
...77...
Vans duduk sambil memandang ke depan. Di mana sejak tadi senyum di bibirnya terus saja mengembang. Ia sangat suka memperhatikan Alena yang sedang memasak di depan kompor. Gadis itu sengaja mengikat rambut panjangnya ke atas sehingga aura kecantikannya begitu menguar.
Alena dengan telaten memainkan spatula dan juga teplon yang ada di atas kompor. Ia sama sekali tidak menyadari jika Vans terus menatap ke arahnya sejak ia mulai memasak. Ia begitu fokus menggoreng telur omlet sehingga tidak menghiraukan apapun. Ia hanya ingin memasak makanan enak untuk Vans, pria yang sudah membuat ia jatuh cinta meskipun ia tidak tahu apakah telur omlet yang ia masak enak atau tidak.
Selama ini, ia selalu dilarang oleh sang Momy untuk menginjakkan kaki di dapur. Yah, tentu saja alasannya selalu sama. Sang Momy tida ingin melihat ia kelelahan dan kecapean karena imun tubuhnya tidak sekuat imun tubuh orang biasa. Namun, biarpun begitu. Ia mencoba memasak secara sembunyi-sembunyi tanpa diketahui sang Momy. Oleh sebab itu, ia hanya bisa memasak telur omlet saja.
Alena menyeka peluh keringat yang sedikit terbentuk karena uap panas teplon. Memasak bukanlah sesuatu yang mudah. Akan tetapi, hal itu menyenangkan untuk sekedar mengenyangkan perut. Setelah merasa telur omlet sudah matang. Ia meraih sebuah piring dan meletakkan omlet telur tersebut dengan rapi.
Ia akan memberikannya pada orang yang spesial. Tentu saja, tampilannya harus menarik dan menggugah selera. Alena tersenyum puas melihat hasil karyanya. Tidak terlalu buruk untuk ia berikan pada Vans.
Kriuuuukkk!
Perut Vans kembali berbunyi. Seolah-olah berteriak minta makan. Apalagi, rasa lapar tersebut kembali menyerang saat aroma telur omlet buatan Alena tercium sangat nikmat. Air liur Vans bahkan mencair karena sudah sangat ingin menyantap makanan tersebut.
"Taraaa, telur omlet ala Alena cantik!" seru Alena dengan semangat, kemudian meletakkan telur omlet tersebut di depan Vans.
Sontak hal itu membuat kedua mata Vans berbinar dengan cahaya yang begitu terang. Ia menelan ludah dengan paksa sembari mengusap kasar mulutnya.
"Gue boleh makan sekarang?" tanya Vans dengan tatapan pupy eyes yang sangat menggemaskan.
"Tentu saja, semoga rasanya enak," cengir Alena sedikit meringgis.
Tidak ingin membuang waktu. Vans segera menyambar garpu dan sendok dan mulai memotong telur omlet tersebut, kemudian dilahap dengan cepat. Kunyahan yang awalnya cepat seketika melambat dengan kening Vans yang mengkerut.
Alena menggigit bibir bawahnya, melihat ekspresi Vans yang sedikit mengkhawatirkan. Apa telur omlet buatannya tidak enak? Sudah ia duga karena entah kapan terakhir kali ia membuat makanan itu. Wajah Alena berubah menyendu dengan gurau kekecewaan. Hanya memasak untuk pria yang ia cintai saja ia tidak bisa. Sungguh ia sama sekali tidak berguna.
Vans yang melihat wajah memberengut Alena menahan tawa. Ia tahu apa yang tengah dipikirkan gadis itu. Padahal ia belum mengatakan apapun tapi Alena sudah memasang wajah cemberut.
"Kok lo cemberut sih?" tanya Vans sambil menelan makanan yang ada di dalam mulut.
__ADS_1
"Hhhh, gue rasa mending kita pesen makanan dari luar aja. Kalau ngak, gua bakal bangunin pelayan untuk masakin lo." Alena beranjak dari duduknya dan hendak pergi.
"Ngak usah," ucap Vans cepat dengan meraih pergerlangan tangan Alena.
"Tapi lo ngak bisa makan omlet yang ngak enak."
"Astaga, sini lo duduk dulu!" titah Vans dengan mendorong kursi di samping dengan kakinya. Lalu, menarik Alena agar duduk.
"Ck, udahlah. Lo duduk aja di sini. Lo bisa makan buah sampai gue balik lagi sama pelayan," sanggah Alena.
"Lo dengerin gue dulu. Lo tu suka banget nyimpulin sendiri. Dasar negatif thingking."
"Ya jelaslah, orang muka lo kayak cumi yang baru ngeluarin tinta beracunnya. Udah gue tahu, kalau masakan gue ngak enak. Ya, wajar kan gue ngak bisa masak." Alena sedikit membela diri, tetapi itu memang benar jika ia tidak bisa masak.
"Siapa bilang masakan lo ngak enak?" Vans meraih kedua tangan Alena dan menumpunya di atas meja. Ia mengelus punggung tangan Alena dengan jempolnya. Terasa sangat lembut dan halus.
"Ya, lo lah," jawab Alena mutlak, yang membuat Vans tergelak.
"Kapan?"
"Emang gue bilang apa?"
"Hmmm." Alena berdehem panjang mengingat-ingat apa yang dikatakan Vans. Namun, Vans tidak mengatakan apapun. Hanya raut wajah pria itu yang membuat ia menyimpulkan jika omlet buatannya tidak enak.
"Kalau orang belum ngomong jangan lo simpulin dulu. Lo denger gue ya, Buko yang manis, cantik, dan bawel." Vans mencubit gemas pipi kanan Alena sebelum melanjutkan kata-katanya.
"Telur omlet buatan lo adalah telur omlet yang paling enak dan lezat yang pernah gue makan," lanjut Vans sambil tersenyum lebar. Bahkan, saking lebarnya kedua mata pria itu menyipit.
"Lo pasti bohong," dengus Alena tidak percaya. Ia yakin, jika Vans mengatakan hal itu untuk membuat ia senang.
"Ngapain gue bohong? Emang gue dapet apa kalau bohong? Nih, lo coba sendiri kalau ngak percaya." Vans memotong telur omlet dan menyodorkan makanan tersebut pada Alena.
__ADS_1
Hap!
Alena melahap telur omlet yang disuapkan Vans padanya. Perlahan ia mengunyah telur buatannya tersebut. Meresapi setiap rasa yang terasa di lidah. Kedua mata Alena berbinar dengan kunyahan yang semakin di percepat. Ternyata Vans tidak berbohong. Telur omlet buatannya cukup enak meskipun tidak seenak buatan sang Momy.
Vans tersenyum diiringi dengan tawa gemas melihat perubahan ekspresi Alena. Entah mengapa setiap melihat senyum itu, ia merasa begitu lega dan bebas.
"Udah gue bilang kan, kalau masakan lo emang enak," celetuk Vans dengan menaik-turunkan alisnya.
"Lumayan," jawab Alena di sela-sela kunyahannya.
"Bukan lumayan, ini enak banget. Sekarang lo suapin gue donk," pinta Vans penuh harap.
"Dih, lo kan punya tangan sendiri. Ya, makan sendiri lah," tolak Alena lansung. Ia hanya tidak ingin terbawa suasana dan perasaan.
"Lo kok gitu sih? Tadi gue suapin lo padahal lo punya tangan," renggek Vans tidak ingin menyerah.
"Emang gue minta disuapin sama lo? Ngak kan?" kekeh Alena tetap pada keputusannya. Ia bisa saja menuruti keinginan Vans yang terbilang biasa-biasa saja. Namun, ada masalah dengan hati dan juga jantungnya. Ia merasa panas dingin dan juga gugup. Ia sedang berusaha menutupi kegugupannya agar Vans tidak menyadari hal tersebut. Jika bisa memilih, ia lebih baik menjalani kemoterapi dari pada harus berada di situasi seperti ini. Di mana hati dan otaknya sedang tidak berjalan bersamaan.
"Ya udah, kalau lo ngak mau nyuapin gue. Gue ngak akan makan. Biarin aja gue kelaparan dan besok mungkin gue bakal sakit tapi gue ngak peduli. Itu bukan salah gue tapi salah lo karena lo ngak mau nyuapin gue," putus Vans mutlak dengan wajah kesal dan cemberut. Ia melipat kedua tangan di depan dada serta memalingkan wajah dari Alena.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
komentar
gift
__ADS_1
vote
tips