
...61...
Raline dan kedua temannya sedang berjalan menuju parkiran. Langkah Raline lansung terhenti saat kedua matanya menangkap pemandangan Vans yang sedang membukakan pintu mobil untuk Alena.
Seketika, darah Raline mendidih dengan kedua tangan yang dikepalkan dengan erat. Hatinya terbakar api cemburu melihat Vans bersama Alena. Ia tidak terima, Vans hanya miliknya.
"Ral, kok berhenti?" tanya salah satu teman Raline yang memutar badan ke arah Raline.
"Kalian bawa mobil gue pulang," titah Raline tanpa menatap ke arah kedua temannya.
"Terus lo pulang naik apa?"
Tanpa menjawab pertanyaan dari temannya. Raline segera berjalan cepat ke arah Vans dan Alena. Ia tidak akan membiarkan Alena dekat-dekat dengan Vans. Apalagi saat melihat senyum genit Alena pada Vans. Rasanya saat ini ia ingin mencekik leher gadis bertompel itu hingga mati karena kehabisan nafas.
Dengan kecemburuan yang mengusai hati dan pikirannya. Raline menarik tangan Alena dan menghempaskannya dengan kasar sehingga tubuh Alena terjungkal ke belakang.
"Auuu!"
"Alena!" pekik Vans yang dengan sigap menopang tubuh Alena agar tidak terjatuh.
__ADS_1
Alena dan Vans menatap penuh tanya pada Raline. Di mana hal itu membuat gadis dengan rambut pirang itu salah tingkah.
Bodoh, apa yang aku lakukan? Seharusnya aku tidak melakukan itu pada Alena. Batin Raline merutuki kebodohannya sendiri. Seharusnya ia tidak melakukan hal itu. Bisa-bisa Vans menjadi ilfil dengan kelakukan kasarnya barusan.
Wajah Raline seketika berubah menjadi ekspresi bersalah. Ia mendekat ke arah Alena dengan tatapan penuh penyesalan. Berpura-pura menjadi gadis lugu dan baik agat reputasinya tidak buruk di mata Vans.
"Alena, sorry gue ngak sengaja. Gue minta maaf sama lo soal yang tadi. Gue benar-benar tidak sengaja," pinta Raline meminta maaf dengan bersungguh-sungguh. Padahal di dalam hati, mulutnya sudah sangat gatal untuk mencaci-maki Alena. Ia benar-benar mengutuk bibirnya yang sudah meminta maaf pada gadis culun dan jelek itu.
Wajah Vans seketika menyendu, ia pikir Raline sengaja melakukan hal itu. Namun, ternyata gadis itu malah meminta maaf pada Alena. Ia sungguh salut dengan Raline yang berani mengakui kesalahan yang sudah dia lakukan. Vans melepaskan tubuh Alena setelah memastikan gadis itu berdiri dengan benar.
"O--ohh, tidak apa-apa Ral. Lupakan saja," balas Alena dengan sedikit gugup. Ternyata melihat Raline dari jarak sedekat ini membuat ia merasa pangling dengan kecantikan gadis itu. Wajar saja jika Vans sangat menyukai Raline. Selain cantik Raline juga adalah gadis yang baik. Buktinya dia meminta maaf padanya.
Alena menatap sekilas ke arah Vans. Ia tidak menduga jika Vans akan menceritakan tentang dirinya pada Raline. Ternyata Vans tidak melupakan ia saat bersama dengan Raline.
"Sama-sama, lo ternyata cantik banget aslinya, Raline. Ternyata yang dikatakan murid-murid di sini emang bener," balas Alena tak kalah memuji.
Jelaslah gue cantik. Nggak kayak lo buruk rupa. Batin Raline.
"Oh ya, Vans. Gue pulang sama lo ya, mobil gue dipinjem sama temen-temen gue. Boleh kan?" Raline memasang wajah memelas dan penuh harap.
__ADS_1
Vans yang mendengar permintaan Raline merasa bimbang. Ia sudah berjanji pada Alena untuk mengantar gadis itu pulang. Namun, gadis pujaannya juga meminta untuk diantar pulang.
"Maaf, Ral tapi gu---"
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
komentar
gift
vote
tips
__ADS_1