pada basemant berukuran empat mobil. Di sana terparkir dua buah mobil dan tiga sepeda moto dengan merek terkenal. Hal tersebut sempat mencuri perhatian Alena karena ternyata Vans berasal dari keluarga yang kaya.
"Tapi, rumah lo modern banget," puji Alena dengan tatapan kagum.
"Widih, merendah untuk meroket." Vans membuka self-belt, kemudian turun dari mobil dan segera berlari memutar untuk membukakan pintu untuk Alena.
"Gue punya tangan sendiri buat buka pintu," sungut Alena yang kurang suka diperlakukan seperti ini.
"Please, lo jangan protes mulu napa, ntar manisnya ilang," goda Vans dengan senyumnya yang terlihat menawan. Alena memutar kedua bola matanya malas. Lalu, turun dari mobil. Percuma ia banyak bicara dan protes karena pria seperti Vans selalu punya alasan untuk membela diri.
"Lo punya mobil bagus, motor bagus, tapi masih tetep aja pake sepeda. Keknya, kepala lo perlu diperiksa deh," cibir Alena dengan wajah mengesalkan.
"Kan udah gue bilang, gue sukanya pake sepeda. Naik sepeda itu seru. Gini aja deh, besok gue jemput lo berangkat sekolah pake sepeda. Biar tu mulut mingkem ngak terus cela gue pake sepeda." Vans mencubit tipis bibir chery Alena, yang langsung ditepis oleh gadis itu.
"Tuh tangan, bisa di jaga ngak?" dengus Alena dengan wajah cemberut. Vans yang melihat wajah cemberut Alena lansung tertawa. Sungguh, Alena terlihat seperti anak bebek saat dia sedang marah atau kesal, sangat lucu di matanya.
"Udah donk, jangan cemberut kayak gitu. Kita mau masuk nih, bisa-bisa gue ditimpuk baskom kalau Momy gue liat muka lo yang udah kayak orang nahan kentut."
Puk!
Alena menoyor kepala Vans dengan keras hingga menghentikan tawa menyebalkan Vans. Ia menatap Vans dengan tatapan sinis. Lalu, berjalan lebih dulu meninggalkan Vans yang masih mengusap kepalanya yang terasa sakit karena ulah Alena.
Polos-polos galak juga ya. Batin Vans dengan tersenyum miring. Ia segera berlari untuk mengejar Alena yang hampir sampai di pintu.
Sementara di dalam rumah, tepatnya di meja makan. Tuan Ferdy, Nyonya Hana, serta Vihan sudah duduk dengan rapi. Mereka menggunakan baju terbaik mereka malam ini. Tentu saja, itu semua perintah dari Nyonya Hana. Jika dilanggar maka siap-siap tidur dengan perut kosong.
"Vihan, itu rambut kamu belum di sisir ya? Anak rambut kamu jatuh ke muka itu!" tegur Nyonya Hana dengan nada panik.
Vihan menghela nafas panjang, kemudian menghembuskannya dengan kasar. Sang ibu benar-benar tidak tahu style rambut kekinian.
__ADS_1
"Mom, ini memang gayanya kek gini. Ya kali, Vihan buat rambut ceplek kayak Vans," sahut Vihan dengan postur tubuh bergidik ngeri.
"Ah kamu, tu rambut merusak pemandangan tahu? Kamu mirip tuh sama gembel yang ngak pernah potong rambut. Nih, kamu lihat Dady, rambutnya rapi dan styles," puji Nyonya Hana dengan memandang ke arah Tuan Ferdy yang terlihat mempesona di matanya. Dipuji oleh sang istri membuat bibir Tuan Ferdy mengembang.
"Ck, itu style rambut era kodok belum bisa lompat."
Ting!
Tong!
Suara bel rumah berbunyi, membuat ketiga orang tersebut lansung menoleh ke arah pintu. Nyonya Hana segera bangkit dari duduknya. Ia merapikan bajunya yang sempat kusut karena duduk. Lalu, bibirnya mengulas senyum lebar layaknya sedang iklan odol.
Dengan langkah yang cepat, Nyonya Hana segera mendekat ke arah pintu rumah. Ia benar-benar sangat senang karena akan bertemu dengan Alena. Gadis yang sangat manis dan membuatnya merasa memiliki putri.
Klek!
Nyonya Hana membuka pintu. Terlihat di balik daun pintu yang lebar seorang gadis dengan wajah lugu tengah tersenyum ke arahnya. Walaupun ada kacamata bulat serta tompel di pipi kirinya tidak memudarkan senyuman manis gadis itu.
"Hai, Tan. Kita bertemu lagi," timpal Alena dengan menundukkan kepalanya untuk memberi penghormatan pada ibu Vans.
"Tante seneng banget bisa ketemu sama kamu, Lena. Yuk masuk!" Nyonya Hana meraih tangan Alena dengan sangat antusias, menggiring gadis itu masuk ke dalam rumah.
"Kalau Alena aja langsung ditarik buat masuk. Giliran aku, ditinggal di luar," seloroh Vans dengan memasang wajah pura-pura cemberut.
"Kamu kan bisa jalan, ya udah masuk aja. Kalau ngak mau, makan malamnya di luar aja," sahut Nyonya Hana yang lansung mematahkan hati Vans.
Vans menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang Momy yang begitu bahagia. Ia segera menyusul dua perempuan yang kini sudah sampai di meja makan.
Alena lagi-lagi dibuat takjub dengan meja makan yang dibuat seperti meja makan di hotel berbintang. Semuanya tertata dengan begitu strategis dan tepat. Bahkan, peralatan makan yang digunakan pun adalah peralatan makan yang mahal.
"Hai Om, Hai Kak," sapa Alena pada Tuan Ferdy dan Vihan dengan tersenyum ramah. Vihan segera bangkit dari duduknya menghampiri Alena dan menarik kursi untuk gadis itu.
"Silahkan duduk, Tuan Putri!" seru Vihan dengan manis, yang lansung membuat Vans memutar bola mata malas.
__ADS_1
"Terimakasih, Kak." Alena pun duduk. Vihan kembali ke tempatnya. Sementara Vans menarik kursi di samping Alena.
"Wah, malam ini Alena terlihat sangat cantik," puji Tuan Ferdy, yang sedikit membuat Alena malu. Ia merasa penglihatan Tuan Ferdy sudah mulai buram karena memuji dirinya cantik, padahal ia sangat jelek dengan kacamata bulat dan tompel.
"Terimakasih pujiannya, Om. Akan tetapi, aku rasa itu terlalu berlebihan," sahut Alena yang membuat semua orang mengerutkan dahi mereka.
"Berlebihan bagaimana, Alena? Kamu memang cantik malam ini. Kamu terlihat sangat manis dan senyummu itu sangat menawan," ujar Vihan dengan ucapan khas pria playboy, yang selalu mampu meluluhkan hati kamu hawa.
"Ck, jangan ucapin kata-kata playboy kamu ke Alena. Alena itu temanku, kamu tidak boleh bicara seperti itu," decak Vans dengan mata melotot ke arah Vihan.
"Sudahlah, kalian ini tidak tahu tempat ya. Kalian terus saja bertengkar, ingat ada tamu. Jadi hormati Alena," tekan Nyonya Hana, yang membuat Vihan dan Vans bungkam.
"Dari pada mendengar dua cecurut itu berdebat, lebih baik kita mulai makan malamnya ya, Lena," putus Tuan Ferdy yang langsung mendapat tatapan melongo tidak percaya dari kedua putranya. Sementara Alena tertawa ringan mendengar Tuan Ferdy yang mengatai Vihan dan Vans sebagai cecurut.
Tiga orang pelayan dengan telaten mulai menyajikan makanan pada piring setiap orang. Mereka melayani dengan begitu profesional persis seperti pelayan di hotel berbintang.
Semua orang makan dalam hening, di mana hanya dentangan garpu dan sendok yang terdengar. Alena menikmati setiap makanan yang di sajikan untuknya. Tidak ia pungkiri jika semua makanan ini sangat enak dan lezat.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
koment
gift
vote
tips
__ADS_1