The Most Beautiful Love

The Most Beautiful Love
Rapuh


__ADS_3

...68...


"Minum obat dulu, Sayang!" seru Nyonya Giana dengan lembut.


"Iya, Mom." Alena duduk dan meraih tujuh butir obat tersebut dan meminumnya tanpa banyak protes.


"Kenapa matamu memerah, Lena?" tanya Nyonya Giana khawatir.


Alena seketika gelagapan. Ia mengucek kedua matanya dengan pelan. Ternyata, bagaimanapun ia menyembunyikan jika ia menangis tapi tetap saja sang ibu berhasil melihat kesedihan yang ada dimatanya. Alena mengulum senyum paksa. Berusaha untuk mengontrol mimik wajahnya agar terlihat baik-baik saja.


"Hmmm, tadi ada debu yang masuk ke mataku, Mom. Jadi jadi merah seperti ini. Momy tidak perlu khawatir aku baik-baik saja," bohong Alena dengan memberikan alasan yang menurutnya masuk akal. Tidak mungkin ia mengatakan jika ia sudah tahu tentang penyakit yang ternyata semakin ganas menyerang tubuhnya dan tidak pernah sembuh. Ia tidak ingin, di sisa umurnya yang entah sampai kapan ia menjadi beban kesedihan orang-orang di sekelilingnya. Biarpun ia akan pergi meninggalkan dunia ini. Ia tidak ingin meninggalkan memori kelam yang penuh dengan kesedihan.


Nyonya Giana menatap lekat wajah putrinya yang sangat cantik. Mencari kebohongan dari kedua mata indah Alena. Namun, ia tidak menemukan apapun.


"Momy tidak mau kamu menyembunyikan sesuatu dari Momy," tekan Nyonya Giana menegaskan ucapannya. Ia merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Alena. Wajar, ia bisa merasakan hal itu karena ia adalah ibu yang menggandung dan membesarkan Alena. Jadi, semua tingkah dan perubahan sikap putri satu-satunya pasti akan ia rasakan.


Alena meraih tangan sang ibu dan menumpuknya di atas tangannya. Kedua sudut bibir merah milik Alena terangkat begitu lebar nan indah. Seolah-olah ia tidak sedang sedih atau sedang menyembunyikan apapun.


"Alena tidak pernah menyembunyikan apapun dari Momy. Alena sangat menyayangi Momy, Momy adalah ibu terbaik bagi Alena. Kasih sayang serta cinta Momy akan Alena ingat sampai kapan pun. Momy adalah pilar penyangga di hidup Alena. Momy selalu ada dan selalu setia menemani setiap perjuangan Alena. Momy sudah jadi ibu terbaik di seluruh dunia." Alena menghambur memeluk Nyonya Giana dengan begitu erat. Menyembunyikan wajahnya di balik punggung sang ibu yang sudah tak bisa membandung air matanya. Bagaimana pun ia menahan air mata agar tidak mengalir dari kedua matanya. Tetap saja tidak bisa. Rasa sakit dan kecewa begitu menumpuk dan membuat dadanya merasa sangat sesak. Seperti sebuah batu besar sengaja diletakkan di atas dadanya hingga dadanya yang rapuh remuk seketika.


Begitu pula dengan Nyonya Giana yang juga menangis. Hatinya terasa tersayat ribuan sembilu tajam saat mendengar kata-kata Alena. Hatinya tersenyuh dan begitu terharu. Kata-kata Alena seperti embun penyejuk di tengah padang pasir. Namun, juga menjadi sabetan luka karena merasa dirinya bukanlah ibu yang baik. Ibu macam apa dirinya yang tidak bisa membuat hidup putrinya aman?

__ADS_1


Larut dalam kesedihan masing-masing berbalut dengan pelukan hangat yang begitu menenangkan. Alena mengusap air matanya dengan kasar. Menarik nafas dalam dan meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Ia tidak boleh terlihat lemah dan rapuh di depan sang ibu. Selama ini, kedua orang tuanya sudah hidup dengan rasa sedih. Ia tidak ingin terus menjadi alasan ratapan kesedihan sang Momy atau pun sang Dady. Jika dulu mereka adalah kekuatannya. Sekarang, ia yang akan menjadi kekuatan untuk mereka.


Alena mengurai pelukan. Ia menatap sang ibu dengan senyum manis dan tulus. Alena mengusap air mata di pipi Nyonya Giana dengan lembut.


"Momy kenapa menangis? Dengarin Alena. Mulai sekarang Momy yang ngak boleh nangis lagi. Kalau Momy tiba-tiba nangis seperti ini. Aku merasa aku akan cepat mati---"


"Sssttt." Nyonya Giana dengan cepat meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Alena.


"Kamu tidak boleh bilang begitu," imbuh Nyonya Giana dengan tatapan tidak suka.


"Momy saja tidak suka dengan apa yang aku katakan. Aku juga tidak suka jika Momy menangis. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja. Setiap manusia punya takdir masing-masing. Kita hanya perlu menjalani bukan menentang karena itu hanya akan sia-sia." Alena berusaha menenangkan Nyonya Giana. Memberikan kekuatan walaupun ia berada pada titik terapuh dalam hidupnya.


"Putri Momy sudah dewasa sekarang. Kamu benar, Sayang. Sangat benar." Nyonya Giana melipat bibirnya. Menahan air mata yang terus bersarang dan siap tumpah di pipinya. Ia mencium dalam kening Alena dengan penuh kasih sayang.


"Menari adalah hidupmu. Momy akan selalu mendukungmu."


"Terimakasih, Mom. Baiklah, apa bisa aku tidur sekarang?" Alena memasang ekspresi mengantuk.


"Tentu saja, Sayang. Oke, Momy akan keluar. Istirahatlah." Nyonya Giana beranjak dari duduknya. Menatap Alena sekilas, kemudian benar-benar keluar dari kamar Alena.


Alena menyugar rambutnya. Ia berjalan ke arah pintu dan menutup rapat pintu kamar. Ia bernafas lega karena Nyonya Giana tidak curiga atas sikapnya barusan.

__ADS_1


Alena menatap pilu pada beberapa foto masa kecilnya yang tertempel di dinding. Air matanya kembali meleleh. Ia begitu sedih dan terpuruk. Alena menyentuh foto dirinya saat ia berusaha delapan tahun. Di mana di foto itu ia tersenyum sambil memakan permen. Sungguh sangat manis dan begitu indah.


Alena beralih pada foto pria berkacamata yang kemarin ia tempel di dinding kamarnya. Pria cupu yang baru beberapa saat menjadi temannya dan kini ia jatuh cinta pada pria yang sama. Ia menyentuh lembut wajah yang tengah tersenyum lebar itu. Ia mengambil foto tersebut dari media sosial.


"Vans, lo tahu, gue sakit. Hiks ... Hiks ...," Ucapan Alena terjeda dengan isakan tangis yang mengencang.


"Tapi lo ngak perlu tahu. Begitu pun dengan perasaan gue. Gue ngak tahu sejak kapan cinta ini tumbuh buat lo. Gue juga ngak bisa apa-apa untuk menghilangkan perasaan ini. Lo harus tahu, gue juga ngak mau ada cinta di pertemanan kita. Apa lo bakal marah kalau lo tahu gue suka sama lo? Tapi, lo tenang aja. Lo ngak bakal tahu dan pertemanan kita tidak akan rusak. Gue akan tutup mulut dan memendam semua rasa ini sampai gue mati. Lo harus bahagia sama Raline karena memang, dia gadis yang pantes buat lo. Untuk perasaan gue, lo jangan khawatir. Gue bisa menahan rasa sakit penyakit kanker di tubuh gue. Bagi gue menahan perasaan ini bukanlah apa-apa." Alena tersenyum getir dengan bibir yang bergetar.


"Aku harus bangkit. Seenggaknya di hidupku. Aku akan melukis semua kebahagian untuk semua orang-orang di sekelilingku. Jikalau aku pergi tiba-tiba, setidaknya mereka memiliki memori yang indah," imbuh Ziera dengan tekad dan semangat. Ia mengepalkan tanganya dan mengangguk yakin.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


komentar


gift

__ADS_1


vote


tips


__ADS_2